bc

Ketika Jiwamu Bertukar dengan Musuhmu

book_age18+
12
FOLLOW
1K
READ
reincarnation/transmigration
family
HE
badboy
brave
heir/heiress
drama
mystery
campus
friends with benefits
stubborn
like
intro-logo
Blurb

Ravindra Pranajaya adalah mahasiswa yang kelak akan menjadi pewaris kekayaan keluarganya. Zakhia Swastika adalah gadis dari keluarga broken home, merupakan teman sekampus Ravi yang sekaligus sebagai pasangan pemuas hasrat. Ravi dan Za terlibat hubungan tanpa status. Georgio Arkananta adalah saingan bahkan musuh Ravi dalam hal balap mobil. Suatu ketika Ravi dan Gio terlibat duel balap mobil. Tanpa disangka, mobil mereka mengalami kecelakaan parah yang menyebabkan Ravi dan Gio harus dilarikan ke rumah sakit. Beberapa hari koma, akhirnya Ravi dan Gio sadar. Namun ternyata jiwa mereka tertukar. Ravi dan Gio saling menyalahkan, namun lama kelamaan mereka bisa bekerja sama mengungkapkan pelaku dibalik kecelakaan mobil mereka. Masalah mulai datang ketika Za hamil, hasil perbuataannya dengan Ravi. Gio yang jiwanya menempati raga Ravi otomatis tidak mau bertanggung jawab karena merasa itu bukan perbuataannya. Di sisi lain, Ravi yang berada di dalam tubuh Gio bersikap baik kepada Za. Hal itu membuat Za bimbang. Mengapa Ravi berubah cuek, sedangkan Gio berubah menjadi perhatian padanya? Tidak ada yang tahu bahwa Ravi dan Gio tertukar jiwanya. Berhasilkah mereka berdua kembali ke raga masing-masing? Dan ternyata tertukarnya jiwa mereka bukan tanpa alasan. Pada akhirnya semua rahasia yang melibatkan Ravi dan Gio akan terkuak. Bagaimana dengan nasib Za? Siapakah yang nantinya akan bersanding dengan Za dan mencintai gadis itu dengan tulus?

chap-preview
Free preview
1. Balapan Maut
Di sebuah kamar suatu apartemen, terdengar desahan sepasang anak manusia yang sedang mereguk kenikmatan terlarang. “Rav, gue udah nggak tahan ... aakhhh,” racau sang perempuan. “Gue juga ... Aakkhhh ... Hhhh ... Hhhh,” sang pria menyudahi permainannya ketika sudah mencapai klimaks. Keduanya lalu membersihkan diri setelah pergumulan mereka. Namun karena mereka mandi bersama, kegiatan itu terulang lagi. “Rav, kalau gue sampai hamil gimana? Kita udah melakukan hal ini berulang kali,” tanya si wanita sembari menyandarkan kepalanya ke d**a bidang sang lelaki. Mereka kini masih asyik berendam bersama di bath up tanpa sehelai benang pun melekat di tubuh mereka. Ravi berada di belakang sang wanita, membelai rambut basah perempuan di dekapannya itu. “Ya nggak apa-apa, kita nikah. Gampang kan?” jawab Ravi, sang pria dengan entengnya. “Ih! Lo enteng banget ngomongnya. Kita kan masih belum selesai kuliah. Lo enak, cowok main celap celup sana sini nggak ada bekasnya. Gue nih yang sial kalau hamil. Gue nggak mau ya, kuliah sambil bawa perut buncit,” gerutu sang perempuan. “Apa yang lo takutin sih, Za? Kalau kita main selalu pake pengaman kan. Lo juga selalu konsumsi pil KB. Hal kayak gitu nggak usah dipikiran ya,” ucap Ravi pada perempuan yang bernama Za tersebut. Za hanya mengangguk. Namun hatinya kali ini tak tenang setelah melakukan perzinaan dengan Ravi tersebut. Ravindra Pranajaya atau kerap disapa dengan nama Ravi adalah teman kampusnya di jurusan Manajemen dan Bisnis. Lelaki itu adalah calon pewaris tunggal perusahaan mobil sport milik ayahnya, Wisnu Pranajaya. Sementara Zakhia Swastika atau sering dipanggil Za adalah anak dari keluarga berkecukupan namun tingkat ekonominya masih di bawah keluarga Ravi. Ayah dan ibunya sudah lama bercerai dan telah memiliki pasangan masing-masing. Za memilih untuk tinggal sendiri di apartemen yang dibelikan oleh ayahnya. Berasal dari keluarga broken home membuat Za terlibat dengan pergaulan bebas. Apartemen itulah yang menjadi saksi bisu perbuatan Za dan Ravi selama ini. Za dan Ravi tidak pernah menyatakan cinta ataupun mendeklarasikan hubungan asmara. Mereka berdua lebih ke arah friend with benefit. Saling memuaskan satu sama lain tanpa ikatan jelas. Namun demikian, teman-teman kampus Za dan Ravi menganggap bahwa mereka berpacaran sehingga tidak ada yang mengusik hubungan mereka berdua. Di depan meja rias di kamar Za, perempuan itu tengah memoles wajahnya dengan riasan natural. “Udah selesai siap-siapnya?” tanya Ravi pada Za yang tengah berdandan di depan meja riasnya. “Udah kok. Mau berangkat sekarang?” giliran Za yang bertanya pada Ravi. “Ya udah. Yuk berangkat,” ajak Ravi kemudian. Mereka berdua menuju lokasi balapan mobil, dimana Ravi akan bertanding dengan mobil lain. Balap liar di malam hari itu menjadi ajang hura-hura bagi Ravi. Za seringkali menemaninya. Namun terkadang beberapa perempuan panggilan akan menemani Ravi jika Za tidak bisa hadir di samping Ravi. Malam itu, area balap mobil sudah sangat ramai. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, pertanda acara balapan inti akan segera dimulai. “Kali ini lo harus menang, Rav. Kalau lo menang, koleksi mobil lo nambah lagi,” kata seorang lelaki pada Ravi. “Pasti lah, Jeff. Mobil itu mau gue kasih ke Za,” kata Ravi pada lelaki yang ia panggil Jeff, yang bernama lengkap Jeffran Meviano. Ravi lalu menengok ke arah Za. Za yang mendengar percakapan Ravi dan Jeff lalu tersenyum. “Semangat balapnya ya, Rav. Biar gue dapat mobil baru,” ucap Za menyemangati sembari mengerlingkan matanya. “Kasih semangat dulu dong,” Ravi lalu memajukan wajahnya, menghisap bibir Za pelan. Mereka berdua tidak peduli dengan orang-orang di sekitar mereka. Tak jauh dari posisi berdiri Ravi dan Za, seorang lelaki memandang risih adegan ciuman itu. Ia lalu mengetik sebuah pesan lalu mengirimnya kepada Jeff. Beep beep beep. Terdengar notifikasi pesan masuk ke ponsel Jeff. Jeff membaca pesan tersebut lalu membelalakkan matanya. “Gila si Gio!” umpatnya pelan. Lelaki yang mengirim pesan pada Jeff adalah Gio. Lelaki bernama lengkap Georgio Arkananta itu meminta untuk menaikkan taruhan. Jika Gio menang, ia ingin meniduri Za. Begitu Jeff membisikkan isi pesan itu pada Ravi. Ravi tersenyum miring. Dalam hati ia mengumpati Gio. Namun Ravi tetap mengabulkan permintaan Gio karena egonya tersentil. Jika Ravi menang, ia mendapatkan mobil dari Gio. Namun jika Gio yang menang, Gio berhak meniduri Za. Kesepakatan ini tidak diketahui oleh Za. Yang gadis itu tahu, taruhannya adalah mobil. Setelah bersepakat dengan Ravi, Jeff pun mengetikkan sebuah pesan dan mengirimnya entah pada siapa. “Pay attention everyone!” terdengar suara seorang gadis yang ternyata adalah pemandu balap. Para peserta balap dan penonton yang ada di situ sontak mengalihkan perhatian mereka kepada sang pemandu. “Balapan kali ini terdiri atas lima sesi. Dimana per sesi diikuti oleh dua peserta. Total ada sepuluh peserta dengan taruhan sesuai kesepakatan masing-masing. Rute balapan sudah terinstal di GPS masing-masing peserta. Keselamatan peserta adalah tanggung jawab pribadi. Sampai di sini paham ya guys?” teriakan pemandu membahana di jalanan itu. Teriakan dan tepuk tangan terdengar meriah. Nomor undian untuk urutan balap dibagi. Balapan yang pertama pun dimulai. Duel mobil antara Ravi dan Gio ada di urutan terakhir, sehingga untuk saat ini mereka masih bisa bersantai. Waktu berlalu, kini tiba giliran Ravi dan Gio untuk adu kecepatan menyetir. Mobil sport mereka sudah dimodifikasi sedemikian rupa guna memenangkan pertandingan ini. “Rav, lo ati-ati ya balapnya,” ucap Za sambil memeluk Ravi. “Iya gue bakal ati-ati. Gue pastiin bakal menang. Mobil Gio bakal jadi milik lo, Za. Lo nggak usah khawatir,” Ravi menenangkan Za yang sedari tadi terlihat gelisah. “Tapi entah kenapa perasaan gue nggak enak, Rav. Kayak mau ditinggal pergi jauh gitu,” Za mengutarakan kekhawatirannya. “Udah deh, nggak usah kebanyakan mikir. Kayaknya dari tadi lo overthinking deh, Za. Tenang aja pokoknya. Biasanya juga gue menang kok. Abis balap, gue pengin main lagi sama lo,” Ravi malah mulai menggoda Za. “Lo mikirinnya begituan mulu deh! Heran gue!” sungut Za yang dibalas dengan tawa renyah Ravi. “Gue tanding dulu ya,” ucap Ravi. Dan untuk terakhir kalinya sebelum masuk ke mobil, ia mengecup bibir Za lagi. Setelah itu, Ravi sudah duduk di balik kemudi, siap menantang Gio yang berada di mobil samping kanannya. “Inget taruhannya, Rav!” Gio mengingatkan. “Ngarep aja terus! Lo nggak bakal bisa menang dari gue,” ucap Ravi jumawa. “Nggak usah belagu, Lo! Abis lo sama gue,” tantang Gio. “Let’s count down! Three ... two … one … Go!” lalu mobil Ravi dan Gio pun melesat bak cahaya. Hati Za semakin tidak karuan rasanya. Entah mengapa ia merasa sangat khawatir melihat mobil Ravi meninggalkannya. Dalam hati ia berdoa semoga tidak terjadi apa-apa. Mobil Ravi dan Gio saling berkejaran. Kemampuan menyetir mereka berdua patut diacungi jempol. Tidak dapat diprediksi siapa yang akan menang untuk balapan kali ini. Gio sepertinya menunjukkan seluruh performa terbaiknya. Waktu berlalu, seharusnya di antara Ravi ataupun Gio sudah ada yang muncul di garis finish. Namun keduanya belum ada yang mencapai titik akhir balapan. Jeff sebagai koordinator atau biasa disebut bandar balapan menyusul menyusuri rute balapan Bersama seorang temannya. Di lokasi sekitar lima puluh kilometer dari titik awal balapan, Jeff melihat kedua mobil Ravi dan Gio mengalami kecelakaan. Kedua pengemudi masih berada di balik kemudi dalam keadaan tidak sadarkan diri dan kondisi luka yang memprihatinkan. Mobil mereka ringsek. Jeff yang ke lokasi segera mengevakuasi korban, karena muncul percikan api di sekitar mesin mobil. Tidak lama setelah Gio dan Ravi digotong menjauh dari lokasi kecelakaan, kedua mobil terbakar. Beruntung dua lelaki pembalap itu sudah diselamatkan oleh Jeff dan temannya. “Halo, Za. Lo nyusul ke rumah sakit XXX ya. Gue menuju ke sana karena Gio sama Ravi kecelakaan,” kabar Jeff di telepon. Ravi dan Gio diangkut ke rumah sakit menggunakan ambulans yang dipanggil Jeff. “Apa?! Kecelakaan gimana maksud lo, Jeff?” pekik Za di seberang telepon. “Gue juga nggak tahu kenapa bisa begini. Gue nemuin Ravi sama Gio nggak sadarkan diri. Mobilnya hancur. Udah deh mending ntar ceritanya di rumah sakit aja,” jawab Jeef secara singkat yang malah mengakibatkan Za shock. Mendengar kabar kecelakaan yang dialami Ravi dan Gio membuat penonton balapan bubar masing-masing. Mereka tidak mau jika disangkutpautkan dengan kecelakaan itu. Mereka hanya ingin mencari aman untuk diri mereka sendiri, tidak mau jika harus dimintai keterangan oleh polisi. Sungguh tipikal manusia yang minim empati. Za menyusul ke rumah sakit seorang diri. Sesampainya di rumah sakit, sudah ada Jeff dan temannya, Leo. “Gimana ceritanya sih kok bisa kecelakaan?” tanya Za begitu melihat Jeff di rumah sakit. Air matanya jatuh begitu saja. “Gue juga nggak tahu kronologisnya, Za. Begitu gue sampai sana, mereka berdua udah pingsan di mobil mereka. Untung aja gue datang tepat waktu. Gue masih sempat ngeluarin badan mereka sebelum terjadi konsleting. Karena setelahnya, mobil mereka meledak,” terang Jeff pada Za. “Pantes aja perasaan gue udah nggak enak sedari tadi,” ucap Za mengenai kegelisahannya. “Lo udah kayak bini Ravi aja, punya firasat segala,” gurau Jeff mencoba santai. “Lo kok masih bisa bercanda sih, Jeff? Kalau Ravi kenapa-napa gimana coba?” Za bersungut-sungut. “Itu udah resiko mereka kan. Mereka udah tahu kalau balapan berarti berani adu nyawa,” Jeff seperti tidak merasa iba dengan kecelakaan yang dialami Ravi dan Gio. “Tapi sepertinya Gio yang menang balapan kali ini. Posisi mobilnya ada di depan mobil Ravi. Gue udah pegang kamera dashboard keduanya,” lanjut Jeff masih membahas balapan. “Lo bener-bener keterlaluan, Jeff. Lo masih sibuk mikirin siapa yang menang, sementara mereka terbaring di ICU,” Za hanya bisa geleng-geleng kepala. “Lo tahu nggak sih sebenarnya taruhannya apa?” tanya Jeff pada Za. “Mobil kan? Apalagi,” jawab Za. “Lo salah! Ravi nerima permintaan Gio buat ganti taruhan. Kalau Ravi menang, mobil Gio memang jadi milik lo. Tapi kalau Gio menang, dia bakal nidurin lo! Ravi udah setuju sama taruhan itu,” terang Jeff yang membuat Za seketika meradang. === Di ruangan perawatan intensif, Ravi dan Gio berbaring bersebelahan bilik. “Gue ada di mana nih? Kenapa semua warnanya putih?” lirih seseorang di bilik ICU. Ia lalu menatap sekelilingnya. “Duh, kepala gue pusing. Badan gue sakit semua. Sial!” umpat seseorang yang lain di salah satu bilik ICU. Seseorang itu lalu berdiri dan menyibak tirai yang memisahkan bilik, di mana ia tadi mendengar suara lelaki yang sekiranya berada di sebelah biliknya. “Lo ada di sini, Rav?” pekik si lelaki yang baru saja membuka tirai biliknya. Mendapati Ravi ada di sebelah biliknya. “Lo juga ngapain ada di sini, Gio?” Ravi juga terkaget-kaget melihat Gio membuka tirainya. “Heh! Gara-gara lo ya badan gue sakit semua. Tanggung jawab lo!” umpat Gio pada Ravi. “Enak aja main nyalahin orang! Lo tuh yang nggak becus nyetir. Bisa-bisanya mobil oleng. Skill nyetir lo kayak nenek-nenek nembak ujian SIM tahu nggak!” olok Ravi pada Gio. “Mobil lo juga oleng ya, b******k! Atau jangan-jangan lo utak atik mobil gue supaya gue kalah. Gitu?” tuduh Gio. Kedua lelaki itu kini berdiri bersiap hendak baku hantam. Mereka masih belum sadar akan keadaan mereka sebenarnya. Ketika Gio hendak melayangkan tinjunya, matanya tertuju pada sosok yang terbaring di brankar. “Rav, lo kok ada dua sih?” tanya Gio keheranan. “Halah nggak usah ngalihin pembicaraan. Sini gue tonjok lo!” Ravi masih bersikeras akan memukul Gio. Namun netranya pun mendapati hal aneh di depannya. “Gio, lo kenapa tiduran di situ?” Ravi menunjuk ke arah brankar di mana raga Gio terbaring tak sadarkan diri. Mereka berdua saling pandang dan kebingungan. “Kok kita ada dua?” Gio bertanya. Ravi pun memandangi dirinya yang sedang memejamkan mata, lalu bergantian memandangi dirinya yang kini sedang berdiri. “Jangan-jangan ... Kita udah mati?” Ravi menebak apa yang terjadi pada mereka. “Waaaaaa!!!” teriak Gio kemudian.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Godaan Mesra Sang Duda

read
2.6K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.0K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.6K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
3.7K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.5K
bc

After We Met

read
187.3K
bc

(Bukan) Dosen Idaman

read
8.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook