Syafira bergegas masuk ke mobil. Satu jam lagi ada jadwal meeting dengan anggota divisinya. Setelah memberi kecupan di kening Cila dan Arsya, ia segera menyambar kontak mobil dan meluncur dengan tenang membelah jalanan kota Surabaya menuju kantornya yang terletak di daerah Merr.
Suaminya sudah berangkat sejak pukul setengah enam pagi tadi. Jam kerja Anton memang lebih pagi dibanding dirinya karena itu berangkatnya pun di pagi buta.
Sepeninggal Mamanya, Cila dan Arsya bersiap duduk manis di depan gawai masing-masing untuk mengikuti kelas virtualnya.
Cila yang sudah bisa bertanggung jawab penuh atas dirinya sendiri, sudah berseragam dan menata peralatannya sejak semalam. Sedangkan Arsya yang masih kekanak-kanakan, sibuk dengan ponselnya. Ia tidak begitu mempedulikan seragam apa yang ia kenakan.
Saat melakukan pembelajaran virtual ia sering kali mematikan kamera. Terkadang ia juga asyik dengan kegiatannya sendiri, seperti bermain game atau menonton you tube.
Di saat seperti itu, Cila akan mulai mengeluarkan jurus nasehat ala kakak. Cila akan terlihat lebih dewasa dari usianya. Ia benar-benar memegang peranan dalam sekolah virtual adiknya.
Apalagi mereka hanya berdua tanpa pengawasan kedua orang tuanya. Cila merasa bertanggung jawab atas adiknya menggantikan kedua orang tuanya.
"Dek, cepet! sudah jam delapan, loh!" seru Cila.
"Iya, iya, Kak," Arsya segera merapikan peralatan yang ia gunakan untuk daring diatas meja.
"Cepet, Dek! Sudah jam berapa ini?" omel Cila.
Arsya tersenyum kecil dengan santainya melakukan perintah Cila hingga duduk manis di depan ponselnya.
***
Syafira turun dari kendaraannya dengan perasaan cemas, semalam ia mendengar ada orang yang berusaha membobol kantor. Entah apa yang ingin dicuri.
Syafira berpacu dengan waktu, sebelum meeting dimulai semua persoalan pembobolan kantor harus sudah ada titik terang. Sehingga bisa ia sampaikan ketika meeting.
Buru-buru Syafira naik ke ruangannya. Yang pertama ia lakukan adalah memeriksa berkas dan file. Ia juga memerintahkan hal yang sama pada anggota dan bawahannya.
"Aman," batin Syafira bersyukur karena semua berkasnya utuh.
Setelah mendapat laporan bahwa data mereka juga aman, Syafira meraih gagang telepon dan menekan nomer-nomer ekstension kantor mencari tahu keamanan masing-masing divisi lain yang masih dibawah naungannya untuk dilaporkan pada atasan.
"Aman, Bu," jawab Mita dari divisi satu.
Begitupun divisi lain semua menjawab sama. Aman.
"Alhamdulillah," ucap Syafira bsyukur atas semua dokumen penting masih dalam kondisi aman.
Syafira termenung sejenak di mejanya, lalu apa yang dicari penyusup itu? Dengan perasaan tidak menentu Syafira bangkit dan berjalan ke arah ruang sekurity. Ada rasa penasaran bergejolak di setiap langkahnya.
"Pak, bagaimana penyusup kemarin masuk?" tanya Syafira begitu masuk ruang sekurity.
"Lewat jendela sana, Bu!" Pak Amir sekurity yang berjaga malam kemarin masih berada di ruangannya menunggu keputusan perusahaan tentang kondisi kantor setelah dimasuki penyusup.
Bukan hanya Pak Amir, tetapi ada Pak Deni dan Pak Itok yang menemaninya berjaga. Mereka bertiga sama-sama menunggu hasil pemeriksaan file, dokumen atau ruangan yang rusak setelah si penyusup masuk.
"Bapak menangkap dia dimana?' tanya Syafira menatap penyusup yang masih ditahan di ruang keamanan.
"Di ruangan ibu," jawab Pak Amir menegaskan keberadaan si penyusup.
Seketika Syafira membungkam mulutnya dengan telapak tangan karena terkejut.
"Apa yang dia cari di ruanganku?" gumam Syafira dalam hati.
"Sudah bapak interogasi, apa saja dia?" tanyaku penasaran.
"Banyak, Bu. Tapi, lebih banyak diemnya. Jawabannya selalu tidak dan tidak," jawab Pak Itok yang menginterogasi si penyusup.
"Dimana orang itu?" tanya Syafira.
"Di sana, Bu!" Syafira bergegas menuju ruangan yang ditunjuk Pak Itok.
Di ruangan itu Syafira melihat ada seorang pemuda berusia sekitar dua puluhan meringkuk di pojokan dengan kaki dan tangan terikat. Wajah Tampannya tertutup dekil dan beberapa memar. Asumsi Syafira pemuda itu sempat dipukul para tim keamanan.
Wanita cantik itu duduk di depan penyusup ruangannya. Menatap lekat si penyusup. Tiba-tiba saja ingatan tertuju pada Aryan. Sahabat dumay yang menunggu kedatangannya ke Jakarta. Diusirnya sejenak bayangan Aryan, Syafira fokus ke pemuda di hadapannya.
"Apa yang kamu cari di ruangan saya?" tanya Syafira membuatku pemuda itu mengangkat kepalanya. Suara Syafira sepertinya mampu membuat lawan bicaranya terkesiap.
