BAB 3 : (Bukan) Sepasang Kekasih

5458 Words
Dalam tidurnya itu, Kinanti seperti mendengar dering telpon. Aduh, ganggu saja. Siapa sih? Tangannya lantas meraba ranjang, menemukan benda pipih lalu diletakkannya di daun telinga, “Hm?” “Pagi, Kinanti.” Gadis itu spontan membuka matanya, “Aksa?” Yang dipanggil di ujung sana, cengengesan. Kinanti langsung terduduk karenanya di atas kasur. “Aksa! Ya Tuhan, aku enggak lagi mimpi, kan? Ini betulan kamu?” Kesadarannya mulai memulih, satu demi satu nyawanya kembali. Aksara yang sibuk dan suka melancong itu akhirnya menghubunginya, meyakinkan Kinanti bahwa semua ini bukan mimpi. “Aku ada jadwal bertanding hari ini di Bulungan, mau nonton?” “Mau, dong!” Jawab Kinanti, “aku pasti akan datang menyemangati kamu. Sudah lama enggak ketemu.” Terakhir kapan ya? Beberapa bulan yang lalu pastinya. Sekarang, Aksara ada di Jakarta. Semoga saja lelaki itu diizinkan menginap di rumah untuk beberapa hari. Eh, tunggu, Kinanti mengerutkan kening, “Ke Jakarta kok enggak bilang-bilang dulu sebelumnya sih?” “Kamu aja yang malas cek jadwal pertandinganku di internet.” Aksara tertawa karena tahu Kinanti pasti sedang cemberut menanggapi kata-katanya. “Dan, aku enggak sempat mampir ke rumah dulu, karena begitu tiba di Jakarta kemarin pagi, timku langsung ditempatkan di hotel. Latihan.” Kinanti tersenyum, memakluminya, “Tunggu deh, aku mandi dulu ya!” Duh, kedatangan Aksara ini moodboster amat sih. Semangatnya langsung naik. Pasti Kinanti bakal mendapat hari yang menyenangkan! Gadis itu melakukan semuanya dengan kecepatan yang sangat kilat. Seperti dikejar waktu, meski pertandingan masih beberapa jam lagi, namun jalanan kan tak pernah lengang. Dia tak mau sampai terjebak macet. Apalagi, jarak antara rumahnya ke Bulungan lumayan jauh. Dan seperti biasa, setiap kali dia mau menonton Aksara bertanding, Kinanti pasti mengenakan jersey yang kakaknya itu berikan. Lalu, Kinanti pakai skincare paginya, lotion dan parfum yang disemprotkan di pergelangan tangan serta leher. Well, she is ready. Karena Aksara jelas tak membawa kendaraan, Kinanti memutuskan untuk menyetir mobil sendiri. Perjalanannya diisi oleh musik instrumental yang lahir dari 2CELLOS. Kinanti sangat menyukai permainan cello dan biola. Baginya, kualitas musik dari keduanya menciptakan sihir yang merasuk ke dalam jiwa. Begitu menggetarkan. Dan tentu saja, Kinanti juga mahir memainkannya. Tak terasa, 2CELLOS dan violinnya Lindsey Stirling mengantarkan Kinanti sampai di Bulungan tanpa rasa jenuh. Di luar arena, penonton telah berdatangan. Ada yang sudah mengantre untuk segera masuk pula. Kinanti turun dari mobil setelah diparkirkan. Sedikit menyesal, mengapa dia tak mengajak teman-temannya buat menemaninya? Sendiri ya berarti harus menghadapi semuanya sendirian. Banyak muda-mudi penggemar bola basket yang memandanginya. Mereka pasti tahu Kinanti siapa. Selebgram serta adik dari dua orang kakak laki-laki yang sukses. Yang satu pemain basket nasional, yang satunya memimpin perusahaan keluarga. Siapa yang tak iri? Tapi sayangnya, gadis yang mereka sedang lihat itu sering melakukan kontroversi. Apalagi yang kemarin itu. Beritanya sampai masuk ke akun-akun gosip di media sosial. Kinanti tahu akan selalu ada dua sisi dalam hidup. Jelas dia rasakan kini. Dua sisi itu; suka dan tidak suka. Ada yang menyapanya dengan ramah, namun tidak jarang pula yang terang-terangan menatapnya sinis. Kinanti mengabaikannya. Biarlah orang bebas mau menilai apa tentang pribadinya, yang penting Kinanti adalah Kinanti yang kenal betul siapa dirinya yang sesungguhnya. Setelah melalui proses pemeriksaan tiket yang Aksara pesan berada di area VIP, Kinanti lantas berjalan menuju tribunnya. Bulungan memang kerap dipakai untuk menggelar event basket dari tingkat nasional hingga internasional, salah satunya kompetisi liga seperti sekarang. Dan karena ini adalah pertandingan tandang tim Aksara, maka sebagian besar yang hadir menonton pun mendukung tim Satria Muda. Dukungan itu diberikan melalui banyak cara. Dimulai dari atribut yang mereka kenakan hingga sorakan-sorakan yang pasti menambah semangat bagi para pemain. And overall, Kinanti senang sekali menemani Aksara bertanding basket di Jakarta. Dan setelah serangkaian hiburan sebelum masuk ke inti permainan, kedua tim masuk ke lapangan. Disambut oleh tepuk tangan meriah dari penonton. Beberapa ada yang sampai meneriakkan nama pebasket populer. Dan di sanalah, Kinanti melihat Aksara sebagai seorang kapten. Perasaan bangganya meluap-luap. Duh, sudah punya kakak ganteng, berprestasi pula, siapa yang tak gemas? Kemudian, wasit memanggil dua kapten tim untuk melakukan jumpball. Penonton pun bersorak. Bulungan begitu ramai terasa. Permainan yang super cepat telah dimulai. Kalau mau jujur, sebetulnya Kinanti tak terlalu paham basket, tapi karena Aksara, dia mau mencari tahu. Kinanti tahu beberapa teknik yang Aksara lakukan dalam mendribble bola, meloncat ke sana ke mari, termasuk slamdunk yang pria itu tunjukkan ke penonton yang dihadiahi jeritan histeris para kaum hawa. Ya, itulah dia si pencetak poin. Aksana Delta Mirano adalah seorang pebasket yang namanya sangat populer di luar maupun dalam Indonesia. Pria itu kini tergabung bersama klub asal Sumatera Selatan, Muba Hangtuah. Lelaki itu dengan cool melempar ciuman jarak jauh untuk Kinanti usai menyuguhkan gerakan akrobatiknya. Otomatis membuat orang-orang yang berada di tribun melempar pandang padanya. Ih, Aksara jahil banget sih, batin Kinanti. Namun, gadis itu tetap menikmati pertandingannya hingga usai. Dan kemenangan itu didapatkan oleh tim Aksara. Dalam empat kuarter, Satria Muda harus tumbang oleh d******i Muba Hangtuah dengan 65-104. Gila sih, tim Aksara selalu garang ya walau di kandang lawan? Kinanti menunggu Aksara selesai dengan timnya di sekitar area Bulungan. Akhirnya, lelaki itu muncul dengan rambut yang basah serta pakaiannya telah berganti casual. Ada cengiran lebar di mulutnya ketika bertemu pandang dengan mata Kinanti. “Selamat ya, Aksa.” Kinanti membubuhkan kecupan di pipi pria itu saat Aksara sudah ada di hadapannya. “Kakakku emang keren banget, deh.” Aksara terkekeh karena begitu manjanya Kinanti sekarang. Maklum saja, mereka tidak bertemu beberapa bulan lamanya. Aksara sibuk dengan jadwal klub basketnya—di mana yang namanya terikat kontrak kerja, pasti tak bisa bebas bergerak. Tinggal pun di asrama yang berbeda pulau dengan keluarganya. Dan mengapa pula Aksara memutuskan menjadi seorang atlet? Padahal, hartanya sudah banyak. Sebagai anak tengah keluarga Mirano, Aksara sama sekali tak punya minat bergabung di perusahaan keluarga. Yang sekarang dioperasikan oleh Papa dan kakak yang paling tua di antara mereka. Aksara merasa dia tidak cocok bekerja di kantor. Passionnya adalah olahraga dan Aksara sangat mencintai basket. Berkeringat dan berkompetisi membuatnya selalu tertantang dalam menjalani hidup. Keduanya kini berjalan keluar dari Bulungan, menuju mobil yang dibawa oleh Kinanti. Beberapa orang yang lewat memberi selamat pada Aksara. Dan yang lainnya, malah sibuk menggoda. Bahkan, teman basket Aksara meneriakinya untuk mengenalkan Kinanti pada mereka. Yang dibalas dengan satu acungan jari tengah oleh Aksara. Mereka tergelak, yang malah membuat Kinanti kini makin menenggelamkan diri ke dalam pelukan Aksara. “Hei, jangan nempel terus. Nanti pacarmu marah.” “Aku enggak punya pacar.” “Dasar jomblo akut.” “Emang kamu punya?” “Punya.” Jawab Aksa, “nih orangnya.” Jawab lelaki itu sembari menarik-narik hidung Kinanti. Yang ditarik langsung saja memukul-mukul lengan Aksara. “Ih, ngaku-ngaku, mana mau aku punya pacar playboy kayak kamu!” Sembur Kinanti, sembari melempar kunci mobil pada Aksara. Lelaki itu masih tertawa-tawa, lalu menarik adik perempuannya mendekat dan mengecup keningnya untuk kali terakhir sebelum mereka masuk mobil. “Antar aku jenguk Papa ya.” Kinanti mengangguk. “Aku juga ingin lihat Papa.” Maka mobil itu pun berjuang menembus kemacetan untuk tiba di rumah sakit tempat Papa mereka dirawat. Sampai sekitar pukul delapan malam. Sebab Aksara sebelumnya telah membeli buket bunga dan buah-buahan untuk Papanya. Pria itu kini membuka pintu kamar rawat setelah pengawal Papa mereka memberi salam untuknya dan Kinanti. “Pa,” panggil Aksara. “Aksa.” Pria paruh baya itu meletakkan gadgetnya di samping kiri tubuhnya, lalu melepas kacamata jua. “Akhirnya kamu datang juga.” Dengan harap yang hangat, kedua belah tangan Tristan Mirano membentang. Ingin putranya segera berlabuh di sana untuk berbagi pelukan rindu. Dan Aksara memang datang, memeluk Papanya sembari menepuk-nepuk punggung ringkih itu dengan lembut. “Papa nonton pertandinganmu hari ini lewat tayangan streaming,” Pengakuan dari Tristan Mirano membuat Aksara terkekeh. “Kamu mengingatkan Papa ketika masih muda, jago main basket.” Aksara tergelak, begitu juga dengan Kinanti atas ucapan Papa mereka. Namun keduanya sama-sama percaya sebab, Tristan Mirano adalah seorang kapten tim basket SMA ketika masih jadi pelajar dulu! Sementara Kinanti mengupas buah, Aksara mengobrol ke sana ke mari dengan Papanya. “Papa harus jaga kesehatan mulai sekarang,” Aksara mengingatkan, “Kalau anak ini bandel lagi nih dan bikin Papa banyak pikiran,” Dengan isengnya mencubit-cubit pipi Kinanti hingga membuat gadis itu merengut sembari menodongkan pisau. “Nikahin saja dia, Pa.” Aksara yang super tengil dan paras Kinanti yang kian semrawut—membuat Tristan Mirano tertawa. “Ide bagus itu. Papa nikahin saja adikmu.” “Tuh kan, jadi Kinanti lagi yang kena getahnya.” Keluh gadis itu tak terima. Pada akhirnya, dia menjadi bulan-bulanan candaan Aksara dan Papa mereka. Habis digoda sampai mirip kepiting rebus. Di malam yang langka itu, ketiganya menikmati setiap obrolan yang mengalir dengan alami. Inilah yang selalu Kinanti rindukan, sebuah definisi dari kata keluarga yang direalisasikan oleh sikap hangat Tristan Mirano dan Aksara. Rasanya ingin sekali Kinanti menghentikan waktu. “Sudah malam, waktunya Papa tidur,” gadis itu dengan lembut menyelimuti tubuh Tristan Mirano, setelah menyadari jarum jam berada di angka yang mana. “Aku dan Aksa akan pulang ke rumah. Tapi sebelum itu, kami harus pastikan Papa benar-benar beristirahat.” Tristan Mirano mengulas senyum untuk anak-anaknya. Siapa yang tak bahagia tidur ditemani oleh orang-orang tercinta? Hari ini adalah anugerah yang luar biasa baginya. Dan di sofa itu, Kinanti serta Aksara duduk menunggu lelapnya orang tua mereka. Tetap mengobrol, meski dengan tingkat volume yang rendah. Mereka membicarakan cukup banyak hal sebelum Aksara menghentikannya, sebab pria itu kini telah memerlihatkan sesuatu pada Kinanti. Yang tadi dia rogoh dari saku jaketnya. “Untukku?” Kinanti terpana, Aksara menyodorkannya sebuah kotak beludru. Seperti wadah cincin. Namun bukanlah cincin isinya ketika Kinanti buka, melainkan sepasang jepitan rambut yang begitu cantik dan berkilau karena terbuat dari dua buah mutiara. “Wah, ini—indah banget deh.“ “Aku membelinya di Raja Ampat. Benda ini tiba-tiba saja mengingatkanku padamu,” Aksara tertawa kecil. “Aku pikir mereka akan cocok menghiasi rambutmu. Mau kubantu pakaikan?” Dan Kinanti menjawabnya dengan anggukan yang menggebu-gebu. Lantas, gadis itu melihat pantulan dirinya di layar ponsel. Aduh, cantiknya. Maksudnya, jepit-jepit itu. Aksara manis banget begitu, ya? Kok bisa sih terpikir untuk membeli aksesoris perempuan? Tidak gengsi beli jepit wambut walau mungkin digoda teman-temannya. “Makasih,” Ucap Kinanti dengan tulus. “Sudah lama aku enggak pernah pakai jepit rambut.” Gadis itu masih senang-senang saja dan cengengesan sebelum, perlahan-lahan mulai tenggelam dalam leher yang menunduk. Lalu, suara isak tangis yang tertahan, terdengar satu menit kemudian. Aksara tertegun, begitu cepatnya suasana berubah di sekitar mereka. Terlebih Kinanti si gadis ajaib yang emosinya seperti bunglon itu. “Kenapa nangis?” Tanya Aksa. Kinanti menggeleng sebagai jawaban, menyeka mata. “Aku memberimu hadiah agar kamu senang, bukan bersedih seperti ini.” Aksara mengejar suara Kinanti untuk memberi penjelasan. Karena tak nyaman rasanya melihat seorang wanita menangis, terlebih itu adiknya sendiri. “Tak ada yang menangis tanpa sebab.” Aksara bicara lagi. “Kalau air matamu jatuh, berarti ada sesuatu yang salah pada hatimu.” Kinanti kian menunduk, “Hanya kamu dan Papa yang sayang padaku.” Dikatakannya dengan intonasi kecil yang tidak percaya diri. Tapi Aksara, pasti mengerti dengan apa yang dia maksud. Maka Kinanti lanjutkan, “Hanya kamu dan Papa yang bisa kuajak bicara sedekat ini. Hanya kamu saudara yang peduli padaku. Hanya kamu—” “Hei, siapa bilang?” Aksara memotong. Bahu Kinanti bergetar. Entah mengapa, setiap kali menerima kebaikan hati Aksara, Kinanti merasa hatinya malah terluka. Luka yang teramat dalam. Kinanti sebetulnya selalu berusaha untuk mengenyahkan sikap sentimentil ini, namun tetap tak bisa. Di dadanya ada yang mengganjal. Bagaimana mungkin satu kakaknya menyayanginya, sementara kakak yang lain—memusuhinya? “Jangan membohongiku dengan kata-katamu yang hanya ingin mencoba menghiburku,” Kinanti menatap Aksara lewat bola matanya yang berkaca-kaca. “Aku bukan lagi anak kecil, Aksa. Aku tahu Antara—tak suka padaku.” Aksara diam. Di bola matanya ada banyak hal yang bergejolak. Pada akhirnya, lelaki itu hanya mengembuskan napas. “Dengar Kinanti, lambat laun Antara pasti akan sadar bahwa kamu adalah adik yang baik.” Kinanti menatap Aksara dalam-dalam, kemudian bibir itu menumpahkan segalanya, “Aku yakin kamu tidak lupa jika aku telah menantinya selama 21 tahun aku hidup.” Oleh sebab itu, Aksara dibuat benar-benar membatu. Lalu hening. Mereka berdua tidak tahu kalau Tristan Mirano masih terjaga. Dan keterjagaan itu membuatnya mampu menangkap segala hal yang dibicarakan Aksara dan Kinanti. Tanpa bisa tercegah lagi, air mata pria itu menetes. Sama halnya seperti keyakinan Aksara, Tristan Mirano berharap putra sulungnya akan menyadari jika Kinanti adalah adik yang istimewa. Betapa pun buruk awal yang membangun “kebencian” itu hingga kini. *** “Aku titip Papa, ya.” Kinanti menganggukkan kepala takzim, memejamkan matanya sedetik saat Aksara mengecup lembut keningnya. Papa mereka pasti akan Kinanti jaga dengan baik. “Jangan sampai terlibat masalah lagi. Meski berita yang beredar itu bohong. Lain kali kamu harus berhati-hati dalam bertindak, Kinanti.” Pesan Aksara. Biarlah hanya dua playboy keluarga Mirano saja yang dicap banyak ulah. “Jangan seperti kedua kakakmu yang langganan masuk berita gosip.” Lelaki itu tertawa. “Pokoknya—jaga dirimu.” Kinanti meringis, di mobil tadi mereka sempat bicara soal skandal Kinanti baru-baru ini, “Iya, aku janji. Sudah cukup berita jelek tentangku bertebaran di internet. Ke depan, aku hanya akan melapor Kinanti Taliana Mirano segera wisuda.” “Nah, itu baru adikku yang baik.” Aksara menyentil kening Kinanti, membuat gadis yang manja itu mengerucutkan bibirnya. “Eh, omong-omong, kalau Bara bisa melindungimu sesuai dengan cerita Papa, aku setuju.” Wajah Kinanti memerah, “Ih, apaan sih kamu.” Kok jadi ke Bara? Kesal deh, dari semalam Aksara tak ada bosannya menggodanya. “Udah ya, Aksa. Yang terjadi di dalam rekaman itu hanya kesalahpahaman. Kan aku bilang berkali-kali, kalau aku dan Mas Bara hanya teman.” “Tapi kok manggilnya Mas Bara?” “Jangan usil terus, deh.” Gerah Kinanti yang langsung menghukum Aksa dengan serangan fisik. Aksara baru berhenti menjahili gadis itu saat merasa cubitan Kinanti di pinggangnya lumayan sakit terasa. Pria itu angkat tangan—mengalah. “Aku gabung sama yang lain sekarang ya.” Aksara menengok teman-temannya yang berkumpul di satu titik di bandara itu. Dan mengakhiri aktivitas goda-menggodanya pada adiknya. Sudah cukup, daripada nanti pinggangnya copot. Kinanti mengangguk, “Jangan makan mie rebus.” Pesan perpisahan macam apa itu? Aksara geli lantas mendengus, “Enggaklah, makanan atlet diatur pelatih.” Kinanti menyengir, “Kalau gitu aku hanya ingin kamu baik-baik saja. Sehat dan bisa membawa timmu juara.” Ini baru pesan yang manis. Dengan senyumnya yang lebar, Aksara mengurai langkah. Pria itu melambaikan tangan pada Kinanti kala jarak yang memisahkan mereka sudah cukup jauh. “Dah, Kinanti.” “Dah, Aksa.” Kinanti membalas. Setelah mengantar Aksara kembali pada timnya untuk terbang ke Palembang, Kinanti tak lantas langsung pulang ke rumah. Dia punya suatu hal yang mesti dikerjakan hari ini di studio pribadinya. Maka, Kinanti meminta supir keluarganya untuk mengantarkannya ke studio setelah belanja kebutuhan seperti cat tembok, cat akrilik, kuas, dan yang lainnya. Pukul satu siang, Kinanti tiba di sana. Studionya itu sendiri terletak di sebuah ruko yang elit. Kinanti menyewanya sejak masuk kuliah tahun pertama. Agar ketika liburan, studio ini bisa menjadi tempatnya mencari inspirasi. Di dalam, studio itu telah disulap Kinanti sedemikian rupa. Ada ruang untuk melukis, main alat musik, desain grafis komputer, dan paling utama—ruang kerja serta manekin-manekinnya yang selalu mengenakan pakaian rancangan Kinanti. Sebelum baju-baju itu laku terjual. Dengan kata lain, diam-diam Kinanti seringkali menghasilkan uangnya sendiri. Dan di hari ini, Kinanti ingin menyulap studionya menjadi lebih artistik. Melalui tangannya sendiri, seperti biasa. Kinanti mengenakan kaos putih dan celana jeans yang menampakkan tubuh rampingnya. Rambut coklatnya dicepol asal, tapi anak-anak poninya yang memanjang benar-benar tak bisa diatur lagi. Jadi Kinanti membiarkannya berantakan saja ke mana maunya. Setelah itu, dia menyiapkan barang-barang untuk mulai mengecat tembok. Dimulai dari bak cat, ember serta alat pengaduk, kuas, roller, tangga dan lainnya. Dinding studionya yang mulus hanya perlu dicat ulang menggunakan cat putih, lalu ditutup dengan biru gelap, sebelum Kinanti menggambarnya dengan macam bentuk planet-planet. Sebab gadis itu ingin ruangannya punya nuansa luar angkasa. Dan sejauh ini, Kinanti tidak kesulitan mengerjakan semuanya seorang diri. Sejak dulu, dia cukup cekatan kalau dalam urusan bekerja. Warna-warna lain yang lebih segar, ditumpahkannya ke bak cat yang berukuran kecil. Dalam proses itu, Kinanti mulai menggunakan kuas untuk pewarnaan gambar-gambarnya. Ada gambar peredaran planet-planet, konstelasi Auriga, hingga rasi bintangnya sendiri. Dengan konsentrasi, Kinanti pun memulas temboknya. Dua jam dia asyik berkutat dengan cat-cat yang bercampur di sana-sini hingga menghasilkan warna baru dari gradasi. Baginya, berkreasi itu sangatlah menyenangkan! Namun tetiba, ada seseorang yang membunyikan bel di luar studionya. Euh, Sana! Dari tadi ditunggu, kenapa baru sekarang datangnya coba? Di saat pekerjaan Kinanti nyaris selesai, kan dia jadi enggak punya alesan buat ngerepotin, batin gadis itu. Setengah sebal, Kinanti membuka pintu studionya dengan sepasang tangan yang berlumuran cat. Lalu berteriak, “Kenapa enggak masuk aja sih?!” Tapi yang ada di hadapannya bukan Sana, dia adalah— Bara. Mati kamu, Kinanti! Pria itu menatapnya, “I don’t know your password.” “Eh,” Aduh, gimana nih jelasinnya? Bego! Kinanti sih main sambar saja jadi orang. “Itu, aku pikir tadi yang bunyiin bel, Sana.” Mereka masih berdiri berhadap-hadapan di depan pintu masuk. Sebelum Kinanti mengerjapkan mata, kok jadi pada berdiri? “Eh mari masuk, Mas.” Gadis itu tertawa dengan garing. Di belakangnya, Bara mengikuti. “Kamu mau keluar bersama Sana?” Kinanti menggeleng, “Dia mau aku suruh bantu ngecat studioku ini.” Kesal ya? Padahal sejak di bandara, Sana sudah bilang akan segera pergi untuk menemuinya. Apa Sana punya firasat tak enak Kinanti bakal menyusahkannya? “Tapi enggak tahu tuh sekarang anaknya nyangkut di mana. Dari tadi aku tunggu enggak nongol juga.” Sementara itu, Bara mencium bau cat yang basah, dan melirik pada kedua tangan Kinanti yang kotor. “Eh omong-omong, dari mana Mas Bara tahu kalau aku—“ gadis itu membalikkan tubuh dengan sembarangan hingga keningnya membentur d**a Bara. Kinanti limbung tapi lengan Bara dengan sigap menahan pinggangnya. “berada di sini?” Kinanti menyelesaikan pertanyaannya dengan kondisi jantung yang bertalu-talu. Uh, kenapa sih dia selalu ceroboh tiap ada Bara di dekatnya? “Insting.” Bara menjawab dengan tenang. Dan ketika mata mereka bertemu dalam satu garis lurus, Kinanti melepas lindungan Bara pada tubuhnya—gelagapan. “Ehhh, uhhh, itu, Mas Bara mau bantu aku ngecat tembok?” Kinanti tersenyum kaku, berusaha amat keras untuk terlihat baik-baik saja. Kenapa tadi dia pakai berbalik segala sih! Sudah tahu kan ada Bara. “Ya, mau ya?” Ih Kinanti, kok jadi bikin malu? Suara hatinya menjerit, tapi sudah terlanjur kalau ingin menarik kata-katanya lagi. Bara tak pernah berpaling dari mata Kinanti, “Tentu saja, kalau tenagaku diperlukan.” Kemudian, mereka masuk ke dalam ruangan yang temboknya sedang dicorat-coret Kinanti pakai cat warna. Bara memandanginya sebentar, lalu tertawa kecil. “Cita rasa senimu lumayan juga.” “Lumayan?” pupil Kinanti menyipit. Gadis yang ada di samping Bara itu menyidekapkan lengannya. “siapa yang sudah mendesain batik di rumah produksimu, hm? Dan laku sampai ratusan pieces?” Oh sombong sekali dia, tapi bukannya Kinanti layak dianugerahi pujian lebih dari lumayan? Cita rasa seninya kan memang tinggi! Kinanti selalu mampu menyelesaikan pola rumit dalam setiap karya kriyanya. Bara membalas tatapan Kinanti, “Baiklah, mari kita lihat apa kamu mampu menyelesaikan gambar itu.” Adalah rasi bintang yang belum sempurna, yang ditunjuk oleh Bara. Rasi bintang itu bernama Cygnus. Kinanti sedang menyelesaikan gambarnya menggunakan pensil. “Senimu tinggi kalau berhasil membuatnya diwarnai.” Tak pelak lagi, gadis itu makin merasa tertantang. Meski cukup rumit sih. Cygnus sendiri merupakan konstelasi paling indah di langit yang melambangkan burung angsa sedang terbang. Di lain sisi, Bara tengah sibuk dengan kuasnya. Gambar Kinanti mulai berwarna. Tak ada yang bicara untuk waktu yang cukup lama di antara mereka. “Kamu suka Zeus?” Namun Bara tiba-tiba bertanya. “Enggak,” Kinanti merespon dengan cepat. Sadar jika pertanyaan pria itu berhubungan dengan gambarnya. Sebab di mitologi Yunani, Cygnus adalah sosok lain dari Zeus yang sedang menyamar—untuk menggoda seorang ratu. “Aku lukis gambar ini karena aku tak suka kelicikan Zeus. Dia melakukan cara apapun untuk mengambil hati wanita. Termasuk dengan merubah dirinya menjadi seekor burung angsa. Lalu menyusup ke istana ratu Sparta, Leda.” Bara menahan tarikan bibirnya, “Itulah yang namanya cinta, Kinanti. Jangankan manusia, seperti yang kamu bilang tadi—dewa juga sering jatuh pada cinta yang buta.” Kinanti menggumam, “Ya, dan aku mengajari Zeus caranya setia pada satu perempuan. Makanya, aku gambar pria itu di sini sebagai Cygnus, setidaknya dia enggak akan pernah pindah tempat—setia menetap di dinding studioku. Sampai aku yang memutuskannya untuk pergi.” Bara diam, menelisik paras Kinanti dari samping yang nampak begitu teduh. Dan gadis itu menangkap basahnya. “Kenapa?” “Ada cat di pipimu.” Bara menjawab. Lantas Kinanti bertanya di mana. “Di sebelah kiri.” Gadis itu menyapu-nyapu pipinya—menyerah ketika Bara bilang noda catnya masih di sana. Kinanti mesti rela jua membiarkan pria itu menyentuh pipinya untuk membantu. “Sudah.” Bara menarik tangannya kembali. “Ih, Mas Bara, catnya tambah banyak tahu!” seru melengking Kinanti ketika menjangkau cermin dan selesai melihat pantulan wajahnya sendiri di sana. Ada noda cat warna kuning. “Cat di tanganmu masih basah, pasti kamu sengaja ya mau mencemongi mukaku?” Bara tak mengaku. “Enggak mau! Sini, pokoknya aku juga mesti kasih coretan di wajahmu.” Gadis itu berusaha menarik tangan Bara agar mendekat padanya. Tapi Bara, sepertinya sedang Tuhan program menjadi makhluk yang iseng hari itu. Bara dengan jahil membiarkan Kinanti mengejar-ngejarnya dengan kuas di tangan. “Ih kok kabur sih? Jangan curang dong.” Seperti anak kecil, mereka berlari-lari dalam studio. Tawa Bara yang renyah itu menyulut semangat Kinanti untuk mendapatkannya. Awas kalau kena! Kinanti terus mengejar Bara sampai dekat sofa dan spontan, gadis itu mendorong tubuhnya untuk membuat Bara terperangkap. In the end, mereka berdua jatuh terjerembab di sofa yang empuk. Bara di bawah memegangi pinggangnya yang nyaris jatuh, dan Kinanti berada di atas. Tak ada rasa terkejut sebab, mereka sama-sama sedang menetralkan napas yang agak memburu sehabis berlarian. Kinanti merasa jantungnya jatuh ke dasar perut. Terlebih kala Bara tak mau melepasnya, walau sudah diperingati. Tapi pria itu menuli, tak seperti Bara yang biasanya. “Mas.” Kinanti berkata pelan. “Kenapa ponselmu selalu tidak aktif setiap kali aku mencarimu?” Iris pria itu kini memandanginya dengan intens sampai Kinanti lupa caranya bernapas. “Oh itu,” Kinanti loading pentium dua. “kemarin aku seharian bersama Papa dan Aksara.” Jawabnya pelan, Kinanti lantas menelan ludah. “Mas bisa lepasin aku sekarang?” Bara tak menggubris permintaan gadis itu. “Setidaknya balas pesanku, Kinanti. Aku menunggu jawaban darimu. Tapi kamu rupanya seperti sengaja ingin menghindariku.” Kinanti tak tahu mesti bilang apa. Sungguh tak bermaksud abai pada pesan Bara, dia hanya merasa perlu mengistirahatkan diri serta pikirannya dari ribuan pertanyaan atas ciuman Bara di malam itu. Agar saat mereka bertemu, perasaannya bisa lebih tertata. “Aku bukannya menghindarimu, Mas.” Bela Kinanti melalui suaranya yang berbisik halus. “Aku hanya—” gadis itu nampak bingung, tertunduk lantas menggigit bibir. “Sedang meyakinkan diriku jika ciuman itu takkan merubah apa-apa.” “Sshhh, jangan digigit seperti ini,” Bara mengusap bibir gadis itu dengan jemarinya. “Lihat aku.” Membikin detak jantung Kinanti kian tak karuan. “Ciuman itu, Kinanti, adalah ciuman yang sedetik pun tak pernah bisa kulupakan.” Bola mata Bara memandang Kinanti dengan segenap perasaan yang ingin tumpah. “Ciuman bersamamu malam itu sangat berarti untukku.” Untukku juga, bisik Kinanti dalam hati. Karena kamu telah mencuri ciuman pertamaku. Tetapi gadis itu terlalu khawatir hanya untuk menyuarakannya. Maka Kinanti tetap diam untuk mendengarkan Bara lebih dalam. “Aku tahu apa yang kamu pikirkan.” Pandangan Bara semakin meneduh ketika jari-jemarinya menyusuri noda cat di paras Kinanti. Gadis itu tak lagi sibuk menghindarinya seperti tadi. “Kamu takut berbagi ciuman dengan orang yang salah.” Kinanti mengerjap. Dan Bara kali itu mengulas senyum kecil, “Bagaimana mungkin aku mempermainkanmu dengan ciuman itu? Sementara aku sangat menyayangimu, Kinanti.” Kinanti pernah membacanya dalam pesan teks. Tapi seorang Bara yang mengatakannya langsung, tak pernah ada di pikiran Kinanti. Oh, Tuhan. Mengapa bisa mereka? “Sayang.” Panggil Bara. Sesuatu yang selayaknya dapat meluluhkan hati seorang wanita. Termasuk Kinanti, yang amat takjub dengan satu kata itu meluncur dari mulut Bara. Semua ini seperti mimpi, terasa surealis. Dan juga, d**a Kinanti yang berdetak lebih cepat mungkin menjadi pertanda jikalau sudah sejak lama, dia pun menyimpan sedikit hatinya untuk Bara. Maka, kelopak mata Kinanti terpejam lembut saat Bara mencium mesra bibirnya. Pada awalnya, ciuman itu adalah ciuman yang manis. Lantas berubah menggelora. Kinanti tak pernah berciuman sepanas ini, tapi insting dan tuntunan Bara membuat Kinanti juga mencari-cari. Sepasang bibir itu saling pagut, melibatkan lidah yang malu-malu digerakkan Kinanti untuk membelai Bara di dalam mulut mereka. Lalu, ketika ciuman yang panjang itu berakhir, Kinanti menenggelamkan kepalanya di d**a Bara lengkap dengan pipi merona. Dia amat malu sampai terasa nyawanya terbang ke bulan. “Hei.” Bara tertawa kecil, sembari mengecup gemas puncak kepala Kinanti. Berusaha untuk membuat gadis itu memandangnya. Namun yang ada, Kinanti malah kian kekeuh menyusup di dekat detak jantungnya. Bara, membiarkannya tetap di sana. “Kenapa, Sayang?” Aduh, jadi berapa banyak nih sayangnya Bara buat Kinanti? Kinanti menggeleng, “Enggak mau lihat kamu, aku malu.” Jujurnya, memancing tawa Bara makin lepas bersama kedua tangan pria itu yang melingkar dengan sikap protektif di tubuhnya. Kinanti dipeluk Bara, dan pelukan itu terasa sangat mendebarkan. Dan tak ada yang bergerak dari posisi mereka. Kinanti terlalu nyaman berbaring di d**a Bara. Detak jantung pria itu konstan, menenangkannya. Sedangkan Bara, dia kian yakin jika satu-satunya perempuan yang bisa membuatnya damai hanya gadis bernama Kinanti ini. Yang beberapa saat lalu membalas ciumannya kemudian tersipu malu. “Mas, kamu kenapa enggak nikah-nikah?” Nah, isi kepala Kinanti yang absurd mulai bertingkah. “Menunggu kamu lahir.” Kinanti memukul bahu Bara, dia sedang mengajukan pertanyaan yang serius. Karena usia Bara sudah sangat matang untuk menikah. Tetapi hingga saat ini, pria itu masih single. “Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini sama aku?” Tak dinyana, Bara langsung menarik tubuh Kinanti agar kedua tangan gadis itu bertumpu di dadanya, dan mereka bisa saling melihat dengan seksama. “Tiba-tiba?” Tanya Bara, ada pendar yang asing di tatapannya. Lalu bibirnya diam sebentar. “Ternyata selama ini kamu tidak pernah mengartikan sikapku.” Bara merapikan poni di kening Kinanti yang mengganggunya untuk menatap lebih jelas ke dalam mata gadis itu. “Kinantiku sayang, apakah kamu tidak pernah merasa jika aku telah menyimpan perasaan untukmu sejak kamu masuk kuliah?” Kinanti melongo. Dia tak pernah berpikir sejauh itu. Bara kecup bibir Kinanti yang terbuka, “Dan semakin menguat saat kamu magang di tempatku.” “Aku—” “Tidak peka?” Tebak Bara. Ih, nyebelin. Kinanti merengek manja, “Bukan. Aku hanya enggak pernah menafsirkan perlakuanmu sebagai sesuatu yang kamu lakukan untukku seorang.” Ayolah, ada banyak wanita yang mendekati Bara, Kinanti tahu itu. Dan sepertinya, Bara adalah tipe pria yang perhatian pada setiap orang. Lantas bagaimana mungkin Kinanti berpikir bahwa dirinya spesial? Kinanti tak mau ge-er, meski sejujurnya dia pun juga sering baper. Ih, tuh kan, jadi kebongkar! Bara menangkup wajah Kinanti, “Dengar, aku hanya mencium gadis yang membuatku jatuh cinta.” Ambulance, tolong! “Kamu, Kinanti. Gadis itu kamu.” Buktinya, Bara kini mengusap-usap jejaknya di bibir Kinanti yang sedikit bengkak akibat ciuman mereka. Kemudian, matanya memanjat kembali ke iris Kinanti yang begitu indah. “Lalu bagaimana dengan perasaanmu padaku?” Bara membutuhkan kepastian, ciuman mereka tidak melegalkan apapun selama gadis itu belum juga mengambil keputusan. Senyum Kinanti yang tipis, adalah sebuah lampu hijau untuknya. “Sepertinya—aku juga suka Mas Bara.” Ah, gadis manis ini. Coba lihat bola matanya yang berbinar malu-malu itu. Bara akan selalu menyimpannya di dalam sanubari. “Sepertinya?” “Aku juga suka kamu.” Jawab Kinanti cepat. Karena merasa pipinya langsung memanas, gadis itu membuang wajah ke arah lain. Namun yang disuarakannya sedetik kemudian adalah sebuah pekik kaget ketika Bara menggulingkan tubuh mereka. Kinanti kini terperangkap di bawah kuasa pria itu. “Aku ingin serius. Kamu mau melangkah lebih jauh bersamaku?” Kinanti yang masih jantungan, menyahut. “Pacaran?” Bara menjawab sebelum bibirnya kembali jatuh di atas bibir Kinanti. “Apapun itu istilahnya, Sayang. Selama aku bisa menikahimu secepatnya.” Bibir Kinanti dibungkam dengan ciuman yang lebih hebat. Bara mengeksplorasinya makin dalam, Kinanti sadar dia tak akan mampu berhenti dari ciuman yang adiktif ini. Bara mengenalkannya pada sesuatu yang baru, yang membuat isi perutnya melilit oleh ratusan kupu-kupu. “Kinanti, tahu enggak kalau ban mobilku boc—” SANA! Kinanti dengan paniknya mendorong tubuh Bara agar menciptakan jarak. Keduanya lantas berdiri dengan napas sama memburu. Tapi terlambat, Sana telah ada di sana dengan pintu studio yang masih terbuka—dan memergoki mereka sedang b******u di atas sofa. Kinanti yang deg-degan menatap mata sahabatnya, yang kini bertolak pinggang itu. Sana angkat bicara, “Tolong jelasin, ini ada apa ya?” Kinanti lemas, bagaimana sih caranya menghilang dari bumi sekarang juga? ***             Kinanti sampai rumah pukul 11 malam. Jalanan yang macet dari studio ke kediamannya membuat Kinanti pulang terlambat. Selain karena Kinanti memang menghabiskan waktu makan malam bersama Bara dan Sana di studio—jangan lupa garis bawahi, sehabis menjelaskan apa yang Sana lihat beberapa saat lalu, yang secara tak langsung membuka hubungannya dengan pria itu. Tunggu saja, ketika Kinanti hanya berduaan dengan sahabatnya itu, Sana pasti memberondongnya dengan banyak pertanyaan yang belum sempat dilontarkan karena ada Bara di sekitar mereka. Gadis itu menghela napas, kemudian melangkah gontai menuju lantai dua. Keningnya sedikit mengerut karena kondisi lampu yang mati. Asisten rumah tangganya memang memberi kabar sedang berada di rumah sakit Papanya, tapi lampu yang gelap ini membuat Kinanti kesal. Dia tidak suka tempat yang gulita. Apalagi harus meraba dinding untuk menemukan— “Bagus sekali.”             Kinanti menghentikan langkahnya. Seluruh syaraf di tubuh, menegang seketika. Terlebih, lantai dua telah kembali benderang. Suara itu kian terasa mistis sebab berasal dari balik punggungnya, seperti teror. Kinanti gemetaran. Takut.             “Bersenang-senang lagi di luar, huh?”             Kinanti terperangkap oleh bayangan tubuh yang makin mendekat, bersama hawa panas yang ditimbulkannya. “Masih malam yang sangat pagi untuk pulang,” tubuh itu kini memutarinya, dan berdiri di hadapan Kinanti dengan sikap yang angkuh mencela. Suara baritonnya luar biasa dingin seperti salju. “Tiba-tiba ingat punya rumah?” Pertanyaan itu menggema di lantai dua. “Jawab, b******k!” “An—tara,” bisik Kinanti, yang mendongak dengan tangis menggenang di kedua bola matanya. Detak jantungnya sendiri sudah tak kedengaran sejak tadi. Tubuhnya bergetar makin hebat seiring dengan bertemunya tatapan mereka. Pria itu sangatlah menakutkan, seperti monster. Sepasang matanya menyala-nyala dengan ganas. Benar, pria ini adalah Antara Jenta Mirano. Yang kini merunduk mengejar mata Kinanti dengan bahasa tubuh yang gila. “Tak suka melihatku?” Lalu nada bicaranya naik sampai beroktaf-oktaf, “Jangan berulah lagi!” “Kamu pikir pekerjaanku hanya mengurusi anak tidak tahu diri sepertimu saja?” Antara membentak dengan napas memburu, raut wajahnya terlihat sangat marah. Ah, bahkan makanan yang ditelan sejak kecil oleh Kinanti itu, tak lantas membuatnya terbiasa dengan angkara murka kakaknya. Jika sudah berhadapan dengan paras tegas Antara, Kinanti merasa tetiba dunia berubah kelabu. Sebuah tempat yang tak pantas lagi untuk ditinggalinya. “Aku harus terbang dari Singapura gara-gara kelakuanmu itu, yang sampai membuat Papa masuk rumah sakit!” Kinanti juga ingin bicara. Nalurinya memerintahkan untuk membela diri. Namun, tak satupun kata yang berhasil keluar dari mulut Kinanti. Gadis itu terpukul oleh kenyataan bahwa dia harus berhadapan lagi dengan Antara. Yang dengan teganya, kini menyambar rahang dan mencengkeramnya sekuat tenaga. “Dan kamu tahu seberapa banyak uang yang sudah kukeluarkan hanya untuk menarik berita-berita itu?” Antara agaknya benar-benar berniat meremukkan wajah Kinanti. Pria itu mendesis penuh kebencian. “Gadis jalang, kenapa kamu tidak pernah berhenti membuat keluarga Mirano malu?” Air mata Kinanti sudah berhamburan, meski tanpa suara tangis. Tapi di dalam hati, Kinanti menjerit begitu keras sampai merasa empedunya bakal pecah. Ketika itu, terdengar suara langkah kaki yang menaiki tangga. “Den, sudah. Aduh. Kasihan Non Kinanti.” Jeritan asisten rumah tangga mereka tak jua membikin Antara mengalihkan matanya dari Kinanti. Pria itu hanya diam dengan tatapan tajam yang menusuk. Lantas di beberapa detik yang krusial, Antara menghempaskan Kinanti sampai gadis itu jatuh terdorong ke lantai dan pergi—meninggalkan jejak-jejak wangi kayu yang menyakitkan saat Kinanti hirup. Asisten rumah tangganya berlari menghampiri Kinanti untuk membantu gadis itu bangkit, “Non, ayo bangun.” Amat kasihan dengan keadaan satu-satunya putri di keluarga yang kaya raya itu, tapi miskin kehangatan. Kinanti tak punya tenaga untuk sekadar menegakkan tubuh. Gadis itu menangis tanpa suara di pelukan orang yang telah mengasuhnya sejak kecil. Hari ini adalah mendung yang mengundang badai. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD