Pagi itu, udara terasa dingin dan sunyi. Aroma kopi menyebar dari dapur kecil. Meysa berdiri sambil menggendong Bastian yang masih mengenakan piyama kecilnya. Bayi itu tertidur pulas di pelukannya, napasnya teratur. “Nyonya Rose, aku ingin ajak Bastian jalan-jalan hari ini. Cuma sebentar. Ke taman, mungkin.” Rose menoleh dari cangkir kopinya, memandangi wajah Meysa yang tampak tenang—terlalu tenang. Ia tak pernah meragu, karena ia tahu pilihan Jo pasti yang terbaik. “Sekarang?” “Iya. Aku ingin dia dapat udara segar, Nyonya,” kata Meysa. Rose menatapnya agak lama, lalu berdiri pelan, menghampiri mereka. Tangannya menyentuh kepala Bastian lembut dan tersenyum kecil. Rose menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis. “Baiklah. Tapi hati-hati. Aah, aku merasa bersalah karena tidak bisa mel

