BAB 2 - AWAL

2290 Words
Gadis itu tengah memandangi rumah barunya sekarang. Lebih tepatnya rumah yang dibelikan neneknya dengan alasan agar ada yang menjaganya. Neneknya rela memindahkannya ke kota sebelah dan menitipkannya kepada kenalannya agar neneknya tenang tinggal di Belanda tanpa khawatir kepada cucu tersayangnya itu. Sekarang dia bukan gadis kecil lagi, tetapi dia sekarang sudah menjadi gadis yang kuat karena ia sudah banyak melewati hal yg menyakitkan dari kecil. Eitss, sekarang bukan gadis kecil lagi tetapi sudah menjadi gadis remaja. Dia Kiara Zeline Abizar. Gadis yang dulunya setiap hari mendengar orang tuanya berdebat sekarang hanya mendengar kesunyian. Kesunyian bukan berarti ia nyaman. Tidak! ia merasa hidupnya tak berarti tanpa kehadiran orang tuanya. Ia masih duduk dibangku sma kelas dua dan pastinya belum bekerja tapi jangan ditanya harta peninggalan orang tuanya tidak akan habis tujuh turunan. Kiara dititipkan kepada sahabat mamanya yang sudah dianggap neneknya seperti anak sendiri, maka dari itu neneknya percaya kepadanya. Rumah sahabat mama Kiara persis didepan rumah kiara, hanya berbataskan jalan umum. Sebenarnya Kiara disuruh tinggal dirumahnya, tetapi Kiara menolak dengan alasan tidak mau merepotkan lebih banyak. Alhasil ia dibelikan rumah tepat didepan rumah sahabat mamanya itu. Dengan santai Kiara melangkahkan kakinya memasuki rumah barunya itu. Sebenarnya sudah ada salah satu artnya yang bernama bi Ima yang sudah datang duluan kerumah itu untuk bersih - bersih. Mata Kiara menyapu setiap sudut rumah barunya. Terlihat sangat rapi, bersih, dan enak dipandang. Iya yakin semua ini pasti karena bi Ima. Bi ima adalah art Kiara yang sudah Kiara anggap seperti ibunya sendiri. Bi Ima sudah menjadi mengasuhnya sejak ia kecil. Karena itu bi Ima tau apapun tentang kiara, bahkan tentang trauma Kiara bi Ima mengetahuinya. Kiara tak sengaja melihat fotonya masa kecilnya bersama mama dan papanya, entah mengapa hatinya seperti remuk seketika jika mengingat semuanya. Jujur, ia rindu kedua orang tuanya. Kiara sudah menunaikan segala cara agar bertemu mama dan papanya namun selalu saja ada alasan dari mereka yang membuat Kiara tak bisa bertemu. "ki? udah ketemu kamarnya?" Kiara terlonjak kaget melihat bi Ima yang entah muncul dari mana tiba tiba melontarkan pertanyaan. "astagfirullah bi, ngagetin aja" ucap Kiara memegangi dadanya. "hahaha maaf ki, kamu sih ngelamun" jawab bi Ima. "kamar aku dilantai dua kan bi?" Kiara memang sudah meminta dari awal agar kamarnya ada dilantai dua. "iyalah ki, pasti. Tuh kamar kamu tuh" tunjuk bi Ima kearah kamar berpintu ungu dilantai atas. "aaa bibi the best deh" ucap Kiara langsung memeluk bi Ima dengan senyum terbaiknya. "oh iya bi, kamar arka dimana bi?" tanya Kiara setelah melepaskan pelukannya. Arka adalah anak bi Ima yang juga tinggal bersama Kiara. Walaupun Arka adalah anak bi Ima, Arka baru tinggal bersama bi Ima dan Kiara saat memasuki smp, karena ayah Arka, suami bi Ima, meninggal. Suami bi Ima dan Arka tinggal dikampung. Sebelumnya mereka juga mau pindah ke rumah Kiara, namun sudah keduluan oleh maut yang menjemput suami bi Ima. "bibi baru mau nanya kamu ki" jawab bi Ima. "yaudah, kamar Arka disamping kamar aku aja bi. Yang itu" tunjuk Kiara kearah sebelah kamarnya. "nah, oke deh. Yaudah Ki sana naik kekamar kamu. Bibi mau lanjutin bersih - bersih dulu" ucap Ima melangkah menjauh dari Kiara. "Assalamualaikum" Kiara mendengar dari luar rumah seperti ada seorang wanita mengucapkan salam. Tanpa ragu Kiara melangkahkan kakinya untuk membukakan pintu. "waalaikumsalam" balas Kiara membuka pintu. "halo cantik, kamu Kiara kan?" ucap wanita berjilbab dengan sangat ramah. "eh iya tante, aku Kiara. Maaf tante siapa ya?" Kiara sebenarnya sangat takjub melihat wanita seumuran ibunya yang berdiri didepannya ini sangatlah cantik. "tante sahabat ibu kamu, tante Helina" ucap wanita itu yang diketahui bernama Helina masih pempertahankan senyum ramahnya. "oh.. ini tante Helina yang diceritain nenek ya? maafin Kiara ya tan" Kiara langsung menjulurkan tangannya untuk bersalim. "ayo masuk tan" ajak Kiara "waw rumahnya rapi banget ya" puji Helina saat memasuki rumah Kiara. "iya bi Ima yang nata ini semua tan. Bi Ima tu emang the best deh hahaha" tawa Kiara yang langsung disambut dengan tawa Helina. "kamu yakin Ki gamau tinggal bareng tante aja?" tanya Helina. "iya, gapapa tan. Aku yakin kok" jawab Kiara dengan sopan. "kalo perlu apa - apa langsung kerumah tante ya Ki. Nanti tante juga bakal sering kesini" ujar Helina. "eh Ki, jangan manggil tante dong. Panggil aja bunda ya" sambung Helina. "bunda?" ucap Kiara sedikit bingung. "iya bunda. Anggap aja tante bundanya kamu. Anak - anak tante juga manggil bunda kok" jelas Helina. "oke deh, bunda hehe" "oh iya, nanti bunda kenalin ke anak bunda ya" ucap Helina. "iya bun. Ki denger dari nenek katanya ada anak bunda yang satu sekolah sama Ki. Bener bun?" tanya Kiara memastikan. "iya sayang. Anak bunda yang pertama sekolah di sekolah baru kamu juga. Tapi dia udah kelas tiga, kamu kan kelas dua" jelas Helina "nanti deh kamu pasti ketemu" sambungnya. _______________ Mata Kiara perlahan terbuka menyesuaikan cahaya yang masuk lewat dari celah gorden jendela yang belum ia buka. "tuh kan, kesiangan" ucap Kiara setelah melihat jam menunjukan pukul enam pagi. Ia kesingan bukan karena terlambat masuk sekolah tetapi terlambat menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Kiara bergegas menunaikan kewajibannya, walaupun sudah kesiangan. Lalu mandi dan bersiap siap untuk berangkat sekolah. "good morning bi" ucap kiara kepada bi Ima yang tengah menyiapkan sarapan. "pagi Ki, kesiangan ni pasti yaa?" balas bi Ima. "iyaa lupa setel alarm tadi hehe" jawab Kiara dengan cengiran khas nya. "mau pake selai apa rotinya Ki?" tanya bi Ima. "biasa bii vanila" ucap Kiara sambil duduk di kursi makan. "Raka mana bi? aku berangkat bareng Raka kan? malu ah bi kalo sendirian" Raka memang mengikuti Kiara untuk pindah sekolah, itu pun atas bujukan Kiara dengan alasan malu jika menjadi murid baru sendirian, lagian ia pun belum tentu mendapatkan teman. "yah ki, kenapa gak bilang kalo mau berangkat sama Raka? Raka baru aja berangkat. Kamu sih kesiangan bangunnya" jelas bi Ima dengan nada kecewa. "ih Raka ga seru deh" protes Kiara. "gapapa nanti kamu pasti ketemu Raka. Ga mungkin dong Raka biarin kamu sendiri" ucap bi Ima "iya deh" "yaudah ki berangkat ya bi" ucap Kiara setelah memakan rotinya. "minum susunya dulu ki" ucap bi Ima seperti orang tua pada umumnya. Kiara merasa memiliki seorang ibu jika bersama bi Ima. Walaupun ia masih punya ibu sekarang tapi jika ibu nya lebih mementingkan keluarga barunya dari pada anak kandungnya, sama saja seperti tidak punya ibu. "iya bi" patuh Kiara. "yaudah bi assalamualaikum" ucap Kiara setelah meminum susunya hingga habis dan mencium punggung tangan bi Ima. "iya waalaikumsalam" ucap bi Ima tersenyum. _____________________ Kiara sudah sampai sekolah menggunakan ojek onlinenya. Sebenarnya Kiara bisa saja menggunakan mobilnya untuk kesekolah, tapi ia lebih memilih menggunakan motor daripada mobilnya. Walaupun harus menggunakan ojek online karena ia tak bisa menggunakan motor. Saat sampai didepan gerbang ia langsung melangkahkan kakinya menuju gedung sekolah. Pemandangan yang pertama disuguhkan Kiara adalah anak anak yang sedah bermain basket dilapangan. Kiara bingung harus kemana, karena itu ia berjalan menyebrangi lapangan basket lewat pinggir dengan ragu. bugh! Dari arah samping Kiara, yaitu lapangan basket ada bola yg mengenai kepala kiara dengan sangat keras, entahlah sengaja atau tidak tetapi kepala Kiara sekarang berputar putar, jika saja ia cewek lemah mungkin sekarang ia sudah pingsan. Tetapi karena kiara cwek strong kiara masih kuat berdiri walaupun pusing menjalar dikepalanya. "lo gapapa?" tanya seorang cowok memakai baju basket mungkin dia yang entah sengaja atau tidak melempar bola kearah Kiara. "pertanyaanya pasaran banget sih" batin Kiara. "gapapa.. santai aja" ucap Kiara berusaha menampilkan senyum terbaiknya karena Kiara sangat amat menjunjung tinggi sikap sopan, baik dan ramah. "lo ga mau minta maaf gitu?" tanya Kiara menatap mata cowok itu sambil berdiri. "gak perlu lah" jawab cowok itu santai. "sabar Ki sayang" ucap Kiara dalam hati. "kan lo bilang gapapa santai aja" ucap cowok itu meniru ucap Kiara tadi. "anjirr kalo gw mau gw tendang dia smpe Afrika" batin Kiara. Tanpa membalas perkataan cowok tadi Kiara langsung berlenggang melanjutkan perjalanannya. Ia tidak mau buat masalah di hari pertamanya hanya gara - gara cowok itu tidak mau minta maaf kepadanya dan ia juga malas berdebat karena kepalanya seperti berputar putar. "gila tu cewek cuek banget.. tapi kok gue gak pernah liat ya? murid baru?" batin cwok itu yg diketahui bernama ' Aksa Faresta Agleer' _________________ "Rakaaa!" Kiara dapat melihat Raka sedang berjalan menuju arahnya. "ih lo jahat banget tau gak! masa lo ninggalin gue sih? gue malu tau gak!" protes Kiara saat Raka sudah berada dihadapannya. "lo sih kesiangan. Eh ga mungkin cuman gara - gara gue ninggalin lo, lo udah badmood kayak gini" ucap Raka. "ya itu salah satu alasannya juga! tapi, lo tau gak sih tadi ada cowok ngeselin banget nimpuk pala gue pake bola basket" ucap Kiara dengan nada emosi. "ga sengaja mungkin" Raka hanya berusaha menenangkan Kiara takut jika dia akan badmood sepanjang hari hanya karena masalah kecil. Karena Raka tau, jika Kiara moody-an. "ya mna gue tau dia sengaja apa ngga. Tapi yaaaa dia gak mau minta maaf itu yang bikin gue kesel" ucap kiara masih dengan nada emosi "mungkin dia pikir lo gak perlu maaf dari dia" ucap Raka. "ihh Raka kok lo malah belain cowok songong itu sihh sahabat lo dia apa gw?!" ucap kiara bercacak pinggang "ha? yaaa sorry ki. emang yangg mana sih cowok nya biar gw ajak berantem tu orang" ucap Raka berlagak terbawa emosi. "nanti deh gw tunjukin" ucap kiara _______________________ "selamat pagi anak anak _______________________ "yeyy makann" ucap Kiara girang melihat batagor tersaji dihadapannya. Kiara dan Salsa emang sudah berada dikantin lima menit yg lalu karena bel istirahar sudah berbunyi. "girang amat lo liat makanan" ucap Salsa heran. "eh lo sahabatan sama gw udah berapa tahun oncom?!" tanya Kiara emosi. "astagfirullah iya gw baru inget hehe" ucap Salsa nyengir. Salsa emang punya sifat pelupa dia saja sering lupa nama dirinya sendiri aneh memang. "eh eh itu lho cowok yang gw maksud" ucap Kiara disela sela makannya sambil menunjuk kearah pintu kantin. "mwanwa?" tanya Salsa dengan makanan yg masih ada dimulutnya. "itu itu" tunjuk Kiara kearah yg sama. "emang tu cowok kenap ki?" tanya Salsa setelah makanan di mulutnya habis. "yang tadi gw ceritain itu lho Sa" ucap Kiara tanpa melepas pandangannya dari cowok itu. "yang lo ceritain kapan?" tanya Salsa dengan wajah polos saking polosnya Kiara ingin menonjok muka mulus Salsa. "astagfirullah salsa pikun! cowok yang nimpuk gw pake bola basket itu Salsaaaa" ucap Kiara gregetan. "ohhh jadi dia yang nimpuk lo" ucap Salsa acuh. "apa?! dia?! beneran?!" lanjut Salsa histeris. "iyaa eh kenapa sih lho histeris banget" tanya kiara memandang jijik muka Salsa yang histeris terlalu lebay menurutnya. "itu mostwanted sekolah ini b**o" ucap Salsa menatap lekat kearah cowok itu. "ha? kok gw ga tau?" tanya Kiara. "emang apa sih yang lo tau ki? semua lo gak tau kalek" ucap Salsa memutar bola matanya malas. "namanya siapa Sa?" tanya Kiara penasaran. "dia Aksa Faresta Agleer cucu dari pemilik sekolah ini dan anak dari donatur terbesar sekolah ini" ucap Salsa menjelaskan. _________________________ Bel masuk berbunyi tapi kiara belum selesai memakan makanannya ia masih berkutat dengan mie ayam. Kiara memang tadi makan batagor setelah makan batagor ia membeli ice creem lalu membeli mie ayam lagi entahlah katanya sih belum kenyang. Jangan tanya lagi salsa dimana, ia sedang mengerjakan pr nya. Salsa emang tidak pernah mengerjakan pr dirumah. Semboyan salsa adalah jika ingin belajar maka belajarlah disekolah tanpa membawa pelajaran itu kerumah dan jika ingin bermalas malasan maka tempat yang pas adalah rumah. "hei kamu" ucap seseorang dibelakang Kiara. "plis deh gw mau makan dengan tenang ini woii" ucap kiara dalam hati. "kenapa belum masuk kelas?" ucap orang itu berjalan makin mendekat kearah Kiara. "kenap--- ohhh cewek tadi pagi yaa" ucap orang itu dengan nada mengejek. Itu memang adalah cowok tadi yang sengaja atau tidak menimpuk Kiara dengan bola basket. "kenapa belum masuk kelas?!" tanya cowok itu dengan nada sedikit kasar. "gw masih laper kalikk" ucap Kiara melanjutkan makannya. "masuk!" perintah cowok itu. "gak mau! gw masih mau makan!" ucap Kiara tak terima disuruh berhenti makan. "heh ini udah lewat jam istirahat ogeb" ucap cowok itu. "lo siapa sih nyuruh nyuruh?!" tanya Kiara dengan nada membentak. "gw ketos disini" ucap cowok itu santai. "anjirr Kiara kudet! kenapa sih lo sampai gak tau siapa ketos disekolah ini. Lo udah dua tahun sekolah disini g****k" batin Kiara merituki dirinya. "kenapa diem? kaget?" ucap cowok itu dengan nada meremehkan. "kaget? hello gak lah yaaa Kiara Zeline gak mungkin kaget cuman denger kalo lo ketos!" ucap kiara berdiri dari bangku kantin dan menatap tajam sang ketos. "lo ngenalin diri? okee sekarang lo masuk ke kelas Kiara Zeline, ini perintah dari Aksa Faresta Agler" ucap Aksa tidak mau kalah mendengar Kiara menyebut nama lengkapnya. "au ah" ucap Kiara pergi dari kantin. "gw kira lo cewek cuek! eh ternyata bawel!" ucap Aksa agak sedikit berteriak agar kiara mendengar apa yang ia ucapkan karena kiara belum jauh dari kantin. "bawel? awas aja lo ketos sialan!" gerutu Kiara dalam hati. ______________________ Kepala Kiara dari tadi berputar putar dan pusing menjalar dikepalanya. "astagfirullah pusing banget kepala gw" batin Kiara. "lo kenapa ki?" tanya Salsa melihat Kiara terus menerus memegang kepalanya. "gak tau kepala gw pusing banget dari tadi pagi" jelas Kiara. "mungkin gara - gara bola basket yang kena kepala lo kali" tebak Salsa. "iya bisa jadi" ucap Kiara. "bu. permisi, Kiara sakit bu" ucap Salsa mengangkat tangannya melapor kepada bu Asti yang mengajar pelajaran matematika. "kiara, kamu sakit sayag?" tanya bu Asti mendekat kearah Kiara. Bu Asti menurut Kiara adalah guru terbaik yg pernah Kiara temui, walaupun biasanya guru matematika merupakan guru killer. "cuman pusing bu" ucap menunduk sambil memegang kepalanya yang makin pusing. "kamu ke uks aja Kiara" ucap bu Asti. "Salsa, kamu anterin Kiara ke uks ya" suruh bu Asti. "gak usah bu saya sendiri aja" ucap Kiara. "beneran Ki gak mau dianterin?" tanya Salsa memastikan. "iya gapapa, permisi bu" ucap Kiara keluar kelas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD