BAB 4

1196 Words
Aku keluar rumah Herdy dengan langkah lebar dan cepat. Yang kuinginkan adalah cepat sampai rumah dan melupakan segalanya, sekalipun itu artinya aku harus berjalan. Tapi lebih baik menyeret kakiku daripada harus bertahan di rumah ini. Tobias berdiri sambil menyandar di pilar yang besar. Satu kakinya diangkat dan menapak di pilar itu. Ia tersenyum padaku, walau aku sangsi kalau itu senyum yang tulus. Aku baru melihatnya sekarang tapi dia banyak tahu tentangku. Aku tidak tahu sebanyak apa yang ia ketahui, tapi itu warning buatku. Semua orang di rumah ini terlalu mencurigakan. Walau aku tak tahu sebenarnya apa yang mereka inginkan. Aku mungkin lahir dari benih Herdy dengan mama, tapi aku tak pernah membayangkan bisa bertemu ayah. Lebih mudah menganggapnya sudah meninggal. Sekarang pun, sekalipun aku tahu seberapa banyak harta yang dimiliki Herdy walau hanya yang tampak. Tapi lebih baik hidup sendiri daripada hidup dengan keluarga asing yang terlalu banyak tahu tentangku. Rasanya seperti bertanding di sebuah papan catur bersama Ratu Hati di Alice in wonderland. Dia banyak bala tentara yang siap menyerangmu, dan kau tak punya apapun. Sialnya, kau bukan Alice. Ia mendekatiku dan menghadang langkahku. Tinggi badannya membuatku harus menengadah padahal aku sendiri bukan termasuk perempuan yang pendek. “Kamu mau pulang?” Apa aku tampak ingin tetap tinggal? Seharusnya itu sudah jelas terlihat kan. Aku tak membalas pertanyaannya dan kembali melangkah. Menyusuri taman ada di sisi kanan dan kiri, tampak sangat indah walau lampunya temaram. Tapi tak seindah hatiku. Hanya kelam malam tanpa keindahan. Kupikir Tobias menyerah dan meninggalkanku begitu saja. Kalau dia memang ingin mengantarku, seharusnya ia tidak menyerah di penolakan terakhir. “Ayo naik!” Tobias ada di sebelahku dengan menunggangi CBR. Aku bahkan melewatkan motor ini dan terlalu fokus pada mobil yang berjajar. Terlalu banyak barang mewah hingga CBR tampak biasa. “Tunggu apalagi.” Tobias menyodorkan helm dan menungguku menjawab. Sesaat aku terdiam, menimbang apakah tawaran ini harus kuambil? Tapi aku tak ingin memiliki hubungan dengan siapapun termasuk Tobias, kakak dengan ayah yang sama dan ibu yang berbeda. “Tidak, terimakasih.” Pada akhirnya egoku melarang. Aku tetap berjalan dan akhirnya Tobias melesat dengan kecepatan tinggi. *** Berjalan beberapa puluh meter dari rumah Herdy sudah membuat kakiku terasa lelah. Perumahan ini seperti bukit dengan jalanan naik turun. Aku menyesal mengapa melewatkan kesempatan tadi. Aku mendecak sambil menghentakkan kaki kanan. Menoleh, memandang rumah Herdy yang masih tampak dair kejauhan. Dua bulatan kecil yang bersinar terang makin lama makin membesar, membuatku menutup mata dengan satu lengan. “Naik! Aku akan mengantarmu pulang.” Kali ini lelaki berhidung Arab yang mendekat dengan Honda Civicnya. “Tidak, terimakasih,” jawabku cepat. “Kemarin ada mayat korban pemerkosaan ditemukan di sebelah sana.” Lelaki itu menunjuk ke semak-semak yang diterangi lampu jalan. Aku menelan ludah dengan susah payah. Merinding setelah mendengarkan ucapannya, jadi tanpa pikir panjang aku segera masuk mobil. “Benarkah itu?” Aku jadi penasaran dengan ceritanya. “Pakai seatbelt!” Ia segera menginjak gas dan mobil segera melaju. “Apa benar ada pembunuhan disana?” Tiba-tiba aku tertarik dengan hal-hal seperti itu. “Dimana rumahmu?” ucapannya sedingin es. Aku menyipitkan mata, mulai sadar kalau perkataannya hanya trik supaya aku mau ikut dengannya. Nasi sudah menjadi bubur jadi aku menyebutkan alamat rumah. Lelaki berhidung mancung seperti Arab memasukkan alamat itu pada layar head unit sebelum akhirnya mobil melaju. Perjalanan sangat hening sampai aku merasa mobil ini seolah jalan sendiri. Lelaki berhidung mancung seperti orang Arab dan bermata sipit seperti orang Tionghoa ini secara keseluruhan sangat tampan seperti manekin di toko pakaian. Tobias pun juga tampan mirip Herdy. Wajah yang bisa membuatku kesal walau sekedar membayangkannya. Aku melihat diriku sendiri dari spion, penasaran apakah wajahku mirip dengan Herdy? “Kamu menutupi spion.” Akhirnya orang itu bicara lagi setelah beberapa lama diam. “Maaf,” ucapku singkat. Aku merasa tidak memiliki kemiripan sama sekali dengan Herdy. Untung saja, karena kalau ada satu saja yang mirip dengannya, aku pasti akan membenci bagian itu. “Sebaiknya kamu terima tawaran papamu,” kata lelaki berhidung mancung seperti orang Arab itu. “Siapa namamu?” Karena tak mungkin aku menggunakan nama lelaki berhidung mancung seperti orang Arab selamanya kan. “Damien,” jawabnya singkat. Damien menyalakan musik. Lagu mengisi suasana yang kembali hening. I wanna lay you down in a bed of roses For tonight I sleep on a bed of nails Oh, I wanna be just as close as the holy ghost is And lay you down on a bad of roses Tanpa sadar aku mendesis. Lagu itu lagu yang sering mama dengarkan. Lagu yang katanya dulu pernah dinyanyikan Herdy saat mereka masih pacaran. Mama masih mencintai pria itu meski sudah dicampakkan. Tanpa ijin, aku segera mematikan musik, tak peduli Damien memandangku beberapa saat. Aku bahkan enggan mengatakan alasannya. “Jadi, kamu siapaku? Kakakku dari ibu yang lain?” Aku berusaha mengisi waktu dengan mencari tahu siapa Damien dan apa hubungannya denganku. “Bukan. Aku pengacara keluarga,” jawabnya sambil menyentuh simbol play di layar head unit. Lagu bed of roses kembali mengisi kesunyian. “Padahal lagu ini enak. Sayang sekali pernah dipakai laki-laki pengecut seperti dia,” gumamku sambil menyentuh simbol berhenti. Damien menyalakannya lagi dan aku kembali mematikannya. Ia bahkan mendesis sambil memandangku dengan tatapan tajamnya. Meski demikian, aku tetap mematikan musik itu setiap kali ia menyalakannya. “Kalau kamu tak suka. Kamu bisa menurunkanku disini.” Walau aku berharap dia tidak melakukannya. Rumahku terlalu jauh dan aku tak tahu apakah rumahku masih aman. Tadi aku seperti diculik. Tanpa tahu apakah rumah itu dikunci atau dibiarkan begitu saja. Tiba-tiba jantungku berdetak kencang. Bagaimana kalau ada maling yang masuk dan mengosongkan rumahku. Uang yang kudapat dari para pelayat ada beberapa juta, kusimpan di dalam lemari. Handphone, laptop, TV dan perhiasan juga ada di rumah itu. “Herdy sialan.” Tanpa sadar ucapan itu keluar. Mobil berhenti secara mendadak. Membuat kepalaku terpental dan membentur jok dengan cukup keras. Damien kembali melihatku, kali ini dengan mata tajam dan bibir yang semakin tipis. Pasti ia tak menyangka ada orang yang berani mencibirnya. Wajar dong, secara aku anak yang dibuang. Masih untung aku tidak menuntut apapun. “Jaga ucapanmu. Bagaimana pun dia papa kandungmu,” “Kamu yang harus berhati-hati. Jangan berhenti mendadak seperti itu. Meski hidupku kacau, aku masih tetap ingin hidup.” “Apa kamu tak tahu tanda merah di lampu itu,” ucapnya sambil menunjuk lampu merah. Aku terkekeh, merasa bodoh karena mengira ia berhenti karena terkejut setelah mendengar ucapanku. Mobil kembali melaju. Kali ini benar-benar dalam keadaan sangat sunyi sampai akhirnya mobil berhenti di depan rumah. “Terimakasih tumpangannya,” ucapku sebelum melesat keluar. Seperti dugaanku, rumah dalam keadaan tidak terkunci. Aku mendorong pintu dan segera masuk. Menyalakan lampu dan melihat rumah yang berantakan seperti kapal pecah. Maling sudah mengacak-acak isi rumahku. Hal pertama yang sangat mencolok adalah motor yang selalu kuparkir di ruang tamu, menghilang. Sofa robek seperti bekas disabet golok. Bantal cusion berhamburan di lantai dengan isi yang berurai keluar. Foto mama dan aku yang menggantung di atas TV, kacanya pecah. Aku segera berlari ke kamar. Baju-baju berhamburan memenuhi tempat. Sprei, bantal dan bed cover pun teronggok di lantai. Aku segera memeriksa lemari, uangku hilang dan perhiasan pun lenyap. Handphone dan uang yang di dompetku pun lenyap. Badanku seketika lemas hingga limbung di atas lantai. Tak pernah kubayangkan akan mengalami kejadian seburuk ini. Kehilangan mama, bertemu dengan ayah yang telah membuangku begitu lama. Sekarang bahkan aku harus kehilangan harta. “Tidak! … tidak! … tidak!” Aku memeluk kedua kakiku sambil meneteskan air mata. Aku hancur, sehancur-hancurnya. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. “Prang!” Suara benda bergelontang membuat jantungku seolah berhenti. Suara itu tak mungkin dibuat oleh seekor tikus bahkan seekor kucing pun tak mungkin. Suara yang timbul dari benda yang berat itu sontak membuat tubuhku membeku. Apa dia tahu aku sudah masuk rumah. Apakah nyawaku sekarang terancam?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD