“Dia sopo, Mith?” Mama bertanya ketika melihat seseorang datang bersamaku sore itu. Aku masuk lebih dulu, meninggalkan Pak Dir di belakang. Entah sedang apa dia, aku masa bodoh.
“Bosku, Ma. Namanya Pak Dirga, yang pernah Mitha ceritain itu,” jawabku berbisik, karena Pak Dirga sudah dekat.
“Selamat sore, Ibu cantik,” sapa Pak Dir ketika sampai di hadapan kami—aku dan Mama. “Ini, saya ada sedikit oleh-oleh untuk Ibu cantik. Saya berharap Ibu menerimanya.”
Jadi, roti dan kue kering yang tadi Pak Dir beli itu untuk Mama? Aku menggeleng, mau heran, tetapi itu Pak Dir.
“Oh, terima kasih. Maaf, Anda ini siapa?” tanya Mama sopan.
“Nama saya Dirga, teman sekantornya Mitha.”
What, teman?
Mama tersenyum, kaku. Tadi wajahnya sudah semringah, sekarang sedikit meluntur.
“Kamu bilang bosmu, kok dia bilang teman kantor?” Mama berbisik ke telingaku diam-diam. Namun, Mama salah besar. Pak Dir yang berada terlalu dekat melihatnya, bahkan raut wajahnya berubah. Aku tersenyum segan melihatnya.
“Dia bosnya Mitha, Ma. Namanya Pak Dirga. Beliau ini bos paling keren di kantor Mitha. Bos paling baik sedunia, yang nggak suka melihat karyawannya lembur. Jangankan lembur, kerjaannya banyak saja dia selalu melarang.” Sejujurnya aku menyindir Pak Dir. Supaya dia paham, kalau alu dan teman-teman sangat lelah ketika mendadak dapat deadline.
Pak Dir itu, kalau memberi deadline tak kira-kira. Hari ini dikasih kerjaan, hari itu pula harus selesai. Setiap hari kita—karyawannya—selalu memeras otak dan tenaga demi deadline yang dia buat.
Senyum Pak Dir terbit dengan kaku. Aku yakin, dia mulai tersentil.
“Mitha bisa aja,” katanya kemudian.
“Waah, pasti karyawan pada betah, ya, di kantor,” puji Mama. Kali ini aku meyakini pujiannya tulus, sebab Mama tak pernah tahu bagaimana aslinya di kantor.
Aku memang sering cerita, tetapi bukan tentang keluhan-keluhan di kantor. Bisa-bisa aku kena omel dan disuruh resign.
“Oh, iya, Bu. Saya ke sini mau minta izin sama Ibu. Saya mau mengajak Sasmitha pergi ke acara teman saya. Apa Ibu mengizinkan?”
Tak kusangka, Pak Dir langsung mengutarakan maksud kedatangannya kemari.
Mama menolehku, seakan-kan bertanya, “Kamu janjian sama dia? Mau pergi ke mana?” Namun, aku mengalihkan pandangan. Biar Pak Dir yang mengatasi.
“Bolehkah, Bu?”
Aku pikir, Pak Dir akan kesusahan menyusun kalimat, ternyata bisa selancar itu.
“Ya, ya, tentu saja boleh. Kamu mau, kan, Mith?” Tatapan Mama terasa aneh. Astaga! Apa yang ada di pikiran Mama saat ini? Jangan bilang dia menginginkan aku dekat dengan Pak Dir, lalu menikah. No! No! Aku tak sudi. Gelap gulita masa depanku jika bersamanya.
“Kalo Mama ngijinin, ya Mitha pergi,” jawabku.
“Mama seneng, akhirnya bakalan punya mantu.”
“Mama,” tegurku, tak suka.
Pak Dir cengengesan menanggapi kalimat Mama. Semoga saja dia tak besar rasa dengan omongan Mama. Aku sih sudah biasa, Mama memang seperti itu. Namun, untuk orang baperan macam Pak Dir, rasanya sulit diprediksi.
*
Akhirnya, aku jadi juga menemani Pak Dir ke pesta pernikahan temannya. Megah, meriah, dan mewah. Itulah kesan yang aku dapatkan ketika memasuki gedung resepsi. Sudah kuduga dari luar, karena ini adalah salah satu hotel bintang kima kenamaan yang sering dipakai konglomerat mengadakan pesta, salah satunya pernikahan.
Pak Dir mengajakku masuk lebih dalam. Sebelum melangkah, aku memastikan penampilanku terlebih dahulu, sudah match sama tempat ini atau belum. Oke, tak ada masalah.
Aku melenggang penuh percaya diri bersama Pak Dirga. Bagaimana tak percaya diri? Semua perempuan akan bangga bisa jalan dengan cowok ganteng penyandang gelar CEO. Aku yakin, di luar sana banyak cewek antre ingin digandeng Pak Dir. Namun, kenapa harus aku yang dimintai menemaninya? Mau heran, tetapi ini Pak Dir.
“Sasmitha, kita ke podium dulu, ya.”
Aku mengangguk. Memberi ucapan dan doa kepada kedua mempelai adalah sebuah kehormatan tersendiri untuk mereka. Pak Dir menyalami pengantin perempuan, setelah tadi ke mempelai pria.
“Calonnya, Mas?” tanya pengantin wanita ke Pak Dir.
Tentu saja aku yang mendengarnya langsung menoleh.
Pak Dir menatapku, lalu tersenyum. Jangan-jangan, dia mau mengakui aku sebagai kekasihnya. Ish! Pikiran ini sudah tak sinkron.
“Bukan. Kamu, kan, tahu saya masih sendiri. Jadi, saya mengajak Sasmitha ke sini, supaya ada teman mengobrol. Lagian, di kantor Cuma dia yang masih single. Aku rasa, nggak akan ada yang marah kalau dia aku ajak pergi.”
Aku tercengang mendengar jawaban Pak Dir. Secara tidak langsung, dia sudah mengumumkan kepada temannya bahwa aku jomlo. Jomlo abadi! Namun, Pak Dir benar. Tak akan ada yang marah bila dia pergi bersamaku.
Aku pun baru ingat, segelintir cewek di kantor, cuma aku dan Aulia yang masih bujang. Ralat, aku saja, karena Aulia sudah mau menikah. Di kantor kami memang lebih cowoknya ketimbang cewek. Selain itu, mereka rata-rata sudah berumah tangga dan tunangan. Semakin memperjelas betapa mirisnya kisah hidupku.
“Semoga kalian berjodoh,” kata mempelai pria.
Aku tersenyum keki.
“Doakan saja.” Tawa Pak Dir membahana, aku segera menyentil punggungnya. Dia berjengit, lalu menatapku. Sedetik kemudian, tatapannya dialihkan. Aku tahu, dia tak akan marah kepadaku.
Kami turun podium. Pak Dir mengajakku menikmati jamuan tersaji. Ada aneka makanan dan minuman di sini, semua bisa dinikmati gratis.
Sejenak, mata ini mengamati para tamu undangan, decakan kagum kugaungkan dalam hati. Pemilik acara ini pasti bukan orang sembarangan, terbukti dari tamu undangan yang hadir, ada beberapa kolega dan mitra bisnis Pak Dir. Beberapa pernah aku temui di kantor.
Pandangan ini kembali kuedarkan ke setiap penjuru ruangan. Ah, aku baru tahu kalau ternyata pesta ini ada di dekat kolam. Apa konsep dan tema pesta pernikahan ini, ya? Aneh sekali. Seperti acara ulang tahun saja. Ah, biarlah, bukan urusanku. Orang kaya mah bebas.
Aku dan Pak Dir berbincang-bincang dengan salah satu tamu yang kami kenal. Pembicaraan ini tak jauh dari dunia kantor dan bisnis. Pak Dir benar-benar penggila kerjaan. Semoga istrinya nanti betah, dan semoga bukan aku. Amit-amit!
“Kabarnya, beberapa investor akan merapat bersama kita. Mereka bahkan sudah menandatangani kontrak kerja bersama kita. Ini benar-benar luar biasa.” Pak Dir bicara penuh suka cita.
Jadi, kabar yang aku dengar benar?
“Aulia memang terbaik. Kamu sangat beruntung memilikinya dalam perusahaan.”
Rasa-rasanya aku seperti masuk angin, seperti ada yang mengaduk-aduk perutku ketika mendengar ucapan Pak Sam.
Oke, aku tak memungkiri kehebatan Aulia. Dia paling the best di perusahaan. Bahkan, kami semua sangat bangga kepadanya. Namun, entah mengapa aku jadi sedikit kurang suka kepadanya. Tuduhannya waktu itu membuatku seperti cewek murahan. Merebut calon suaminya? Ho-ho-ho, selama menjadi anak Ibu Ayu Roro Pangestuti, aku tak pernah diajarkan hal senaif itu. Ibu Roro Ayu Pangestuti memang mengajari aku untuk satset, tetapi tidak untuk merebut hak milik orang.
“Selama belum sah, semua itu bebas. Setiap orang berhak memilih. Apalagi urusan hati. Kalau janur kuning belum melengkung, itu tandanya belum ada hak milik. Yang sudah melewati janur kuning melengkung saja bisa membelot, kok.”
Eh, ini pembahasannya sampai mana, ya? Aku tertinggal kereta.
“Iya, kan, Sasmitha?”
Terpaksa aku menjawab dengan senyum, karena tak mengerti apa yang mereka bahas.
“Aku ke sana dulu, ya, Dir.” Pak Sam menepuk bahu lawan bicaranya. “Mari, Sasmitha.”
Aku mengangguk ramah.
“Kamu mau minum, Mith?” tanya Pak Dir.
Manis sekali dia malam ini. Tak tampak seperti Pak Dir di kantor. Mengapa dia belum menikah, ya? Di balik sifatnya yang semena-mena, dia punya sisi manis dan hangat. Seharusnya, wanita banyak yang terpikat kepadanya. Tunggu, dia bukan cowok menyimpang, kan?
“Pak, kenapa Bapak nggak menikah, sih? Saya tahu, saya lancang. Saya hanya penasaran aja. Bapak nggak kelainan, ‘kan?”
Pak Dir tertawa. “Menikah itu sebuah komitmen besar dan penuh tanggung jawab. Saya belum bisa membuat komitmen dengan seseorang. Seperti pengalaman saya sebelum-sebelumnya, sebuah hubungan harus dilandasi rasa saling menyayangi, menghargai, mengerti, dan saling percaya. Saya belum siap.”
Cukup bisa dimengerti. Alasannya hampir mirip denganku. Ya, tak semua orang bisa mengerti diri pasangannya. Bahkan, mengenali diri sendiri saja terkadang masih kurang.
“Saya setuju,” kataku.
“Kamu juga memiliki alasan sama dengan saya?”
“Kurang lebih. Tapi, saya lebih mencintai pekerjaan saya ketimbang sebuah hubungan tak jelas.”
“Kamu pernah pacaran?” tanya Pak Dir.
Pertanyaan yang sebenarnya sudah masuk ranah pribadi, tetapi entah mengapa aku merasa harus menjawab pertanyaannya.
“Apa Bapak akan menertawakan saya jika saya jawab belum?” tanyaku penuh selidik.
“Mungkin saya tak akan percaya jika itu jawabanmu.”
“Ya, sudah. Saya tak perlu menjawabnya,” jawabku ketus.
“Sudah, jangan marah. Kerutan di bawah matamu nanti bertambah.”
Sialan! Pak Dir ngacir setelah menyinggung perasaanku. Pantas saja dia belum kawin! Ini toh penyebabnya? Aku doakan tak laku sampai aku punya anak dengan ... dengan siapa, ya?
Astaga! Aku mengerjap berkali-kali. Setelah kesekian kalinya, dan aku masih melihat orang yang sama, buru-buru aku balik badan. Kenapa dia bisa ada di sini? Aku segera menyusul Pak Dir. Kenapa juga harus melihatnya? Mata ini benar-benar menyusahkan. Ah, tidak. Dia yang menyusahkan, di mana-mana selalu ada.