Aku tersenyum sendiri mengingat pertemuanku dengan Didit kemarin. Seru juga dia. Aku pikir dia akan berubah lebih sombong atau bagaimana gitu, ternyata tidak. Dia tetap seperti Didit yang aku kenal beberapa tahun lalu.
"Woy, senyum sendiri, kesambet setan toilet lo?" Sandi membuatku kaget.
Sialan memang bocah satu itu.
"Bukannya elo setannya?" celetukku.
"Guys, Sasmitha lagi jatuh cinta, nih!" Sandi woro-woro cukup keras, membuat beberapa mata menatapnya.
"Sandi, jangan mulai, deh!" tegurku santai. Dia sudah terbiasa seperti itu.
"Bilang aja lo lagi patah hati, San," celetuk Willy, diikuti tawa dari Ulil.
"Gue? patah hati?" Sandi terbahak-bahak. Tawanya memang terdengar aneh.
"Udahlah, nggak usah menenangkan diri. Gue tau lo naksir Mbak Mitha. Selama ini gue diem, tapi lama-lama kasian juga sama lo." Willy terlihat serius.
Aku menyimak saja obrolan mereka.
"Lo tau dari mana, Wil?" tanya Ulil. "Cenayang lo?"
"Gue nggak sengaja baca coretan Sandi yang gue pungut dari keranjang sampah," jawab Willy.
Wajah Sandi berubah pucat.
"Jadi, gosip yang beredar itu bener?" Tiana nimbrung.
"Nggak mungkin Sandi naksir gue. Gue tau kok selera dia. Montok, bohay atas bawah, dan agresif di ranjang. Iya, kan, San?" jawabku.
"Nah. Betul! Memang Sasmitha yang bisa ngertiin gue. Lope-lope buat lu, Mith," kata Sandi penuh percaya diri.
"Dih!" Aku bergidik.
"Lo beneran baca coretan Sandi, Wil?" Ulil masih penasaran.
"Sumpah gue. Kata-katanya lebay parah." Willy masih tampak serius.
"Memangnya lo tau dari mana kalo itu buat gue?" tanyaku.
"Ya, dari kalimatnya kan udah nunjukin kalo itu buat Mbak Mitha," jawab Willy.
Ulil berdecak, "Ah, bukti lo nggak akurat, Wil."
"Huuu!!" Tiana yang sejak tadi menyimak ikut menyoraki.
"Udah, udah. Makan, yuk. Soto di depan sana kayaknya enak siang-siang gini," ajakku sambil memegang perut.
Teman-teman langsung mengamini ucapanku. Mereka bersiap-siap untuk makan siang. Aku pun menyimpan berkas-berkas ke laci.
"Kamu duluan ya, Mith. Aku mau ke toilet," pamit Tiana.
"Kalian nggak bareng?" tanyaku ke Sandi, Willy, dan Ulil.
"Biasa, Mbak. Aku bawa bekal," kata Ulil.
"Gue traktir, Lil," ajakku. Kasihan, dia selalu bawa bekal setiap ke kantor. Cerita yang kudengar, kondisi keuangannya sedang goyah.
"Makasih, Mbak. Lain kali aja," tolak Ulil sopan.
"Ikut aja, Lil. Jarang-jarang Mitha mau nraktir," celetuk Sandi.
Langsung kuhadiahi dia pelototan, Sandi cengar-cengir.
"Makasih, beneran lain kain aja. Sayang bekal dari Emak kalo nggak dimakan."
Kami tidak bisa memaksa. Ulil adalah orang yang berpendirian teguh, salah satunya menghargai masakan ibunya.
Sandi membeli rokok bersama Willy. Jadi, aku memutuskan untuk ke warung soto sendirian.
Sampai di sana, aku langsung duduk di tempat biasa kami makan. Teman-temanku sudah hafal tempat kami.
Tanpa sengaja, mata ini menangkap seorang wanita tak jauh dari tempatku duduk.
Aulia? Dia menatapku, lalu mendekat. Tatapannya tak enak, tak sebersahabat sebelumnya.
"Hai, Lia. Duduk," kataku sambil menunjuk kursi.
Aulia tak seramah biasanya.
"Aku mau bicara, berdua. Bisa?" tanyanya datar. Dia masih berdiri.
Aku memperhatikan sekitar, teman-temanku belum datang. Jadi, rasanya tak mengapa kalau mengobrol dengan Aulia lebih dahulu.
"Boleh, mau bicara soal apa?"
"Kamu kenal Mas Ashkan?"
Aku merasa tak mengerti arah bicara Aulia. Namun, aku tetap mengangguk menanggapi pertanyaannya.
"Nggak kenal banget, sih. Cuma beberapa kali ketemu. Why?"
"Jangan ganggu pernikahan kami."
Sebentar. Dia menuduh atau bagaimana? Siapa juga yang mengganggu pernikahannya? Selama ini, bahkan aku tidak ada hubungan spesial dengan dokter itu.
"Hai, Mith. Sorry, kelamaan, ya?"
Tiana datang bersama dengan Sandi.
"Eh, ada Aulia," kata Tiana.
"Wow, bisa makan satu meja sama orang populer di kantor adalah sebuah kebanggan tersendiri buat gue. Amazing!" Sandi langsung duduk. Dia tampak antusias.
Namun, Aulia menatap mereka seperti orang tidak suka. Dia berdeham, lalu bangkit dari duduknya.
"Maaf, saya permisi." Aulia bergegas pergi.
Sandi dan Tiana melongo melihat kepergian Aulia.
"Sombong amat," gumam Sandi yang jelas di telingaku.
"Hus!" kata Tiana. "Dia ada masalah apa, sih, Mith? Serem banget tatapannya."
Aku hanya mengendikkan bahu sebagai jawaban.
"Udah, makan aja, yuk! Laper, keburu jamnya habis," kataku mencoba mencairkan suasana. Untung saja mereka tak menangkap ekspresi kagetku tadi.
Ah, Aulia membuat selera makanku hilang.
*
Selepas makan siang, kami kembali lagi ke kantor. Cuaca di luar sana sangat panas, ditambah lagi dengan ambekan Aulia tadi. Apa menurut dia aku ini sedekat itu dengan Dokter Ashkan, sampai dia memberiku peringatan segala?
Perasaan, aku tidak dekat-dekat amat sama calon suaminya. Bahkan, bisa dibilang tidak kenal. Iya, kenal. Namun, itu hanya sebatas kenal antara pasien dengan dokternya, tidak lebih. Kenapa Aulia bisa berlebihan begitu? Posesif!
Saat tiba di kubikel, Willy berkata, "Mbak Mitha, dipanggil Pak Dir."
"Gue? Ada masalah apa?" tanyaku tak mengerti. Salah apa lagi aku? Atau, dia mau memberiku segudang pekerjaan?
Willy mengendikkan bahu. "Nggak tau."
Tadi, Willy tidak jadi ikut makan. Dia dipanggil HRD, entah ada urusan apa.
Kalau sudah begini, mau tak mau aku harus menemui Pak Dir. Mana mood-ku sedang tidak bagus lagi. Awas kalau sampai dia memancing emosiku, akan kubuat dia babak belur. Paling tidak mentalnya.
"Siang, Bu Lin," sapaku sok manis di depan Bu Lina. Dia ini, selain ketua divisiku, juga merangkap sebagai sekretaris Pak Dir. Entah apa yang membuatnya kerja rodi, itu bukan urusanku.
Seperti biasa, tak ada jawaban dari Bu Lina. Dia itu ngomong sama orang kalau sedang marah doang, kecuali sama Pak Dir.
"Permisi, Pak. Ada apa memanggil saya, ya?" Aku to the point saja, malas bertele-tele.
"Nanti malam kamu ada acara?"
Aku sedikit tersentak. Tak biasanya dia menanyakan hal itu.
"Memangnya ada apa, ya, Pak?" tanyaku datar.
Usianya sudah empat puluh tahun, tetapi masih perjaka ting-ting. Katanya. Aku mana tahu di luar sana dia ada menyewa ciwi-ciwi.
"Saya mau minta tolong sama kamu."
Aku masih menunggu ucapan Pak Dir selanjutnya.
"Tolong temani saya ke pesta pernikahan teman saya."
What? Bos gila. Ogah!
"Sorry, Pak. Saya nggak bisa. Saya ada janji sama—"
"Saya tambah gaji kamu."
"Bukan begitu maksudnya, Pak. Tapi—"
"Lima juta, hanya dua jam. Gimana?"
Lima juta? Lumayan. Boleh dipertimbangkan.
"Jam berapa, Pak?"
"Pulang kantor nanti saya jemput kamu di rumah."
Waduh, bisa gempar dunia persilatan Ibu Roro Ayu Pangestuti.
"Oke. Bapak yang izin ke Mama saya. Gimana?"
Semoga saja Mama tidak setuju. Ke pesta pernikahan teman Pak Dir, itu artinya aku akan dikenalkan sebagai ... astaga! Mungkinkah kekasihnya? Calon istri? No, no! Aku tak ingin punya suami seperti Pak Dir. Iya, soal tampang dia memang oke, badannya juga atletis. Namun, aku sudah lama memblokir namanya dari daftar list calon suamiku. Enak saja. Aku ogah punya suami gila kerjaan. Ya kali, rumah tanggaku anyep. Akunya gila kerjaan, suami juga. Yang ada, aku bisa stress.
"Kalo Mama mengizinkan, saya akan pergi dengan Bapak."
Pak Dirga menyetujui syaratku. Orang dewasa seperti dia, tentu tak akan kesusahan menyusun kalimat di depan Mama.
"Baik, nanti saya antar kamu pulang, sekalian saya mampir."
Kok aku jadi deg-degan? Apa keputusanku ini benar?