Seperti baru saja menerima vonis dokter yang akan mengamputasi sebelah kakinya, diri Armina terguncang. Serupa orang yang terpeleset jatuh ke dalam kubangan yang dalam, dia menggapai-gapai mencari pegangan agar tidak tenggelam. Ia belum siap melepaskan diri. Meski sudah dua bulanan ia jalani dari rentang setahun kesepakatan ikatan pernikahannya dengan Harsya, namun ia baru mau memulai bisnisnya. Ia pun belum punya cadangan tempat tinggal, sebab rumah peninggalan orang tuanya pun baru lima bulan kedepan lagi habis masa disewakannya. Armina memejamkan matanya. Di benaknya terbayang kesendirian hidupnya. Saat ini, meskipun hubungannya dengan Harsya hanya bersifat sementara dan pura-pura, ia tak mengingkari adanya rasa aman dan sosok ia bergantung. Dan, ia harus segera kehilangan hal terse

