Herdy datang bersama seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh tahunan. Kedatangan mereka berdua membuat Damien segera bangkit dan mau tak mau aku pun ikut berdiri. Wajah Herdy begitu tegang dan rahangnya mengeras. Sesaat ia memandangku dengan bibirnya yang terkatup rapat. Perasaanku menciut begitu saja saat mata kami bersitatap. Dia memiliki aura dominan yang bisa mengecilkan mental seseorang hanya dari tatapannya. Mungkin juga karena aku membuat anak lelakinya terluka parah sehingga perasaan bersalah membuatku tak enak kepadanya. “Ikut aku!” perintah Herdy kepada Damien. Herdy keluar dengan langkah lebar, diikuti Damien di belakangnya. Dari balik kaca aku melihat mereka berjalan ke sisi kiri rumah sakit. Pasti ada sesuatu yang akan mereka bicarakan. Hanya saja mengapa tidak dibicar

