5. Pamit

1118 Words
"Kak, mama besok ke Jakarta. Jaga adik, ya!" pamit Syafira pada putri sulungnya dengan hati-hati. Mereka berdua masih mengerjakan tugas dari sekolah on line masing-masing, kebetulan hari ini Syafira pulang lebih awal sehingga bisa mendampingi keduanya belajar. "Berapa hari, Ma?" tanyanya tanpa terkejut sebab Syafira sudah berkali-kali meninggalkan mereka untuk tugas luar kota. "Tiga hari saja," jawab Syafira. "Nanti mama titip uang untuk makan. Kalo kesulitan minta tolong Bu Sum untuk masak," kataku mengulurkan beberapa lembar uang merah padanya. Bu Sum adalah asisten rumah tangga yang membersihkan rumah, mencuci piring, pakaian dan menyetrikanya. Bu Sum biasa datang pukul sepuluh pulang pukul empat sore, setelah semua pekerjaannya selesai. Syafira tidak pernah memberi batasan jam kerja asisten rumah tangga part timenya itu. Asalkan saat pulang pekerjaan beres, it's oke. Kebetulan juga rumah Bu Sum tidak jauh dari komplek kediamannya, sehingga menurut Syafira jam kerja fleksibel yang ia berlakukan masih wajar. "Iya, Ma," jawabnya dengan nada datar. Syafira sadar Cilla juga merasa sedih setiap kali ditinggal dinas luar kota, tetapi harus bagaimana lagi? Semua karena tuntutan. Baru kali ini Syafira luar kota tanpa agenda dinas kantor. Ia ke Jakarta karena keinginan sendiri. Demi menemui pemuda tengil bernama Aryan, salah satu sahabat dumaynya. "Tapi, Papa di rumah, kan?" tanyanya yang hanya Syafira angguki. Sebagai istri Syafira tidak pernah tahu jam kerja suaminya, bahkan pulang larut pun ia tidak pernah dikabari. Awal-awal dulu, ia memang sempat bertanya dan khawatir. Namun, Anton sepertinya tidak peduli dengan sikap khawatir yang dimiliki istrinya. Sehingga, Syafira memutuskan untuk tidak ambil pusing. Terserah. Kata itu yang akhirnya muncul di otak wanita cantik itu. Ia juga tidak pernah tahu apa dan bagaimana pekerjaan Anton diluaran sana? Yang Syafira tahu, perusahaan tersebut memang nyata dan ada, selebihnya ia tidak bisa mendeteksi. Anton adalah pria dewasa, harusnya ia sudah tahu apa dan bagaimana berlaku di keluarganya? Anton juga harusnya tahu mana yang terbaik untuk dirinya dan keluarga. ia bukan lagi pria single, tetapi ada anak istri yang harus dicukupi. Setiap kali memikirkan keberadaan Anton, yang Syafira alami hanya penderitaan. Mengingat pilihan hidupnya yang salah. Menyesal pun tiada guna? Memperbaiki? Apa bisa memperbaiki pilihan hidup tanpa membuang benalunya? Ah, setiap kali Syafira berusaha membuang penyesalan selalu hadir permasalahan baru lain yang mengikutinya. Menyesakkan, pilihan terbaiknya adalah masa bodoh. "Ma, yang ini bagaimana?" Arsya menyodorkan buku paketnya pada Syafira yang menunduk menatap meja, memikirkan pilihan hidupnya yang salah. "Coba mama lihat." Syafira meraih buku putranya dengan tersenyum. Membaca soalnya perlahan dan memberikan pengertian tentang materi yang diminta. "Terima kasih, Ma," jawab Arsya mengecup pipi mamanya. Putranya ini memang sudah kelas tiga sekolah dasar, tetapi menurut Syafira Arsya masih terlihat manja seperti anak usia lima tahun. Entah apa yang ada di pemikiran pemuda ciliknya itu? Setiap kali di dekat sang mama, selalu saja memberinya kecupan dan pelukan. Tanpa Syafira sadari kehadiran Arsya memberinya kehangatan tersendiri. Ada warna lain di hidupnya setiap menatap wajah bocah mungil itu. Wajah tidak berdosa yang selalu diperlihatkannya seakan menjadi penyejuk hatinya, tatkala merasa kecewa dengan pilihan hidupnya. Pilihan hidup yang memberinya dua buah hati terbaik, bahkan mereka berdua tidak pernah mengeluh apapun yang dilakukan sang mama. Hal itulah yang membuat Syafira tegar dan tegak menghadapi kerasnya hidup. Harusnya ia bisa menghadapinya bersama sang suami, tapi entah kemana suaminya? Secara fisik memang keberadaannya nyata, tetapi secara jiwa suaminya tidak ada. *** "Mama ke bandara naik apa?" tanya Arsya yang tiba-tiba masuk kamarnya. "Naik taksi. Kenapa?" tanya Syafira