Terlihat

1515 Words

Jari kelingking Lubna masih teracung di udara, menunggu Armina mengaitkannya dengan jarinya sendiri. Bersamaan dengan itu, ponselnya di atas meja laci samping tempat tidur bergetar memampangkan nama Oryza. Perhatiannya terpecah, jiwanya terbelah, antara memilih Lubna atau lelaki yang belum lama diizinkan memasuki hatinya. “Mamina?” Lubna memanggilnya. Pandangan Armina beralih penuh kepadanya. Seperti dejavu Armina merasakan kembali suasana saat Meisha terbaring lemah di rumah sakit dan menitipkan Lubna serta Harsya kepadanya. Mata gadis kecil itu berkaca, meluluhkan ego Armina. “Mamina ngga mau janji?” Armina mendesah. Perlahan, dia mengulurkan jari kelingking kanannya, dan melingkarkannya ke jari Lubna. Gadis itu mengaitkannya erat. Tersenyum puas. Armina mencoba mengibaskan jauh ke

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD