2. Dua Jiwa yang Kebingungan

2379 Words
“Waaaaa!!! Gue nggak mau mati!” teriak Gio kesetanan. Sementara Ravi sibuk menutup telinga karena merasa berisik dengan suara Gio. “Berisik tau! Kita sekarang nasibnya sama. Jadi mohon kerja samanya ya,” Ravi menekankan kalimatnya. “Lo kok bisa sih tenang banget kayak gini. Liat tuh badan lo terbujur kaku. Kita ini udah mati, Rav!” pekik Gio masih terkejut dengan kondisi mereka saat ini. Ravi mendekati raganya. Ia berusaha menyentuh badan yang tergolek lemah di brankar, namun ternyata tak bisa. Ia lalu melihat monitor detak jantung di sebelah kiri brankar, nampak masih ada tanda-tanda kehidupan di sana. “Kita belum mati, Gio! Kita masih hidup,” sorak Ravi girang. Lelaki itu menepuk-nepuk punggung Gio yang berada di sampingnya. “Hah? Yang bener lo?” Gio tidak percaya. “Kalau raga gue sih masih ada detak jantungnya. Entah kalau raga lo,” celetuk Ravi. Gio pun bergegas melihat monitor raganya. “Yes! Gue masih hidup. Tapi kenapa kita ada di sini sementara badan kita tidur di situ ya?” Gio masih bertanya-tanya. Ravi hanya mengendikkan bahu. Mereka berdua seakan lupa bahwa sebelumnya mereka adalah musuh bebuyutan. Karena kondisi jiwa dan raga yang sama-sama membingungkan bagi mereka, Gio dan Ravi memilih untuk mencari tahu bersama-sama. Hari berganti hari, Gio dan Ravi masih sering bertengkar saling menyalahkan atas kecelakaan yang menimpa mereka. Suatu ketika, masuklah Za di ruang perawatan intensif. Disingkapnya tirai pembatas antara brankar Ravi dan Gio. Dengan pandangan nanar dan air mata yang siap tumpah, Za berucap. “Bangun lo berdua! Jangan kelamaan koma kayak gini. Kalian harus tanggung jawab kasih penjelasan ke gue! Bilang sejujurnya apa taruhan kalian!” geram Za pada raga kedua lelaki itu. Pastinya tidak akan ada perubahan seperti yang Za perintahkan. Karena pada kenyataannya, Gio dan Ravi masih belum sadarkan diri. Perempuan itu mulai membuka mulut lagi. “Rav, ternyata gue cuma salah satu cewek mainan lo ya? Sampai-sampai gue dijadiin hadiah taruhan lo berdua? Gue kira gue spesial di mata lo. Nyatanya gue nggak berarti apa-apa,” monolog Za seorang diri. “Dan lo, Gio. Kalau emang bener lo yang menang balapan kali ini, lekas bangun! Tunjukin nyali lo ke gue! Berani-beraninya lo mau nidurin gue! Gue nggak segampang yang lo kira, Gio. Gue bukan p*****r!” air mata Za turun membasahi pipinya. Melihat tangis Za pecah, Ravi mencoba menyentuh pipi gadis itu untuk menghapus air matanya. Namun nyatanya ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ravi merasa bersalah pada Za karena menjadikannya taruhan balap. Ravi terlalu sombong dan jumawa sehingga tidak mengira bahwa takdir punya jalannya sendiri. “Ah ... Seandainya gue bisa bangun dari koma, gue bakal langsung ngajak Za tidur bareng,” ucap Gio yang sengaja memancing amarah Ravi. “Jangan coba-coba sentuh Za! Dia milik gue!” geram Ravi sembari mencengkeram kerah baju yang dikenakan jiwa Gio saat ini. “Santai, Bro. Nggak usah emosian dong. Mending sekarang kita akur dulu, terus cari cara biar bisa bangun dari koma,” tutur Gio sambil melepaskan tangan Ravi dari bajunya. Za sudah meninggalkan ruang perawatan intesif setelah menghapus air matanya. Gadis itu diliputi rasa amarah, namun juga sedih karena Ravi belum sadar. Ravi menatap kepergian Za dengan rasa bersalah, sekaligus rindu ingin bersamanya. “Maafin gue, Za. Gue emang cowok b******k,” lirih Ravi yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri. Lalu tiba-tiba lelaki itu berlari. Ia ingin mengejar Za. “Mau kemana lo?” tanya Gio yang melihat Ravi berlari meninggalkannya. “Kepo banget jadi orang!” sewot Ravi yang terus berlari keluar dari ruangan ICU. “Za tadi jalan ke arah mana ya? Kok udah ilang?” gumam Ravi. Saat ini ia sudah berada di lobi rumah sakit. Ia hendak meneruskan langkah keluar dari rumah sakit itu, namun tiba-tiba badannya panas seperti terbakar. “Aww! Panas banget. Kenapa nih badan gue? Kok sampai berasap gini?” tanya Ravi seorang diri. Ia menatap tangannya yang menghitam dan berasap. “Kok kayak vampir aja sih? Nggak bisa kena sinar matahari?” begitulah prasangkanya. Ia pun kembali ke dalam rumah sakit. Perlahan-lahan warna hitam di tangan dan badannya menghilang, walau masih menyisakan sedikit asap. Sesampainya di ruang ICU, Gio menatap heran penampakan Ravi sekarang. “Badan lo kenapa gosong kayak gitu?” tanya Gio penasaran. “Nggak tahu nih. Tadi gue keluar rumah sakit terus tiba-tiba badan gue menghitam. Mana berasap segala. Ngeri gue,” terang Ravi. “Hahahaha, makanya ati-ati sama badan lo. Kita tuh jadi hantu sekarang. Jadi mungkin beda sama manusia. Nggak bisa sembarangan pergi kemana-mana,” tutur Gio sok bijak. “Hantu apaan! Kita masih hidup ya! Tuh lihat masih ada detak jantungnya,” dengan sewot Ravi menunjuk pada alat rekam detak jantung. “Ya ya ya, entah apalah sebutan buat kita sekarang ini. Kalau bukan hantu terus apa ya? Arwah? Roh?” Gio masih penasaran dengan sebutan yang cocok untuk mereka. “Gue ntar malam mau nyoba lagi buat keluar dari sini. Lo emang cuma mau diem aja di sini? Gabut banget lo!” cibir Ravi. “Ya mau ngapain lagi coba?” Gio tidak tahu harus melakukan apa. “Lo nggak pengin nyari tahu penyebab kita kecelakaan? Siapa yang udah menyabotase mobil gue? Atau jangan-jangan lo pelakunya?” tuduh Ravi. “Sembarangan kalau ngomong! Lo mikir dong, Rav! Kalau gue pelakunya, ngapain juga gue sampai koma kayak lo? Gue juga korban nih!” sungut Gio tidak terima. Ravi lalu menghela napas. “Maka dari itu, kita harus kerja sama nemuin pelaku yang bikin kita koma kayak gini. Lo mau nggak?” tanya Ravi. “Gue mau. Cuma gue nggak tahu harus gimana sekarang. Kalau mau menyelidiki, harus mulai dari mana? Sedangkan kita aja nggak kelihatan gini. Nggak bisa ngapa-ngapain kan,” ucap Gio frustasi. “Gimana kalau kita datengin rumah Jeff. Siapa tahu bisa dapet info apapun itu. Tapi kita perginya kalau matahari udah tenggelam. Gimana?” ajak Ravi. “Ya udah deh, gue ngikut. Tapi kita naik apaan ke rumah Jeff? Hantu emang bisa naik taksi?” tanya Gio bingung. “Hmm ... ya udah dipikirin ntar deh. Sekarang gue ngantuk. Mau cari tempat tidur dulu,” kata Ravi lalu pergi begitu saja mencari kursi panjang. “Nggak jelas banget jadi orang,” sungut Gio ketika Ravi telah berlalu. Ia memilih untuk mondar mandir di sekitar raganya. Gio mencoba untuk masuk ke raga yang terbaring di brankar, namun jiwanya selalu terpental keluar. “Hah! Nasib gue gini amat ya. Gue jadi kangen mobil-mobil gue,” monolog Gio sendirian. Malam pun menyapa. Ravi mengajak Gio untuk keluar dari rumah sakit. “Ayo kita coba pergi dari sini,” ajak Ravi pada Gio. Gio hanya menurut mengekori Ravi di belakangnya. Di tempat yang sama dengan tadi siang, badan Ravi terbakar dan berasap lagi ketika melaluinya. Sontak ia langsung berlari ke dalam rumah sakit lagi. “Kok gue kebakar lagi? Kan udah nggak ada matahari. Gimana sih ini?” Ravi bingung sendiri. Sementara Gio tak tahu harus berkata apa. “Kalian tidak akan bisa keluar dari rumah sakit ini, anak muda.” Tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki paruh baya mendekati Gio dan Ravi. “Bapak siapa? Kok bisa lihat kami?” tanya Gio sedikit takut. “Hahahaha ... bagaimana mungkin aku tidak melihat kalian? Sejak pertama kalian ada di sini pun aku sudah memperhatikan kalian berdua. Dua jiwa yang kebingungan,” kata sang pria yang masih terdengar misterius. “Bapak hantu? Atau sedang koma juga?” Gio kembali bertanya. “Kondisiku berbeda dengan kalian. Yang jelas, kalian berdua tidak bisa keluar dari rumah sakit ini jika raga kalian masih di sini,” terang sang pria. “Bapak ini siapa sih sebenarnya? Sok tahu banget!” Ravi sedikit emosi karena merasa dipermainkan. Ia masih sibuk mengibas-ngibaskan asap yang keluar dari badannya. “Panggil saja Kakek Dan. Siapa nama kalian? Kenapa kalian bisa koma?” tanya Kakek Dan. “Nama saya Ravi. Dia Gio,” Ravi memperkenalkan dirinya dan Gio pada Kakek Dan. “Kami mengalami kecelakaan mobil. Begitu bangun ternyata jiwa kami sudah terlepas dari raga kami,” terang Ravi kemudian. “Kenapa Bapak maunya dipanggil Kakek? Padahal belum tua? Biasanya orang-orang malah mau kelihatan muda,” tanya Gio. “Ah, anak muda jaman sekarang tanya melulu. Udah pokoknya panggil saja aku Kakek Dan,” titah Kakek Dan. “Ya ya ya, baiklah Kakek Dan,” kata Gio menekankan kata Kakek pada ucapannya. “Sekarang ikut aku saja. Akan aku ajarkan cara bertahan hidup di sini sementara raga kalian masih koma,” Kakek Dan mengkode Gio dan Ravi untuk mengikutinya. Ravi dan Gio saling pandang, namun tak ayal mereka menuruti perkataan Kakek Dan, mengekori pria itu melangkahkan kaki. Mereka kembali ke ruang perawatan intensif, dimana raga Gio dan Ravi terbaring. Kakek Dan pun memulai wejangan-wejangannya. “Lihat, raga kalian ada di sini. Jadi jiwanya tidak bisa jauh-jauh dari raga yang koma. Atau kalau tidak, seperti yang kalian rasakan tadi. Jiwa kalian akan terbakar. Jika kalian tadi nekad tetap pergi melampaui radius aman, jiwa kalian akan terbakar habis, dan kalian akan benar-benar mati,” mendengar penuturan Kakek Dan membuat Gio bergidik ngeri. “Kalian bisa menjalani kehidupan sehari-hari seperti manusia. Makan, minum, ke kamar mandi, berganti pakaian, dan sebagainya. Namun memang ada keterbatasan dan tidak seleluasa manusia,” lanjut Kakek Dan. “Makanan yang bisa kalian makan adalah makanan yang disediakan untuk peringatan kematian, hidangan ketika melayat, dan makanan pasien. Kalian bisa mendatangi dapur rumah sakit untuk tahu masakan yang sekiranya bisa kalian santap. Atau langsung menuju ruang persemayaman atau kamar-kamar pasien. Sampai di sini sudah paham?” tutur Kakek Dan layaknya seorang guru menerangkan pelajaran kepada muridnya. “Makanan mereka berkurang karena dimakan hantu dong, Kek?” Gio bertanya. “Makanan tersebut tidak akan berkurang, hanya saja rasanya menjadi kurang sedang. Karena sudah kalian cicipi,” jawab Kakek Dan. “Oh, pantesan makanan rumah sakit rasanya hambar. Ternyata udah dicicipi duluan sama hantu,” Gio mengangguk-anggukkan kepalanya, pertanda paham. “Kek, apa kami punya teman yang senasib seperti kami? Koma lalu jiwanya keluar?” tanya Ravi. “Ada yang seperti kalian, namun mereka memilih menyembunyikan diri. Mungkin suatu saat kalian akan bertemu teman seperjuangan,” gurau Kakek Dan. “Kek, kenapa maunya dipanggil kakek? Padahal belum tua. Masih muda kayak om om genit gini,” Gio masih belum menyerah bertanya tentang panggilan Kakek Dan. “Haish kau ini pertanyaannya belum berubah. Jika kuberitahu tentang diriku, nanti kalian bisa takut padaku. Hahaha …” Kakek Dan tetap tidak menjawab pertanyaan Gio. “Kalau kalian mau tidur, bisa tidur di mana saja, asalkan tidak ditempati oleh manusia. Kemudian untuk urusan kamar mandi, hmm … gitu lah seperti manusia biasa aja. Nggak usah aku terangkan ya,” Kakek Dan enggan menjelaskan tentang hal itu. “Apalagi ya? Ah, sepertinya sudah. Jika kalian kebingungan dengan suatu hal, kalian bisa tanyakan padaku kelak. Cukup teriakkan namaku saja, aku akan muncul di hadapan kalian. Ingat, tidak boleh jauh-jauh dari rumah sakit. Paham?” kalimat terakhir itu direspon dengan anggukan oleh Ravi dan Gio. “Sudah, sekarang aku mau pergi tidur. Selamat tinggal,” Kakek Dan lalu menghilang begitu saja dari hadapan Gio dan Ravi. Malam semakin larut, Gio tidur di kursi tunggu pasien di samping raganya. Sementara Ravi masih sibuk mondar mandir memikirkan cara agar ia bisa sadar dari koma. Jam dinding menunjukkan pukul 00.00, tepat pergantian tanggal. Terdengar langkah kaki mendekati ruang ICU lalu. Seseorang berbaju jas dokter berwarna putih, namun menggunakan masker, penutup kepala dan kacamata. Sehingga seseorang tersebut sulit untuk dikenali. Tidak terdapat name tag di jas dokter yang ia kenakan. “Kok aneh sih, dokter visite tengah malam begini?” batin Ravi bertanya-tanya. “Hoi! Lo setan ya?” tanya Ravi pada sosok tersebut. Ia berusaha menggapai sosok itu, namun ternyata Ravi tak bisa menyentuhnya. “Oh, berarti dia manusia. Tapi gerak geriknya mencurigakan,” Ravi dibuat was was. Ia pun membangunkan Gio. “Gio! Bangun woi! Ravi membangunkan Gio dengan menyentil hidungnya. Sungguh tingkah yang sangat usil. “Apaan sih lo? Ganggu orang lagi tidur aja!” sungut Gio. “Lo bukan orang ya, tapi jiwa!” ralat Ravi. “Iya iya, gue tahu. Kenapa sih mbangunin gue? Nggak pas jadi orang, sekarang jadi arwah pun ngeselin lo!” umpat Gio. “Noh, liat ada orang mencurigakan,” tunjuk Ravi pada orang yang sekarang sedang berdiri di dekat brankar Ravi. Seseorang tersebut kemudian mengeluarkan syringe yang kemudian disuntikkan ke dalam infus Ravi. Hal yang sama ia lakukan pada infus Gio. “Eh eh eh, apa-apaan nih orang? Mencurigakan banget! Dokter bukan sih?” sungut Gio berusaha memukul seseorang tersebut namun tentu saja tak membuahkan hasil. Gio sampai harus berputar-putar ingin menggapai orang tersebut. Lelah memukul-mukul, ia lalu bersandar di brankar Ravi yang lebih dekat dengan posisinya saat ini. “Duh, badan gue kok tiba-tiba nggak enak ya? Berasa kayak panas dari dalam tubuh gitu,” keluh Gio sambil mengibaskan pakaiannya seperti kegerahan. “Lo kebanyakan tingkah sih,” omel Ravi. Namun ia pun merasakan hal yang sama. Badan yang terasa panas dari dalam. Beberapa saat kemudian alarm tanda vital Gio dan Ravi berbunyi, pertanda hal tidak baik terjadi. Perawat dan dokter yang bertugas malam itu sigap langsung mendatangi brankar Ravi dan Gio. Raga Ravi mengalami henti jantung, sehingga harus dilakukan cardiopulmonary resucitation atau dalam bahasa Indonesia adalah resusitasi jantung paru. Dirasa belum menunjukkan perubahan, petugas medis mempersiapkan defibrillator. Semua usaha yang sama dilakukan pada raga Gio. “Kenapa dua pasien ini mengalami henti jantung yang bersamaan?” tanya dokter pada perawat yang berjaga di malam itu. Dokter tersebut masih menempelkan alat kejut jantung untuk mengembalikan detak jantung Ravi. “Isi 200 Joule!” perintah sang dokter. “Satu … Dua … Tiga … Clear!” dokter lalu menempelkan lagi defribillator ke d**a Ravi. Jiwa Gio masih berada di samping brankar Ravi. Sementara Ravi berada agak jauh dari dua raga tersebut. Ia malah melangkah mundur, merasa frustasi dengan keadaannya saat ini. Dan tiba-tiba Gio berteriak. “Rav! Tolongin gue! Gue kesedot nih,” teriak Gio yang sekarang berada di atas raga Ravi. Ravi yang melihat kejadian itu sontak langsung berlari dan menarik tangan Gio agar keluar dari raganya. Namun naas, usahanya tidak berhasil. Jiwa Gio masuk ke dalam raga Ravi. Tanda vital Ravi pun kembali normal. Dan tanpa diduga, raga Ravi membuka mata. “Waaaa! Nggak mungkin! Gimana bisa raga gue sadar sementara gue masih di sini?” pekik Ravi frustasi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD