Suara benda jatuh kembali terdengar keras. Kali ini bertubi-tubi membuat badanku panas dingin.
“Apa yang kamu lakukan!” Suara Damien membuatku mendongak.
Lelaki itu ada di belakangku, memandangku dengan dua alis bertaut.
Aku menghapus air mata dan segera berdiri. Memandang ke seisi kamar yang berantakan dan mencari uang, perhiasan dan dua HP milikku dan mendiang mama.
Aku mengeluarkan sisa pakaian yang masih ada dalam lemari, menjadikan gunung pakaian di atas lantai. Aku mengacak-acak gunungan pakaian di lantai, membuangnya satu persatu tapi uang yang kusimpan telah lenyap.
“Hentikan! Kamu merusak TKP.” Damien menahan bahuku.
Tapi siapa yang peduli dengan TKP? Aku lebih butuh menemukan uang, perhiasan, HP bahkan dompet yang hanya berisi beberapa lembar uang sepuluh ribuan.
“Hei!” Damien kembali menahan pundakku, tapi aku menepis dan kembali mencari barang-barang berharga.
Aku membuka nakas, mengaduk-aduk laci. Untung saja HP mama masih tertinggal.
Aku memandang tempat tidur yang acak-acakan. Mencari tas dimana HP dan dompetku berada. Membongkar tumpukan bantal, sprei dan bed cover namun tas itu lenyap.
Badanku limbung di atas bed cover. Menutup wajah dengan dua tangan sambil berusaha tidak menangis. Tidak selama masih ada Damien.
Damien menghubungi polisi sementara aku tak tahu lagi harus bagaimana. Dua kali sudah aku berurusan dengan polisi untuk urusan yang berbeda namun sama-sama menyedihkan. Aku menjambak rambutku sendiri lalu menengadah.
Menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan keras.
“Apa kamu tidak apa-apa?” Damien berdiri di depanku, membuatku harus mendongak sempurna.
“Aku tidak baik-baik saja.” Seharusnya pertanyaan bodoh itu tak perlu dipertanyakan lagi.
“Seharusnya kamu tidak mengacak-acak tempat ini. Kamu merusak barang bukti. Siapa tahu pelakunya meninggalkan petunjuk.”
“Kita tidak sedang bermain Dora the explorer.” Kesal tentu saja. bagaimana bisa lelaki itu sampai hati membahas TKP, barang bukti dan petunjuk. Aku tidak butuh itu semua. Aku hanya butuh barang berhargaku dan melanjutkan hidup yang takkan bisa normal lagi.
“Tidak lucu,” ucapnya sambil terkekeh.
“Aku tidak melucu.” Aku memutuskan meninggalkan kamar menuju ruang keluarga yang menyatu dengan ruang tamu.
Memandang ruangan yang sama amburadulnya membuatku kembali menjambak rambut.
Siapa sebenarnya orang yang melakukan ini semua.
“Aku yakin ada dua pelaku yang masuk rumah ini. Pertama, benar-benar maling yang mengambil barang berhargamu.”
“Tapi dia tidak mengambil TV.”
“TV yang menempel dengan bracket. Kamu pikir berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengambil TV besarmu itu,” katanya sambil menunjuk TV 50” yang menempel di dinding.
“Lalu siapa lagi?”
“Orang yang tak menyukaimu tentu saja,” ucapnya sambil menunjuk fotoku dan Mama dengan pigora yang sudah pecah.
“Menurutmu, siapa pelakunya? Herdy? Wanita itu? Tobias? Atau saudara kembarku? Atau bocah itu?”
“Jangan asal tuduh, Nona,” tandasnya dingin.
“Tentu saja. Apa kamu akan menuntutku? Aku bahkan lupa kalau kamu itu pengacara mereka.”
“Aku juga pengacaramu, Nona Herdy.”
“Namaku Isyana dan tidak ada Herdy di belakang namaku.”
“Belum. Tapi tak lama lagi nama itu di belakang namamu.”
“Herdy bukan marga.”
“Herdy nama ayahmu. Beliau mendaftarkanmu ke dalam kartu keluarga.”
Sebuah fakta mencengangkan. Setelah sekian lama, dia muncul dan tiba-tiba mengatur hidupku.
“Berapa lama kamu menjadi pengacaranya?”
“Kenapa kamu menanyakan itu?”
Aku membuang muka, toh pertanyaan itu tak butuh jawabannya. Situasi tiba-tiba menjadi canggung. Aku mendekati sofa, ingin sekali duduk bersandar di sofa biru tosca kesayangan mama.
“Jangan duduk disitu!” cegahnya.
Aku membuang napas keras sambil memandangnya dengan mata menyipit. Damien, hanya memiliki wajah yang rupawan dan tubuh yang cukup gagah, sayang tidak diimbangi dengan karakter yang menyenangkan.
Lagipula, apa yang kuharapkan dari lelaki asing yang merupakan anak buah Herdy, penyumbang s****a bagi sel telur mama.
Aku duduk di lantai saat sebuah mobil patroli datang. Dua polisi dengan seragam lengkap datang dan segera melesak masuk.
Seorang menghampiri dan seorang lagi mengamati kekacauan. Damien seolah pemilik rumah yang menerangkan detailnya. Ia seperti seorang pemandu wisata yang menunjukkan isi rumah ini dan menjelaskan kerusakan apa saja yang telah terjadi. Aku hanya berdiri di tengah ruang tamu, memperhatikan tiga pria itu yang memeriksa secara saksama.
Setelah selesai memeriksa, polisi dan Damien menghampiriku.
“Apa saja yang hilang?” tanya polisi sambil bersiap mencatat informasi yang akan kuberikan.
Kali ini Damien memandangku tanpa ekspresi, menungguku membuka suara.
“Motor, uang, perhiasan, tas yang berisi HP, dompet, STNK, SIM, KTP. Apa maling itu bisa ditangkap secepatnya, Pak?” tanyaku sambil memandang Damien.
Damien sedikit menyipitkan mata lalu tatapannya berpindah kepada polisi.
“Bukan itu yang penting. Anda lihat kerusakan di sofa itu dan pigora yang pecah. Saya rasa ada orang yang ingin melukai Isyana. Saya minta anda menyelidiki masalah ini dengan serius.” Damien menatap tajam polisi itu.
“Tentu saja kami akan melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Bapak tenang saja,” ucap polisi sambil mengangguk-angguk.
“Segera hubungi saya kalau ada perkembangan.” Damien menyerahkan kartu nama yang ia ambil dari saku jasnya.
Dua polisi itu memberi salam sebelum akhirnya meninggalkan rumah.
“Sebaiknya kamu tidak menginap di rumah ini sampai pelakunya ditemukan. Aku bisa mengantarmu ke rumah papamu atau kamu punya tempat lain untuk menginap?” Damien mencercaku tanpa tahu seperti apa kondisiku sekarang.
Aku memandangnya lekat tanpa bisa berpikir apapun. Aku masih shock. Sangat terkejut. Tak tahu harus mengambil langkah apa yang terbaik saat ini. Untuk tinggal di rumah ini sendirian, aku takkan berani. Numpang di rumah teman pun ini terlalu malam dan aku tak ingin mengganggu orang. Untuk tinggal di rumah Herdy … tidak akan pernah.
Aku memejamkan mata. Sejenak ingin melepaskan lelah. Tapi yang kurasakan justru badanku semakin tak karuan.
“Kamu bisa tidur di hotel malam ini. Besok kita pikirkan langkah selanjutnya. Isyana, kamu tidak sendirian.” Damien menyentuh bahuku, membuatku membuka mata dan kami bersitatap untuk beberapa lama.
Aku sendirian. Aku memang sendirian. Mama sudah lama terpisah dari keluarganya. Hubungan mereka buruk sejak lama. Tanpa mama, aku tak punya siapa-siapa lagi. Meskipun tiba-tiba dia muncul, tapi dia bukan siapa-siapaku. Dia tak lebih dari orang asing yang tiba-tiba datang. Dia bukan pangeran berkuda putih, karena pangeran berkuda putih itu tidak ada.
Air mata meleleh dengan mudahnya. Suara isak tangis lolos begitu saja. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku bingung, tak tahu harus bagaimana. Aku merasa bodoh. Merasa lemah tak berdaya dan aku sangat membenci keadaanku sekarang.
Entah berapa aku membiarkan diriku menunjukkan kelemahannya di depan pria yang baru kukenal beberapa jam yang lalu.
“Ini sudah terlalu malam. Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini.”
“Aku tidak mau tinggal di rumahnya. Tapi aku tidak punya uang untuk menyewa kamar hotel. Aku….” Aku menutup wajah dengan dua tangan dan lagi-lagi aku menangis.
“Soal hotel, serahkan padaku. Isyana, kamu harus tegar. Kamu harus kuat. Aku akan selalu membantumu.”
Aku membiarkan Damien menuntunku keluar rumah. Membiarkannya menyibak garis kuning yang dibuat polisi beberapa saat yang lalu. Bahkan membiarkannya merangkul pundakku, menuju Honda Civic biru yang terparkir di halaman rumah.
Dari dalam mobil aku melihat rumahku semakin lama semakin jauh dan tak lagi terlihat. Kurasa babak baru hidupku akan dimulai. Walau tak berani, tapi tak ada yang bisa kulakukan selain berjuang atau bertahan.
Aku memandang Damien yang berkendara dalam diam. Aku membiarkannya membawaku kemana pun. Aku tak peduli.