"Kenapa kamu terlihat sedih?"
Lisa yang awalnya sedang memperhatikan pemandangan jalan dari kaca jendela mobil menggeleng pelan. "Hanya masalah sepele."
"Katakan saja, siapa tahu saya biaa bantu. Jika tadi tidak ada kamu, saya tidak akan kembali mendapatkan berkas penting punya saya."
Lisa menarik napasnya perlahan, kemudian ia keluarkan dengan gusar. "Saya baru saja diusir dari Foodast Resto, Pak. Saya tahu Foodast memiliki menu yang sangat lezat, tetapi saya hanya bisa mendengar itu. Saya belum pernah mencicipinya, Pak."
"Lalu?"
"Saya nekat tadi datang ke Foodast Resto tanpa membawa uang. Tapi saya tidak bermaksud mengemis, Pak. Saya hanya ingin berkunjung sebentar untuk menghirup aroma masakan dari Foodast."
"Apa kamu tahu menu andalannya?"
"Tidak. Bapak pasti sudah pernah ke sana, ya? Menurut Pak Edgar, menu yang paling lezat dan istimewa apa? Jika saya punya uang nanti, saya akan ke Foodast!"
"Hampir setiap hari saya ke sana. Menu favoritnya tentu saja seafood pedas asam manis. Pada menu itu, lebih baik pesan yang extra large. Kamu bisa makan dengan temanmu nantinya. Isinya ada berbagai kerang, lobster, cumi, gurita, udang, yang dikolaborasikan dengan saus spesial pedas asam manis dari Foodast."
Lisa menganga, hampir meneskan air liurnya. Mendengar penjelasan Edgar, semakin membuat Lisa semakin ingin mencicipi masakan di Foodast.
"Mendengarkan saja membuat saya lapar, Pak," ungkap Lisa memegangi perutnya.
Edgar tertawa renyah. Dia rasa, Lisa cukup menarik baginya. "Kamu tidak mempunyai pekerjaan?"
"Tidak. Padahal saya adalah orang yang mempunyai keinginan keras. Saya juga seorang yang penurut. Namun, setiap kali saya mau melamar pekerjaan, mereka pasti langsung menendang saya keluar. Ya, karena melihat penampilan saya yang usang ini."
"Ah seperti itu. Mereka seharusnya tidak menilai seseorang dari penampilannya."
Lisa menyerdehkan kepalanya pada kursi mobil. Dia menghela napasnya dengan malas. "Ya begitulah. Sepertinya dunia ini hanya membutuhkan orang orang yang mempunyai penampilan bagus."
"Sepertinya begitu. Untung saja saya orang yang tampan," ucap Edgar memuji dirinya sendiri.
Lisa hanya terperangah, tak menyangka pria yang ia temui ternyata memiliki tingkat percaya diri yang berlebihan. "Terserah Bapak!"
"Ngomong ngomong, orang tua kamu bagaimana? Kalian tinggal di mana?"
"Mereka sudah meninggal."
"Astaga, saya minta maaf."
"Tidak apa, Pak."
Suasana di mobil itu mendadak canggung karena pertanyaan Edgar tadi. Lisa yang menjadi melamun karena teringat orang tuanya sedangkan Edgar merasa tidak enak dengan Lisa.
"Lalu kamu sudah menikah?" tanya Edgar mencoba menyairkan suasana.
Lisa menggelengkan kepalanya dengan kuat "Belum. Tentu saja belum. Mana ada yang mau sama saya."
"Jangan seperti itu. Pasti nanti ada kok yang mau sama kamu."
"Iya aku harap Pak Edgar yang mau sama saya," ujar Lisa di dalam hatinya sembari terkekeh kecil.
"Kamu tinggal di mana?"
Lisa menoleh ke arah Edgar. Kenapa Edgar terus bertanya tentang hidupnya? "Pak Edgar kalo tanya detail banget, ya? Udah kayak tukang kredit aja nanyain rumah saya. Tenang, Pak, saya nggak bakal utang kok sama Bapak."
"Lalu selama ini biaya hidup kamu gimana? Jangan-jangan, kamu menjual diri?"
"Astaga, jika saya menjual diri saya tidak mungkin menjadi gembel seperti ini, Pak! Tapi kalo Pak Edgar yang meminta, bisa sih saya berpikir dulu sejenak," celetuk Lisa asal bicara. Gadis itu hanya ingin sedikit bersenda gurau. Terbukti, gelak tawanya terdengar riuh di mobil putih itu.
