6. Check in

1043 Words
Aryan masih di meja resepsionis melaporkan transaksi booking hotel online-nya beberapa hari lalu. Sedangkan Syafira duduk manis di lobbi menunggu sambil membaca majalah yang tergeletak di meja. Baru kali ini, ia merasakan nyamannya ditemani seseorang yang istimewa saat ke luar kota. Selama ini, ia terbiasa jalan sendiri menjalankan misi dari perusahaan tentunya. "Bun," panggil Aryan setelah mendapat key card dari resepsionis. Syafira mengembalikan majalah berjalan ke arah Aryan "Kamar berapa?" tanya Syafira. "0715," bisik Aryan menuju lift. Syafira hanya tersenyum mendengar jawaban berisik sahabatnya. Syafira sadar teman virtualnya itu masih terlihat malu-malu. Aryan berjalan di depannya beberapa langkah menghindari pandangan aneh sekitar. Sedangkan di lift yang membawa mereka ke lantai tujuh hanya ada mereka berdua. Saat pintu lift terbuka di lantai tujuh, lorong pun dalam kondisi sepi, tetapi Aryan masih canggung berada di dekatnya. Syafira dan Aryan menoleh kanan kiri menyusuri lorong mencari petunjuk arah lokasi kamar mereka. "Tuh," tunjuk Aryan berbelok ke sebelah kanan. Setelah terdengar bunyi klik dan pintu terbuka, keduanya masuk bergantian. "Aaah," suara lega Aryan menghempaskan tubuhnya ke kasur berukuran besar dan empuk. "Bun, Bunda mau makan apa?" tawar Aryan melirik arloji di tangan kirinya masih dalam posisi rebahan. "Makan lagi?" ucap Syafira tanpa sadar. "Iya, udah jam makan siang ini," seru Aryan, "Serah, Iyan. Kamu mau makan apa?" tanya balik Syafira. "Duh, malah tanya aku. Bunda pengennya apa?' tanya Aryan. "Lagi gak pengen apa-apa, sih," jawab Syafira. "Bunda ini ditanya apa malah jawab apa," kata Aryan sedikit kesal, membuat Syafira terkekeh mendengarnya. "Ntar, malah Iyan makan loh, ya!" kata Aryan. "Coba aja." Tantang Syafira. "Tungguin ya, jangan nyesel," bisik Aryan membalas tantangan Syafira. *** Aryan balik ke kamar satu jam kemudian sambil menentang paper bag berisi nasi ayam. "Iyan, bingung. Nih, nasi ama ayam." Aryan menyerahkan bungkusannya pada Syafira. "Makasi, ya," jawab Syafira tanpa melepas senyumannya. Syafira tahu temannya itu tidak makan daging dan ikan, jadi ia pasrah saja saat Aryan membawakannya nasi dan ayam goreng. "Bun," panggil Aryan tiba-tiba. "Kenapa?" sahut Syafira meletakkan paper bag di meja. "Bun." Tangan kokoh Aryan melingkar begitu saja di perut Syafira, auto wanita itu terkejut setengah hidup. Tidak cukup dengan pelukan Aryan mencium dan mengecup perlahan leher dan pundak Syafira. Tak ayal gejolak cinta yang lama tidak ia rasakan memanas seiring perlakuan hangat sahabatnya. Desiran-desiran aneh berbuih dengan indahnya, meskipun tubuhnya masih terbalut kaos dan rok pendek. Namun, getarannya merasuk semakin dalam ke seluruh peredaran darahnya. Sahabat yang saat ini bisa saja berubah menjadi kekasihnya. Sahabat yang memberinya limpahan cinta. "Yan," desah Syafira tanpa bisa membendung dan menahan semua rasa yang bergemuruh di d**a. "Bunda, hari ini khusus buat Iyan. Tidak boleh ada yang lain," bisik Aryan tanpa bisa Syafira tolak. Aryan memutar tubuh Syafira menghadapnya, menyugar rambut legam sahabat yang kini sudah berubah status menjadi kekasihnya itu. "Bunda cantik," puji Aryan menyentuh pipi Syafira. Memainkan bibir dan hidung mancungnya tanpa bosan. Dengan mengerahkan seluruh keberaniannya Aryan mendekatkan bibirnya pada bibir Syafira. Penyatuan dua bibir pun berlangsung dengan sukses. Aryan dengan kelihaiannya memanjakan bibir Syafira tanpa henti. Entah bagaimana ia belajar tata cara menyenangkan wanita, hingga membuat Syafira terperangah dengannya. Siapa yang menduga kedatangannya justru membuatnya terperosok dalam jurang asmara Aryan. Ia juga tidak menyangka bisa begitu mudahnya terpesona pada pemuda tampan berkulit sawo langsat ini. Syafira benar-benar menyerahkan semua yang ia miliki pada Aryan. Tubuhnya yang lama tidak tersentuh, memanas tanpa bisa diredam. Otaknya benar-benar dipenuhi permintaan Aryan yang membuatnya kewalahan. Pemuda itu seolah-olah memiliki tenaga ekstra yang tidak pernah habis. Syafira dibuatnya meracau tanpa daya. Syafira bahkan sadar dirinya melakukan sebuah kesalahan.Namun, keberadaan Aryan tidak sanggup ia tolak. Pesonanya meluluhkan hatinya yang lama membeku tanpa ada kehangatan yang menyentuh. "Yan," desah Syafira memejamkan kedua netranya menikmati sentuhan Aryan. Di puncak gemuruh penyatuan keduanya, Syafira memekik kencang auto Aryan membungkam bibir Syafira dengan cepat agar suara kekasihnya tidak terdengar hingga luar. "Bunda, mendesahnya pelan-pelan," bisik Aryan. *** "Bunda." Aryan memeluk Syafira yang baru saja merebahkan tubuhnya ke kasur. Wanita itu baru sempat menyantap makanannya sejam yang lalu, setelah mengeluh lapar kepada Aryan. Bukan tanpa sebab, Aryan seakan tidak pernah puas bermain-main dengannya. "Apa," sahut Syafira menutup tubuhnya dengan bed cover. "Bunda cantik," bisik Aryan. "Iyan, ganteng," balas Syafira layaknya ABG yang jatuh cinta. "Ih, udah pintar gombal sekarang," rajuk pemuda dua puluh lima tahun itu. "Kan, ada suhunya," ledek Syafira. "Emang siapa suhunya?" tanya Aryan. "Ini yang lagi peluk-peluk bunda," sahut Syafira dengan percaya diri. "Ih, Bunda modus. Udah deh, Bunda pasti ada maunya, kan?" Aryan tertawa lirih membawa Syafira ke pelukannya. "Enggak. Bunda gak modus. Bunda juga lagi gak pengen apa-apa," bantah Syafira serius. "Kalo dikasi Iyan, mau gak?"goda Aryan mencium kepala Syafira. Aroma harum dari shampo yang digunakan Syafira menggoda indera penciumannya untuk tidak berhenti sampai di situ. Aryan benar-benar tidak bisa mengalihkan hasratnya yang penuh keingintahuan tentang berbagai rasa pria dan wanita dewasa. "Bun," bisik lagi mengkode Syafira. "Oke, tapi Bunda yang pimpin," bisik Syafira yang sejak tadi hanya sebagai penikmat. "Oke, siapa takut." senyum puas Aryan terlihat begitu tampan diantara temaram cahaya remang lampu hotel. *** Cahaya matahari menerobos tanpa malu-malu ke sela-sela jendela yang tertutup tirai. Cahaya itu seolah tidak sadar sudah mengusik indahnya mimpi dua insan yang sedang kasmaran. Syafira yang pertama kali terusik, mengerjakan kedua netranya berkali-kali. Berusaha beradaptasi dengan ruangan sekitarnya. Hawa dingin yang dihasilkan pendingin ruangan juga menambah penyebab terbangunnya wanita tiga puluh delapan tahun itu. Ditolehnya pria muda di sebelah yang masih nyenyak dengan dunia mimpi. Entah apa yang dimimpikannya. Yang Syafira lihat hanya wajah tampan yang tersenyum. Tanpa mempedulikan tubuhnya yang telanjang, Syafira melangkah ke kamar mandi membersihkan tubuhnya yang lengket karena keringat yang mereka hasilkan semalaman. Aryan benar-benar berhenti menjelang subuh tadu, itupun karena Syafira yang memintanya berhenti. Wanita itu merasa tidak sanggup lagi melanjutkan aktifitas mantap-mantapnya karena faktor lelah. Setelah sekian lama tidak merasakan pelukan seorang pria, dalam waktu semalam ia mampu memiliki kembali memori keindahan cinta yang terlupakan. Sayangnya, ia melakukan bukan dengan suaminya, tetapi dengan pria lain yang meluluskan hatinya. Syafira tidak membayangkan apa yang akan Anton lakukan jika mengetahui dirinya memiliki pria lain di hidupnya. Syafira tidak ingin menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri menyadari hasrat terlarangnya berawal dari Anton yang mengabaikannya. bagaimanapun Syafira juga wanita. Ia juga ingin dimanjakan dan disayang layaknya wanita lain. Meskipun, pada prinsipnya ia wanita mandiri dan kuat. *** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD