Sejak kaki menginjak parkiran gedung pencakar langit ini, rasa malas sudah bergelayut. Sejak pulang dari rumah sakit kemarin, pikiranku selalu tersita oleh hasil test pack itu. Bagaimana tidak? Aku ini belum bersuami. Jangankan suami, pacar atau gebetan saja aku nggak punya, kok.
Benar-benar menyita pikiran. Aku mengembuskan napas kasar, mencoba merelaksasikan otak yang sejak tadi terbebani. Belum lagi mikirin Mama yang memaksa bertemu Dokter Ashkan. Ini pasti akan jadi hari ter-ter entah deh.
"Kenapa, Mith? Ada yang bisa gue bantu?"
Suara yang sangat aku kenali. Aku menoleh sejenak, lalu kembali memijit pangkal hidung.
"Enggak. Lagi kurang fit aja, dikit," jawabku.
Aku menengklengkan kepala ke kanan dan kiri, sedikit berbunyi. Aku memang lelah menatap komputer sambil duduk berjam-jam. Sebetulnya, ini hanya alibi, supaya si bawel Sandi tak banyak tanya. Namun, sepertinya sia-sia saja omonganku tadi.
Sandi mendekat, aku merasakan langkahnya menuju kubikelku.
"Ini mungkin karena kelamaan jomblo, makanya dikit-dikit sakit."
Aku sudah tahu, Sandi pasti akan meledek.
"Sok tau lo. Gue sakit bukan karena kelamaan jomblo keleus." Aku berkata jengkel.
"So?"
"Gue sakit karena keseringan lihat muka lo. Bosen gue." Satu kosong! Biar tahu rasa Sandi.
"Itu artinya, elo butuh pelukan dari gue, Mith. Supaya sakit lo sembuh. Lo tau kan? Setiap penyakit itu ada obatnya. Nah, gue adalah obat itu."
Seketika aku menghadiahi Sandi dengan tatapan tajam. Bukan takut, dia malah cengengesan.
"Lalat dong lo," celetuk Willy sekenanya.
Aku terbahak-bahak melihat wajah Sandi pucat. Syukurin! Ulil pun turut menertawakan Sandi. Cowok paling pede di timku ini memang selalu menjadi algojo. Kadang-kadang dia juga jadi moodbooster kala diri sedang penat-penatnya sama pekerjaan kantor. Ulil, Willy, Sandi, Tiana, dan aku selalu menjadi tim paling solid kala menggibah. Apalagi kalau sudah membahas atasan sama Bu Lina. Pasti heboh.
"Sialan lo, Wil! Mana ada lalat seganteng gue?" Sandi membetulkan dasi.
"Ada. Itu, buktinya elo." Willy tak segan-segan membuat Sandi keki.
"Ah, elo, Wil. Nggak asyik banget jadi pren gue." Dengan wajah merengut, Sandi kembali ke kubikelnya.
Aku hanya menggeleng-geleng melihat Sandi. Hal seperti ini sering terjadi di kubikel kami.
"Tiana lama banget sih di ruangan Pak Dir," keluhku.
"Biasa, Mbak. Pasti Pak Dir rewel," jawab Ulil tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer.
"Gue heran, kenapa kalo Mbak Mitha yang masuk, Pak Dir nggak rewel, ya?" Willy mengeluarkan pendapatnya.
Pak Dir adalah sebutan kami ketika memanggil Pak Dirga—big bos kami—di belakang beliau. Bukan apa-apa, perjaka tua itu terkadang memang ngeselin. Makanya, aku selalu ceplas-ceplos ke dia. Anehnya, dia tak pernah marah atau memberiku sanksi. Setiap apa yang aku usulkan, dia selalu menerima. Seperti kata Willy, Pak Dirga tak pernah rewel bila aku yang menghadap.
"Jangan-jangan, lo ada main belakang ya sama perjaka tua itu?" Kali ini, suara Sandi yang mendominasi.
Cowok itu benar-benar minta dikebiri. Bisa-bisanya dia ngomong asal mangap. Eh, tapi kalau nggak gitu, bukan Sandi namanya.
"Sialan lo!" Aku melempar Sandi dengan penggaris. Sayangnya, Sandi jago menghindar, penggarisku jatuh di bawah mejanya.
