Pagi merangkak masuk lewat celah tirai. Sinar matahari membentuk pola-pola lembut di dinding kamar. Jo membuka matanya perlahan, mengedip beberapa kali sebelum menoleh ke samping. Meysa masih tertidur. Napasnya pelan, teratur. Wajahnya damai, seolah-olah semua luka dan keraguan telah ditelan malam. Rambut panjangnya berantakan menutupi sebagian pipi, dan selimut menyelimuti tubuh mereka hingga sebatas d**a. Jo terdiam, menatapnya lama. Ada senyum kecil yang perlahan muncul di wajahnya. Senyum tulus yang muncul begitu saja, tanpa dia sadari. Ia menelusuri garis rahang wanita itu dengan pandangan, lalu menunduk perlahan dan mengecup pucuk kepala Meysa, sekilas tapi penuh arti. Tanpa ingin membangunkannya, Jo perlahan bangkit dari ranjang. Ia mengambil kaus yang tergantung di kursi, lalu b