"Haha, boleh juga. Lain kali, ya?"
Lisa bersedekap tangan."Jangan harap! Saya itu memiliki harga diri yang tinggi, Pak. Saya mending menjadi gelandangan daripada menjadi jalang."
Mendengar ucapan Lisa, Edgar menarik senyum di bibirnya. Dia tidak menyangka masih ada wanita yang tetap menjaga kehormatannya meski membutuhkan banyak uang.
Mobil putih itu akhirnya berhenti di sebuah salon. Lisa menyipitkan matanya saat melihat tulisan di papan salon itu.
"Yor beauti," gumam Lisa.
"Yang benar, Your Beauty. Kamu tahu artinya?" tanya Edgar.
Lisa menggeleng. Ah, ternyata tulisan utu adalah Bahasa Inggris.
Edgar menunduk, menyamakan tingginya dengan Lisa. Dis menatap gadis itu dengan lekat. "Kecantikanmu."
"Wahh, saya cantik? Jangan jangan Bapak naksir sama saya, ya?"
"Itu artinya. Bukan saya sedang memuji kamu!"
"Kirain," ujar Lisa terkekeh geli.
Mereka berdua lantas memasuki salon itu. Lisa tak bisa mengerjapkan matanya saat memasuki salon. Alat-alat make up, cermin, harum parfum, begitu memanjakan gadis itu.
Jantungnya berdebar hebat. Dia tidak percaya keinginan dia akan terpenuhi hari ini.
Dia melirik ke arah Edgar. Pria itu memberi kode kepada Lisa untuk duduk di depan cermin. Sementara Edgar, dia sedang berbincang-bincang dengan salah satu pegawai salon.
"Hari ini, mari menjadi cantik, Lisa!" ujar Lisa di dalam hatinya dengan begitu antusias.
Pegawai yang berbicara dengan Edgar, mulai menghampiri Lisa. "Maaf, Mba, untuk merubah total penampilan Mba saat ini, lebih baik Mba mandi dulu."
Lisa mengangkat sebelah alisnya. Untuk apa pegawai ini menyuruh dia mandi? Padahal 'kan Lisa hanya ingin di make up. "Mandi? Saya nggak bau kok, Mba, saya nggak pengin mandi juga!"
"Ini permintaan dari Pak Edgar. Dia meminta pelayanan spesial. Mulai dari mandi, make up, dan sampai pemilihan baju nanti," papar pegawai itu.
"Lah? Ribet banget kayak mau nikahan aja. Apa pak Edgar mau ngajak saya nikah hari ini?" tanya Lisa dengan mulutnya yang asal bicara.
"Kamu bicara apa, Lisa?"
Lisa menoleh ke kursi samping kananannya. Dia baru menyadari ternyata Edgar sudah duduk di sana. "Eh? Em i-itu, Pak. Bapak mau menikahi saya hari ini?"
Edgar menepuk jidatnya. Dia tidak tahu ternyata Lisa bisa memiliki halusinasi tinggi. "Saya cuma mau membalas budi dengan baik. Geer banget si jadi cewek. Tinggal ikutin aja. Nanti pasti kamu kaget karena tampilan gelandangan kamu berubah jadi kayak tampilan princess."
Mata Lisa berbinar sempurna. Senyumnya lalu mengembang, namun menyebabkan matanya tenggelam. Eyes smile. Iya, itu adalah cara Lisa tersenyum begitu mansi. "Kayak yang di dongeng, ya, Pak? Asikk, berarti saya cuma harus cari pangerannya saja!" serunya.
"Diam. Cepat sana mandi, kamu membuang waktu saya saja!"
Lisa mengangguk pelan, dia lantas segera berdiri mengikuti langkah pegawai salon itu. Sungguh, dia terus merasa bahwa hari ini adalah hari keberuntungannya.
Di sisi lain, Edgar menutupi mulutnya ketika ia menguap. Rasanya, lelah sekali hari ini. Dia lalu bangkit, menuju ke depan jendela. Pemandangan di kota dan cahaya senja sepertinya menarik perhatiannya.
Oh, rupanya tidak.
Edgar ternyata lebih tertarik kepada sofa kecil dekat jendela. Dia melirik ke arloginya. Masih banyak waktu untuk acara malam nanti. Dan masih lama untuk menunggu Lisa.
Pria tampan itu lantas mengambil posisi yang nyaman di sofa. Matanya mulai memejam, dia akan rehat sebentar saat ini.