Tiba-tiba, sebuah pesan masuk ke ponselku. Nomor Mama, segera kubuka isi pesan itu. Tak lagi kuhiraukan perdebatan Sandi, Ulil, dan Willy.
Seketika aku tercengang setelah membaca pesan Mama. Kok aku bisa lupa? Hari ini juga, Mama mengajakku menemui Dokter Ashkan.
Ini di luar dugaan. Sama sekali tak terpikirkan bahwa Mama akan berpikir Dokter Ashkan-lah yang telah berbuat asusila kepadaku. Dia memang dokter tak waras, tetapi bukan berarti juga aku mengamini ucapan Mama. Enak saja! Aku juga akan pilih-pilih kali kalau urusan tidur. Pastinya bukan dengan dokter itu. Dia orang pertama yang kublokir dari daftar teman kencanku. Aku pikir, cuma Sandi manusia termenjengkelkan di dunia ini, ternyata ada yang lebih parah.
Tepat pukul sebelas siang—selepas mengantar Leo ke kampus, Mama akan datang ke kantorku untuk meminta izin pada atasan. Kemungkinan besar aku hanya bekerja setengah hari kali ini, karena pasti akan antre panjang di sana.
Ngomong-ngomong soal Leo, kata Mama semalam dia dihukum untuk tidak membawa mobil atau motor. Papa juga sudah menegurnya melalui telepon. Entahlah, adikku itu kenapa bisa sebandel ini? Dahulu, dia sangat penurut.
Aku kembali bekerja. Menyelesaikan laporan kemarin.
"Mbak Mitha, ada tamu di lobi," kata Andi seorang office boy di kantor.
Aku yang tengah sibuk mengurus kerjaan hanya mengatakan "iya" tanpa mengalihkan fokus. Pekerjaan yang kemarin ditangani Tiana masih belum selesai, laporan dari temanku itu harus aku revisi karena banyak yang keliru. Untung saja pak bos tidak marah.
"Eh, Ndi!" panggilku sembari melepas kacamata. Andi menoleh. "Siapa tamunya? Cewek apa cowok?" tanyaku kemudian.
"Perempuan, Mbak. Ibu-ibu."
"Pake konde?"
"Iya, Mbak." Andi mengangguk.
Pasti Mama. Siapa lagi kalau bukan dia? Kutengok jam di pergelangan tangan, ternyata memang sudah jam sebelas. Sesuai perkataan Mama di rumah tadi, kami akan ke rumah sakit.
"Oke, Makasih, ya, Ndi."
Office boy berperawakan kurus dan tingginya hanya sebahuku itu pamit kembali bekerja.
Sebelum menemui Mama, kubereskan lebih dahulu lembaran kertas berserak di meja. Diri ini memisah kertas-kertas penuh huruf dan angka bergerumbul itu dengan yang telah selesai melewati pemeriksaan. Aku tidak mau bekerja dua kali. Coba saja kemarin aku tidak menuruti Tiana, pasti tidak ada yang namanya revisi laporan.
Mamak dua anak itu memang paling bisa membuatku cemas. Terlambat datang bulan saja bisa seberlebihan itu. Sekarang, aku yang kena getahnya. Mama pun jadi salah paham. Lalu, apa yang harus aku lakukan, coba? Bagaimana kalau Mama memaki-maki atau paling parah mencakar Dokter Ashkan? Huh, tak terbayangkan seramnya suasana di sana nanti. Aku harus menyiapkan diri dan menebalkan muka di depan Dokter Ashkan bila itu terjadi.
"Lama sekali kamu. Sengaja mengulur-ulur waktu, ya? Mama ini udah janjian, udah ngambil nomer antrian."
Seperti biasa, kehadiranku selalu disambut dengan sejuta tanya. Bukti kasih sayangnya terhadapku.
"Ini di kantor, Mama. Mitha lagi sibuk kerja juga. Sabar," kataku lembut.
"Sabar piye, to? Mana ada seorang ibu yang sabar melihat kondisi anaknya yang miris?"
Seketika diri ini memindai sekitar, suara lantang Mama bisa saja menarik perhatian orang-orang di kantor. Ah, selamat! Mereka tidak ada yang mendengarnya. Ada Bu Lina yang tanpa sengaja tatapan kami bersirobok, tentu saja aku langsung mengangguk untuk menyapanya. Namun, sapaanku tak dihiraukan. Dia melenggang begitu saja dengan ciri khasnya. Kalau kata anak-anak satu divisi, gayanya sengak-sengak ingin menjambak. Aku maklum, sih. Sebab, Bu Lina adalah atasanku di perusahaan ini. Apalagi dia itu kepercayaan Pak Dir. Jadi, wajar saja bila gayanya belagu.
"Sudah pamit sama bosmu?" tanya Mama.
"Ini belum jam makan siang, Ma. Sebentar lagi, ya. Mama tunggu di sini sebentar aja."
"Mesti ngenyang. Mama ini bukan bakul sayur, lho."
Memiliki ibu seunik ini sangat membuat hidupku bahagia, kadang juga gemas dan perasaan lainnya yang tak bisa kuungkapkan.
"Enjih, Raden Ayu Roro Pangestuti yang cantiknya bak bidadari mangku bumi harum mewangi sepanjang—"
"Lambemu itu mbok dijaga."
Seketika aku menutup mulut dan memasang wajah tanpa dosa.
"Mama perhatikan, di kantor ini lebih banyak laki-lakinya ketimbang yang perempuan. Tapi, kenapa kamu ini lama sekali dapat jodohnya, yo? Mbok dibawa satu ke rumah, biar Mama punya mantu. Tapi ojo Sandi. Dia memang baik, tapi Mama bisa tambah gila kalau dia jadi mantu Mama. Lha, piye? Wong dia suka ngajak Mama guyon."
Pandangan Mama mengedar, melihat ke beberapa sudut yang memang kebanyakan adalah pria.
Diri ini turut memindai. Namun, aku jadi gagal fokus saat Mama membahas Sandi. Aku juga tak akan memasukkan dia dalam daftar calon suami. Bukan apa-apa. Hanya saja, kami sudah seperti saudara. Saling ejek sudah biasa bagi kami. Sangat tak mungkin kalau aku bisa suka sama dia. Sebab, aku paling menjaga hubungan tanpa melibatkan hati dengan cowok yang akrab denganku. Tak mau saja hubungan akrab itu menjadi canggung karena adanya cinta.
"Mereka nggak ada yang tertarik sama Mitha, Ma," jawabku sekenanya. Tak mungkin juga aku bilang kalau tak ada yang menarik perhatianku. Bisa-bisa, Mama membawaku ke dokter jiwa.
"Astaghfirullah!" Mama menepuk d**a dengan mata membola. Sepertinya, dia kaget dengan jawabanku. Sementara itu, aku hanya menatapnya dengan siratan tanya "Kenapa?"
"Ada cewek secantik kamu, tapi nggak ada yang tertarik sama sekali? Mata mereka pasti ketutupan belek!"
Diri ini mengisyaratkan kepada Mama agar mengecilkan suara, tetapi sepertinya rasa heran itu membuat suaranya nyaring secara spontan.
"Sasmitha! Kamu mau kerja atau ngobrol?"
Suara cempreng Bu Lina memekakkan telinga. Bahkan, beberapa orang menoleh ke arahnya. Aku harus pamit ke Mama sebelum mulut naga itu mengilatkan api.
"Mama, tunggu sebentar, ya. Mitha pamit ke atasan dulu."
*
Akhirnya, aku dan Mama benar-benar menemui Dokter Ashkan. Ruangan yang waktu itu terasa dingin menusuk tulang, kali ini lebih terasa gerah. Padahal, AC masih menyala seperti waktu lalu.
"Wanita tadi siapa, Mith? Atasanmu? Suaranya sudah mirip petir aja. Nyambar sana-sini. Nggak punya etika!"
Aku menggaruk tengkuk yang tak gatal. "Iya, Ma, dia atasan Mitha. Namanya Bu Lina, orangnya baik, kok." Nggak mungkin dong aku menjelek-jelekkan Bu Lina di depan Mama.
"Baik apa? Wong kamu nyapa aja ndak digubris ngono, lho. Mama kalo jadi bawahannya emoh. Ndak kerja ya wis. Mending Mama tidur di rumah."