menghentikan kegiatannya melipat pakaian yang akan ia bawa ke Jakarta. "Gak pa-pa, tanya aja." bocah laki-laki memeluk mamanya dengan manja dari belakang punggung Syafira. "Bawain oleh-oleh, ya?" pinta Arsya berisik malu-malu beberapa detik kemudian "Mau dibawain oleh-oleh apaan?" tanya Syafira meraih dan mengeluh punggung Arsya yang ada dibelakangnya. "Di Jakarta sama kayak Surabaya, banyak mall dan panas," lanjut Syafira. "Apa aja," jawab Arsya masih dengan manja. "Kalo kita belinya di sini, setelah mama pulang dari Jakarta bagaimana?" tawar Syafira sebab wanita itu sudah memperkirakan bakal dibuat capek oleh sahabatnya itu. Bisa jadi, ia tidak akan diizinkan keluar-keluar begitu saja seenaknya tanpa pengawalan darinya. "Bole-bole, berarti setelah mama pulang dari Jakarta kita jalan-jalan?" seru Arsya dengan girang. "Iya, Adik, kakak dan mama. Kita bertiga jalan-jalan," ucap Syafira menanggapi putranya. "Kalau papa?" tanyanya sedikit merendahkan nada suaranya. Terdengar ada warna suara gelisah dan bingung di gambaran benak Asrya. "Kalo papa, coba tanya dulu paparnya nanti. Kalo mau ikut, ya gak pa-pa. Tapi, kalo papa repot, bagaimana?" pancing Syafira tidak ingin mengecewakan putranya. "Ya, sudah kita perginya bertiga saja," jawabnya kembali terdengar riang seolah tanpa beban. "Siap." Syafira menggulingkan tubuh Arsya ke pangkuannya. Tak lama kemudian terdengar suara tawa cekikikan dari bibir Arsya karena keasyikan bermain dengan Syafira. *** Pukul setengah dua belas, Syafira menatap resah ke jalanan. Taksi yang ia pesan belum tiba juga. Melihat aplikasi yang ada di ponsel, harusnya kendaraan itu sudah tidak jauh dari rumahnya. Namun, entah mengapa terasa begitu lama bagi wanita cantik itu. Jadwal penerbangannya masih dua jam lagi, tetapi keresahannya begitu kentara. Ponselnya pun menjadi sasaran empuk menumpahkan keresahan. Suara klakson terdengar dari luar, begitu menoleh sebuah mobil calya berhenti tepat di depan pagarnya. Senyumnya berkembang otomatis. "Cila, Arsya, mama berangkat!" pamit Syafira melongok ke dalam. Cila dan Arsya menghambur memeluk, mencium pipi dan punggung tangan Syafira bergantian. "Hati-hati," ucap mereka kompak. "Makasi, sayang." Syafira dan kedua anaknya saling berbalas lambaian sampai ke taksi online yang di pesannya berjalan menjauh. "Bandara ya, Bu?" tanya si driver menatap aplikasinya. "Iya," jawab Syafira singkat. "Mau kemana, Bu?" tanya si driver sedikit penasaran karena penumpangnya hanya membawa sebuah tas punggung dan tas selempang kecil, tidak seperti penumpangnya yang lain. Biasanya kalau orang yang bepergian ke bandara, mereka membawa koper. Sedangkan Syafira hanya sebuah tas seperti orang sedang hang out biasa. "Jakarta," jawab Syafira masih dengan singkat sebab ia juga harus mengabari Aryan tentang posisinya. Driver itu terlihat terkejut baginya Jakarta - Surabaya tidak dekat. Ternyata ada juga penumpang unik seperti sekarang. Hanya terbang membawa sebuah tas punggung dan selempang. "Mbak, Mbaknya kayak si ransel yang ada di tayang televisi, deh," seru si driver. "Maksudnya?" Syafira meletakkan ponselnya ke pangkuan sebab belum ada balasan dari Aryan. "Iya yang bepergian bawa ransel gak bawa koper. Kan, ada tuh program televisi koper versus ransel," lanjut si driver yang rutin mengikuti program tersebut. "Ooh," sahut Syafira sambil tersenyum. "Bisa aja, Masnya ini," lanjut Syafira menatap sejenak ke arah spion, memastikan bahwa panggilannya tidak salah. Tengsin dong, memanggil Mas ternyata drivernya sudah kebapak-bapakan atau sebaliknya driver ia panggil bapak ternyata malah masih muda. Suara notif di ponsel menguapkan lamunannya tentang driver. "Di tunggu, Iyan pulang kerja langsung ke bandara." Tulis pemuda yang ada di Jakarta itu. "Nanti Bunda kabari kalau mau lepas landas." balas Syafira di monitornya. "Oke." Jawaban Aryan mengakhiri sejenak percakapan virtual keduanya. *** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD