5. Pengusiran yang Kejam

1109 Words
"Aku cukup tahu diri untuk mengenalmu. Tapi kamu sendiri yang menarikku terjatuh dalam pelukmu. Namun, mengapa kamu yang justru menghinaku begitu kejamnya?" ________ "Pak Edgar mau ngajak saya ke mana?" tanya Lisa panik saat tangannya ditarik Edgar keluar dari hall pesta, namun masih di gedung yang sama. "Ke tempat yang sepi, saya ingin menonton film," jawab Edgar sedikit tergesa-gesa. "Tapi kan acaranya masih—" "Tidak masalah. Lagi pula ini hanya peresmian. Saya pulang sekarang saja tidak masalah." Langkah Edgar terhenti begitu dia merasakan tempat yang cocok. "Di sini saja." Dia lantas menuntun Lisa duduk di atas sofa. Mereka berdua sedang berada di ruangan gang jauh dari hall. Dan hampir tidak ads orang di sana kecuali mereka. "Pak Edgar mau menonton apa?" tanya Lisa setelah melihat Edgar mulai mengutak-atik sebuah laptop berwarna silver. "Tentang film princess yang mempunyai kekuatan mengendalikan es. Saya penasaran dengan Elsa." "Astaga Pak Edgar menggemaskan sekali. Amsa menonton film kartun." Lila tertawa renyah dengan jawaban Edgar. Bagaimana laki-laki yang cool dan menawan itu memilih menonton film animasi. "Jangan salah, Lisa. Animasi seperti ini sangat bagu. Pembuatannya saja memerlukan banyak biaya. Dan pembuat animasi ini pastinya jago dalam teknologi. Kalo saya investasi saham di perusahaan yang mengembangkan film ini, mungkin saya akan untung banyak." "Pak Edgar pintar sekali." Untuk sekesian kalinya, Lisa memuji Edgar. Mungkin bagi dia, Edgar adalah sosok yang mendekati sempurna yang baru pertama kali ia temui. "Saya lulusan Ekonomi. Trading menjadi makanan pokok saya sehari-hari, saham menjadi surat cinta saya yang saya simpan baik-baik." Lisa mengangguk paham. "Kalau seperti itu, mungkin Pak Edgar tidak perlu pendamping hidup. Syaa lihat, Pak Edgar sudah sangat bahagia dengan semua kekayaan yang Pak Edgar miliki." "Mana bisa saya bahagia. Ini hanya soal kepuasan. Say puas saat hasil kerja keras saya terbayarkan. Tapi untuk mencari kebahagiaan itu sedikit susah meski saya punya banyak aset." Edgar menjawab namun tetap dapat fokus kepada layar laptopnya. "kenapa?" "Tidak tahu. Tapi menurut saya, kebahagian itu tidak hanya mentok persoalan uang. Kebahagian sesungguhnya adalah saat kita bisa menerima semuanya, saat kita mendapatkan apa yang kita mau. Seperti mendapatkan mu misalnya." "Idih Pak Edgar jangan gombalin saya mulu. Saya tahu saya cantik meskipun saya miskin. Tapi maaf, hati saya kebal dengan gombalan murahan seperti tadi. Yang biasanya terlontarkan oleh para buaya." "Gombalan saya murahan? Apakah saya harus melakukan gombalan dengan emmberikanmu banyak uang agar disebut dengan gombalan kaya?" "Hahahaha. Pak Edgar lucu! Bisa-bisa saya beneran baper ke Pak Edgar. Terus nanti saya minta tanggung jawab, gimana dong?" "Tanggung jawab? Saya bahkan belum menghamili kamu, Lisa. Masa dituntut pertanggungjawaban." Lisa mengkerutkan darinya. Dia tidak salah dengar tadi. Indra pendengaran nya masih begitu jelas. Seketika bulu judulnya merinding. Terlebih dia dsn Edgar sedang berada di tempat yang sepi. Bisa-bisa ada sesuatu nantinya. "Belum? Maksud Pak Edgar apa, ya?" "Ya belum. Siapa tahu kamu nanti ujung-ujungnya menjual diri kepada saya. Tentu saja daya terima dengan senang hati." "Oh, berarti bukan karena cinta," ucap Lisa dalam hati. "Saya becanda, Lisa. Saya yakin kamu tidak akan menjual dirimu. Maksud saya belum karena saya takut menjadi gila karena sama kamu. Saya takut nanti terjadi hal yang tidak diinginkan." "Pak Edgar sangat jujur." Singkat seperti biasa. Seperti itulah kalimat pujian yang dilontarkan Lisa. "Tentu saja. Saya tidak ingin menjadi orang munafik. Ngomong-ngomong, apa kamu sudah pernah bekerja?" tanya Edgar yang tiba-tiba penasaran. Padahal nya yang sejak awal bertanya itu Lisa dan berhasil mendapatkan informasi kehidupan Edgar. Kini giliran Edgar yang akan bertanya tentang hidup gadis itu. "Belum. Tapi saya sangat ingin bekerja. Apalagi sebagai pegawai kantoran. Rasanya saat keren mengenakan jas dan berpakaian rapi!" lisa mengepalkan tangannya layaknya memberi semangat kepada dirinya sendiri. "Sayang sekali di kantor saya tidak ada posisi yang kosong." "Ah, tidak usah, Pak. Saya akan usaha sendiri. Saya tidak mau merepotkan Pak Edgar, saya juga tidak mau menggunakan jalur orang dalam. Rasanya kurang menantang, Pak." "Bagus! saya sangat suka semangat kamu. Lantas, cita-citamu ingin menjadi apa? "Ya, minimal jadi sekretaris CEO deh, Pak." Cahaya ruangan yang remang-remang, dsn sountrack film yang slow, membuat Lisa menguap lebar. lagipula, ini sudah jam 10. Memang sudah seharusnya dia tidur. "Sekretaris? Sepertinya saya punya buku panduannya di rumah. Mungkin jika kits bertemu lagi, saya kasih ke kamu." "Memang jadi sekretaris harus belajar?" "Tentu saja, Lisa. Inget, semua hal yang kamu impikan itu perlu perjuangan dan pengorbanan. Sometimes, kamu harus berjuang mati-matian atau melepaskan sesuatu yang paling berharga. Karena pada dasarnya, semua hal membutuhkan proses." Edgar menghela napasnya sebentar. "Jika suatu hal itu mudah kamu dapatkan, maka akan mudah hilang," lanjutnya. Laki-laki itu memperhatikan wajah cantik Lisa yang rupanya sudah tertidur. Lantas, dia mengenakan dengan pelan kepala Lisa akan tertidur di pundaknya. Edgar mematikan utaran filmnya. Dia sedang buru-buru membuka pesan grup perusahaannya. Astaga ada problem lagi! Kali ini ada investor yang keras kepala meminta mengadakan RUPS. Hal iti membuat Edgar terusik. Pikirannya mulai kacau. Yang semula tenang, sekarang menjadi pening. Jangan. Jangan biarkan Edgar seperti itu. Atau dalam beberapa detik kemudian kepribadiannya akan berubah . "ARGHHH!!!!!" seru Edgar terdengar frustasi. Hal itu membuat Lisa terbangun dengan penuh kebingungan. "Ada apa, Pak Edgar," tanya Lisa dengan pelan. Edgar menutup laptopnya dengan penuh tenaga. Napasnya berderu begitu cepat. Jelas sekali amarahnya sedang berkecamuk. "PERGI! SAYA MUAK MELIHAT MUKA KAMU DI SINI!" Lisa benar-benar bingung dengan semua ini. "Tapi Pak Edgar yang mengajak sana ke sini. Pak Edgar yang minta tolong ke saya, Pak Edgar yang mencium saya, mengapa Pak Edgar yang marah?" "Anggap saja, yang tadi karena pengaruh alkohol! Mau bagaimana pun, kamu itu sampah ya tegap sampah!" umpat Edgar penuh emosi. Tubuh Lisa terbujur kaku. Dia bahkan kehabisan kata-kata. "Pak, Pak Edgar nggak ada hak buat ngatain saya seperti itu!" "Apa kamu tidak menyadari di mana kamu sekarang? Acara orang elit. Orang buangan seperti kamu harusnya diharamkan melangkahkan kakinya ke sini!" Perlahan, ucapan kasar Edgar membuat mata Lisa berair. Semakin berair dsn hampir di luluh ilang akan. "Apa salah saya, Pak? Kenapa Pak Edgar berubah seratus delapan puluh derajat?" tanya Lisa dengan sabar. "Berubah? Saya tidak pernah berubah! Yang ada, kamu itu yang tidak tahu diri, tidak tahu malu!" bentak Edgar sekali lagi. Entah apa yang membuatnya berubah seperti ini. "Tapi kan Pak Edgar yang—" Plakkk!! Satu tamparan mendarat mulus di pipi Lisa. Perih. Lisa sekuat tenaga menahan perih itu. Sungguh, dia sangat kecewa kepada Edgar saat ini. Mengapa dia mendadak menjadi kasar? "Pergi! Cepat pergi dari sini!" usir Edgar dengan menarik Lisa keluar dari gedung lalu melempar Lisa ke jalanan dengan sesuka hati. Pecah sudah tangin Lisa. Gadis itu pikir, Edgar berbeda dari kebanyakan orang. Dia pikir, Edgar akan terus memperlakukannya dengan baik. Namun apa? Cowok itu justru mengusir Lisa dengan begitu hina seakan Lisa benar-benar menjual diri padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD