Obrolan Tentang Jodoh

2240 Words
Hari ini, suasana kantor terasa lebih santai dari biasanya, dan selalu seperti ini apabila Bu Lina tidak masuk. Menjadi sesuatu yang sangat langka dan membahagiakan bagi para anak-anak kantor. Aku rasa kata teman-teman benar, wanita itu memang lebih mirip Satpol PP daripada ketua divisi. Kubikel Tiana agak jauh, sedangkan teman satu divisiku cowok-cowok. Jadi, kami tak bisa bergosip seperti teman-teman lain. Lagi pula, apa yang akan kami gosipkan? Keempat teman dekat kubikelku juga tipe-tipe cowok serius, hanya Sandi yang kadang melempar lelucon, tetapi ditimpali amukan teman lain. Namun, Sandi tak menyerah, hal itu malah semakin memancing adrenalinnya untuk terus menggoda Willy dan Ulil. Aku sendiri hanya bisa menggeleng ketika melihat Sandi diamuk Willy dan Ulil. "Mbak Mitha, dapat undangan nih dari teman di atas." Ulil menyodorkan sebuah undangan berwarna coklat. Aku menerimanya, membaca nama calon pengantinnya. "Aulia dan Ashkan." Seketika diri berjengit sambil menatap Ulil. Namanya Ashkan, persis nama dokter itu. Hanya mirip, atau memang ini Dokter Ashkan? Kubuka langsung undangan tersebut dengan tergesa-gesa. "Biasa aja kali, kek dapat undangan dari mantan aja," celetuk Sandi sambil menatap plafon. Bukan begitu, aku hanya penasaran namanya saja. Siapa tahu ada nama panjang atau gelar yang disematkan di dalamnya. Sayangnya, tak ada gelarnya, hanya nama panjang mereka berdua. Foto pun tak ada. Sesederhana inikah undangan orang paling populer di kantor ini? "Ini Aulia yang populer dan kesayangan Pak Dir itu, 'kan?" tanyaku kepada Ulil. "Iyalah, siapa lagi? Memangnya ada berapa Aulia di atas?" jawab Sandi yang tidak kuminta pendapatnya. Ulil mendengkus, karena selalu disambar Sandi. "Calonnya seorang dokter, tuh," kata Willy. Dia Mengalihkan pandangan dari komputer. "Aku pernah nggak sengaja bertemu waktu mereka beli cincin," lanjutnya. Entahlah, tiba-tiba jantung ini berdegup tak biasa. "Memangnya kenapa, sih, Mith? Kayak lo kenal aja sampai syok gitu." Sandi tampak menahan tawa. Mungkinkah wajahku terlihat seperti yang dikatakan Sandi? Memang rasanya panas, sih, tetapi aku rasa tidak mungkin sampai segitunya. Syok? Tidak juga. Hanya penasaran, kok. Kalau memang benar Dokter Ashkan itu yang dimaksud, selamatlah aku dari tuntutan Mama. Dokter Ashkan pun bisa tenang, karena tidak diteror Mama. "Makasih, ya, Lil," kataku sembari menyimpan undangan tersebut ke tas. "Lo kapan ngundang kita, Mith?" tanya Sandi. Tentu saja dia sudah tahu jawaban apa yang akan aku berikan, makanya dia pura-pura membersihkan kuku ala-ala princes. "Kayaknya lo rindu disembur Mbak Mitha, deh, San," celetuk Willy yang sepertinya memang sudah hafal diriku. Bersama mereka itu kadang-kadang menyenangkan. Kami sudah seperti saudara. Sayangnya, aku paling tua di sini. Makanya, mereka segan kalau ngobrol atau membahas apa pun denganku, kecuali Sandi—si mulut lemas. "Mana mungkin seorang Sasmitha berani marah sama gue? Dia, kan, sayang banget sama gue," kata Sandi, terdengar penuh kesombongan di telingaku. "Iya, 'kan, Mith?" Alis tebal Sandi naik-turun. Tentu saja langsung kujawab dengan bibir atas naik sebelah. "Cari masalah ni anak," kata Ulil menimpali. Bagaimana bisa mendapatkan jodoh, bila yang kutemui saja adik-adikku? Andai Mama tahu keseharian diri ini di kantor, pasti dia tak akan tega bicara tentang jodoh. "Ampun, Mith! Biasa aja dong ngeliatnya. Entar lo jatuh cinta sama gue, kan, bahaya." "Sandiii!" geramku sambil meremas kertas. Sebelum kulempar kertas ini, Sandi sudah lebih dahulu lari dari kubikelnya. Dia memang selalu begitu, beraninya lempar batu sembunyi tangan. Hanya dia yang memanggilku tanpa embel-embel "Mbak". Entahlah, ketika dia memanggilku dengan sebutan "Mbak Mitha", malah terdengar aneh di telinga. Jadi, kubiarkan saja dia memanggil sesukanya, agar aku juga tidak terlihat lebih tua dari mereka. Jam makan siang biasanya kami makan bersama. Namun, akhir-akhir ini aku malas makan di kantin kantor. Soto di seberang jalan terlihat lebih menggoda soalnya. "Mak Tia, makan soto di depan sana, yuk!" Kali ini, kuhampiri kubikel Tiana, satu-satunya teman perempuan dalam divisiku. "Kerjaan numpuk, nih, Mith. Aku bawa bekal." Seketika bibir ini mengerucut. "Lain kali, ya. Sorry," kata Tiana tanpa menatapku. Dia memang tampak sibuk dengan kertas-kertas itu. Baiklah, sepertinya dia tidak bisa diganggu gugat. Semalam habis curhat juga pasal laporan yang belum usai dia kerjakan. Beruntung hari ini Bu Lina tidak masuk. Jadi, Tiana bisa sedikit bernapas lega. Akhirnya, aku makan sendirian di rumah makan seberang kantor. Berjalan sendiri seperti ini terasa bagai orang hilang. Untungnya aku bawa ponsel, sehingga bisa sambil pura-pura membalas pesan. Padahal hanya scorl beranda sosial media. "Aduh!" Pekikan seorang wanita membuatku kaget, karena aku pun merasakan sakit di jidat. "Sorry, sorry," kataku cepat sambil menangkupkan kedua tangan. "Nggak apa-apa, kok," jawabnya lembut. "Sasmitha, ya? Mau ke mana?" Sebentar. Dia tahu namaku, itu artinya kami satu gedung perkantoran. Oh, ya ampun! Jika tidak malu, aku sudah menepuk jidat. "Aulia?" kataku. "Mau makan siang, 'kan? Barengan, yuk!" Belum juga sempat menjawab, tanganku sudah digandeng menuju rumah makan di depan. Terpaksa diri ini mengikuti langkahnya. Lagi pula, makan sendirian itu tidak enak. Jadi, tak ada salahnya juga bila makan sama Aulia. "Makasih, ya, undangannya," kataku setelah kami tiba di rumah makan. Beberapa saat lalu juga pelayan sudah mencatat pesanan kami. Ternyata, tujuan kami sama. "Jangan lupa datang, ya," kata Aulia penuh keramahan. "Insya Allah." Aku mengangguk. "Selamat, ya. Aku ikut seneng." "Semoga cepet nular ke kamu, ya, Mith." Tangan Aulia mengusap tanganku. Seakan-akan dia tahu problema yang tengah kuhadapi saat ini. Orang-orang ini apaan, sih? Aku santai saja menjalani hidup, tetapi mengapa seolah-olah mereka mengasihaniku? Apa wajah ini terlihat butuh belas kasihan? "Oh, thanks doanya," kataku ragu. "Kami menikah juga tanpa pacaran, kok, Mith. Dia cowok paling baik yang pernah aku kenal. Makanya, aku mau cepat-cepat menikah sama dia. Kalau kelamaan, aku takut dia berubah pikiran." What? Dia curhat sama aku? Kami tidak dekat, hanya kenal biasa saja. Namun, dengan mudahnya dia menceritakan hal pribadi kepadaku. Ah, ya. Mungkin benar kata segelintir orang-orang di kantor, kalau Aulia ini suka pamer. Pamer terselubung. Aku mengangguk-angguk saja menanggapi curhatan Aulia, karena tak tahu harus menjawab apa. "Sebenarnya kami dijodohkan, Mith. Keluarganya ingin dia segera menikah, tetapi dia malah kayak nggak peduli gitu. Dia lebih fokus ke karirnya. Aku tahu ini dari keluarganya juga, sih. Mereka baik banget sama aku." Fix! Orang-orang benar adanya. Jadi, ini to, Aulia si cerdas dan paling membanggakan bagi Pak Dir? Cewek yang selalu memenangkan tender. Beri tepuk tangan untuk Aulia. "Oh." Hanya itu yang menjadi responsku atas cerita Aulia sejak tadi. Dia pun sangat antusias menceritakan kisahnya. Apa aku harus bertanya siapa calon suaminya? Ah, no, no! Rasanya tidak perlu. Nanti dia berpikir yang aneh-aneh. * Semenjak makan siang bersama Aulia waktu itu, aku jadi meraba-raba kehidupanku sendiri akhir-akhir ini. Apa semenyedihkan itu, sehingga semua orang harus iba? Tunggu dulu, apa kesendirianku telah menyebar ke setiap penjuru kantor? Lalu, mereka semua membicarakanku di belakang dan mengasihaniku? Jujurly, aku sama sekali belum memikirkan jodoh. Hidup ini sangat sempurna kurasakan. Aku pun baik-baik saja menjalani hidup, bahkan cenderung merasa bahagia karena bebas melakukan hal-hal yang kusukai. Namun, mengapa seolah-olah mereka begitu mengasihani hidupku? Mama, Leo, Tiana, Sandi, dan teman-teman lain rasanya terlalu mengkhawatirkanku. Oke, ini bentuk kasih sayang mereka, tetapi sampai saat ini aku belum seterpuruk itu soal jodoh. Bagiku, suatu saat nanti jodoh akan datang dengan cara dan masa yang indah. Jadi, apa yang harus aku permasalahkan? Kalau menurut Oppie Andaresta, i'm single and very happy. Bagaimana tidak bahagia? Aku memiliki keluarga dan teman yang manis, bahkan pekerjaan yang sangat aku cintai. Soal jodoh nanti saja. Untuk saat ini, aku hanya ingin memantaskan diri bagi siapa pun kelak yang akan meniti hidup bersamaku hingga hari tua. Meskipun terkadang aku merasa bersalah kepada Mama, karena belum juga bisa membahagiakannya, tetapi diri ini masih ingin berkarir. "Ngelamunin Dokter Ashkan?" Suara Mama membuyarkan konsentrasiku pagi ini. Setiap libur kerja, selalu kuusahakan olahraga agar badan tetap sehat. Itu berpengaruh juga untuk kesehatan mentalku. "Siapa yang ngelamun? Mitha mau yoga, kok," jawabku. "Wajahmu itu lho, ndak usah ditekuk. Ayumu ilang nanti." Mama mendekat sambil menggotong salah satu kondenya. Entah itu koleksi konde yang ke berapa. "Mau ngapain bawa-bawa konde?" tanyaku curiga. "Ini konde bukan sembarang konde." Mama duduk di dekatku, lesehan. "Ini konde turun-temurun dari nenek buyut ke nenek buyutmu." Alisku menaut mendengar ucapan Mama, sama sekali tak bisa kucerna maknanya karena terlalu berputar-putar. Diri ini melanjutkan kegiatan pemanasan sebelum memulai olahraga. "Ini nanti buat acara lamaran sampai pernikahan kamu," kata Mama lagi sambil mengutak-atik konde. "Kapan dokter itu bawa keluarganya ke sini?" Gerakanku terhenti seketika. "Dia sudah punya calon istri, Mama. Jadi, Mama nggak perlu—" "Iya, Mama tau. Kamu, kan, memang calon istrinya." Percuma juga ngomong sama Mama, ujung-ujungnya pasti seperti itu. Lebih baik aku melanjutkan olahraga saja, karena masih banyak yang ingin aku lakukan hari ini. "Tadi siang ada teman SMA kamu datang ke sini." Seketika aku menoleh tanpa menghentikan gerakan sit up. "Siapa?" "Mana Mama tau? Dia datang ngasih undangan. Embuh undangan apa, Mama taruh di atas kulkas." "Memangnya nggak Mama baca, sampai nggak tau?" "Yo, enggak, to. Wong Mama lagi sibuk nelpon papamu. Temanmu itu juga nggak mau mampir." Pasti undangan pernikahan. Bulan-bulan ini memang mulai gencar yang mengirim undangan ke rumah. Terhitung sudah sepuluh undangan datang, itu sudah termasuk dari kantor juga. "Kapan kamu ngundang? Masa diundang terus? Nggak bosen kamu hadir ke pesta pernikahan orang, tapi kamu sendiri belum nikah?" Mama kalau ngomong suka ceplas-ceplos tanpa memikirkan perasaan anaknya. Meski aku tegar dan tak terkalahkan, tetapi tetap saja aku bukan Gatot Kaca yang memiliki otot kawat tulang besi. Aku sendiri meyakini, Gatot Kaca akan menangis bila menyangkut perasaan, karena tak mungkin juga hatinya terbuat dari alumunium atau seng, bukan? * Aku penasaran soal undangan yang Mama bahas pagi tadi. Perasaan, teman-teman SMA sudah pada menikah, aku ingat betul nama-namanya. Bahkan, aku sempat mendata undangan yang masuk, lalu kucocokkan dengan nama-nama mereka waktu lalu. Bila tidak lupa, semua sudah tercentang. Daripada penasaran, langsung saja kucari undangan itu di tempat yang tadi Mama sebut. Masih ada. Buru-buru kuambil, lalu membacanya saksama. Astaga. Undangan reuni SMA satu dekade. Mata ini membelalak tak percaya. Mungkinkah sudah selama itu? Buru-buru diri ini mengecek grup alumni SMA di telegram. Ribuan chat antre untuk disimak. Sejak grup ini pindah ke aplikasi gambar pesawat kertas, aku jadi jarang membukanya. Ternyata ada yang menyebutku beberapa kali. [Sasmitha wajib hadir!] tulis Sintia. Dulu dia teman sebangkuku. Lagi, kutelusuri saja chat yang menyebut namaku. [Mbak Sasmitha kudu datang, ya. Ini reuni terbesar kita.] Masih dalam posisi menyimak obrolan grup. Ada salah satu chat yang menarik perhatian. Salah satu teman menyebutku. [Kita semua udah menikah, cuma Sasmitha sama Didit nih yang belum.] Apa aku tidak salah baca? Sekali lagi kupastikan bahwa diri ini tak salah. Ternyata isinya sama seperti yang k****a di awal. Ini sangat mengejutkan. Seorang Didit Arianto yang selalu dipuja-puja cewek di sekolah belum menikah? Mustahil sekali! [Jangan-jangan Didit nunggu Sasmitha, nih.] [Jodoh kayaknya.] Apa-apaan ini? Mereka tidak bermaksud mencomblangkan kami, bukan? Ingin rasanya aku membalas komentar, tetapi nanti malah jadi bulan-bulanan mereka. Tidak usah sajalah, cukup menyimak. Anehnya, aku tidak menemukan chat atas nama Didit di sana. Apa dia tidak ada di grup? "Mantengin HP nggak akan bikin kamu cepet dapat jodoh." Seketika aku menoleh. Mama datang membawa semangkuk sup hangat, terlihat asapnya masih bergoyang di atas mangkuk. "Bisa aja kalo Mitha mantengin biro jodoh, Ma," jawabku sambil melipat kaki di atas sofa. "Tengah malam nanti kamu harus mandi kembang tujuh rupa dengan air dari tujuh sumur," kata Mama sambil duduk di sebelahku. What? Mata ini seakan-akan hendak lepas dari cangkangnya ketika mendengar ucapan Mama. Yang benar saja, masa aku mandi bunga tengah malam? Kata Ayah Meggy Z. juga tak diperbolehkan mandi kembang tengah malam. Eh! "Untuk apa, Ma?" Aku menyuapkan sup ke mulut. Enak. Mama sangat tahu kesuakaanku. Sup kimlo. "Buang sial. Kamu itu pasti ditempeli jin-jin di kantor, makanya susah jodoh." "Ih, Mama kalo ngomong suka asal, deh. Di kantor memang ada jin, Ma. Namanya Sandi." "Eh, iya. Gimana kabare bocah sedeng itu?" "Mama kangen sama Sandi? Mau aku telponin biar dia ke sini?" tawarku tanpa melepaskan mangkuk sup. "Hih, ora! Tapi kalo dia ke sini, rumah jadi rame. Mama jadi ada teman menggosip. Kamu, kan, suka nggak ada buat Mama." Kok jadi sedih mendengar ucapan Mama. Aku meletakkan mangkuk sup ke meja. "Udah, ndak perlu merasa bersalah. Kamu, kan, orang sibuk." Aku malah semakin merasa bersalah kalau seperti ini. "Maafin Mitha ya, Ma. Mitha sibuk banget di kantor." "Nggak apa-apa. Udah biasa seperti itu, 'kan?" Tiba-tiba ponselku berdering. Sebuah panggilan dari nomor baru. Ya ampun, nomor yang malam itu. Untuk apa dia menelepon? "Siapa? Kok nggak diangkat?" tanya Mama. Segera aku meraih ponsel yang tergeletak di meja, kemudian mematikan panggilan. "Bukan siapa-siapa kok, Ma. Salah sambung kayaknya." "Salah sambung kok kamu grogi gitu? Apa Dokter Ashkan?" Mama selalu tepat. Heran aku. "Eh, bukan dia kok," alibiku. Namun, sepertinya pemilik nomor itu tak mau menyerah. Dia mengulangi panggilannya. Lagi dan lagi, aku matikan lagi. Mama semakin curiga, tampak jelas sekali dari sorot matanya. "Aneh kamu. Siapa tahu itu jodoh kamu. Jodoh kan bisa datang dari mana saja. Kayak sepupumu itu, dia dapat jodoh juga dari sosial media." Mam beranjak ke dapur, mungkin sebal denganku. "Itu kan bukan Mitha. Mitha nggak mau dapat jodoh dari sosmed," kilahku. Aku mengirim pesan ke si penelepon. Menanyakan dia siapa. Walaupun besar dugaanku dia adalah Dokter Ashkan, tetapi aku tak mau tampak sudah mengenalinya. Nanti dia besar rasa. "Halah sok banget kamu," cibir Mama. Aku tak memperhatikan Mama lagi. Dia juga sudah sibuk dengan kegiatannya yang lain. Nomor baru itu membalas pesanku. [Saya Ashkan, saya mau ke rumah kamu hari ini.] What? Mataku melotot, membaca ulang isi pesan tersebut. Ini tak salah? Untuk apa dia ke rumahku? Dapat alamatku dari mana? Tiana pasti biang keladinya. Awas saja dia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD