“Aku pasti malu-maluin ya semalam?”
“Enggak.”
“Enggak? Huh, syukur deh.”
“Tapi malu-maluin banget.”
“Kinanti!” Sana galau lagi. Sejak bangun tidur, gadis itu berguling-guling di kasur dan menangis. Ya Tuhan, kenapa pula dia mabuk-mabukan? Mabuk! Entah berapa banyak botol alkohol yang Sana tenggak beberapa jam yang lalu. Gara-gara lelaki itu. Hanya karena seonggok manusia yang Tuhan berikan kelamin berbeda dengannya, mengapa Sana harus merasakan kehancuran seperti ini di dalam hatinya? Hingga merambat ke kepala dan merampas akal sehatnya. Di dalam selimut, Sana menangis. Tidak bergerak. Dan diam. Kinanti yang melihatnya menghela napas.
“Bangun. Ceritakan padaku.” Bagaimana pun, Sana adalah sahabatnya sejak mereka berkenalan di OSPEK IKJ empat tahun lalu. Meski berbeda prodi, Sana adalah mahasiswi Seni Tari. Well, Sana suka rese, tapi Kinanti sayang. Dibalik kereseannya, gadis itu punya hati yang tulus. Dan hati itulah juga yang seringkali dipermainkan orang. “Aku minta maaf soal tadi. Enggak ada yang salah denganmu kok, Sana. Kamu tetap temanku gimana pun itu kondisinya.” Kinanti kali ini membujuk dengan jujur. ”Ayolah.”
Setelah ditarik-tarik, gadis itu bangun. Ada bekas jejak air mata yang terlihat di pipinya. Kinanti jadi bertanya dalam hati, apakah suatu saat nanti, dia juga akan merasakan suatu patah hati yang dalam, yang cintanya begitu terluka?
“Salah satu hal yang bisa membuat hatimu lega adalah bicara padaku. Aku jamin itu.”
Sana menyeka air matanya, “Kamu tahu apa yang menjadi biang masalahku?” Kinanti mengangguk, dia tahu biang masalah yang dimaksud Sana—seorang lelaki di kampus mereka. Sebetulnya, sudah sejak awal Kinanti tak suka Sana berpacaran dengan lelaki itu. Sebab, masa lalunya yang kelam terdengar mengerikan ketika Sana membagi cerita pacarnya itu padanya. Edwin pecandu. “Dia mengajakku bertemu di club malam.” Jujur saja, club malam bukan tempat yang asing dalam pergaulan mereka. Kinanti juga sering mengunjunginya saat merasa sumpek. “Aku minta maaf karena hal ini, aku dengan tega meninggalkan acaramu. Aku teman yang egois.” Sana menunduk, Kinanti menenangkannya.
“Hei, tak apa. Kamu berhak mengejar sesuatu yang kamu harapkan bisa membuatmu bahagia.”
“Tapi nyatanya tidak.” Sana menyesal, “Aku pergi karena dia tiba-tiba menyusulku ke Bandung. Aku pikir dia sedang memberiku kejutan, dan ya, memang sebuah kejutan.”
Kinanti menunggu.
“Orang yang selama ini kuanggap baik, Kinanti, dia ternyata tidak sungguh-sungguh.” Sana mendongak untuk bisa menatap Kinanti. Di bola mata itu, Kinanti melihat emosinya kian menguat. “Dia masih menggunakan obat-obatan.”
Oh, Kinanti sudah menduganya. Untuk seorang yang tidak menjalani rehabilitasi dengan tepat, memang sulit untuk berhenti dari kecanduannya.
“Dan uang yang selama ini kuberikan padanya untuk pengobatan ibunya, adalah uang yang digunakan oleh mereka untuk membeli narkoba.” Cicit Sana, yang kini air matanya mengalir kembali. “Dia membohongiku tentang ibunya. Dan ibunya—” Sana sesegukan. “Aku pikir ibunya memang sedang sakit. Tapi mereka sama saja! Keluarga pecandu itu, mereka memanfaatkanku. Padahal Kinanti, kamu tahu aku ingin mulai percaya pada seseorang. Bahwa mungkin ada yang benar-benar tulus meski masa lalunya buruk. Pada awalnya ya, dia sangat baik. Kemarin? Tidak. Aku sudah tahu semuanya.”
“Gimana kamu bisa tahu?”
“Aku ambil ponselnya, dan melihat banyak bukti di sana.” Bicara Sana mulai tak jelas. “Dia marah-marah padaku sampai membuka topeng aslinya yang busuk itu.” Dan Kinanti rasanya bisa mereka-reka kejadian apa selanjutnya. Sana yang frustasi, hilang kendali, pada akhirnya melampiaskan rasa kesal itu pada botol-botol alkohol. It was dumb, tapi Kinanti tak bisa menganggap enteng psikologi setiap orang. Dia tahu ketika itu sahabatnya sedang terguncang. Dikhianati pasti sakit.
Lalu, hening. Sebelum Kinanti bicara lagi, “Aku tahu sekarang, apa yang terparah dari patah hatimu, Sana. Kamu menyakiti dirimu sendiri.” Ucapannya itu membuat Sana mau melihatnya dengan mata yang kering, menghentikan tangis.
“Sana, dengar.” Kinanti beringsut makin dekat pada sahabatnya itu. “Jangan pernah berpikir kamu bisa merubah orang lain. Jadikan ini pelajaran yang sangat berharga. Mulailah sebuah hubungan yang sehat, dengan orang yang tepat. Kenal bahkan pacaran dengan orang yang “tidak sehat” hanya akan berujung pada toxic relationship. Ingat, kamu itu berharga.”
Sana mendengarkan Kinanti dengan baik.
“Jangan buang-buang waktumu untuk orang yang salah. You deserve more happiness.” Kinanti mengulas senyum agar sahabatnya terhibur. “Kamu mengerti, nona penari?”
Perlahan-lahan, Sana mulai tersenyum kecil. “I don’t know what I’m going to say. Makasih, Kinanti. Aku jadi bakal mikir dua kali kalau mau ngisengin kamu nih.” Sana yang suka cengengesan kembali lagi.
Kinanti menahan diri untuk tidak menoyor kepala sahabatnya itu, “Emang mesti gitu, dong. Enggak boleh rese lagi sama aku.” Dan seperti ibu-ibu yang galak, gadis itu memperingati Sana. “Satu lagi, jangan berani sentuh alkohol sembarangan!”
“Siap, sobat.”
“Serius!”
“Iya, bawel.”
Dan Kinanti tidak bisa menahan-nahan diri lagi untuk melempar wajah Sana dengan bantal. Yang dilempar malah tertawa. Padahal, omongannya yang tak mau rese lagi masih basah. Huh, dasar. Batin Kinanti.
“Bangun. Mandi. Siap-siap pulang ke Jakarta.” Kinanti sih sudah siap dari tadi, dia beres merapikan barang-barangnya ke dalam koper. Tinggal minta diangkut pelayan. Yang lama adalah menunggu Sana. “Come on, Sana!”
“Iya, iya, bangun nih dari kasur.” Sana menjangkau ponselnya dan menyalakannya. Jangan bilang gadis itu mau berlama-lama di kamar mandi dengan menyalakan musik?
“Kinanti.”
“Hm.”
“Gawat.”
Kinanti yang mondar-mandir memasukkan alat-alat make-upnya berhenti di samping Sana, “Ada apa sih?”
“Kamu harus baca ini.” Sana terbengong, “Aku rasa ada masalah baru lagi.”
Kinanti mengambil ponsel gadis itu dan tiga detik kemudian, reaksinya sama seperti reaksi Sana. Shock sekali sampai ke ubun-ubun. Holly s**t.
Breaking News: Dua Lawan Satu. Wah, parah! Judul macam apa ini? Mengapa mereka seenak jidat saja menulis berita tanpa mengonfirmasi kebenarannya terlebih dulu? Meski pun hatinya berang, tapi Kinanti tetap melanjutkan membaca isinya. Dua remaja yang diduga tengah mabuk terekam CCTV hotel sedang berbuat m***m di dalam lift, bersama seorang pria dewasa. Salah satu dari gadis tersebut dicurigai sebagai anak pengusaha terkenal asal Indonesia, yang namanya cukup populer di jagat maya. Di dalam cuplikan CCTV, terlihat kedua gadis muda ini sedang asik berada di pelukan si pria yang nahasnya, juga merupakan pengusaha tekstil yang lahir di kota Surabaya. Skandal ini tentunya menambah daftar negatif kehidupan kelam anak-anak pengusaha yang sudah di luar batas.
What the f**k. Kinanti dengan menahan sabar, memutar cuplikan CCTV yang hanya berdurasi 10 detik itu. Memang benar, itu dirinya, Sana dan Bara. Peristiwa ketika pergelangan kakinya terkilir, kini menjadi bumerang. Karena jika dilihat dari sisi tersebut, mereka terlihat seperti sedang b******u.
Kinanti menjatuhkan bokongnya di kasur. Baru saja kemarin dia mengukir prestasi, dan hari ini fitnah sialan itu menghancurkannya. Ya Tuhan, bagaimana caranya Kinanti menjelaskan semua ini pada Papanya? Padahal, Kinanti sudah berjanji takkan tersandung kasus apapun yang akan mencoreng nama baik Mirano. Dan sumpah demi Neptunus, rekaman CCTV itu pasti sengaja disebarkan! Apakah hotel ini telah bersekongkol dengan para predator gosip?
“Kamu mau ke mana?”
“Aku harus bicara sama manajer hotel ini!” Kinanti marah sekali. Pagi yang menyebalkan menghantamnya. “Dan mereka mesti kasih penjelasan padaku kenapa CCTV ini bisa tersebar. Fitnah. Bikin malu aja. Sampai dibuat berita yang aneh-aneh di internet lagi!” Hak sepatu Kinanti menggema di lantai hotel. Gadis cantik itu sekejap berubah menjadi singa.
***
Kinanti dan Sana melewati perjalanan pulang mereka menuju Jakarta dengan murung. Tak ada percakapan yang seru-seru di dalam mobil. Keduanya diam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Terlebih Kinanti. Ketika dikonfirmasi pada pihak hotel, mereka juga kaget dengan berita yang masif beredar di internet. Juga setelah dicek, CCTV asli hotel masih berada di tempatnya. Kinanti kesal. Kurang ajar sekali memang mereka! Para pemangsa berita itu akan menghalalkan segala cara untuk menghasilkan uang, sekali pun merugikan hidup orang lain. Benar saja, ada yang menguntitnya entah sejak kapan dan membuat perangkap di tempat-tempat yang sangat tersembunyi. Hei, mengambil rekaman secara diam-diam kan ilegal! Mereka bisa dituntut dan Kinanti jebloskan ke penjara atas tuduhan pencemaran nama baik.
“Pak, nanti anterin dulu Sana ke rumahnya ya.”
“Baik, non.”
Supir keluarganya mengangguk, yang dari Jakarta buat menjemputnya datang pukul enam pagi. Sudah menunggu di lobi hotel dengan sabarnya. Bahkan, ikut menyelidiki tentang insiden CCTV itu. Ah, sudahlah. Kinanti rasanya ingin sekali mengistirahatkan pikirannya. Jadi, gadis itu memutuskan untuk tidur. Sama seperti Sana yang mendengkur halus sejak tadi.
Hingga beberapa jam kemudian, mereka tiba di Jakarta saat hari sudah menjelang senja. Supirnya bilang jalanan sangat macet. Untung saja Kinanti tidur, kalau tidak, dia pasti sudah uring-uringan berat karena jalan raya yang penuh sesak oleh kendaraan, dan tak jua maju-maju. Sebelum tiba di rumahnya sendiri, Kinanti masih sempat mengantar sahabatnya sampai rumah. Yang mukanya pucat itu, dan berkali-kali bertanya apa semuanya akan baik-baik saja. Dengan tegas Kinanti bilang semuanya bakal aman dan terkendali.
“Kinanti, sorry. Ini semua gara-gara ulahku. Kalian jadi ikut terseret,” Sesalnya. “Kalau aja aku enggak mabuk—“
“Kita lagi kena sial, jangan nyalahin diri sendiri,” gadis itu mengingatkan lagi. “Udah, mending kamu masuk terus mandi biar tenang. Abis itu baru jelasin ke Papa dan Mamamu kalau semuanya enggak bener. Kalau mereka masih enggak percaya, kontek aku.” Sana mengangguk. Dia sangat percaya pada Kinanti sekarang.
Lantas Kinanti pulang. Disambut rumah yang sepi.
“Non Kinanti.” Tegur seorang asisten rumah tangga.
“Bi, Papa mana?” Kinanti mengurungkan niatnya buat naik ke lantai dua. “Tumben, kok sepi? Ini kan weekend.”
“Itu non,” raut muka perempuan itu nampak tak tega menyampaikan berita pada Kinanti. Sementara Kinanti sangat mendesaknya. “Pak Tristan masuk rumah sakit.”
“Apa?” Kepala Kinanti pening, rasanya seperti dipukul palu Thor. “Kapan? Kenapa? Kok enggak ada yang ngabarin aku sih?” Kinanti nyaris menangis. Sudah banyak hal yang terjadi hari ini membuat emosinya kian tak stabil. Kabar buruk satu ini berhasil memperparahnya. “Jahat tahu enggak!”
“Tadi siang, non.” Perempuan itu menunduk. “Dokter ada bilang ke rumah ini, Pak Tristan titip pesan supaya jangan kasih tahu non selama masih di perjalanan.”
Kinanti tidak peduli lagi pada apapun. Dia harus pergi ke rumah sakit. Sekarang!
***
“Papa!”
Kinanti membuka pintu kamar rawat VVIP Papanya tergesa, dan langsung menghambur ke dalam peluk pria yang rambutnya telah memutih itu. Tak acuh meski tahu buku yang sedang dibaca Papanya jatuh. Juga, abai pada kehadiran asisten sang Ayah yang juga berada di dalam sana. Kinanti khawatir sekali, sampai tak sempat memerhatikan apapun.
“Kenapa Papa tega enggak kasih kabar ke Kinanti.”
“Kamu kan sedang di jalan.” Papanya tertawa, sembari mengusap-usap rambut Kinanti yang berantakan sehabis tadi lari-lari. “Yang ada, malah bikin kamu panik. Sekarang kamu sudah tahu dan ada di sini.”
Kinanti melepas pelukan di tubuh Papanya. Terlihat pipinya basah oleh air mata.
“Loh, kok nangis?”
“Jantung Papa kambuh gara-gara Kinanti ya?” gadis itu terisak-isak seperti anak kecil. Sangat merasa bersalah, mustahil kalau Papanya tidak baca berita itu. Papanya pasti kaget sampai penyakit jantungnya menyerang lagi dan akhirnya harus masuk rumah sakit.
“Sok tahu.” Papanya menjawil hidung Kinanti.
“Papa yang jujur sama Kinanti, Papa pasti tahu berita itu,” Tangisannya makin keras, “Kinanti enggak yakin Papa akan percaya, tapi Kinanti berani sumpah demi Tuhan, Kinanti enggak lakuin seperti apa yang disebutkan di artikel itu. Artikel itu fitnah Kinanti, Pa. Kinanti hanya sedang bantu Sana yang lagi sakit.” Gadis itu sesegukan. “Tapi Kinanti bener-bener minta maaf udah bikin Papa sakit lagi. Kinanti bisanya cuma nyusahin Papa.”
“Sudah, sudah.” Tristan Mirano menghela napas, dia mengusap bahu putri yang amat dicintainya. Berusaha agar putrinya itu tak menangis. “Awalnya Papa memang kaget lihat berita itu. Tapi siang tadi, Bara sudah jelasin semuanya lewat telpon pada Papa.”
“Ng?”
“Kamu sama Bara, kan, di rekaman CCTV itu?”
“Iya.”
“Iya, Bara sudah jelasin kronologisnya.” Papanya tersenyum melihat Kinanti yang bingung. Namun tangisannya sudah mereda. Pelan-pelan, Tristan Mirano merapikan anak rambut Kinanti yang berantakan. Wajah keriputnya begitu memancarkan rasa sayang yang dalam. Bola mata senja itu hangat memandang Kinanti. “Kamu adalah putri Papa yang sangat berharga. Papa menyayangimu, Kinanti. Apapun yang kamu lakukan akan sangat berpengaruh pada Papa. Ketika kamu terluka, Papa juga terluka.”
Air mata Kinanti yang panas menggenang di pelupuk mata. Kinanti mengambil tangan Tristan Mirano yang jauh lebih kurus dari beberapa tahun lalu, dan menciumnya sangat lama. Kemudian berkata, “Kinanti janji, Kinanti enggak akan bikin Papa kecewa.” Di usia Papanya yang sudah menginjak 65 tahun, Kinanti takkan bikin ulah lagi.
Tristan Mirano tersenyum. Lebar dan bahagia. “Kalau begitu, hapus air matamu. Kamu kalau lagi nangis jadi jelek.”
Kinanti merengek, “Papa.”
“Masa mau cantik terus?”
“Ih.” Kinanti menukas. Papanya kalau sudah kumat jahilnya, ya gitu. Di depan karyawan-karyawan sih tegasnya setengah mati. Tapi di hadapannya, Tristan Mirano selalu berubah menjadi malaikat pelindung.
Tiba-tiba, Kinanti teringat oleh sesuatu. “Pa, Mas Bara memangnya bilang apa aja sama Papa?”
“Kamu tidak perlu tahu.”
“Kok gitu sih?” Kinanti cemberut.
“Pokoknya, Papa suka pria yang cepat mengonfirmasi sesuatu. Dia gesit dan bertanggungjawab.” Jawaban Papanya membuat Kinanti bertanya-tanya apa yang Bara katakan. Tapi sayangnya, dia tak diperbolehkan untuk tahu isi percakapan mereka.
Ingat Bara, Kinanti jadi merasa bersalah juga. Pria itu tak seharusnya ikut-ikutan menjadi bahan gosip. Repot-repot memberi klarifikasi pada Papanya pula. Duh, apa Kinanti mesti minta maaf sekaligus bilang terima kasih, ya? Tak ada salahnya kan mengajak pria itu bertemu di luar? Baiklah. Kinanti sudah memutuskan. Kinanti mengambil ponsel di dalam clutch, lalu mengaktifkannya sebab sengaja dimatikan sejak dia berada di Bandung, sampai tiba di Jakarta. Ternyata, Bara juga berusaha menghubunginya lewat w******p.
Kinanti, kamu di mana? Aku di hotel. Kinanti melihat kapan pesan itu dikirim. Tepat setengah jam setelah Kinanti berada dalam perjalanan pulang. Jadi, pria itu menyusulnya ke hotel, setelah mungkin membaca berita di internet?
“Pa, aku keluar dulu sebentar ya.” Tepat saat Kinanti akan beranjak dari ranjang Papanya, pintu kamar rawat itu terbuka.
“Selamat petang, Om.” Ya ampun, Bara! Dan mata mereka bertemu segaris lurus. “Dan selamat petang, Kinanti.”
“Eh, iya.” Hanya Kinanti yang menjawabnya dengan kikuk, sementara Papanya membalas dengan sapaan yang sama seperti Bara lontarkan. Pria itu kini berjalan ke arah mereka lantas meletakkan parsel buah-buahan di atas nakas. Kinanti benar-benar turun dari ranjang sekarang, dan merapikan kursi jenguk yang nyaris dia tendang tadi.
“Silahkan duduk, Mas.” Aduh, Kinanti malu entah karena apa. Apakah karena Bara bilang terima kasih dengan sebuah senyum yang ganteng itu?
“Aku keluar dulu ya, Pa. Mau telpon, Sana.” Kinanti langsung menyerobot pintu saat Papanya mengangguk.
Di luar, bukannya cepat-cepat menghubungi Sana seperti apa yang dia bilang. Kinanti malah dibuat penasaran atas obrolan Papanya dengan Bara. Tuh, kan. Bego. Siapa juga coba yang menyuruhnya keluar? Ih, Kinanti memang oonnya enggak bisa dikendalikan, batinnya. Percakapan mereka pun hanya samar-samar terdengar. Tapi Kinanti bisa merasakan keakraban mereka. Well, jelas akrab. Bara adalah pengusaha tekstil yang sudah sering berbisnis dengan perusahaan garment milik Papanya. Jauh sebelum Kinanti PPL di tempat usaha tekstil yang Bara pimpin. Masa PPL itu pula yang menandai awal perkenalan Kinanti dan Bara hingga cukup dekat. Pada mulanya, Kinanti memanggil pria itu dengan Pak Bara. Karena usianya memang sudah matang, 37 tahun. Wajar kalau Kinanti panggil Bapak, kan? Tapi semakin lama, Bara meminta Kinanti untuk mengubah panggilan terhadapnya. Jadi, Mas Bara. Kok terdengar makin manis ya kalau dipikirkan sekarang?
“Kinanti.”
“Eh, iya?” Kinanti berdiri dan lingung. Siapa tadi yang menyapanya?
“Hei.”
Kinanti menengok dan menemukan Bara yang juga memandangnya dengan heran. Pria itu baru keluar dari kamar rawat Papanya. “Oh, Mas Bara.”
“Aku memanggilmu empat kali.”
Alis Kinanti nampak turun, “Maaf ya, Mas. Tadi aku enggak dengar.”
Bara mengulum senyumnya, “Anak gadis enggak baik sering melamun.” Katanya, membuat Kinanti jadi ikut senyum juga. Lalu, Bara mengamati ekspresi Kinanti seksama, “Kamu sudah makan?”
Kinanti menggeleng. Sejak pagi belum sempat makan.
“Kamu mau makan malam di luar bersamaku?”
Gadis itu berpikir sejenak, “Aku—” Gimana nih? Tapi bukannya ini yang Kinanti inginkan, ya? “Aku bilang dulu sama Papa.”
“Aku sudah minta izin sama Papamu sebelum keluar ruangannya. Aku tahu kamu belum makan, bahkan mungkin sejak pagi.” Bara tegas dan perhatian, ditatap begitu Kinanti jadi deg-degan. Maka, gadis itu menganggukkan kepalanya.
“Gimana kakimu, masih sakit?” Selagi mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit, Bara bertanya. Pria itu selalu memastikan jika kondisinya baik-baik saja, membuat Kinanti mengerutkan dahi. Bahkan dia sama sekali sudah melupakan rasa sakit di kakinya. Gara-gara banyak hal yang terjadi.
***
Mereka makan malam di rumah makan khas makanan Bali. Rekomendasi Bara. Enak sekali, sampai Kinanti bahkan menghabiskan es kuwutnya tak bersisa usai menyantap banyak makanan berat. Malu, semua dibayar Bara pula akhirnya.
“Mas, masa kamu yang bayar sih?” Problem of girls are being complicated. Iya, kan? “Aku juga—”
“Kamu tahu apa yang cukup membayarku?” Bara langsung memotong, daripada Kinanti jadi tak bisa diajak berkompromi. “Dengan hanya melihatmu lahap makan.”
Kok Bara manis banget sih? Kinanti melting tapi juga khawatir, “Aku rakus banget ya makannya?”
Bara mengacak-acak poni Kinanti yang sudah mulai menyentuh mata, “Kamu lucu.” Pria itu lagi-lagi memberi sentuhan yang membuat Kinanti tercekat. Banyak lelaki yang menaruh perhatian padanya, tapi tak seperti Bara.
“Bohong banget.” Tukas Kinanti, sesungguhnya hanya untuk menutupi rasa gugup. Bara tersenyum.
“Udah yuk, mau pulang sekarang?” Bara menawari dan anggukan Kinanti yang cepat-cepat menyusul kemudian.
Mereka lantas meninggalkan rumah makan pukul 9 malam. Tetapi semakin malam, justru Jakarta kian padat sebab banyak yang ingin menghabiskan waktu di luar ketika langit sedang gulita. Sedangkan di dalam mobil, Kinanti menjangkau radio untuk memecahkan keheningan mereka. Dengan volume kecil, yang penting tak membuatnya canggung.
“Kamu mau diantar ke mana, Kinanti? Kembali ke rumah sakit?” Bara bertanya saat mereka sudah setengah jalan.
“Papa enggak izinin aku nginap di sana. Aku disuruh pulang dan tidur di rumah.” Ada nada sebal yang tertangkap di suaranya, membuat Bara tersenyum menanggapi.
“Oke, kalau begitu ke rumahmu.”
Sepi kembali. Bara konsentrasi menyetir, kecepatannya sedang, menyesuaikan dengan kondisi jalan. Kalau lengang pun Kinanti tak suka yang ngebut. Dan selalu, kejadian tadi pagi mengganggunya. Kinanti melempar pandangannya ke luar kaca mobil, dan memutuskan untuk bicara.
“Kamu pasti terganggu dengan berita-berita itu.”
“Enggak, kenapa harus terganggu? Itu kan berita bohong.” Bara menjawabnya tangkas, tidak bertele-tele atau pura-pura tidak tahu. Tapi matanya masih fokus dan tertuju ke jalan raya.
“Kamu enggak keberatan dengan asumsi orang meski itu berita bohong?” Kali ini Kinanti menatap Bara dari arah samping. Raut pria itu serius sekali ketika menyetir.
“Setiap orang berhak berasumsi, tergantung kita mau menanggapinya bagaimana.” Mobil Bara mulai masuk ke area perumahaan mewah di mana Kinanti tinggal. “Kalau aku, aku memilih untuk tidak memedulikan apapun.”
Kinanti kaget ketika Bara tiba-tiba menoleh padanya untuk memberi tatapan yang—sedikit mengintimidasi. “Jangan kamu pikirkan lagi masalah itu, Kinanti. Berita bohong itu terlalu rendah untuk bisa mempengaruhi hidupmu. Mereka akan jera dengan perbuatannya sendiri.” Bara membunyikan klakson mobilnya, dan security rumah Kinanti dengan sigap membuka gerbang. Setelah lewat halaman yang luas, sekarang mobil Bara berhenti tepat di depan rumah Kinanti.
Pria itu menatapnya lagi, “Kamu mengerti? Berita itu tidak menggangguku, yang menggangguku justru saat kamu malah memikirkannya terlalu dalam.”
Kinanti terdiam atas kata-kata itu. Dengan sepasang mata yang mengawasi gerak Bara. Yang kini semakin mendekat padanya. Pria itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh rambut di sisi wajah Kinanti, “Jawab aku, Kinanti.”
“Ya.” Bisik gadis itu. Suaranya yang pelan membuat tatapan Bara jatuh ke atas bibir Kinanti. Biasanya, apapun yang keluar dari bibir itu, selalu bisa didengar Bara dengan jelas, tapi sekarang tidak. Karenanya, Bara menelusurkan ibu jarinya di atas bibir Kinanti yang ranum—mengusapnya hati-hati seolah bibir gadis itu adalah benda yang sangat berharga dan mudah rapuh. Tekstur bibir itu persis seperti apa yang selalu Bara bayangkan. Lembut sekali, sudah sejak lama Bara ingin tahu rasanya.
“Boleh aku menciummu?”
Kinanti diam saja, hanya bulu matanya yang lentik bergerak-gerak dengan lamban. Kinanti tidak tahu apa yang sedang terjadi pada mereka. Tetapi Bara membuatnya tidak mampu menggerakkan tubuh.
“I guess yes.” Bara mengambil sejumput dagu Kinanti lalu menariknya, menyatukan bibir mereka. Dan tanpa aba-aba terlebih dulu, Bara melumatnya. Tak ada kecupan yang manis atau malu-malu. Bibir itu mengulum bergantian bibir atas dan bibir bawah Kinanti dengan intens. Terkadang membelainya menggunakan lidah, sebelum melumatnya kembali. Kinanti tahu Bara menciumnya, meski sebelumnya refleks otak dan tubuhnya buruk sekali dalam merespon tindakan Bara. Gadis itu hanya membiarkan semuanya terjadi. Kepala Kinanti jadi mendadak pening. Dan ketika ciuman mereka selesai, Kinanti malu sekali. Apa yang sudah dia lakukan?
Bara menatap bibir Kinanti yang merah dan basah karena habis dipagut, lantas memanjat naik ke mata gadis yang pipinya bersemu-semu itu. Cantik sekali. Dengan sensual, Bara menyelipkan helai rambut Kinanti ke balik telinga. Kemudian mengecup lagi bibir yang mengundang itu. Kinanti kelihatan masih bingung. Gemas, Bara mengecupnya. Lagi dan lagi.
“Mas Bara.”
“Kinanti.” Bara balas berbisik. Diusap-usapnya dengan lembut wajah Kinanti oleh jari-jemarinya.
“Kenapa kamu menciumku?”
“Karena aku ingin menciummu.” Pria itu memiringkan lehernya sebelum mendorong tengkuk Kinanti untuk dekat padanya. “Jangan lupakan ciumanku malam ini.”
Bara menciumnya lagi. Dengan tempo ciumannya yang lebih cepat dari pertama. Kinanti seperti candu, membuat Bara ingin memahat rasa gadis itu di dalam mulutnya. Dan pada akhirnya, Kinanti membuka diri. Bara masuk, menyusupkan lidahnya di dalam rongga mulut Kinanti yang hangat. Dengan pelan, digodanya lidah gadis itu. Sebelum Bara mengisapnya hingga desahan halus Kinanti lolos dan terdengar. Di tengah lumatannya yang menggelora, Bara tersenyum. Meski pria itu melepas bibir Kinanti ketika mereka membutuhkan oksigen.
Bara terengah, tapi Kinanti lebih hebat lagi. Kedua pipi gadis itu merah muda, hangat kala disentuh. “Kamu sangat cantik saat sedang malu, Kinanti.” Bara masih sempat-sempat menggoda Kinanti sembari menyeka bibirnya yang basah. Itu pujian yang jujur, tapi Kinanti tambah malu mendengarnya.
Gadis itu mengerjapkan kelopak mata, iris ambernya menghindari Bara. Kinanti lantas mendorong pelan d**a pria itu yang terasa liat. Dan berkata, “Aku turun sekarang.” Gadis itu buru-buru membuka pintu mobil, meski kakinya terasa lembek seperti jelly. Tidak peduli jua pada Bara yang mencoba untuk menahannya, hingga akhirnya pria itu hanya tersenyum membiarkan kursi di sampingnya kosong.
Bara menurunkan kaca mobilnya, “Malam, Kinanti.”
Kinanti yang gugup membalasnya dengan gumam yang tak jelas. Aduh, rasanya Kinanti ingin tenggelam ke bumi saja kalau begini. Bisa tidak Bara berhenti memandanginya yang sedang berjalan dan pergi? Tapi sampai Kinanti masuk lantas menutup pintu, Bara masih di sana dan Kinanti bersumpah masih melihat senyum di wajah pria itu.
“Non.”
“Ih, Bibi, ngagetin Kinanti aja.” Gadis itu meringis sambil memegangi dadanya. Ada asisten rumah tangga yang tiba-tiba muncul di sampingnya saat Kinanti masih menyandari pintu rumah.
“Bibi kan tadi jalan dari sana waktu denger non buka pintu.” Ya mana Kinanti liat. “Bibi mau tanya, non Kinanti mau makan malam sama apa? Bibi belum masak, non.”
“Udah, enggak usah masak. Aku udah makan di luar kok.” Kinanti mulai melangkahkan kakinya menjauh dari pintu. ”Bibi istirahat aja, aku mau langsung ke kamar.” Gadis itu menaiki undakan tangga menuju lantai dua.
Lega ketika melihat kamarnya yang penuh dengan hiasan dinding—khas kamar perempuan. Akhirnya, Kinanti bisa sendirian untuk menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Sudah memutuskan untuk tidak ganti baju, cuci muka serta pakai skincare. Kinanti ingin berbaring seperti ini saja dan menatap langit-langit kamar. Dia masih terpengaruh oleh Bara serta ciumannya yang gila itu.
Jujur saja, Kinanti pernah pacaran waktu SMA. Tapi mereka tidak pernah ciuman di bibir seperti tadi. Sedangkan semenjak kuliah, Kinanti tak banyak dekat dengan pria untuk memulai hubungan yang romantis. Karena teman sekelasnya di kampus didominasi oleh perempuan. Jadi, ini adalah sensasi pertamanya, merasakan kecupan dan ciuman sekaligus. Bara mencuri dua-duanya.
Saat Kinanti memejamkan kelopak mata, ponsel yang berada di samping tubuhnya berdenting dengan suara yang lucu. Ada sebuah pesan baru yang masuk ke akun Linenya.
Bara. Duh. Pria itu menulis, selamat tidur. Dan—
Aku menyayangimu, Kinanti.
Siapa yang tidak suka pada Bara? Lelaki itu sangat tampan, pintar, dan lembut dalam memerlakukan wanita. Tapi ciuman tadi itu lembut? Kinanti meraba bibirnya yang agak bengkak dan merasakan kedua pipinya kini memanas. Bisa tak tidur semalaman kalau dia terus-terusan memikirkan Bara!
***