Hujan turun pelan saat mobil Damian memasuki pelataran rumah. Lampu-lampu taman redup, bayang-bayang pohon tampak seperti sosok yang mengintai dalam gelap. Di dalam mobil, suasana tegang membekukan udara. Rose duduk diam di samping Damian, mencuri pandang ke wajah suaminya yang gelap penuh amarah karena melihat mobil kakak iparnya teronggok di halaman. “Ada apa, Damian?” tanya Rose. Damian menggeleng lemah. Pintu rumah terbuka dengan hentakan keras. Damian melangkah masuk, tatapannya langsung mengarah ke ruang tengah. Ada Jo dan Meysa yang tengah asyik menikmati teh senja itu. Namun, Damian masih mendengar sisa tawa dari keduanya yang sudah bersama beberapa menit sebelumnya. Damian mengepalkan tangan. “Aku langsung naik, ya,” ucap pria itu pada sang istri. Rose mengiakan. Ketika wanit

