4. Za Hamil

1601 Words
Za hendak pergi mengunjungi Ravi. Ia tahu bahwa Ravi sudah sadar dari komanya, namun masih terbesit kekecewaan pada Ravi, sehingga Za tidak langsung bertandang ke rumah sakit. Selama Ravi berada di rumah sakit, Za sering merasakan mual dan pusing. Sama seperti hari ini, ketika ia akan berdiri, tiba-tiba kepalanya terasa pusing. “Duh, kepala gue kenapa pusing banget ya? Apa karena beberapa hari kurang bisa istirahat? Ah, Ravi sialan! Dalam keadaan koma pun dia bikin gue overthinking deh,” gerutu Za karena merasakan sakit di kepalanya. “Untung hari ini gue nggak ada kuliah, mau tiduran aja deh. Ke rumah sakitnya ntar aja kalau udah mendingan,” monolog Za lagi yang kemudian memutuskan untuk berbaring di ranjang apartemennya. Lama membolak-balikkan badan di kasur empuk kesayangannya, Za akhirnya bangkit dari posisi berbaringnya. “Kok gue tiba-tiba kangen Ravi ya?” Za mengerucutkan bibirnya. Ia tidak sadar akan perubahan moodnya yang sebelumnya marah pada Ravi, berbeda dengan sekarang yang merindukan sosok lelaki tersebut. “Ya udah deh, gue jenguk ke rumah sakit sekarang aja. Naik ojek online aja, nggak kuat kalau harus nyetir sendiri,” lagi, Za bercakap sendiri. Beberapa menit berlalu, Za akhirnya tiba di rumah sakit. Wanita itu mendapati Gio dan Ravi tengah serius membicarakan sesuatu. Dan anehnya mereka berdua terlihat akrab dan akur. Hal yang tidak wajar dilihat oleh Za ataupun siapapun. “Lo udah enakan, Rav?” sapa Za ketika masuk ruang perawatan intensif. “Udah, Za. Hari ini sudah bisa pindah ke bangsal,” Ravi menyahut dalam raga Gio yang ditumpanginya. Sedangkan Gio sendiri hanya diam. “Gue nggak tanya lo ya! Lagian kenapa lo jadi sok sopan dan sok akrab gitu, Gio?” tanya Za heran. Pasalnya sedari dulu Gio terkenal dengan tabiat buruk dan seenaknya sendiri. “Hah? Apa?” Gio yang merasa disebut namanya disebut refleks mengeluarkan suara. Za bingung dengan keadaan itu. Ketika ia panggil nama Ravi, Gio yang menyahut. Sebaliknya saat ia menyebut nama Gio, Ravi yang menimpali. “Kalian berdua kok jadi aneh sih? Apa setelah sadar dari koma terus ada mukjizat datang gitu? Jadi kalian bisa akrab gini? Biasanya juga berantem melulu,” tanya Za terheran-heran. “Dia Ravi, gue Gio. Setelah sadar dari koma, kami tuh ketuker jiwanya. Aslinya ogah banget gue akrab ama Ravi,” terang Gio dalam wujud Ravi, kepada Za. “Hahahaha ... Lo lucu banget deh, Rav. Bercandaan lo garing!” protes Za yang pastinya tidak akan percaya bahwa yang diungkapkan Gio adalah sebuah fakta. “Ya udah kalau lo nggak percaya,” ucap Gio kemudian. Dia lalu menghela napas. Gio sadar bahwa tidak ada orang yang akan mempercayai apa yang terjadi padanya. Mau tidak mau, sekarang ia harus rukun dengan Ravi. Za menutup tirai pembatas bilik Ravi dan Gio. Ia risih jika harus ada Gio diantara obrolannya dan Ravi. Jiwa Ravi mencelos melihat perlakuan Za padanya. Seandainya Za tahu dan percaya bahwa Ravi dan Gio mengalami pertukaran jiwa, pasti situasi akan lebih mudah. Begitu pikir Ravi. Yang bisa mereka lakukan sekarang adalah menjalani kehidupan sehari-hari milik raga tempat mereka bersemayam. Ravi akan mengikuti rutinitas Gio, begitu pula sebaliknya. Mereka harus saling memberi kabar agar semua aman dan terkendali. Ponsel mereka pun harus ditukar. Membayangkannya saja membuat Ravi