*
Malam ini, aku tengah berada dalam ingar-bingar sebuah pesta. Entah apa yang menuntunku hingga bisa datang kemari. Sudah lima tahun aku tidak pernah menghadiri acara reuni sekolah, karena bosan dengan pertanyaan "kapan nikah?" yang selalu mereka lontarkan. Belum lagi bisik-bisik tentangku—yang masih bisa kudengar tentu saja, mereka membicarakan seseorang yang jelas-jelas ada di depan mata mereka. Miris memang.
Diri ini tahu dan sangat mengerti bahwa belum memiliki pasangan, tetapi apakah harus digunjing sedemikian rupa? Jujur saja, aku sangat malas bertemu mereka semua. Kalau bukan karena salah satu permohonan dari Sintia, aku tak akan hadir. Dia sampai rela menjemput ke rumah dan memaksaku pergi. Sintia tak mengajak pasangannya, karena sibuk bekerja. Kedua anaknya juga sekolah.
Kami berdiri berdampingan di dekat meja bundar bertaplak putih bersih. Di atasnya ada aneka minuman warna-warni dalam gelas berkaki jenjang yang tersusun rapi. Acara ini benar-benar meriah dan sangat matang persiapannya.
Seorang pemandu acara memulai dengan bacaan puisi. Aku ingat, dulu dia memang jago membuat puisi, sehingga banyak gadis jatuh cinta kepadanya. Sebenarnya Didit juga pintar membuat puisi, tetapi tidak seperti cowok ini. Sekarang, pemandu acara itu terlihat lebih gemuk dari yang dulu.
Kami bertepuk tangan ketika puisi yang dibacakan Rendi selesai. Senyumku mengembang. Memang hebat dia.
"Kamu tau nggak, siapa bintang yang dimaksud?" tanya Sintia ketika Rendi menyebutkan susunan acara dan mengatakan bahwa akan ada seorang tamu istimewa di tempat ini. Tamu yang paling ditunggu-tunggu karena juga telah menjadi sponsor acara malam ini.
Aku menggeleng, karena memang sama sekali tidak tahu. "Memangnya siapa?" tanyaku penasaran.
"Rahasia, entar kamu juga tau, kok," kata Sintia.
Lalu, apa gunanya dia bertanya kalau pada akhirnya dirahasiakan? Sintia aneh.
Apakah Didit akan hadir? Mengingat begitu sulitnya dia diundang, sampai-sampai dulu pernah dipaksa, dan tetap tak berhasil. Setelah itu, tak pernah lagi kudengar namanya hadir di acara reuni. Hal itu juga yang membuat mereka mengatakan kalau aku tidak hadir di acara reuni lima tahun terakhir hanya gara-gara Didit juga tak hadir. Padahal, bukan begitu ceritanya. Mereka hanya membenarkan apa yang mereka pikirkan, tanpa peduli penjelasan sesungguhnya.
"Sasmitha!" pekik seseorang yang kudengar seperti orang sedang terkejut.
Seketika diri ini menoleh ke sumber suara, diikuti Sintia. Tak jauh di belakangku berdiri seorang wanita cantik dengan dandanan ala-ala istri pejabat negara—jambul terlihat meski dibalut kerudung. Dia berjalan cepat ke arahku. Tentu kusambut hadirnya dengan seringaian senyum.
"Hello, how are you?" tanyanya sambil mengajakku dan Sintia cipika-cipiki.
"Alhamdulillah, sehat," jawabku.
"Ih, ditanyain pake bahasa Inggris malah jawabnya pake bahasa dalam negri," celotehnya seakan-akan tak terima.
Memang salahnya di mana? Aku dan Sintia saling pandang.
"Aku pecinta produk dalam negri, by the way," jawabku asal.
Voni terbahak. Sintia yang sudah hafal dengan sifat Voni pun hanya mesem, lalu menunduk. Wanita berjambul khatulistiwa ini memang terkenal agak sombong dan suka pamer sejak sekolah. Apalagi sekarang dia menjadi istri pejabat, semakin tinggi saja omongannya.
"Eh, kamu nggak bawa pasangan, 'kan? Takutnya, entar kamu kebelet pamer suami, kan, nggak lucu." Lagi-lagi Voni tertawa.