"Itu, kan, Mama," jawabku sekenanya.
Ya, iyalah. Aku mana mau di rumah berpangku tangan, makan, dan tidur doang? Perempuan itu harus bekerja, sebelum nanti sibuk sama urusan negara perumahtanggaan. Sebab, aku bercita-cita menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya setelah menikah nanti—dengan catatan suamiku juga memiliki pekerjaan. Apa saja, asal dia bekerja. Nilai nomor satu bagi seorang laki-laki adalah tanggung jawab.
"Nomor antrian dua puluh dua."
Mendengar itu, Mama segera meraih lenganku, mengajak diri ini untuk cepat-cepat masuk menemui Dokter Ashkan.
Tiba-tiba perasaan ini tak enak. Persiapanku ternyata kurang matang tadi.
"Silakan ...." Dokter Ashkan tak melanjutkan kalimatnya ketika dia mendongak dan melihatku berdiri di depannya, bersama Mama tentunya. Sepertinya, ada sesuatu yang membuatnya tertegun sejenak. Ya, hanya sejenak, saat ini dia sudah tersenyum.
"Silakan duduk, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter Ashkan dengan ramah.
Sesekali mata Dokter Ashkan melirikku, seperti orang mencuri pandang. Mendapatinya seperti itu, pandangan ini kualihkan ke lantai, atau apa saja yang ada di bawah. Masih kesal juga sebenarnya, tetapi aku belum siap dengan aksi Mama selanjutnya.
Mama dan aku duduk seperti yang diperintahkan Dokter Ashkan.
"Apa benar Anda bernama Dokter Ashkan?" Mama bertanya dengan nada dingin. Mendadak keringatku terasa bercucuran.
"I-iya, Bu. Benar sekali. Jadi, Adik ini anak Ibu? Begini, Bu—"
Suara Dokter Ashkan berhenti ketika tangan Mama mengudara, mengisyaratkan agar dokter tersebut berhenti bicara. Mendadak hati ini was-was.
"Saya minta sama Anda, nikahi anak saya."
"Apa?" Dokter Ashkan dan aku berucap hampir bersamaan. Bahkan, kami saling tatap sesaat.
Benar-benar mengejutkan apa yang Mama lontarkan barusan. Pasti Dokter Ashkan merasakan hal sama sepertiku.
"Maksud Ibu apa, ya?" Dokter Ashkan bertanya dengan wajah seperti orang bingung.
"Anda sudah membuat aib dalam keluarga saya. Jadi, saya minta nikahi anak saya." Mama tampak mengerikan sekali.
"Mama!" Gigiku mengerat ketika memanggil nama orang yang paling kusayang itu.
Bukan apa-apa. Masih terekam jelas kenangan masa lalu tentang seseorang. Itu juga alasan kenapa aku belum menikah. Aku masih belum bisa menerima siapa pun, karena memang belum ada yang menggeser posisi orang itu dalam hati ini. Bukan berarti aku tidak berniat membuka hati untuk orang lain, hanya saja belum ada yang mampu membuat hatiku bergetar seperti seseorang itu. Jangan kira juga aku belum bisa move on, bukan seperti itu.
Aku sudah melupakannya, bahkan sama sekali tak berniat mengingatnya lagi. Lagi pula, hidupku jauh lebih penting untuk dibahagiakan.
"Aib apa, Bu?" tanya Dokter Ashkan. Dari matanya aku bisa menangkap ketidaksetujuan atas permintaan Mama.
Ya, iyalah. Mana ada orang yang setuju menikah dengan cara seperti ini? Apalagi tak saling kenal. Lagi pula, Dokter Ashkan pasti sudah punya calon istri. Mama saja yang over thingking, sampai-sampai meminta Dokter Ashkan menikahiku segala.
Kalau di dalam novel atau platform online itu, mungkin saja hal ini bisa terjadi dan bahkan menjadi hal membahagiakan bagi tokohnya. Namun, ini kehidupan nyata. Aku juga tak ingin menikah sama orang menyebalkan seperti Dokter Ashkan. No! Big No!
"Apa namanya menghamili anak gadis orang selain aib? Katakan!" Mama menggebrak meja, membuat Dokter Ashkan memundurkan kepala.
Benar-benar gawat!