Menjelang kepulangan Bara dari outlet barunya di kota Surabaya, Kinanti membuat kopi dan menyusun beberapa kue kering di atas pisin. Baginya, ini adalah rutinitas. Meski Bara sudah bilang untuk tak perlu melakukan apapun, tapi Kinanti tetap kekeuh menyiapkan makanan buat pria itu. Tepat ketika cangkir kopi hendak diletakkan di baki oleh Kinanti, jari-jarinya mendadak terasa lemah. Kehilangan tenaga. Alhasil, cangkir berisi kopi panas tersebut lolos begitu saja dari tangan Kinanti—lantas jatuh ke lantai dengan suara nyaring. Pecahannya yang tajam-tajam pun tersebar. Kinanti jelas panik, dan merasa begitu ceroboh. Susah payah tubuhnya berjongkok untuk memunguti satu demi satu pecahan cangkir yang tercecer. Lalu seperti sebuah ritual yang sudah biasa terjadi, salah satu dari pecahan cangkir