Pemuda itu menggeleng takut memandang Syafira yang terlihat tegas dan penuh wibawa.
"Siapa nama kamu?" Syafira mengubah pertanyaannya.
"Ali," jawabnya liirh bahkan hampir tidak terdengar andai ia tidak mendekatkan indera pendengarannya.
"Ooh, nama yang bagus," puji Syafira.
"Apa ada seseorang yang nyuruh kamu datang ke sini?" tanya Syafira.
Pemuda itu menggeleng pelan kembali menunduk tanpa berani menatap wajah Syafira.
"Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Syafira seolah menyadari sesuatu.
"Uang," jawab pemuda itu masih dengan suara lirih.
Syafira mengerutkan dahinya bingung.
"Untuk apa?" tanya Syafira.
"Ibu sakit," jawab Ali terlihat begitu sedih.
Seketika Syafira sadar, Ali mengira kantor tempatnya bekerja menyimpan banyak uang. Pemuda itu membutuhkan uang untuk pengobatan ibunya.
Hati Syafira terenyuh mendengar pengakuan Ali. Sebagai seorang ibu sekaligus wanita yang juga memiliki ibu, membuatnya merindukan almarhumah maminya.
"Pak Amir, saya bisa minta tolong," kata Syafira merogoh saku celananya.
Kebetulan hari ini, Syafira mengenakan setelah celana dan kemeja warna krem.
"Iya, Bu," jawab Pak Amir mendekati Syafira.
"Tolong antarkan Ali pulang dan berikan ini padanya. Lihat keadaan ibunya, sampai sana kabari saya," titah Syafira menyerahkan sejumlah uang yang ada dikantongnya pada Pak Amir.
"Kok, begini, Bu?' tanya Pak Amir keheranan, atasannya itu bahkan tidak menghitung jumlah uang yang ia sodorkan.
"Nanti saya ceritakan. Bebaskan dan antarkan dulu dia pulang!" ulang Syafira.
"Baik, Bu," jawab Pak Amir mematuhi perintah Syafira.
Setelah memastikan Ali dalam kondisi aman bersama Pak Amir, Syafira kembali ke ruangannya mempersiapkan meeting untuk proyek berikutnya.
Saat kembali ke ruangannya, beberapa karyawan yang ia temui menanyakan perkembangan kasus penyusup yang baru pertama terjadi di kantor mereka. Padahal sistem keamanan sudah ketat, tetapi masih bisa kecolongan.
***
"Yan, masih ngantor?" Syafira mengirim pesan pada teman dumaynya tepat saat jam istirahat.
"Mau berangkat, Bun," balas Aryan yang berada jauh dari lokasi Syafira.
"Masuk siang?" tanya Syafira masih dari aplikasi hijau.
"Iya," balas Aryan sembari merapikan kemeja dan celana hitamnya.
"Hati-hati, udah makan belum? Jangan sampai telat makannya." Syafira menimpali pesan Aryan.
Lama tidak ada balasan. Syafira pun menutup ponselnya beralih ke makanan yang ia pesan.
Nasi timbel lengkap, ada sayur asem, ikan asin, ayam goreng, tahu, tempe dan sambal. Nasi putihnya yang dibungkus daun pisang menambah rasa lezat penikmatnya.
Beberapa lokasi resto bahkan ada yang memasak nasibnya menjadi nasi bakar. Sedangkan yang dinikmati Syafira kali ini tidak, hanya dibungkus saja dengan daun.
Syafira menyingkirkan ikan asin ke tepi karena ia tidak menyukai lauk jenis ini.
Satu notif pesan masuk ke ponselnya. Tertera jelas nama Aryan di sana.
"Iya, Bunda. Iyan berangkat dulu, ya!" balas Aryan di monitor Syafira.
Syafira hanya tersenyum meletakkan kembali ponselnya. Tidak ada niatan untuk membalas karena ia yakin temannya itu sibuk berbenah.
"Sendirian?" sebuah suara mengagetkannya.
"Oh, eh, Pak Riko," balasnya terbata-bata karena tidak menyangka sang pimpinan menyapanya.
"Bole saya duduk di sini?" tanya Riko menarik kursi di hadapan Syafira.
"Silahkan," jawab Syafira, tetapi apapun jawaban wanita itu tidak banyak berpengaruh. Riko tetap duduk meski belum ada jawaban iya darinya.
"Gelisah banget?" pancing Riko menatap Syafira yang mulai mengunyah makanannya.
"Oh, cuma mikirin hasil meeting tadi," jawab Syafira sedikit menyangkal karena tidak sepenuhnya bohong.
Selain membayangkan keberangkatannya ke jakarta beberapa hari lagi, Syafira juga memikirkan hasil meeting dengan atasan tadi.
"Apa memberatkan?" tanya Riko mengangkat paha ayam dan menggigitnya tanpa rasa canggung.
"Tidak, hanya memikirkan cara untuk mendapatkan hati pimpinan perusahaan Jaya Group yang terkenal arogan itu," jawab Syafira begitu saja karena yang terpikir hanya nama Oni Ceo Jaya Group yang tadi mereka bicarakan saat meeting.
"Tapi aku yakin kamu mampu dan bisa. Menaklukkan si gunung es, Pak Teo saja mampu. Apalagi ini yang hanya seorang Ceo arogan," puji Riko memberinya semangat.
Senyum Syafira mengembang simetris mendengarnya. Ada sedikit semangat memacunya untuk menaklukkan sang CEO.
***
Bersambung