Nomor Tak Dikenal

1352 Words
Efek dari konsultasi kemarin membuat diri ini tak tenang. Seharusnya, saat ini aku bisa menikmati hidup tanpa bayang-bayang masalah yang kuhadapi sekarang. Apalagi hasil tes itu. Rasanya kepala ini mau pecah mengingatnya. Aku hamil? Sama siapa coba? Aku yakin, pasti ada kesalahan. Dokter Ashkan juga seharusnya tidak secepat itu menyimpulkan bahwa aku tengah berbadan dua. Bila sampai hal itu terdengar oleh Mama, bisa-bisa kepala ini terlepas dari badan. Ponsel berdering, sebuah panggilan dari Tiana. Mamak satu ini pasti mau menanyakan hasil konsultasiku kemarin. "Heh, Dokter Ashkan minta alamat rumah kamu, nih. Kamu pake jampi-jampi apa sampai dia mau nyamperin kamu?" Alamak! Aku menjauhkan ponsel dari telinga, saking kagetnya. Kutatap ponsel itu seakan-akan menatap Tiana, tentu saja dengan tatapan yang sulit kujabarkan. Ada apa lagi ini? Buat apa dia sampai minta alamat rumah segala? "Gak usah kasih!" kataku cepat dan lugas. "Lah kenapa?" tanya Tiana. Aku yakin, dia pasti terheran. "Aku kecewa berat sama dia. Kali ini, pilihan kamu zonk. Dia itu dokter gak waras!" Aku memang seharusnya menyalahkan Tiana. Dialah yang merekomendasikan Dokter Ashkan untuk masalahku. Salahku juga sih, kenapa harus nurut. "Hus! Mulutnya dijaga! Jangan sembarangan kalo ngomong. Dia itu dokter super kalem, ganteng, baik, ramah, dan—" "Stop puji dia di depan aku, ya, Mak! Aku udah ilfeel." Benar deh, aku jadi nggak sreg sama dokter muda itu. Oke, dia memang tampan, Tiana sama sekali tidak salah. Tapi, ayolah! Dia sudah memvonisku hamil, bahkan menuduhku hamil di luar nikah. Gila nggak? "Kembali ke topik awal. Ngapain dia minta alamatku? Jangan kasih, ya. Awas!" ancamku. Kuraih kutek, lalu kusapukan pada kuku. Warna nude memang memesona. "Kenapa, sih? Gimana kamu mau dapat jodoh, kalo ada yang mau deketin aja kamu tutup pintu rapat-rapat gini?" Kok, jadi ke jodoh? Kuletakkan kembali kutek ke tempat asal, niat memakainya pun gagal ketika mendengar omongan Tiana. "Mamak Tia, please, ya. Tolong, bedakan antara jodoh sama bukan. Oke?" Kesal juga. Sedikit-sedikit jodoh. "Lagian, ngapain tu dokter ke rumahku? Kurang kerjaan!" cibirku. "Heh, surga dunia itu enak, kamu bakalan ketagihan kalo udah ngerasin. Apalagi sama cowok cakep kayak Dokter Ashkan. Huuu!" Astaga. Aku merinding mendengar penuturan Tiana. Iya, aku sama Tiana memang terkenal memiliki mulut comberan, tapi untuk membayangkan dikelonin cowok, ih, no! Ngeri! "Berdoa aja biar dia jadi jodoh kamu, Mith. Aku pasti bahagia banget. Apalagi kamu, beruntung banget pokoknya nanti kalo sama dia." Terbayang jelas dalam benak bagaimana ekspresi Tiana ketika mengatakan hal itu. Pasti seperti ABG yang baru mengenal cinta. Kasmaran. Namun, sama sekali tak berpengaruh terhadapku. Aku malah mual. Jangankan membayangkan menikah dengan Dokter Ashkan, mengenalnya saja aku ogah. Ini bukan sombong atau apa, ya. Hanya saja, seandainya dia tidak menyebalkan, kemungkinan kecil aku mau. Sayangnya, dia telanjur masuk list pertemuan pertama yang mengesalkan. Jadi, sebelum tensiku naik, lebih baik aku membatasi diri lebih dahulu. "Nyonya Hendrik yang cantiknya paripurna, tolong, kondisikan! Aku ogah berjodoh sama dokter gila itu. Titik!" "Awas, gething nyanding, Nduk!" kata Tiana. Sejak kapan dia belajar bahasa Jawa sampai ngomongnya bisa sefasih itu? Biar aku tes dulu, pasti dia tidak tahu artinya. "Maksudnya?" "Tanyakan aja sama Raden Ayu Roro Pangestuti-mu." Bola mata ini memutar penuh kejenuhan. Sudah kuduga, pasti dia kongkalikong sama Mama. Teman kerja yang sering ke rumah memang cuma Tiana dan Sandi. Mereka berdua paling sering aku repoti kalau diri ini tak membawa mobil. "Ya udah, aku mau kirimin dia nomor HP dana alamat kamu aja." "Mak Tiaa!!!" Sialan! Dia menutup telepon sebelum aku sembur. * Sepulang kerja, aku ingin langsung tidur karena badan rasanya remuk redam. Pak bos tidak bisa diajak kompromi, baru juga cuti sehari sudah disuruh lembur. Untung aku sedang malas berdebat. Jadi, selamatlah dia dari amukan singa betina. Eh, kok singa? Aku, kan, bidadari. Bidadari kok jomlo, astaga! Menyedihkan sekali mendengar ucapan itu, andai diucapkan orang lain. Ruang keluarga tampak sepi, mungkin Mama sudah tidur, sedangkan Leo kemungkinan besar masih nongkrong sama teman-temannya. Apalagi ini baru jam sepuluh malam, biasanya juga Leo pulang di atas jam dua belas. Anak itu memang agak bandel sekarang. Sejak lulus SMA selalu membuat Mama uring-uringan. Selepas membersihkan diri, kasur menjadi tujuan utama. Sambil rebahan, aku membaca buku. Ya, ampun! Betapa nikmatnya hidup ini. Namun, baru saja merebahkan diri, dering ponsel membuatku terusik. Siapa yang menelepon malam-malam begini? Nomor baru? Milik siapa? Apa mungkin Leo? Kebiasaan sekali bocah itu, ya! Selalu menggunakan nomor temannya untuk menghubungiku, minta pulsalah, uanglah. Dia pikir aku bank berjalan apa? "Kenapa? Mbak mau tidur. Baru pulang kerja rasanya capek. Kalo kamu mau minta pulsa atau uang, pulang. Kebiasaan banget kamu itu! Sekali-kali di rumah aja, kek. Temenin Mama itu. Nggak tau apa Mama suka sedih mikirin kamu yang tiap malam keluyuran nggak jelas? Mbak ngomong gini karena Mbak sayang sama kamu. Udah, pulang kamu. Mbak nggak mau ngasih uang lagi kalo kamu masih keluyuran." Aku ngomong panjang lebar sebelum Leo banyak alasan. "Maaf, saya—" Seketika kujauhkan ponsel dari telinga saat mendengar suara tersebut. Rasa lelah mendadak hilang, seperti tersedot oleh suara barusan. Suara siapa itu? Jelas sekali kalau itu bukan suara Leo. Ya ampun! Buru-buru kuputuskan panggilan sebelum terjadi hal-hal memalukan atau lainnya. Tak lupa kumatikan daya ponsel agar tidak ditelepon ulang. Please, suara itu sangat familiar. Bukan nomor Dokter Ashkan, 'kan? Kok jadi ngeri gini. Astaga! Semoga bukan dia. * Suara ketukan di luar membuat diri ini bangun, karena kaget bukan main. Seketika kutengok jam dinding di atas tempat tidur. Baru pukul lima pagi, tetapi kenapa Mama menggedor pintu seperti orang kesetanan? Biasanya, beliau seperti itu bila hampir jam tujuh dan aku masih terlelap menikmati mimpi-mimpi indah. Lalu, kali ini kenapa? "Sasmitha! Mama dobrak pintunya kalo nggak dibuka, ya!" ancam wanita berkonde dari luar sana. Aku yakin, jam segini pasti Mama sudah pakai konde kebanggaan. Sudah terbayangkan mata Mama, pasti melotot dengan bibir tak bisa kudeskripsikan bentuknya. Wanita yang sehari-harinya selalu memakai konde dan kebaya itu tak akan berhenti menggedor sebelum aku membuka pintu. "Raden Ayu Roro Pangestuti, ini masih pagi, lho. Nanti kondenya copot nggak jadi cantik lagi," kataku sambil menahan kantuk. Tentu saja setelah pintu terbuka. Ya, kali, aku ngomong sama Mama dalam keadaan pintu tertutup, bisa disumpel konde mulut ini. Aku menguap, badan rasanya masih remuk. "Mama mau bicara serius sama kamu," katanya tegas. Eh, ada apa ini? Tumben. "Bicaranya nggak bisa ditunda, ya, Ma? Ini baru jam lima, Mitha masih punya waktu satu jam untuk tidur sebelum—" "Kamu ini, lho, mesti ngenyangan," kata Mama dengan bahasa campurannya. Ngenyangan, maksudnya aku ini hobi menawar kalau diajak bicara. Bila sudah begini, tak ada yang bisa kulakukan selain pasrah. Mama memegang kendali tubuhku, maksudnya tanganku sudah dipegang, entah mau diseret ke mana. "Jam lima, jam lima! Mbok, ya, mripatmu itu digunakan dengan benar ngono, lho. Bocah wadon kok kebluk." Apa-apaan, sih, Mama? Bairpun aku masih mengantuk, tetapi dapat terlihat dengan jelas jarum jam di kamar tadi. Sudahlah, mendebat Mama, sama artinya dengan menantang masalah. Jadi, aku lebih memilih diam. Mama bilang apa tadi? Aku perempuan doyan tidur? Iyalah, di kantor aku sudah mirip kerja rodi zaman Belanda. Jadi, saat di rumah seperti ini aku ingin manja-manja ria sama diriku sendiri. Me time. Langkah ini seperti tersandung-sandung karena masih mengantuk. "Mama pelan-pelan jalannya. Masa pake kebaya jalannya kek preman, sih?" protesku tanpa berniat menghentikan langkahnya. "Udah, diemo kamu. Lama-lama tak lem lambemu. Duduk!" Terendus sebuah kemarahan dari gelagat yang Mama tunjukkan. Aku salah apa, sampai Mama semarah ini? Aku pun didorong supaya cepat duduk. Tunggu sebentar, biar kuingat-ingat dengan baik kejadian semalam. Aku pulang jam sepuluh malam, dan tidak ada orang ketika diri ini tiba di rumah. Setelah itu aku langsung tidur. Astaga! Si penelepon itu, apa ada hubungannya dengan Mama? Jangan bilang itu Mama. Eh, tapi kan semalam suaranya cowok. Jadi? "Mama udah selesai masak sepagi ini? Tumben banget." Seketika badan ini segar saat menghirup aroma makanan dari arah dapur. Siapa tahu dengan aku puji, Mama lupa dengan amarahnya. "Jangan mengalihkan pembicaraan! Mama mau tanya serius sama kamu." Bibir ini mencebik, mendengarkan dengan sebaik-baiknya adalah pilihan satu-satunya yang bisa kuambil. "Coba jelaskan ke Mama, ngapain kamu datang ke rumah sakit dan menemui dokter spesialis kandungan? Sendirian lagi. Apa kamu hamil? Ha!" What?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD