Bila dipikir-pikir, semua ini memang kesalahan dokter muda itu. Siapa suruh memberiku test pack yang menghasilkan garis dua? Semua orang yang melihat, juga akan berpikiran sama, termasuk Mama.
"Apa namanya menghamili anak orang, selain aib? Coba katakan, Dok!" Mama mengulangi kalimatnya masih dengan emosi.
"Mama, Mitha udah bilang kalo Mitha itu nggak hamil, Ma," kataku masih penuh kesabaran. Tak enak juga dengan Dokter Ashkan, dia pasti menilai Mama yang bukan-bukan nanti.
Pandangan ini kualihkan pada dokter di hadapan. "Dok, jelasin, dong! Ini semua gara-gara Dokter. Gara-gara hasil test pack itu," jelasku berapi-api.
Dokter Ashkan menepuk jidatnya, tetapi aku tidak tahu maksudnya apa melakukan hal itu.
"Cukup! Kalian tidak usah banyak sandiwara untuk menutupi perbuatan kotor kalian. Mama malu, Mitha! Malu!"
Mata Mama melebar ketika menatapku. Ini sangat mengerikan. Aku sudah biasa dimarahi Mama, tetapi tidak semengerikan saat ini. Apalagi di hadapan orang lain.
"Dokter Ashkan, saya harap Dokter segera mengurus lamaran secepat mungkin sebelum perut anak saya membesar. Paham?" Kali ini Mama melotot ke lawan bicaranya.
Aku melihat Dokter Ashkan menelan ludah susah payah. Belum juga dijelaskan, Mama sudah berdiri, sepertinya dia mulai ancang-ancang mau keluar dari ruangan ini.
"Kalo Dokter tidak segera melamar anak saya, tanggung sendiri akibatnya!" Mama menunjuk ke arah Dokter Ashkan, kemudian berlalu setelah mengatakan "permisi" tanpa menoleh.
"Mama!"
Aku mengejar Mama secepat mungkin, berusaha menggapai lengannya agar mendengarkan penjelasan Dokter Ashkan. Namun, usahaku sia-sia. Mama justru menarikku untuk ikut pergi dengannya sesegera mungkin.
"Mama, dengerin penjelasan Dokter Ashkan dulu. Ini salah, Ma. Mama salah paham," kataku sambil terus digeret Mama meninggalkan rumah sakit.
"Diam kamu! Bikin malu orang tua aja!"
"Bu, tunggu dulu!"
Setelah keluar dari rumah sakit, aku mendengar suara tak asing mengejar kami. Aku yakin Mama juga dengar, terbukti dia semakin mempercepat langkahnya.
"Mama, itu Dokter Ashkan ngejar kita. Berhenti sebentar, dong, Ma," pintaku sambil terus diseret Mama. Ya ampun, aku merasa seperti anak kecil yang dipaksa pulang ketika tantrum minta es krim.
"Diemo kamu, banyak omong!"
Aku cemberut ketika Mama sama sekali tak mau mendengarku. Serius, baru kali ini Mama sekukuh ini dengan pemikirannya. Biasanya, dia selalu mendengarkan dahulu penjelasan sejelas-jelasnya. Namun, kenapa kali ini Mama ngotot? Seperti bukan Raden Ayu Roro Pangestuti yang aku kenal saja.
"Bu, tunggu dulu, Bu!"
Mama berhasil memasukkanku ke mobil. Iya, aku didorong secara paksa. Katanya, aku disuruh diam di dalam.
Aku tidak mau ketinggalan pembahasan sedikit pun. Jadi, kubuka kaca mobil agar tetap bisa menyimak obrolan Mama dengan Dokter Ashkan, walaupun Mama berusaha menghalangi tentu saja.
"Saya bisa jelaskan. Ini semua tidak seperti dugaan Ibu. Anak Ibu tidak hamil, saya yakin. Hasil tes itu salah, karena sudah saya pastikan kesalahannya kenapa bisa garis dua."
Mama tersenyum sinis. "Jadi, Dokter mau main-main dengan nama baik keluarga saya, begitu?"
"Tidak, Bu. Bukan seperti itu. Saya tidak mungkin menikahi Mbak Mitha."
Kemarin adik, sekarang mbak. Dasar plin-plan!
"Saya tidak—"
"Stop! Jika Anda masih tidak mau menikahi anak saya, masalah ini akan saya bawa ke jalur hukum."
Waduh!
"Mama, kenapa bisa sedalam ini, sih? Ini salah paham, Ma." Aku tidak mau masalah sepele ini malah menjadi bumerang bagi Mama.
Itu sih tidak terlalu masalah, karena yang paling memalukan itu kalau cuma gara-gara test pack, beritanya masuk koran. Mau ditaruh mana mukaku? Belum lagi anak-anak kantor kalau tahu. Tak terbayangkan.
"Diam kamu, Mitha!"
Kicep. Aku tak berani lagi ikut bicara bila Mama sudah seserius itu.
"Ibu salah paham. Saya sama sekali tidak mengenal Mbak Mitha, apalagi sampai menghamilinya. Itu mustahil."
"Saya tunggu keseriusannya, karena kalian harus segera diikat."
Diikat? Sekalian pakai rantai atau borgol saja biar kuat. Mama apa-apaan, sih? Kenapa jadi pemaksa begini? Apa dia tidak kasihan melihat wajah Dokter Ashkan melas seperti itu?
"Mengerti, Dokter Ashkan?" ancam Mama.
Entah sejak kapan Mama masuk, tiba-tiba dia sudah ada di sampingku. Oh, mungkin saat aku menutup mata tadi, karena tak sanggup melihat Mama menyudutkan Dokter Ashkan.
"Ayo, jalan!" perintah Mama tanpa menolehku. Pandangannya lurus ke depan.
"Permisi, Dokter," kataku penuh rasa tak enak hati. Rasa sebal kemarin seakan-akan raib dan berganti rasa kasihan.
Tergambar dari kaca spion, Dokter Ashkan berdiri menatap kepergianku. Pasti dia sangat sedih dengan tudingan Mama.
Ah, Mama memang keterlaluan. Seharusnya dia mendengarkan penjelasan Dokter Ashkan tadi. Dia juga sudah menyatakan ketidakhamilanku, bukan? Jadi, aku pun sudah lega, karena memang aku sedang tidak mengalami hal itu. Bukankah orang hamil memiliki ciri? Memangnya akhir-akhir ini aku mengalami tanda-tanda apa? Tidak ada sama sekali. Tidak mual, muntah, pusing, atau apalah itu namanya. Ngidam? Nah, aku tak mengalami semua itu. Apa ada ibu hamil yang tidak mengalami hal-hal tersebut?
Searching. Memanfaatkan kecanggihan teknologi adalah jalan ninjaku. Kumasukkan kata kunci sesuai yang aku inginkan.
Setelah loading beberapa detik, akhirnya muncul juga. Aku baca satu per satu dari sekian banyak artikel yang tersaji. Namun, dari sekian banyak artikel itu, satu yang membuatku khawatir, karena tidak semua orang hamil itu mual, muntah, dan lain-lain. Hanya saja, ada beberapa fisik mereka yang lebih lemah dari sebelumnya. Wait, lemah? Aku memang lebih mudah lelah akhir-akhir ini, tapi bukan berarti aku hamil kan? Ya, ampun! Otakku semakin ngebul rasanya.
Jam di tangan menunjukkan pukul 12.14, waktunya makan siang—andai aku masih di kantor. Oke, sepertinya ini waktu yang tepat untuk bertanya ke Tiana. Dia pernah hamil, dua kali pula. Jadi, dia pasti tahu ciri-ciri orang hamil.
Telepon tersambung, Tiana sudah say hai di ujung sana.
"Mak, dulu waktu hamil Andika dan Caca rasanya gimana sih? Maksudku, pertanda awalnya pas tau hamil."
Tiana malah tertawa. Sialan!
"Rasanya gimana, ya? Beda-beda, sih. Kalau Andika, nggak terasa apa-apa, cuma kena morning sickness doang. Terus, kalo Caca ini yang lemah banget. Kamu tau sendiri kan aku sampai izin nggak masuk berkali-kali?"
Tiana benar. Namun, bukan itu tujuanku. Ini kenapa dia malah curhat?
"Tanda-tandanya, Mak Tia. Apa tanda-tandanya?"
"Ya, apa? Setiap kehamilan itu bisa saja berbeda tandanya, Mitha. Kayak yang aku bilang tadi. Kenapa, sih?"
Tiana sudah berpengalaman, tetapi kenapa jadi sok tahu? Dia pasti lebih mengerti dibanding aku yang modal searching. Jadi, fix, aku tak mengalami morning sickness, tak juga mual parah ketika mencium bau masakan seperti Tiana waktu itu. Namun, aku masih ragu.
"Hallo, Sasmitha. Kamu masih di sana, 'kan?"
"Iya," jawabku malas. "Kalo misalnya nafsu makan turun, bisa masuk tanda-tanda orang hamil nggak?"
"Astaga, Mitha. Ini bukan tentang kamu yang terlambat datang bulan, 'kan? Jadi, kamu hamil? Sama siapa, Mith?" Suara Tiana berubah tegang, seperti khawatir dan takut.
Aku berdecak. "Nggak perlu aku jelaskan soal statusku untuk menjawab pertanyaanmu, 'kan, Mak?"
"I know. Tapi, bisa aja kan karena kamu frustasi, lalu ambil jalan pintas supaya dapat jodoh?"
Kalau Tiana ada di depanku, sudah kujungkir mangkuk berisi kuah soto panas ke wajahnya. Enak saja kalau ngomong.
"Aku memang jomlo abadi, Mak. Tapi aku nggak sememprihatinkan itu juga kali," semburku.
Tiana tertawa.
"Ini semua gara-gara dokter gila itu tauk."
"Maksud kamu Dokter Ashkan?"
"Iyalah, siapa lagi memangnya?"
"Kok bisa sih sampe salah gitu? Atau kamu kali yang salah cara pakainya."
"Nggak tau. Pokoknya aku kesel banget sama tu dokter. Nggak bakalan aku maafin sebelum—"
"Dia lamar kamu."
What? Mendadak tenggorokanku seperti dicekik, aku terbatuk.
"Ngaco! Nggak sudi aku punya suami kayak gitu. Ganteng sih ganteng. Sayang, kesan pertamanya nol besar."
"Udahlah, aku doain kalian berjodoh."
"Tianaaa!!!"
*
Hari ini sangat melelahkan. Gara-gara kemarin aku tidak kembali ke kantor, Bu Lina marah-marah. Kerjaanku juga semakin menumpuk. Terpaksa, hari ini aku lembur untuk menyelesaikan kerjaan.
Badan rasanya remuk redam. Aku butuh tukang pijat sepertinya. Kususuri ruang tamu hingga ruang keluarga, Mama tak ada di sana. Kutengok jam di tangan, hampir pukul sebelas. Astaga, apa aku terlalu memforsir diri? Perasaan tadi aku pulang jam sepuluh, kenapa tiba-tiba sudah jam sebelas saja? Ah, aku lupa, tadi mampir di restoran untuk mengganjal perut yang kelaparan.
Melewati anak tangga, kubuka ikatan rambut untuk merelaksasikan diri sejenak. Rambut legam sebahu tergerai. Ish! Aromanya apek dan mulai lengket. Berapa lama aku tidak keramas? Dua hari, empat hari, seminggu, atau lebih? Ah, mana mungkin? Aku tidak sejorok itu.
"Sasmitha."
Baru saja tangan memegang kendali pintu, suara Mama sudah menghentikan pergerakan. Dengan wajah malas dan lelah aku balik badan, menatap Mama.
"Jam segini kamu baru pulang kerja? Dari mana aja kamu?"
Serius, pertanyaan ini sangat cocok dilontarkan kepada remaja yang suka keluyuran tidak jelas sama teman atau pacarnya. Jelas-jelas aku sudah dewasa, masih saja mendapat pertanyaan seperti itu. Maksudnya, aku punya kerjaan yang penuh kesibukan setiap harinya. Akan tetapi, aku senang karena itu berarti Mama sangat perhatian terhadap anaknya yang paling cantik ini.
"Iya, Ma. Tadi lembur. Mama, kan, tau sendiri, kemarin Mitha nggak balik ke kantor setelah dari rumah sakit."
Kuletakkan tas jinjing di lemari tempat menyimpan buku, piala, piagam, dan penghargaan lain sewaktu sekolah dahulu. Tentu saja bercampur dengan punya Leo, dan beberapa milik Papa.
"Berapa gajimu sampai rela lembur tengah malam begini?"
Astaga, Mama. Kenapa jadi menanyakan gaji segala? Setiap bulan aku juga selalu menyisihkan gajiku untuknya, biarpun tidak banyak. Bukan pelit, aku juga butuh menabung untuk modal menikah nanti, agar tidak terlalu merepotkan Mama dan Papa.
Aku dengar-dengar, biaya pernikahan sekarang lumayan. Kemarin saja teman kantor habis seratus juta untuk pesta pernikahan. Ya ampun, berapa tahun lagi aku bekerja untuk mendapatkan uang sebanyak itu? Sejak saat itu, aku bercita-cita menikah dengan sederhana saja, yang penting sah di mata hukum dan agama. Beres, bukan?
"Mama lagi capek, ya? Mau Mitha pijitin?" tawarku sambil mendekat. Mama duduk di dekat aquarium berisi ikan hias favorit Papa.
"Memangnya kamu nggak capek apa?" tanya Mama ketika aku sudah bersimpuh di bawahnya.
Kepala ini kugerakkan ke kanan dan kiri, guna melemaskan otot di leher yang tegang akibat seharian duduk.
"Lumayan, Ma," jawabku sambil memijit kaki Mama.
"Kamu tau ndak?"
Terang saja aku langsung mendongak, rasanya tak sopan bila tak menatap ketika orang tua bicara. Kutatap wanita berusia hampir 60 tahun ini penuh tanya.
"Kalo kamu sudah menikah, kamu ndak perlu capek-capek kerja sampe larut malam begini."
Mama masih suka tak konsisten bila mengatakan "nggak". Namun, bukan itu yang menjadi fokusku saat ini, melainkan ucapan Mama yang mengandung perintah menikah.
"Nanti, Ma," jawabku singkat. Wajah ini kembali kutundukkan.
"Kapan to, Mith? Liat kanca-kancamu itu, sudah punya anak dua, malah ada yang tiga."
"Menikah, kan, soal jodoh, Ma. Kalo Mitha belum menikah, itu artinya belum kebagian jodoh."
"Gimana mau kebagian? Lha, wong kamunya aja selalu menghindar."
"Mitha akan menikah kalau sudah nemu yang bener-bener pas," jawabku sambil tersenyum menatap Mama.
"Pas dalam segi apa?"
Waduh! Aku harus menjawab apa, ya?
"Kedewasaannya, kemapanannya, tanggung jawabnya, dan cintanya."
"Yo, wis, Dokter Ashkan sudah pas itu."
Jawaban Mama membuat mata ini mendelik, dan sudah pasti pijatan di kaki Mama terhenti. Namun, tangan Mama malah mengusap wajah ini sampai aku berusaha menghindar.
"Ndak usah ngeliatin Mama kayak gitu. Kalian harus menikah. Mama sudah bilang ke papamu kalo kamu mau lamaran. Papa juga sudah otewe pulang."
"Apa?" Lagi-lagi aku dibuat terkejut oleh Mama.
"Mama nggak bisa gitu, dong, Ma. Ini namanya Mama memaksa. Kalo Dokter Ashkan udah punya pacar gimana?"
"Putusin, dong. Susah amat."
Ingin rasanya aku berteriak mendengar jawaban-jawaban Mama. Seakan-akan jawaban itu keluar tanpa dipikir panjang. Memang seharusnya di usiaku ini sudah menikah dan bermain dengan anak-anak, tetapi kalau belum menemukan jodoh bagaimana? Seperti yang kubilang waktu lalu, bukan aku tak mampu membuka hati untuk orang lain, hanya saja aku belum menemukan seseorang yang bisa menggetarkan hati seperti orang yang kucintai di masa lalu.
Bodoh sekali memang. Selama tiga tahun lamanya aku mengagumi seseorang. Dia pria istimewa yang pernah kukenal, walaupun secara sepihak. Wajahnya memang tak terlalu tampan, kulitnya sawo matang. Tubuhnya juga tidak atletis, bahkan cenderung cungkring. Namun, aku mengaguminya begitu dalam. Senyumnya membuat hati ini tenang, canda tawanya menentramkan, dan sikapnya lembut tak terbantahkan.
Entahlah, mungkin aku sudah dibutakan dengan perasaan kagum ini padanya, tetapi aku belum pernah melihatnya menampakkan wajah marah. Dia pecinta anak-anak, selalu mengajak mereka bermain. Namanya Didit Arianto. Dia teman semasa SMA. Kami beda kelas, dan tak pernah sekalipun bisa sekelas.
"Heh, diajak ngomong malah ngelamun! Belum nikah tapi kebanyakan ngelamun itu lama-lama jodohnya semakin jauh."
"Mama kalo ngomong, ih. Omongan orang tua itu doa, Ma." Aku memperingatkan.
"Alah, sok menggurui. Besok kita ke rumah sakit lagi."
"Ngapain, Ma?" tanyaku heran.
"Ketemu Dokter Ashkan, mau minta kepastian kapan melamar kamu."
Allahu Akbar, seketika badan ini lemas. Rasanya, aku ingin pingsan saja sampai esok berganti hari lagi.