sakit kepala. “Rav, ada yang pengin gue pastiin ke lo. Tapi besok aja pas lo udah boleh pulang dari sini,” tutur Za membuka perbincangan. “Mau mastiin apa emangnya?” Gio penasaran. Dia sebenarnya bingung bagaimana harus bersikap pada Za. Dan mulai terbesit keinginan Gio untuk memiliki Za dengan memanfaatkan tubuh Ravi yang ia tempati. ‘Gue mau tanya arti gue buat lo, Rav. Apa gue cuma cewek mainan lo? Atau gue seseorang yang spesial buat lo?’ batin Za dalam hati yang tak ia ungkapkan. “Udah, besok aja kalau kita ketemuan di apartemen gue. Atau mungkin gue yang datang ke apartemen lo,” ucap Za sambil menggelayut manja. Tidak biasanya Za bersikap seperti itu pada Ravi. Dan kini Za tidak tahu jika yang ia peluk mesra adalah Gio. Sementara di balik tirai, Ravi hanya bisa nelangsa sendiri. ‘Gue kangen lo, Za. Yang lo peluk sekarang bukan gue, tapi Gio. Tunggu gue, Za. Doakan biar jiwa gue segera balik ke tubuh asli gue,’ batin Ravi. ‘Ternyata liat Za sama cowok lain rasanya sakit. Apa gue punya perasaan lebih sama Za? Nggak Cuma sekedar friend with benefit? Apa gue cinta sama Za?’ ‘Kenapa gue nggak sadar dari dulu? Saat gue masih leluasa bareng Za. Harusnya gue ungkapin perasaan gue dari dulu. Gue nyesel, Za. Sekarang kondisi gue berkebalikan sama Gio,’ ‘Dia bisa deket sama lo, Za. Sementara gue, lo jauhin. Kira-kira gue bisa ndeketin lo pake raga Gio ini nggak ya, Za?’ Ravi terus berkata dalam hatinya. Seolah meratapi takdirnya. Beberapa saat kemudian, Za pulang ke apartemennya. Ravi hanya bisa menatap punggung wanita itu dengan tatapan rindu. “Gue bisa deket sama Za. Ternyata ada untungnya juga jiwa kita ketuker,” celetuk Gio tiba-tiba. Mendengar hal tersebut sontak membuat Ravi naik pitam. “Lo jangan macam-macam sama Za! Jagain dia! Gue hajar lo kalau sampe Za kenapa-napa,” geram Ravi. “Heh! Lo juga bakal untung banyak kalau hidup jadi gue. Sekarang jalanin aja, nggak usah sok lebih baik hidupnya!” ucap Gio dengan emosi pula. Emosi mereka berdua sama-sama mudah tersulut jika sedang membicarakan suatu hal. Kakek Dan sudah bersandar di sudut ruangan mendengar adu argumen antara Ravi dan Gio. Lelaki itu hanya geleng-geleng kepala. “Kalau kalian selalu bertengkar dan mau menang sendiri, sampai kapan pun jiwa kalian tidak akan kembali ke tempatnya,” ucap Kakek Dan mengagetkan Ravi dan Gio yang masih tersulut amarah. “Kakek hobi banget muncul tiba-tiba? Beneran kayak jelangkung!” Gio terkejut atas kehadiran Kakek Dan tersebut. “Maksud Kakek apa barusan? Kenapa kalau kami bertengkar, jiwa kami tidak akan Kembali ke tempatnya?” Ravi ingin tahu maksud perkataan Kakek Dan. Sebelum menjawab pertanyaan Ravi, Kakek Dan menghela napas. “Pada intinya, selama kalian bertukar jiwa, kalian harus menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Kakek tahu selama ini kalian hanya hura-hura. Iya kan?” mendengar perkataan itu Ravi mengernyit bingung. “Kakek sepertinya tahu tentang kami? Apa jangan-jangan Kakek sudah lama mengawasi kami? Atau mungkin Kakek ada hubungannya dengan tertukarnya jiwa kami?” cecar Ravi. “Tebakanku benar kan? Kalian hanya bisa berhura-hura menghamburkan uang orang tua kalian,” ucap Kakek Dan telak membuat Ravi dan Gio bungkam. “Apa dengan berbuat baik, kami bisa kembali ke raga masing-masing?” giliran Gio yang bertanya. “Kalian hanya harus berusaha. Ingat, takdir tidak akan berubah jika bukan manusia sendiri yang mengusahakannya,” saran Kakek Dan dengan bijak. “Sepulang dari rumah sakit, kalian harus berusaha menjadi orang yang lebih baik walaupun kalian menumpang di raga orang lain. Jiwa kalian punya batas waktu. Jika kalian tidak bisa kembali ke raga masing-masing, maka kalian tak lebih dari mayat hidup,” Gio bergidik ngeri mendengarnya. “Berapa lama waktu yang kami punya?” Ravi bertanya dengan sedikit takut. “Seratus hari. Terhitung dari waktu kalian sadar dari koma,” terang Kakek Dan yang seketika membuat bulu kuduk Gio berdiri. “Jadi jangan sia-siakan waktu kalian. Dalam seratus hari hati dan pikiran kalian akan terbuka. Banyak hal yang akan terkuak jika kalian mau berusaha dan bekerja sama. Atau malah dalam seratus hari kalian bakal mati sia-sia,” setelah mengatakan hal itu, Kakek Dan menghilang seperti asap putih. “Ah, kebiasaan si Kakek suka muncul dan hilang tiba-tiba,” sewot Gio. === Za meninggalkan ruang perawatan Ravi dan Gio dengan sedikit sempoyongan karena pusing yang ia rasakan. “Duh kepala gue kenapa lagi sih? Kok pusing lagi sekarang,” keluh Za seorang diri. Ia kini masih berada di lingkungan rumah sakit. “Apa gue periksa sekalian aja deh biar sekalian dapet obat,” putus Za kemudian. Ia lalu menuju ke poli umum di rumah sakit itu. Setelah mendaftarkan diri, Za pun duduk menunggu gilirannya dipanggil. Hari sudah sore, hujan pun mulai turun. Za memandangi rintik hujan yang perlahan membasahi permukaan tanah. “Lihat ujan begini kok jadi kangen Ravi ya? Random banget sih gue. Padahal tadi juga barusan ketemu,” Za mengerucutkan bibirnya. “Tapi setelah sadar dari koma, kenapa sosok Ravi seperti orang lain? Gue ngerasa asing walau gue meluk erat dia,” Za menundukkan kepala. “Gue kenapa sih kok belakangan ini melow banget. Mood gampang berubah, mana sering pusing, mual pula,” Za masih menggerutu sendiri. Beberapa saat kemudian, nama Za dipanggil oleh perawat untuk pemeriksaan. Za pun masuk seorang diri. “Sore mbak, apa yang dikeluhkan sekarang?” tanya sang dokter pada Za. “Beberapa hari ini saya sering pusing dan mual, Dok. Barusan juga saya kurang bisa menjaga keseimbangan. Rasanya sekeliling saya berputar-putar sewaktu saya berjalan,” keluh Za pada dokter tersebut. “Coba saya periksa dulu ya, mbak. Silakan berbaring di sana,” dokter menunjuk tempat tidur pasien dan meminta Za untuk berbaring di sana. Dokter melakukan pemeriksaan yang tidak Za pahami. Selang beberapa menit, dokter membuka suara. “Haid terakhir kapan, mbak?” tanya sang dokter. Mendengar pertanyaan tersebut wajah Za mendadak pias. Ia melewatkan jadwal menstruasinya bulan ini. “Seharusnya tanggal 1 bulan ini dok, tapi sampai sekarang saya belum menstruasi,” ucap Za jujur. Dokter pun tersenyum penuh arti. “Saya rujuk ke poli kandungan saja ya, mbak. Kemungkinan Anda sedang hamil. Namun untuk lebih pastinya nanti biar diperiksa di sana,” dokter berkata sambil menulis rujukan. Za menuruti saran dokter untuk memeriksakan diri ke poli kandungan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Za memang benar-benar tengah mengandung. Bagai disambar petir, kenyataan yang harus Za terima saat ini sungguh mengagetkan. Dengan langkah gontai, Za pulang menuju apartemennya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD