"Selamat malam, para hadirin yang terhormat. Selamat datang CEO Bagaskara, CEO Neozone, juga tak lupa selamat datang Bapak Edgar selaku CEO Foodast yang sudah memberikan hidangan lezat untuk acara malam ini. Saya, Alano, selaku CEO Geotermal, dengan ini saya resmikan perusahaan Geotermal yang akan menjadi supplier bahan baku untuk perusahaan Foodast."
Lisa mendengarkan sambutan dari Alano dengan begitu antusias. Dia ikut berdebar ketika Foodast disebut-sebut. Dan tentunya, perempuan ini semakin penasaran dengan dunia perusahaan. "Apa yang datang ke acara ini hanyalah orang-orang sultan, Pak?" tanyanya polos kepada Edgar.
Edgar yang telah menghabiskan satu gelas cola langsung menaikkan alisnya untuk menjawab pertanyaan Lisa. "Sultan? Apa maksudmu?"
"Ya, tentunya orang-orang yang mempunyai uang banyak, orang yang memiliki perusahaan, dan rumah mewah!" jawab Lisa bersemangat.
"Emm bisa jadi. Karena memang yang di sini memiliki kekayaan bertriliyun rupiah. Bahkan untuk bekal sampai anak cucu nantinya pasti lebih dari cukup."
Mata Lisa berbinar, pikirannya berimajinasi andai dia menjadi salah satu orang itu, dia pasti akan bahagia selamanya. Tanpa harus memikirkan lagi besok makan dengan lauk spa, tinggal di mana, pakai kendaraan apa. Yang jelas, semua akan terasa lebuh mudah.
Menyadari gadis di sebelahnya melamun, Edgar lalu melambaikan tangan di depan wajah Lisa agar Lisa kembali sadar. "Kamu ingin seperti mereka?" tanya Edgar yang sedari tadi memperhatikan Lisa melamun.
"Tentu! Tapi sepertinya aku harus menjual harga diriku dulu jika ingin seperti mereka," jawab Lisa dengan jujur. Pikirannya saat ini memang begitu sempit. Dia berpikir, cara mudah untuk mendapatkan uang banyak ya tentu saja dengan menjual dirinya. Tapi untung saja, dia masih mempunyai harga diri yang tinggi. Dia tidak ingin menjadikan dirinya kotor hanya karena uang.
Edgar menggeleng kuat. "Kamu bisa pastinya meskipun tanpa melakukan hak bodoh itu. Belajar, bekerja keras, sabar, itu kuncinya."
"Apa sebelum jadi CEO bapak seperti itu?"
Edagar mengangguk setuju. "Tentu saja. Saya anak terlantar. Saya tidak punya orang tua. Hingga suatu saat ada nenek yang berbaik hati memberikan ku tempat bernaung. Dia memiliki tabungan banyak, lalu aku sarankan untuk menabung di bank. Setelah itu aku minjam rekeningnya untuk diinvestasikan."
Jawaban Edgar membuat Lisa terkejut hebat. Matanya membelalak. "Bapak gila? Apa bapak tidak takut merugi?"
"Takut ada, tetapi orang yang besar tidak akan pernah takut untuk mencoba." Edgar membenarkan dasinya sendiri yang terlihat sedikit tidak rapi. Mau bagaimana pun, dia ingin terlihat sempurna di mata orang-orang.
"Umur berapa bapak mencoba investasi?" Astaga, Lisa menjadi terus penarasan dengan kedihuoan Edgar.
"15 tahun. Aku meminjam data diri nenek baik hati yang aku sebutkan tadi."
"Waw! Bapak benar-benar keren!" puji Lisa dengan bertepuk tangan lirih.
"Jangan berlebihan, aku hanya melakukan apa yang aku bisa."
"Tapi sungguh Pak Edgar keren. Kapan-kapan maukah Pak Edgar mengajari saya?"
"Tentu. Dengan satu syarat."
"Apa, Pak?" tanya Lisa dengan mata penuh binar. Kapan lagi ya, kan, dia bertemu dengan pria sebaik Edgar.
Edgar maju satu langkah mendekati Lisa. Dia menundukkan badannya, kembali mencoba menyeimbangkan tingginya dan Lisa. Wajahnya maju, menuju telinga Lisa. "Jadi istri saya," jawab Edgar dengan nada rendah yang membuat Lisa mati tuku.
Terkutuk dengan aluanan mudik romantis A Thousand Years yang tiba-tiba diputar, terkutuk dengan lampu ruangan yang menjadi sedikit redup, terkutuk pada Edgar yang justru tersenyum sangat manis sampai Lisa lupa bahwa dirinya masih di bumi belum menuju surga yang terdapat pangeran.
Edgar terkekeh renyah melihat pipi Lisa yang memrah seperti kepiting rebus dengan tatapan kosong yang Edgar yakinin, wanita itu sedang bingung dengan ucapannya sekarang. "Hahaha, saya becanda, Lisa. Maaf bikin kamu tegang gini," lontarnya membuyarkan lamunan Lisa.
Lisa menggeleng cepat, membuang semua pemikiran halunya. Benar juga, masa iya Edgar serius meminta dia menjadi istri. Padahal kan sudah terlihat jelas kastanya. Bagai bumi dan langit. Lisa pikir, Edgar terlalu sempurna untuknya.
"Aduh!" ucap Lisa refleks saat pinggangnya diraih Edgar. Tangan laki-laki itu merengkuh pelan di pinggang Lisa. Menatap Lisa dan tak lupa memberikan senyuman hangat.
"Musik nya sudah dimulai, mari kita berdansa," ajak Edgar.
Lisa jelas menganga tak percaya perkataan Edgar barusan. Apa? Dia diajak berdansa? Apa dia tidak salah dengar? Ah, yang benar saja.
"Bapak nggak mabuk, kan? Masa iya ngajak dansa sama saya. Nggak cocok, Pak," tukas Lisa dengan lugunys dan membalas tatapan Edgar.
Dan saat mata mereka bertemu. Ada kehangatan di dalamnya. Masing-masing dari mereka memancarkan aura kesepian, sehingga jika bertemu menghasilkan sebuah kehangatan.
Dan tentu saja, membuat jantung Lisa terus berdebar.
"Saya tidak perlu gadis sempurna. Saya tidak perlu gadis yang setara sama saya. Saya tidak perlu gadis yang berkelas atau semacamnya. Karena realitasnya, saya justru berdebar saat bersama dirimu, Lisa."
Edgar meraih kedua tangan Lisa yang mendadak mematung setelah mendengar ucapannya. Dia meletakan kedua tangan itu pada bahunya sendiri, lalu kembali merengkuh pinggang Lisa, memangkas jarak di antara keduanya.
"Tatap saya, ikuti musiknya. Kamu pasti bisa."
Ya Tuhan, entah perbuatan baik apa yang telah Lisa lakukan sampai mendapat hadiah istimewa seperti ini? Lisa tidak bisa berkata-kata.
Gadis itu akhirnya mengangguk pelan. Dia terus menatap Edgar yang juga menatapnya. Bergerak mengikuti irama musik, saling berpadu gerakan dengan Edgar yang terlihat begitu romantis.
Bahkan, Edgar tak segan-segan mengangkat tubuh Lisa pada dansa itu. Nampaknya, laki-laki yang sudah lama tidak jatuh cinta ini sangat menikmati waktunya bersama Lisa.
Melihat gerakan dansa Lisa dan Edgar yang menakjubkan, membuat para hadirin yang lainnya menepi. Membiarkan sepasang CEO Foodast dan gadis temuannya berdansa di tengah-tengah.
Hingga pada ujung lagu, Edgar dan Lisa berhadapan dengan jarak yang begitu dekat. Bahkan mereka dapat merasakan hembusan napas satu sama lain.
Lisa tersenyum begitu manis. Tatapannya masih beradu pandang pada tatapan elang Edgar. "Bapak emang ganteng banget, ya," pujinya yang terdengar begitu tulus.
Hati Edgar seketika menghangat. Entahlah. Entah apa yang ia rasakan saat ini.
Dan tanpa disadari, wajahnya perlahan maju mendekati wajar Lisa. Bibir tebal Lisa menjadi perhatian mutlaknya saat ini.
Lisa hanya diam. Berusaha mengontrol dirinya yang padahal di dalam hati ia sedang berkecamuk. Mungkin, first kiss dia akan terjadi dalam beberapa hitungan detik.
Dan benar saja, Edgar mendaratkan bibirnya dengan pelan pada bibir Lisa. Bertahan cukup lama tanpa gerakan lebih. Kecupan manis yang tak singkat.
Hingga sekitar 10 detik kemudian, Edgar melepaskan kecupannya. Dia tidak ingin berbuat lebih. Dia takut akan semakin menggila. "Terima kasih, Lisa, sudah menemani saya malam ini," ucapnya.