Dua Pria di Reuni

1078 Words
Sejenak, ingatan ini terlempar pada sebuah undangan yang diberikan Ulil. Undangan pernikahan Aulia dengan Ashkan. Jangan-jangan benar kalau calon suami Aulia adalah Dokter Ashkan? Mama harus tahu dan benar-benar menyudahi semua tuntutannya kepada Dokter Ashkan. Semua bukti sudah mengarah ke sana, bahwa memang calon suami Aulia adalah Ashkan F. Dzulhannan. Entah apa singkatan huruf F tersebut. Dalam undangan kemarin hanya tertulis seperti itu. "Sasmitha." Suara itu terdengar dekat. Aku menoleh, Dokter Ashkan sudah berdiri di hadapanku. "I-iya, Dok?" tanyaku gagap. Aku jadi grogi. Aih, kenapa harus gagap? Maksudnya, kenapa tiba-tiba dia ada di dekatku? Untuk apa? "Maaf, saya mau tanya. Apa benar ini tempat reuni alumni SMAGA?" Aku mengangguk santai. "Benar," jawabku singkat. Dugaanku benar. Dokter Ashkan pasti ke sini mau mencari Aulia. Pasti! "Kamu lihat cowok, tingginya kurang lebih sama dengan saya?" "Maaf, Dok. Ciri-ciri seperti itu banyak di sini," jawabku sekenanya. Sekarang gantian dia yang kukerjai. Rasakan! "Adakah ciri lain?" "Dia sponsor acara ini." Sudah kuduga, pasti yang dimaksud adalah Didit, kakak dari Aulia. Dokter Ashkan tidak akan menyebut nama Aulia, karena mengira aku tak mengenalnya. Lagi pula, Aulia bukan alumni sekolahku. Bisa jadi juga alumni, tetapi bukan seangkatan denganku. Tunggu dulu, dokter ini belum minta maaf padaku, bukan? Ternyata, orang berpendidikan tinggi tak semuanya memiliki attitude bagus. "Nggak tau." Lagi-lagi aku menjawab suka-suka, tanpa menatapnya. "Masa nggak tau? Bukannya dia—" "Dokter Ashkan yang saya hormati, maaf bila ini menyinggung, tapi saya harus mengatakannya. Tidak semua alumni di sini mengenal saya, atau sebaliknya. Lagi pula, saya tidak akan berdosa kalau tidak kenal mereka, 'kan? Siapa pun mereka, sama sekali tidak ada hubungannya dengan saya." Cepat-cepat aku memotong omongannya. Entahlah, rasanya kesal saja melihat wajahnya itu. Di awal memang terlihat tampan dan memikat, apalagi ada manis-manisnya saat tersenyum. Namun, sejak dia mengira diri ini hamil, maka gugurlah semua kekagumanku padanya. Setiap melihatnya, yang ada hanya kesal dan sebal. "Kamu marah?" tanya Dokter Ashkan lembut. Astaga! Dia masih bertanya? Benar-benar cari ribut! "Menurut Anda? Udah menuduh saya yang bukan-bukan, sok tau, ngeselin lagi!" decakku dengan sorotan tajam. "Itu, saya—" "Alah, sudahlah, tidak perlu dibahas. Permisi!" Sengaja kusenggol pundaknya biar dia sadar kalau belum minta maaf atas tuduhannya yang membuat duniaku gempar. Bagaimana tidak? Mama jadi terus mendesakku untuk menikah. Namun, langkah ini terhenti ketika ada suara seperti kain robek. Buru-buru aku menoleh, ternyata gaunku bagian perut yang koyak. Sebenarnya baju ini masih baru, hanya karena bahannya rayon, jadi mudah robek. Sialan banget! Segera kututup perut dengan tangan, lalu menatap Dokter Ashkan tajam. Sebetulnya aku malu, pasti ini gara-gara kualat pada dokter itu. Kenapa bisa sobek? Memuakkan! Sintia ke mana, sih? Gegas aku menjauh dari Dokter Ashkan, tentu saja masih dengan tangan menutup bagian gaunku yang sobek tadi, karena kalau sampai ada yang melihat bisa membuat diri ini malu. "Pakai saja ini." Seseorang menyodorkan jasnya kepadaku ketika diri sibuk memperhatikan bagian gaun yang bolong. Ternyata cukup lebar. Wajah ini mendongak, melihat siapa yang rela mengorbankan penampilannya untukku. Seketika mata ini menyipit, tak percaya. "Pakai aja," kata Dokter Ashkan. Seakan-akan dia tahu isi hatiku. Jas putih di tangan dokter muda ini membuat pandanganku beralih. Lagi, Dokter Ashkan memberi kode agar aku segera mengambilnya. Namun, sama sekali tak kupedulikan. "Pakailah. Perut adalah bagian dari aurat wanita," katanya, seakan-akan tak menyerah. Aku masih terdiam. Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba saja jas itu sudah menutup sebagian tubuhku. "Pakailah, supaya tidak dilihat lelaki yang bukan mahram." Kurapatkan jas itu agar menutup bagian yang robek tadi. "Terima kasih," jawabku, malu. Kalimatnya yang terakhir seakan-akan memaksku untuk kembali mengakui ketampanan wajahnya, serta akhlaknya. "Apa Anda bukan laki-laki?" tanyaku tiba-tiba. Mulut ini memang suka tidak sinkron dengan hati. Membuat malu saja. "Jadi, apa Dokter juga sudah melihatnya tadi, sehingga merasa perlu bertanggung jawab dengan memberikan jas ini?" Kulibas dengan sarkas sebelum dia mengeluarkan kalimat. "Dokter tidak perlu seperti ini. Saya bisa menutupnya, lalu pergi dari sini," tukasku. "Mas Ashkan!" Panggilan itu membuat Dokter Ashkan tak jadi berkata-kata. Padahal, dia sudah ancang-ancang ingin menjawab omonganku. Aulia sudah berada di dekat kami. "Kalian saling kenal?" tanya Aulia. Binar matanya tampak senang, tetapi aku tidak yakin. "Tidak. Sama sekali tidak, Aulia. Saya permisi," kataku. "Sasmitha!" Panggilan Aulia tak kuhiraukan. Terserah apa yang akan dibahas Dokter Ashkan dengan Aulia setelah kepergianku. Diri ini tak peduli lagi. Lebih baik pergi dari sini. Bertahan di tempat yang seharusnya tidak kudatangi itu akan sangat menyiksa. Oleh karena itu jugalah aku malas untuk hadir di acara reuni. Seharusnya diri ini tak mengamini permohonan Sintia yang akhirnya aku merasa terjebak dalam lingkungan tak semestinya. Bukan berarti aku anti sosial, hanya saja hadir dalam acara reuni membuatku tak nyaman. Aku suka berteman, tetapi dalam satu waktu juga lebih memilih sendirian. Aku lebih suka disibukkan pekerjaan daripada perasaan. "Sasmitha, mau ke mana?" Oh my god! Kenapa tiba-tiba dia ada di depanku? Aku menoleh ke belakang, seharusnya dia ada di dalam sana, bukan? "Aku mau pulang, Dit," jawabku. "Kenapa buru-buru?" tanya Didit. Kembali kurapatkan jas milik Dokter Ashkan ini. "Kamu sakit? Aku antar ke rumah sakit, ya?" "Eh, nggak perlu, Dit. Aku nggak apa-apa. Aku duluan, ya." "Sasmitha, lupakah kamu bahwa kita punya kisah?" Seketika langkah ini terhenti. Kisah? Kisah apa maksudnya? Aku dan dia hanya sebatas teman. Aku hanya mengaguminya dari kejauhan. Kisah kami tak ada yang indah sama sekali, apalagi untuk dikenang. Aku terdiam cukup lama. Entah kenapa pertanyaan Didit menciptakan debaran dalam hati ini. Didit mendekat, terdengar dari ketukan sepatunya yang bersentuhan dengan lantai. Aku merasa ada yang menyentuh pundak ini. Perlahan aku balik badan, menatap Didit. "Maukah kamu pergi denganku?" Seketika aku terhenyak, tak menyangka dengan tawarannya. Namun, aku tidak mungkin pergi dengan baju robek. "Sorry, not today." Aku bergegas pergi. "Kamu beneran udah lupa sama perasaan kamu?" What? Aku menelan ludah. Dia membahas soal perasaan? Apa dia tahu perasaanku kepadanya waktu itu? Bila iya, dia tahu dari mana? Aku menatap Didit penuh selidik. "Kamu mau mengajakku kencan?" tantangku kemudian. "Kalo kamu tidak keberatan." Aku terbahak. Bisa-bisanya dia mengajak pergi semudah itu. Ini pertemuan pertamaku dengannya, seharusnya dia canggung sepertiku. Namun, Didit sama sekali tidak berubah. Dia masih Didit yang dulu. Didit yang spontan dan to the point. Dia selalu tampil percaya diri, tak pernah minder atau apalah itu. Didit selalu bisa memenangkan hatiku. "Datang ke rumah, izin Mama kalau kamu berani." "Oke, siapa takut? Tunggu aku besok." Didit mengerling. Aih, manis sekali. Hampir saja aku terhinoptis, untungnya aku bisa segera mengendalikan diri. Aku tersenyum miring. "Silakan kalau berani." Sampai besok dia ke rumah, itu tandanya dia memang tak pernah berubah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD