Harsya terhenyak dengan ucapan Lubna. Entah darimana dan bagaimana puterinya bisa mendapatkan gagasan seperti itu. Dia tidak menyalahkan, justeru hatinya terusik oleh rasa bersalah. “Gimana, Pa? Cemerlang kan ideku?” Lubna mendesak. “Hmm… Nantilah kita pikirkan. Sekarang, kita berangkat dulu, oke! “Oke!” Lubna berpamitan pada Armina sebelum melesat keluar. Harsya tersenyum tipis pada Armina sebelum berbalik pergi. Setelah menyalakan mesin mobil, Harsya mengecek ponselnya. Ia menemukan panggilan masuk dari Armina pada tanggal dan waktu yang disebutkan tadi. Ia menahan letupan yang menggores egonya. Armina benar, dia dan Meisha dulu terbiasa menghargai privacy masing-masing. Meisha akan meminta langsung ponselnya untuk dilihat jika dia penasaran akan sesuatu. Dan dia tidak pernah menja

