Lisa merasakan tubuhnya begitu nyaman dan segar selepas mandi. Dengan kondisi yang masih mengenakan handuk piyama, dia duduk di depan meja rias.
Gadis itu tersenyum saat wajahnya mulai merasakan foundation. Dia memejam, kala pegawai salon yang bersamanya tengah meratakan foundation itu di wajah Lisa.
Setelah foundation, layer selanjutnya adalah conture, highlighter, dan yang terakhir yaitu bedak.
Lalu, dilanjutkan dengan mulai mewarnai bagian tertentu pada wajah. Yang pertama adalah warna untuk kelopak mata. Lisa dapat melihat, pegawai di salon itu memberian warna cokelat terang dengan sedikit sentuhan glitter.
Tidak lupa untuk memakai eye liner, pensil alis, juga maskara. Namun sebelum memakai maskara tadi, Lisa sedikit kesusahan saat bulu matanya hendak dipakaikan gunting. Dia hanya baru pernah melihat penjepit bulu mata. Untungnya, dia akhirnya mau menggunakan penjepit itu.
Oke untuk mata selesai. Kini tinggal bibir. Untuk hasil yang bagus, lebih baik bibir beri pola pada batasnya. Atau lebih biasa disebut menggambar bibir. Hal ini hanya untuk membuat bibir nantinnya terlihat lebih tebal dan memudahkan untuk menawarnainya.
Sesudah itu, pegawai salon menggunakan tiga warna pemulas bibir untuk Lisa. Semua warna itu dioles lalu diombre.
Bagian wajah sudah tuntas. Hanya tinggal rambut dan bajunya saja.
Untungnya, tadi Lisa juga keramas di salon ini. Lumayan, dia bisa merasakan bagaimana rasanya sampo mahal. Rambut Lisa yang awalnya acak-acakan juga sangat lepek, kini dibuat menjadi rambut bergelombang yang memberi kesan bervolume.
Sungguh, Lisa ingin teriak saat melihat dirinya di cermin. Iyap! Sangat cantik tentunya.
"Pak Edgar sudah me-request bajunya tadi. Saya sudah siapkan di ruang ganti. Di sana juga sudah disiapkan beberapa pasang sepatu. Mba Lisa bisa langsung ganti saja, ya."
Lisa mengangguk paham kepada pegawai salon yang berambut pendek itu. "Terima kasih banyak," balasnya.
Dia lalu langsung menuju ke ruang ganti. Mulutnya terbuka lebar saat melihat baju yang ada di ruangan itu. Dress warna hitam panjang selutut dengan sedikit manik. Sangat cantik.
Dengan cepat, Lisa memakai gaun itu. Dia benar-benar merasa menjadi princess dadakan hari ini.
Perfect!
Wajah, rambut, gaun, sepatu, melekat sempurna di tubuh Lisa.
Gadis itu lantas keluar dari ruang ganti. Ah, dia ingin menemui Edgar yang memberikan dia kebahagiaan sore ini.
"Pak Edgar," panggil Lisa di depan Edgar yang masih tertidur pulas di sofa.
"Pak Edgar bangun, saya sudah selesai." Dia menepuk pipi Egar dengan pelan, namun tak ada reaksi dari Edgar.
"Ish! Ini kenapa dia nggak bangun bangun, sih?!" gerutu Lisa. "Pak Edgar, bangun!!!" Teriaknya sambil menghentakkan kaki. Namun, karena ini adalah kali pertama dia memakai heels, dia tidak bisa menjaga keseimbangannya.
Naasnya, Lisa jatuh di atas Edgar yang masih tertidur.
"Kamu ngapain?!!" Mata Edgar membulat sempurna karena begitu dia membuka mata, dia melihat sosok gadis di atas tubuhnya.
"Ma-maaf, Pak, saya cuma jatuh," jawab Lisa terbatah-batah.
"Menyingkirlah!"
Lisa dengan cepat menarik tubuhnya untuk berdiri. Dia sangat takut dengan tatapan tajam dari Edgar.
"Sudah selesai?"
"Eh? Su-sah, Pak. Ini lihat, bukankah ini sangat cantik? Menurut Bapak gimana?" tanya Lisa yang senyumnya kembali merekah.
"Biasa saja."
"Ah, bapak jangan bohong. Saya pasti sangat cantik bukan?"
"Iya sih, Lisa jadi cantik banget kalo udah bersih gini," ucap Edgar di dalam hati.
"Enggak, biasa saja!" ujar pria itu berlawanan dengan kata hatinya.
Nada dering dari telepon pintar milik Edgar berbunyi nyaring. Dengan cepat, pemilik handphone mahal itu mengecek siapa yang menelepon dia. Ah, ternyata asisten kantor Edgar.
"Halo, ada apa kamu menelepon saya?"
"Pak Edgar, untuk acara peresmian perusahaan Geosentral, nona yang Bapak pilih kemarin tidak bisa hadir menemani Bapak malam ini karena kecelakaan," ujar asisten Edgar di sambungan telepon itu.
"Hah? Kurang ajar, saya tidak punya cadangan lagi. Masa iya nanti saya datang seorang diri?!"
Edgar melirik ke arah Lisa. Gadis itu menggerakan mulutnya seakan bertanya "apa?".
"Saya akan segera carikan penggantinya, Pak."
"Tidak usah. Saya sudah punya," jawab Edgar yang langsung memutuskan sambungan panggilan itu.
"Ada apa?" Lisa menghampiri Edgar dengan mengerutkan keningnya.
Yang diberi pertanyaan mendadak bungkam. Pria itu memejamkan matanya sebentar untuk memantapkan keputusannya. "Temani saya ke pesta malam ini."
"Hah?" Lisa menatap bola mata Edgar dengan penuh keterkejutan. "Ta-tapi saya--"
"Jangan menolak. Kamu ikut saya, temani saya ke pesta itu. Cukup menggenggam tangan saya dan tetap di samping saya." Tanpa permisi, Edgar langsung menautkan jemarinya pada jemari Lisa. Dia menarik Lisa untuk keluar dari salon.
Untuk pertama kalinya, Lisa merasakan debaran aneh saat bersama seseorang. Apalagi, saat tangannya digenggam oleh Edgar.
Merek berdua melakukan perjalanan panjang menuju tempat pesta itu. Tidak ada obrolan, tidak ada tawa, keduanya bungkam. Bukan karena canggung atau apa, tapi karena Lisa yang tertidur di mobil.
Ah, gadis itu sepertinya begitu lelah.
Edgar melirik ke arah Lisa. Dia menghentikan laju mobilnya sebentar. Ternyata, pria itu hanya ingin menyelimuti Lisa dengan jasnya.
Satu jam perjalanan sudah mereka tempuh. Dan akhirnya, sampai di tempat pesta yang Edgar tuju.
Lisa terbangun begitu merasa mobil berhenti lama. Dia membuka mata dengan pelan. Hal pertama yang ia dapati, jas Edgar berada di tubuhnya. "Ini sudah sampai? Bapak pasti nggak tega ya, liat saya tidur kedinginan? Jadi dikasih jas deh. Bapak perhatian banget sih!" seru Lisa dengan suara nyaring.
"Jangan ge-er, saya cuma gerah tadi lalu asal buang jas aja," bantah Edgar menutupi fakta sebenarnya. "Ayo cepat turun," sambungnya.
Lisa menurut apa kata Edgar. Dia turun dengan pelan dari mobil itu. Ternyata, Edgar sudah mengulurkan tangannya untuk membantu Lisa.
"Jalan pelan, jangan lepas dari genggaman saya. Awas saja jika kamu merusak citra saya malam ini!" ancam Edgar bersuara lirih namun terdengar tegas.
"Iya." Jujur saya, Lisa sangat gerogi. Namun, sia harus sebisa mungkin untuk tenang.
"I-ini pesta apa, Pak?" tanya gadis itu saat mulai memasuki hall tempat pesta.
Dia tidak bisa mengerjapkan matanya sedikit pun. Banyak sekali makanan yang ada di pesta itu. Banyak orang yang mengenakan pakaian mewah. Dan juga, dekorasi tempat pesta itu terlihat begitu glamour.
"Pesta ulang tahun Geosentral. Perusahaan bahan makanan yang bekerjasama dengan Foodast," balas Edgar.
Lisa terkejut bukan main. Otaknya langsung berputar memikirkan bahwa berarti sosok pria yang sedang berjalan bersamanya termasuk orang penting? "Lah Bapak siapa?"
"Saya? Saya Edgar, Lisa."
"Bapak CEO Geosentral?"
"Saya .... " Edgar menghentikan langkahnya. Dia lalu berhadapan dengan Lisa, menatap gadis itu lekat-lekat kemudian tersenyum. "Saya CEO Foodast. CEO termuda dan tersukses di Indonesia."
Bola mata membulat sempurna. Dia bahkan sampai menutupi mulutnya sendiri agar tidak menimbulkan suara. "Berarti saya tadi cerita soal Foodast Resto--"
"Tidak apa, itu artinya saya harus mengevaluasi karyawan nantinya," timpal Edgar dengan santai.
"Jadi Bapak beneran CEO Foodast? Ah, saya pusing!!" Lisa memegangi kepalanya sendiri. "Bapak hebat banget, dong? Kaya banget, dong? Keren!"
"Satu lagi yang ketinggalan."
"Apa?"
Edgar mengambil satu langkah, memotong jaraknya dengan Lisa. Dia menunduk, menyejajarkan tingginya dengan gadis itu. "Saya juga sangat tampan, bukan?"
"Idih!"