3. Jiwa Salah Alamat

1826 Words
Raga Ravi membuka mata. Lalu penglihatannya mulai menyesuaikan dengan kondisi di sekitarnya. “Saudara Ravi, Anda sudah sadar? Anda bisa mendengar suara saya?” tanya sang dokter pada Ravi. “Nama gue Gio, bukan Ravi,” ucap raga Ravi yang ternyata ditempati oleh Gio. Ajaibnya, Gio tidak merasakan sakit apapun setelah berada di tubuh Ravi. Para petugas medis saling berpandangan, lalu salah satu dari perawat ada yang berbisik. “Sepertinya dia masih bingung dengan identitasnya,” bisik si perawat. Tak jauh dari brangkar, jiwa Ravi memandang Gio dengan penuh tanda tanya. Kenapa Gio bisa tersedot ke raganya? Apakah ia bisa melakukan hal yang sama dengan raga Gio? Ravi pun mencoba masuk ke dalam badan Gio yang sekarang kembali ke fase vegetatif, tidak sadarkan diri. “Gue coba masuk ke badan Gio ah,” gumam Ravi. Namun ternyata takdir tidak berpihak padanya. Ravi terpental dari raga Gio. “Ah sial! Kenapa malah kepental keluar nih gue?” gerutu Ravi yang kini jatuh tersungkur. Melihat Ravi yang terpental dari tubuh Gio membuat Gio tertawa. “Lo ngapain coba masuk ke badan gue? Terus kok gue bisa ada di sini? Ini kan badan lo, Rav?” tanya Gio pada sosok jiwa Ravi, yang hanya bisa ia lihat sendiri. Semua orang yang ada di situ terheran-heran dan sedikit takut. Ada juga yang bergidik ngeri. Apa mungkin di ruangan itu ada makhluk lain? Begitulah kira-kira pemikiran para tenaga medis. “Mas Ravi ngomong sama siapa?” tanya sang dokter pada Gio. Belum sempat Gio menjawab, Ravi sudah membuka mulut untuk bertanya. “Lo bisa lihat gue, Gio?” tanya Ravi yang tak kasat mata. “Ya bisa lah. Gue juga lihat dari tadi lo ngapain,” ucap Gio yang mengundang tanda tanya semua orang di ruangan itu, termasuk Ravi. “Coba cek tanda vitalnya, Sus.” perintah sang dokter pada salah seorang perawat di situ. Suster mengecek tanda vital yang diminta. Semuanya nampak baik-baik saja. Mengetahui hal tersebut, dokter hanya geleng-geleng kepala, bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ia lalu menulis di catatannya, yang menginstruksikan untuk pemeriksaan traumatik dan kejiwaan. Dokter beralih pada raga Gio yang kondisinya saat ini masih tidak sadarkan diri. “Bagaimana bisa dua orang ini mengalami henti jantung pada saat yang bersamaan?” tanya sang dokter heran. Ia lalu memeriksa tanda vital Gio. “Pasien ini kembali ke fase vegetatif walaupun tadi sempat henti jantung. Belum ada tanda-tanda ia akan siuman. Kita usahakan yang terbaik. Setelah ini hubungi kedua keluarga pasien ya,” pinta sang dokter pada perawat. “Baik, Dok. Akan saya hubungi,” ucap si perawat. “Oke, terus pantau perkembangan kedua pasien ini. Karena saya merasa aneh. Satu pasien malah sadar namun mengalami disorientasi identitas. Sedangkan yang satu kembali ke kondisi koma,” dokter geleng-geleng kepala. Baginya kasus medis yang ia tangani saat ini sangat aneh. Dirasa pemeriksaan sudah menyeluruh, para tenaga medis meninggalkan ruang perawatan. Setelah para tenaga medis berlalu dan tinggal menyisakan Ravi dan Gio berdua, Ravi membuka suara. “Kenapa lo bisa kesedot ke badan gue?” tanya Ravi tidak sabaran. “Gue juga nggak tahu. Ogah banget tinggal di badan lo,” sungut Gio. “Coba lo sekarang keluar dari tubuh gue,” perintah Ravi kemudian. Gio mengangguk, mencoba keluar dari raga Ravi, namun tidak berhasil. Seolah ada yang mengikatnya untuk tetap berada di tubuh itu. “Gue nggak bisa, Rav. Berasa kayak ada yang ngiket badan gue,” jujur Gio. “Kok bisa jadi kayak gini sih? Lo bisa masuk ke badan gue, tapi gue nggak bisa masuk ke badan lo. Sial!” umpat Ravi. “Hahaha ... selamat ya jadi arwah gentayangan. Sekarang gue bebas hidup jadi manusia. Gue bahkan bisa tidur sama Za dengan leluasa,” tiba-tiba Gio tersenyum licik. “b******k, lo! Jangan coba-coba bohongin Za dengan tubuh gue! Lo mesti inget, tubuh asli lo di situ. Lagi sekarat kalau lo lupa!” Ravi menunjuk badan Gio yang terbaring koma di bilik sebelah Ravi. Seketika Gio sadar dan mengusap wajahnya frustasi. “Terus kita harus gimana dong? Gue juga pengin kembali ke tubuh gue,” ucap Gio kemudian. Sejujurnya ia pun tidak mau jika harus bersemayam di tubuh Ravi dan dianggap sebagai Ravi pula. “Ada yang sengaja mau mencelakai kita, Gio. Seseorang yang tadi masuk ke ruangan kita ternyata kasih sejenis racun atau apapun itu untuk membunuh kita,” ucap Ravi menganalisis keadaan. “Pasti gara-gara lo nih! Gue juga kena imbasnya. Raga gue sekarang jadi lebih lemah daripada sebelumnya,” Gio menunjuk wajah Ravi dengan geram. “Kok jadi nyalahin gue sih?! Heh! Kita sama-sama kecelakaan mobil ya, sama-sama koma. Sekarang malah lo yang nempatin tubuh gue. Masih bisa lo nyalahin gue atas semua ini? Lo mikir dikit dong!” sungut Ravi kesal. “Kita kan selama ini musuhan, siapa tahu lo yang menyabotase mobil gue? Tapi malah apes karena ikutan kecelakaan?” Gio masih menuduh. “Otak lo kayaknya agak geser deh. Susah gue mau diskusi ama lo!” Ravi menonyor kepala Gio yang berada di raganya, namun tetap tembus pandang. “Kenapa kalian malah bertengkar?” tanya Kakek Dan yang tiba-tiba ada di situ. “Kenapa Kakek muncul tiba-tiba? Udah kayak jelangkung aja,” Gio kaget dengan kemunculan Kakek Dan di sebelah mereka berdua. “Lo bisa lihat Kakek Dan juga?” tanya Ravi pada Gio. Gio mengangguk mantab. Wujud Kakek Dan bisa dilihat oleh Gio yang berada dalam tubuh Ravi. “Lo udah di dalam tubuh manusia, kenapa bisa lihat arwah?” Gio mengendikkan bahu mendenger pertanyaan Ravi itu. Ia pun tak tahu kenapa bisa melihat penampakan bukan manusia. “Itu karena tubuh yang ia tempat bukan miliknya,” tutur Kakek Dan. “Tapi dia juga nggak bisa keluar dari tubuhku, Kek!” Ravi mulai frustasi. “Cepat atau lambat kalian akan tahu jawabannya. Sekarang yang harus kalian lakukan adalah saling bekerja sama. Semua hal yang menimpa kalian berdua pasti terjadi karena suatu alasan. Dan ingat kalian tidak boleh terlalu berjauhan satu sama lain, tidak boleh juga jauh-jauh dari rumah sakit ini. Paham?” Kakek Dan kembali menasehati. Gio dan Ravi hanya bisa mengangguk. Kakek Dan datang dan pergi sesuka hatinya. Seperti saat ini, ketika selesai mengucapkan wejangan pada Gio dan Ravi, arwah lelaki itu menghilang tanpa pamit. “Dasar om-om nggak jelas. Beneran kayak jelangkung deh, datang tak dijemput pulang tak diantar,” gerutu Gio. “Kakek Dan bener. Kita berdua harus kerja sama. Lupakan permusuhan kita untuk sementara waktu sampai kita berhasil tangkap pelaku penyebab kecelakaan kita,” tutur Ravi bijak. “Baiklah, gue nurut sama lo. Gue juga pengin hidup normal lagi,” balas Gio. “Sekarang kita gantian jaga deh. Gue curiga si pelaku bakal kembali ke sini lagi. Jangan sampai lengah,” ucap Ravi kemudian. Gio menuruti perintah Ravi untuk tidur terlebih dahulu. Entah mengapa Gio patuh pada Ravi. Sangat berkebalikan dengan kondisi sebelum mereka mengalami kecelakaan. Benar dugaan Ravi, pelaku penyuntikan datang lagi. Saat ini waktu menunjukkan pukul 04.00. Gio masih terlelap dalam raga Ravi, sementara Ravi sendiri sedang sibuk berpikir untuk mendapatkan solusi permasalahan jiwanya. Si pelaku mencoba menyuntikkan sesuatu pada raga Gio yang masih terbaring koma. Ravi yang melihat hal itu sontak berteriak memanggil nama Gio. Namun sayangnya Gio masih asyik di alam mimpinya. Hal itu disebabkan karena tadi, Gio diberi obat penenang oleh dokter. Si pelaku lalu meninggalkan ruang perawatan intesif setelah berhasil melaksanakan misinya. Ravi tidak bisa berbuat apa-apa ketika raga Gio mulai menunjukkan gejala yang tidak baik. Ia masih berusaha membangunkan Gio yang ada dalam raganya. Namun tetap nihil hasilnya. Sementara monitor EKG menunjukkan penurunan denyut nadi. Pada akhirnya Gio mengalami henti jantung lagi. Para tenaga medis mulai berdatangan dengan alat-alat pertolongan darurat. Serupa dengan penanganan sebelumnya, dokter mempersiapkan defibrillator untuk mengembalikan detak jantung Gio. Ketika alat itu menempel di tubuh Gio, Ravi merasa tersedot ke dalamnya. Hal yang mirip terjadi seperti Gio yang tersedot ke dalam raga Ravi. “Aaaaa!” teriak Ravi dimana tak ada yang mampu mendengar teriakan gaib tersebut. “Tanda vital sudah normal kembali, Dok. Kita berhasil menyelamatkannya,” terdengar suara perawat yang berbicara pada dokter. “Huft ... syukurlah kalau begitu,” terdengar helaan napas lega dari sang dokter. Tak lama kemudian, Ravi membuka mata. Ia mulai beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya. “Saudara Gio, Anda bisa mendengar suara saya?” tanya sang dokter pada Ravi. Ia pun mengangguk. Sama halnya dengan Gio, Ravi kini tidak merasakan sakit apapun di tubuhnya. “Anda bisa menggerakkan jari Anda?” tanya sang dokter lagi. Ravi menggerakkan jarinya mengikuti instruksi dokter. ‘Sekarang gantian gue yang masuk ke tubuh Gio. Ini hal baik atau buruk?’ batin Ravi. Ia sadar bahwa ia juga salah masuk raga. Buktinya dokter memanggil namanya dengan sebutan Gio. Para tenaga medis mulai memeriksa Ravi. Mereka pun kembali dibuat terkejut dan terkagum-kagum dengan keajaiban yang terjadi. “Sepertinya sebuah mukjizat telah datang pada pasien ini. Ah, dua pasien lebih tepatnya. Setelah mereka mengalami henti jantung, secara tiba-tiba mereka bangun dari koma dan kondisinya sangat normal, seperti tidak pernah mengalami apapun. Selama saya menjadi dokter, baru kali ini saya mendapati kasus seperti ini,” ucap sang dokter panjang lebar karena begitu takjubnya dengan kondisi Ravi dan Gio. Setelah satu minggu berlalu, akhirnya Ravi dan Gio siuman, walaupun tak ada yang tahu bahwa jiwa mereka tertukar. Mentari mulai meninggi, Gio sudah terjaga dari tidurnya. Ia mencari-cari Ravi, karena hanya Ravi yang paham kondisinya saat ini. “Rav! Lo di mana?” teriak Gio sembari mendongakkan kepalanya, seperti dirasa Ravi akan muncul dari atas. “Gue di sini!” terdengar suara dari sebelah bilik, lalu tirai disibakkan. “What the ...?!” Gio tidak bisa meneruskan kata-katanya. Ia kini seperti bercermin, karena Ravi berada dalam tubuhnya. “Nggak usah teriak-teriak. Ntar kita dikira orang gila, Gio. Jangan berisik!” perintah Ravi dengan isyarat jari telunjuk ditempelkan di bibir. “Gimana ceritanya lo bisa ada di tubuh gue?” tanya Gio tak sabaran. “Makanya jangan kebanyakan molor! Lo nggak tahu kan kalau pelaku semalem balik lagi. Dia nyuntikin racun lagi. Kali ini ke badan lo nih. Saat tubuh lo henti jantung, gue kesedot sama kayak lo,” terang Ravi. “Terus sekarang gimana caranya jiwa kita bisa balik ke raga masing-masing? Makin runyam aja sih?!” erang Gio frustasi. “Kakek Dan!” tiba-tiba Gio berteriak memanggil Kakek Dan. “Eh busyet kutu kupret! Lo bikin kaget gue!” Ravi sangat kaget dengan teriakan Gio. Namun bukan Kakek Dan yang muncul melainkan perawat jaga ruang ICU. “Ada apa ya mas? Apakah ada yang terasa sakit?” tanya si perawat panik. Ia mengira Gio berteriak kesakitan. “Ng ... Nggak apa-apa kok, Sus. Sorry ya kalau bikin kaget,” Gio nyegir kuda. Si perawat pun meninggalkan ruangan setelah memeriksa infus. Dari luar ruang perawatan intensif itu, seseorang bermasker, berkacamata hitam, dan bertopi hitam mengawasi Ravi dan Gio. ‘Sial! Kenapa mereka malah sadar? Sekarang malah kelihatan sehat. Gue harus cari cara lain buat bikin mereka celaka,’ kata seseorang tersebut dalam hatinya. Ia lalu bergegas meninggalkan rumah sakit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD