Aku tak bisa lagi menjawab bila jurus jitu Mama sudah keluar. Harus kuakui, bahwa Papa memang tampan. Ada darah Arab dalam diri Papa. Konon katanya, nenek buyut Papa ada yang keturunan Arab.
Setelah menembus jalanan dengan terik matahari menyengat kulit ini, kami sampai di sebuah tempat yang tampak asing bagiku. Sebelumnya, aku belum pernah ke sini. Tertera tulisan "Salon Muslimah" di depan gedung ini. Aku memperhatikan sekitar, tampak masih sepi.
Mama berjalan lebih dahulu, kemudian disambut seorang wanita berbaju tertutup, lebar, dan berhijab selutut.
Mama ngapain ke sini? Oke, pastinya akan merawat diri. Namun, banyak hal yang membuat diri ini bertanya-tanya.
Kami masuk setelah dipersilakan. Baru kusadari, Mama akrab dengan wanita di hadapan.
Sebentar, sejak kapan Mama punya teman berbaju syar'i seperti ini? Seingatku, teman-teman arisan Mama rata-rata tak memakai hijab. Memang ada yang berhijab, tetapi aku ingat betul bukan ibu di hadapanku ini. Teman Mama yang memakai kerudung itu namanya Tante Mila.
"Ini Sasmitha, anak pertamaku, Mbak."
Mama memperkenalkan diri ini kepada temannya. Namanya Tante Sofia. Aku langsung menyambut uluran tangan beliau, lalu menciumnya takzim.
"Cantik," puji Tante Sofia. Aku hanya tersenyum sambil mengucap terima kasih.
Setelah perkenalan itu, Mama memintaku menunggu, dan beliau menjauh dariku, masuk ke sebuah ruangan yang sepertinya khusus untuk pemilik salon.
Kesimpulanku, Tante Sofia adalah pemilik salon ini. Hal yang membuatku agak tak asing dengannya, wajah wanita itu mirip seseorang. Namun, entah siapa. Pokoknya familier dalam penglihatanku.
Tempat yang nyaman. Tidak ada lawan jenis yang masuk sini, kecuali satpam di depan tadi. Benar-benar khusus muslimah. Sambil menunggu, aku membaca buku yang tersedia di ruangan ini.
Beberapa menik berlalu, Mama keluar bersamaan dengan Tante Sofia.
"Sayangnya anakku udah mau menikah. Kalau belum, kamu aja yang jadi menantu Tante."
Omongan Tante Sofia membuatku kikuk. Maksudnya, dia mau menjodohkan anaknya denganku? Tak salah?
"Semoga lekas dapat jodoh, ya, Sasmitha."
Aku terpaksa tersenyum. Ini hinaan, atau ucapan tulus? Ah, mana mungkin wanita seperti Tante Sofia menghina aku? Jangan baper, Mitha!
"Makasih doanya, Tante," kataku.
"Sasmtiha ini masih sibuk kerja, Mbak. Jadi, dia belum kepikiran menikah. Akunya saja yang waswas," timpal Mama.
Tante Sofia menyentuh pundakku. "Nggak apa-apa, Mbak. Jodoh akan datang dengan sendirinya nanti, di waktu yang tepat." Tante Sofia tersenyum. Ucapannya sangat menentramkan. Mama harus sering-sering bergaul dengannya.
"Kerja di mana, Mith?" tanya Tante Sofia.
Kami masih berdiri di lobi.
"Di perusahaan swasta, Tante," jawabku santun.
"Saya itu nggak setuju dulu dia kerja di sana. Saya lebih senang dia jadi dokter sebenarnya, Mbak," ungkap Mama. Terdengar sedikit jengkel.
"Sasmitha, kan, nggak suka jadi dokter, Ma," jawabku jengkel. Entah maksudnya mengadu seperti itu.
Tante Sofia tersenyum. "Apa pun profesinya, yang penting bermanfaat untuk orang lain, Mbak. Dan yang paling penting, kita mencintai pekerjaan tersebut."
Tuh, dengarkan itu wahai Ibu Roro Ayu Pangestuti! Ingin sekali aku membisikkan kalimat tersebut di telinga Mama.
"Papanya anak-anak juga dulu ingin semua anaknya jadi dokter. Tapi, hanya anak sulung kami yang punya cita-cita itu," lanjut Tante Sofia.
Mama mengangguk-angguk.
Sebentar. Menyebut predikat dokter, aku jadi teringat dokter menyebalkan itu. Iya, bila dilihat-lihat, wajah Tante Sofia ini mirip Dokter Ashkan, versi perempuan. Apa jangan-jangan mereka keluarga? Atau, Dokter Ashkan adalah anak Tante Sofia? My God!
*
Ternyata, Didit baru bisa datang sore ini ke rumah. Tadi, dia mengirim pesan untukku.
Aku hanya ingin membuktikan ucapannya, benar atau tidak.
"Ma, masak apa?" tanyaku kepada Mama yang sibuk memotong bawang bombay.
"Mau bikin capcay. Kesukaanmu," jawab Mama tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Oh...."
Mama menjawab seakan-akan semua makanan aku suka. Memang benar. Aku sendiri bingung, makanan apa yang tidak masuk ke mulutku kecuali makanan basi?
"Tumben kamu udah rapi. Mau ke mana? Jalan sama Dokter Ashkan?" celetuk Mama tanpa kira-kira.
"Dia calon suami orang, Ma. Mana mungkin Mitha jalan sama dia."
"Siapa tau udah putus."
"Mama, nggak boleh gitu tauk. Omongan adalah doa, Ma."
"Iya, Mama tau. Makanya, Mama selalu ngomong kalau Dokter itu jodoh kamu."
Sudah habis kalimatku kalau seperti ini. Mendebat Mama tidak akan ada habisnya.
Tak lama kemudian, terdengar pintu diketuk, lalu bel rumah berbunyi. Mungkinkah itu Didit?
Aku beranjak dari dapur, segera membuka pintu.
"Sore," sapa seseorang di luar sana.
"Hei, beneran ke sini?" tanyaku tanpa basa-basi.
"Pulang lagi, nih?" Didit mengancam.
Aku terbahak. "Mau pinjam PR?" tanyaku asal.
Kali ini Didit yang terbahak. "Lama banget aku nggak ke sini." Dia memperhatikan sekitar. "Masih sama, asri, indah, dan cantik." Didit menatapku ketika mengucapkan kata terakhir.
"Rumahnya? Memang dari dulu rumah ini cantik, kok."
"Kamunya, Mitha."
Didit menggombal?
"Serius, nggak lucu!" kataku sambil memukul lengannya.
"Siapa, Mitha?" Mama muncul dari dapur, menuju ke kami.
"Sore, Tante." Didit mengangguk.
Mama seperti terperangah, antara heran dan tak percaya.
"Ini," Mama menggantung kalimatnya. "Didit?"
"Betul banget, Tante. Apa kabar?"
"Ya, Allah! Lama banget kamu nggak kelihatan. Sekarang kamu banyak perubahan. Gimana kabar kamu? Masuk, masuk!" Mama mempersilakan.
Didit ini memang dulu sering main ke rumah untuk meminjam buku PR. Mama sendiri sudah cukup akrab dengannya. Bahkan, Didit sering menginap dan bermain dengan Leo. Usia mereka memang beda, tetapi mereka bersahabat. Entahlah, pokoknya mereka dekat.
"Kamu tambah ganteng, Dit," puji Mama.
"Semua cowok yang Mama lihat juga dikata ganteng. Sandi aja Mama bilang ganteng, kok," celetukku sekenanya.
Mama memelototiku.
"Siapa itu Sandi?"
"Teman kantornya Mitha. Biasalah, dia itu banyak teman cowok, tapi nggak nikah-nikah."
"Ih, Mama!"
Didit menahan tawa. "Didit juga belum menikah kok, Tante."
Terus, maksudnya apa?
"Apa kalian jodoh?" Mama memandang kami bergantian.
Aku yang salah tingkah. Mama memang suka asal kalau bicara.
Kami mengobrol panjang. Mama ikut nimbrung, karena memang dulu juga kami sering bercengkrama seperti ini.
Sesekali Mama ke dapur, melanjutkan aktivitasnya yang belum rampung.
Aku dan Didit mengobrol banyak sekali. Akhirnya, kami tidak jadi pergi. Mama menahan Didit, karena akan diajak makan malam bersama. Kebetulan Didit lama tak ke rumah.
Aku oke-oke saja. Toh, memang dulu Didit sering makan di sini.
"Ingat, nggak, dulu kamu suka nalangin uang jajan buat aku?" tanya Didit. "Astaga, memalukan sekali, ya, Mith. Kamu pasti menertawakanku."
Sebenarnya tidak juga. Justru aku senang dia bisa jajan dari uangku.
"Inget, pas kita kemah, terus kamu loncat-loncatin bambu? Aku perhatiin kamu, tapi kamunya lari?"
Ya ampun, Didit ingat kejadian itu? Ih, memalukan! Dia memang kalau memperhatikan orang suka bikin salah tingkah. Jadi, aku lari saja waktu itu.
"Namun, yang paling berkesan buatku adalah, kamu orang yang paling baik sama aku. Terima kasih, Sasmitha."
Aku meleleh. Benar-benar seperti es krim yang terkena sinar mentari.
"Aku ikhlas kok, Dit. Sekarang kamu udah sukses, selamat, ya."
"Aku nggak akan lupa, karena yang membuatku seperti ini salah satunya adalah kamu."
"Kok bisa aku?"
"Iya, kamu yang selalu memotivasi aku supaya tidak menyerah. Kamu yang meyakinkan aku, bahwa aku pasti bisa menjadi orang sukses. Semua atas dukungan kamu, Mith."
Entah, aku merasa bangga dengan Didit. Dia tambah dewasa sekarang. Pola pikir dan gaya bicaranya berbeda dengan saat kami masih SMA.
"Sekali lagi, big thanks, Mit." Didit meletakkan tangannya di atas tanganku.
Jujurly, aku grogi. Detak jantung ini tak beraturan ketika pandanganku tanpa sengaja bersirobok dengan Didit. Jantung, please, jangan berdetak sekencang ini. Aku takut Didit mendengarnya.