Tidak ingin dihinggapi rasa menyesal dan larut dalam kegundahan, Aria tetap pergi bekerja seperti biasa. Ia merasa perlu menyibukkan diri agar pikiran-piran negatif dapat ia singkirkan. Jam dinding telah menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Saat itu juga sebuah pesan masuk ke ponsel Aria. Awalnya ia ingin mengabaikannya, namun nama pengirim pesan tersebut membuat tangannya refleks membuka isi pesan. Saya sekarang ada di kantin perusahaanmu. Aria tersenyum sekilas lalu mematikan PC di depannya, menutup tumpukan map-map dan mengambil cardigan cokelat miliknya lalu segera menuju kantin. Alan duduk santai sambil menikmati matcha latte yang dibawanya dari kafe miliknya dulu yang kini dikelola Raisa. Dari kejauhan ia dapat melihat Aria berjalan menuju ke arahnya. Ia lalu bangkit dan