Ingin rasanya aku menyumpal mulutnya dengan kursi besi di depan gedung tadi, atau meja berikut taplak dan gelasnya. Kesal juga mendengar celotehnya.
"Eh, jangan-jangan sampai sekarang belum nikah lagi?" lanjut Voni sambil menutup mulut, yang aku rasa memang tak niat menutupnya. Buktinya, hanya dua jarinya yang menempel di bibir, lainnya mengudara.
"Jangan didengerin, Mith. Dia, kan, dari dulu memang gitu," bisik Sintia sambil sembunyi-sembunyi.
Tenang. Bukan Sasmitha namanya kalau tidak bisa membalas. Aku bukan anak ingusan yang akan diam saja bila di-Bully. Apalagi hal remeh-temeh begini, kecil!
"Aku lebih memilih jomlo ketimbang menikah di bawah buku nikah orang lain," jawabku santai, tetapi mungkin cukup menohok hati Voni.
Sintia menyenggolku, mungkin maksudnya aku dilarang mencari gara-gara dengan kuda Voni ini.
Mata Voni pun menatapku tajam. "Maksud kamu apa?" lantangnya.
Sepertinya, dia mulai tersulut emosi. Aku tersenyum meledek. Pasti akan seru kalau dilanjut, apalagi Voni tipe orang yang tak pernah terima dengan hinaan. Namun, Sintia menarik tanganku. Ah, tidak seru!
"Kita mau temuin temen-teman dulu, ya, Von," kata Sintia sambil menyeretku agar menjauh dari kuda Voni.
Entahlah, sejak masa sekolah Voni suka sekali mencari masalah denganku. Apa ada dendam yang masih dia simpan sampai sekarang?
"Heran, deh. Kayaknya dia benci banget sama aku, Sin," keluhku saat kami sudah jauh dari Voni.
"Iyalah. Gimana dia nggak benci sama kamu, kalau setiap cowok yang dia suka malah naksir kamu?"
Jawaban Sintia membuat diri ini bertanya-tanya, apakah itu benar? Perasaan, tidak ada seorang pun yang menyatakan perasaannya kepadaku.
"Ngaco!" kataku.
Sintia berdecak, lalu berkata, "Kamu itu memang nggak pernah peka, Mith. Aku rasa penyakitmu itu masih ada sampai sekarang. Makanya, kamu belum nikah juga. Eh!" Sintia menutup mulut, seolah-olah dia telah salah bicara.
Diri ini menatapnya bingung. Namun, sepertinya tatapanku malah membuat Sintia takut. Mungkin saja dia takut menyinggung perasaanku.
"Kamu harus lebih peka sama apa-apa yang ada di sekitarmu, Mitha. Jangan terlalu cuwek," lanjut Sintia.
Apakah yang dikatakan Sintia itu benar? Sebab, omongan Sintia sama persis dengan apa yang dikatakan Tiana. Katanya, aku ini kurang peka, sehingga tidak menyadari perhatian-perhatian kecil dari seseorang. Itu juga yang membuat mereka—yang mendekatiku—kabur pelan-pelan. Bosan memberi kode, tetapi diri tak pernah menyadari.
Kenapa terdengar sangat jahat? Tidak, tidak! Seharusnya mereka tidak perlu kode-kodean. Langsung saja jujur kalau menyukaiku, apa salahnya? Lagi pula, aku mana bisa mengerti dengan kode-kode? Jangankan kode, sandi morse saja aku malas menghafalnya. Ayolah, mulut diciptakan untuk apa, sih?
"Nggak gitu konsepnya, Marimar! Semua harus melalui proses pendekatan. Nah, kalo umpannya aja nggak dimakan, gimana bisa pemancing dapat ikan? Yang ada, ya, mundur alon-alon, Mbak." Begitu kata Tiana tempo hari.
Apa Sintia dan Tiana benar? Ah, tidak juga. Itu hanya penilaian sebagian orang, belum tentu orang lain menilai sama. Pasti semua hanya teori perasaan yang mereka ciptakan sendiri. Orang dewasa tidak sepatutnya main kode-kodean. Kenapa tidak langsung bertindak nyata saja? Aku adalah orang paling realistis. Siapa yang membuktikan perasaannya, dialah sang juara dan berhak mendapatkan hati ini. Aku paling suka sama cowok yang berterus terang.
"Mith, tamu spesialnya udah hadir, tuh!" Sintia menunjuk ke arah kerumunan para cowok-cowok. Tampaknya, mereka saling berebut menjabat tangan. Seistimewa apa orang itu? Apa dulu sangat berpengaruh di sekolah?
Sebentar, diri kembali melempar ingatan ke masa lampau. Siapa cowok paling beken dan istimewa pada masa itu? Oh, aku ingat! Namanya Kuswoyo, anak juragan empang, pemilik kontrakan terbanyak kala itu. Apa dia sekarang semakin sukses? Mata ini mencoba membelah kerumunan, tetapi sama sekali belum ada hilal.
Lamat-lamat pandangan ini mulai menangkap seraut wajah yang sangat tak asing. Mataku membelalak ketika tahu bahwa cowok itu bukan Kuswoyo. Sebentar, kuingat-ingat lagi wajah itu. Siapakah namanya? Ayolah, otak, bekerjalah semaksimal mungkin. Kebiasaan buruk yang aku alami, susah mengingat saat gugup, terdesak, atau grogi.
"Hei, malah ngelamun! Kamu ingat nggak dia siapa?" tanya Sintia membuyarkan lamunanku.
"Agak lupa. Wajahnya sulit untuk aku kenal. Apa dia juga teman sekolah kita?"
Serius, hampir semua wajah mereka melekat dalam benak. Bahkan, wajah Didit pun tak bisa kuhapus. Namun, entah mengapa diri ini sama sekali tak mengenal wajah tampan dengan kumis tipis dan dagunya ditumbuhi sedikit rambut itu. Dia berjalan mendekati podium. Tentu saja dia menjadi pusat perhatian orang-orang dalam ruangan ini.
Sintia menggeleng. "Serius nggak ingat? Dia itu Didit. Masa lupa, sih?"
Seketika mata ini membola untuk kesekian kalinya mendapati kenyataan mengejutkan tersebut. Didit bisa berubah sedrastis itu? Dulu kulitnya sawo matang dan tak mempunyai kumis. Serius, masa puber seharusnya kumis sudah tumbuh, bukan? Namun, saat itu dia sama sekali tak memilikinya. Ini benar-benar mengejutkan. Tunggu dulu, siapa wanita cantik yang dia gandeng itu? Sayangnya, gadis itu tak ikut naik podium, dia hanya terlihat memberi semangat kepada Didit.
Jika boleh, aku ingin pingsan saja. Jantung ini berdentum hebat, seakan-akan diri tak kuasa mengendalikannya. Dia Didit, cowok pertama yang membuatku jatuh cinta karena kekonyolan dan segala tingkah absurd-nya. Oh, my God!
Sintia menepuk bahuku, membuat diri ini tersadar dari lamunan. Sejenak aku berusaha meredakan perasaan yang tiba-tiba membuatku kikuk.
"Cowok paling bandel di sekolah, sering masuk ruang BP, dan sering nggak ikut mata pelajaran. Inget nggak?" kata Sintia lagi.
Tidak perlu diingatkan juga aku tak akan pernah lupa. Apa yang Sintia tahu tentang Didit, tak sebanding dengan kenangan dalam memori ini. Bahkan, aku sampai tahu di mana Didit setiap kali tak ada di kelas ketika jam pelajaran, atau sedang apa dia ketika itu.
Ya, aku tahu semuanya. Namun, itu hanyalah kenangan silam yang berusaha kukubur dalam-dalam, meskipun kenyataannya tak mudah.
Memang belum ada pengganti Didit dalam hati ini, tetapi bukan berarti aku masih menyukainya. Bukan. Rasa deg-degan itu juga masih ada, tetapi diri ini ragu bila masih menyimpan rasa yang sama, atau menyebutnya suka.
Tunggu dulu. Mari, abaikan perasaan ini. Hal paling penting saat ini, siapakah perempuan itu? Wajahnya familiar, tetapi siapa? Diri mencoba mengingat-ingat. Namun, sama sekali tak teraba. Padahal, cukup lama dia menoleh tadi. Sudahlah, tak perlu memaksa untuk mengingat hal tak penting. Melihat Didit memberi sambutan membuat aku kagum. Dia sesukses ini sekarang. Aku mengulum senyum.
Tak kusangka, pria yang dulu sering bolos dan tak mengerjakan tugas, kini bisa sukses dan mempunyai bisnis sekeren itu. Apa yang telah dia lalui, sehingga bisa sesukses ini? Kuberikan tepuk tangan paling meriah untuknya, hanya dalam hati.
"Sasmitha!"
Seseorang menepuk pundakku dari belakang. Dari suaranya, aku yakin itu bukan Sintia. Hei! Ke mana Sintia? Aku mengedarkan pandangan, dia tak ada di sekitarku. Lalu, siapa wanita di hadapan ini?
Mataku sedikit menyipit, mencoba mengingat wajahnya yang dipoles make up.
"Ya, ampun! Kamu lupa sama aku? Aku Aulia."
Aku menepuk jidat, bisa-bisanya lupa sama orang yang bayarin soto waktu itu. Aku rasa, memori otak ini sudah hampir penuh dan waktunya di-restart.
"Aulia? Kok bisa ada di sini?" tanyaku.
Tentu saja aku heran. Ini acara reuni sekolah, dan Aulia bukanlah teman seangkatanku. Jadi, untuk apa dia di sini? Iya, 'kan?
Aulia tersenyum, cantik sekali. "Aku nganter Abang. Tadi di jalan mobilnya mogok, kebetulan aku juga sedang ada acara di dekat-dekat sini," jawabnya dengan nada renyah.
Pantas saja dia selalu dipercaya atasan untuk presentasi dan segalanya yang berhubungan dengan tampil di depan audiens. Pembawaannya yang smart dan ramah pasti banyak membuat orang kagum. Termasuk aku.
Mendengar penjelasan Aulia membuat diri ini mengangguk, meskipun tak mengetahui siapa yang dimaksud gadis itu. Bila menilik dari busana yang digunakan Aulia, bukankah dia perempuan yang bersama Didit saat akan ke podium tadi? Jadi, apakah Aulia ini adiknya Didit? Kenapa dunia sesempit ini, Tuhan?
Belum selesai keheranan ini, tiba-tiba ada yang memanggil Aulia. Suaranya terdengar dari belakangku. Sontak diri ini menoleh. Seorang cowok berperawakan tinggi, berkulit sawo matang, dan tegap melintas. Pandangan ini mengikuti sosoknya yang berhenti di dekat Aulia tentu saja.
"Kamu masih di sini?" tanya cowok itu pada Aulia.
Serius, mulut ini masih belum bisa merapat sempurna. Betapa degupan ini sangat membuatku gemetar.
"Nggak sengaja ketemu temen kantorku, Bang. Ini, namanya Sasmitha." Aulia menujuk ke arahku dengan matanya.
Hal itu membuatku menelan ludah susah payah, tetapi tetap dalam posisi sembunyi-sembunyi. Sintia, ke manakah dia? Tiba-tiba aku gelisah.
"Mitha? Apa kabar?" Didit mengulurkan tangan ke arahku.
Sambut, tidak? Sambut, tidak? Astaga, aku benar-benar gemetar.
"Baik, Dit," jawabku sambil menjabat tangan Didit. Semoga dia tidak menyadari kegugupan ini.
"Tangan kamu kenapa dingin banget?" tanya Didit tiba-tiba.
"Eh, iya. AC-nya terlalu dingin kayaknya," alibiku dengan senyum kaku.
"Kebetulan yang sangat indah, ya, Mith. Nggak nyangka kalo ternyata kamu adalah teman abangku."
Aku masih dengan senyum kaku ketika menanggapi omongan Aulia. Kebetulan yang indah bagaimana? Ini sangat buruk.
"Abang pulangnya gimana? Nunggu aku selesai acara atau—"
"Gimana kalo kamu dijemput Ashkan? Biar mobil kamu Abang yang bawa."
"Tapi, Mas Askhan masih kerja, Bang."
"Suruh jemput sebentar aja apa nggak bisa?"
Kenapa aku bisa terjebak obrolan tidak penting bersama mereka? Kubuang pandangan ke sekitar, sekalian mencari Sintia. Siapa tahu wanita berambut cepak itu juga mencariku. Mau melipir juga sudah kepalang tanggung.
Eh, tadi mereka menyebut nama Ashkan. Aku jadi penasaran siapa Ashkan yang dimaksud. Jujur saja, kalau itu benar Dokter Ashkan, Mama harus menyudahi dramanya. Aku tahu dia ingin aku segera menikah, tetapi bukan dengan cara memaksa orang, apalagi calon suami orang. Mama harus minta maaf juga kepada Dokter Ashkan. Pasti dia cemas karena tudingan dan tuntutan tak jelas Ibu Raden Ayu Roro Pangestuti. Ah, nama saja panjangnya seperti kereta api. Untung saja namaku tidak sepanjang namanya.
"Kamu sibuk apa sekarang selain kerja?"
Didit bertanya pada siapa? Kutoleh kanan dan kiri, tidak ada seseorang di dekat kami.
"Aku ngomong sama kamu, Mith," kata Didit.
"Sorry," kataku merasa tak enak. "Cuma kerja aja, sih. Penginnya ngurus anak, tapi nikah aja belum." Aku menertawakan diriku sendiri. Miris.
Seharusnya tidak perlu membahas itu. Lagi pula, Didit mana mau tahu tentang semua itu? Namun, bukankah dia temanku? Seharusnya tidak perlu kaku juga dalam bicara, bukan? Iya, benar.
"Kamu belum menikah?" tanya Didit. Terdengar sedikit panas di telinga, karena seolah-olah berita ini mengejutkan baginya.
Aku mengangguk.
"Sama. Aku juga belum menemukan cewek yang pas di hati."
"Mungkin kamu pemilih," jawabku sekenanya. Ternyata bila sudah bisa mengendalikan diri, aku dapat bicara santai.
"Kamu salah. Aku sibuk bekerja, sehingga sulit dekat dengan wanita."
"Sesibuk apa memangnya? Aku lihat, kamu udah sukses. Seharusnya banyak wanita antre untuk menjadi pasanganmu, atau bahkan kamu sampai kesulitan melabuhkan pilihan pada siapa. Iya, 'kan, Lia?"
Diri ini mencoba meminta pendapat wanita di hadapan. Dia malah tersenyum doang.
Didit tertawa. Tawanya masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu.
"Kamu sendiri, kenapa belum menikah?"
Waduh, jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan Didit? Tidak mungkin juga aku mengatakan kalau belum ada cowok yang bisa menggetarkan hatiku seperti dirinya. Itu akan sangat memalukan. Dia juga bisa besar rasa nanti.
"Didit!"
Suara panggilan itu seperti penolong bagiku. Didit menoleh, bersamaan dengan Aulia.
Selamat! Aku mengusap d**a. Untung saja ada yang bisa menjeda obrolanku dengan Didit. Bila tidak, bisa membiru wajah ini bak bunga kecubung. Aku tak mengerti harus mengobrol apa lagi dengannya.
Wajah cowok yang memanggil tadi masih bisa kukenali, dialah Kuswoyo. Tampak lebih keren dan modis.
"Lho, Samitha, ya?" tanya Kus kepadaku.
Aku hanya tersenyum sambil mengangguk.
Setelah berbasa-basi sedikit, aku langsung pamit kepada Didit, Aulia, dan Kus untuk menemui teman-teman lain.
Akhirnya, lega juga bisa bebas dari Didit.
Sejak datang sampai acara inti, sama sekali tenggorokan ini belum dialiri minuman. Segelas jus jeruk menjadi pilihan. Ternyata bukan jus, hanya minuman berperisa jeruk. Sejenak kucari Sintia yang sejak tadi tak kutemukan keberadaannya. Namun, tanpa sengaja mata ini menangkap seorang cowok yang begitu familiar berdiri di ambang pintu, tampak seperti sedang mencari sesuatu.
"Dokter Ashkan," lirihku sambil menyipitkan mata, memastikan siapa yang kulihat.
Benarkah dia Dokter Ashkan?