**Flashback, 5 tahun yang lalu**
Bel sekolah telah bertending, pertanda murid-murid sudah harus masuk ke kelasnya masing-masing. Tepat di hari yang cerah ini, secara resmi Irene Mariana akhirnya menyandang status sebagai seorang murid SMA. Dan layaknya murid SMA lain pada umumnya, hari ini Irene mengikuti kegiatan MOS.
Kala itu yang menjadi ketua OSIS adalah Rio. Ya, Rio Samahita, si cowok tampan yang begitu populer di kalangan cewek-cewek sekolah. Tidak hanya karena wajahnya yang rupawan, isi dompetnya pun menawan. Tak sedikit pula yang suka nempel sama Rio hanya sekadar demi semangkuk bakso. Supaya ditraktir saja.
Dari awal masuk sekolah, Rio memang sudah memperhatikan Irene dari jauh. Ada sesuatu dalam diri Irene, yang nampak berbeda dari cewek-cewek lain di sekolahnya. Irene tidak matre. Toh orangtuanya sudah cukup berada. Lagipula, Irene takut dirinya kena azab jika memoroti uang orang lain. Dan lagi, Irene tidak genit. Tidak seperti kebanyakan siswi lain di sekolahnya. Irene juga tidak terlalu banyak bicara, cenderung lebih banyak diam. Apalagi dengan Rio, yang notabenenya adalah ketua OSIS. Hal itulah yang membuat Rio semakin penasaran dengan sosok Irene.
Hari terakhir acara MOS, semua anggota OSIS meminta agar murid-murid membuat sebuah surat cinta. Permainan lama. Tapi kali ini surat cinta itu bebas, boleh dibuat ke siapa saja. Tidak harus kakak-kakak OSIS saja. Boleh ditujukan untuk guru, orangtua, maupun ke teman sebaya. Bahkan ke tukang kebun halaman sekolah pun boleh. Kalau tidak malu tentunya.
Dan ini yang paling ditunggu-tunggu Rio. Rio begitu penasaran dan ingin tahu kepada siapa Irene membuat surat tersebut. Jauh dalam hati, Rio berharap-harap cemas. Begitu berharap semoga namanya ada di secarik surat yang ditulis Irene.
Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Masing-masing murid membacakan suratnya. Dan begitu tiba giliran Irene, ternyata Irene membuat suratnya bukan untuk Rio .. melainkan untuk Vino.
Meskipun tidak secara langsung menyebut nama Vino, Rio tahu betul orang yang dimaksud Irene itu pasti adalah Vino. "Untuk V .. Kakak kelas yang juga anggota pemain basket kebanggaan sekolah ..," kata Irene dengan senyum malu-malu di wajah cantiknya.
V, seorang pemain basket kebanggaan sekolah .. siapa lagi kalau bukan Vino? Dari deretan nama pemain basket sekolah, hanya Vino yang namanya berawalan V. Yang kedua ada Vina, tapi Vina kan perempuan. Tidak mungkin Irene menyukai Vina kan?
Setelahnya, murid-murid langsung menyoraki Vino. Yang disoraki malah senyum-senyum sendiri. "Kalo sudah jadian jangan lupa traktirannya bro," canda Arga, teman baik Vino.
Kalau urusan pelajaran, Rio memang jagonya. Rio memang murid yang cerdas. Demikian pula dengan isi dompet, Rio pasti akan selalu jauh di atas Vino. Tapi kalau urusan olahraga, Vino tak bisa dikalahkan. Soal tingkat ketampanan dan tinggi badan, dua-duanya setara. Hampir sama malah. Susah dipilih.
Tapi kalau urusan cinta .. nampaknya Vino akan selalu di atas Rio.
Setelahnya, tidak sampai tiga bulan kemudian, Rio mendengar kabar bahwa Irene dan Vino sudah menjalin kasih. Hati Rio langsung terasa sakit bukan main. Padahal yang menaruh hati pertama kali dengan Irene adalah Rio. Karena di hari pertama MOS, Vino tidak ada di sekolah. Sedang tanding basket di sekolah lain dengan teman-temannya. Tapi pada akhirnya, Irene lebih memilih Vino dibanding dirinya ..
Hampir setiap hari Rio tidak bisa berpikir jernih. Nilai-nilainya langsung anjlok semua. Ayahnya, Theo Samahita, langsung berkoar-koar. Marah besar. Karena Rio anak laki-laki satu-satunya, paling disayang, paling dimanja, dan paling dibanggakan. Bahkan sangkin terlalu sayangnya sama Rio, kakak Rio, Keara Samahita, sampai suka iri hati dengan adiknya sendiri.
"Pokoknya kalau nilai kamu masih belum naik juga, ayah tutup semua rekening kamu!" bentak Theo kesal.
Sementara Rio, hanya diam sambil menunduk. Takut, tak punya nyali untuk menatap kedua mata ayahnya.
Esok harinya, Rio memutuskan untuk bermain basket dengan teman-temannya. Kalau pikirannya sedang jenuh, Rio memang lebih suka olahraga. Begitu tiba di lapangan basket, bahkan dari kejauhan, Vino sudah senyum saat melihat dirinya datang.
Senyum di wajah Vino langsung luntur begitu melihat Rio yang nampak begitu kusut. "Sedang ada masalah?" tanya Vino penasaran.
Bahkan tanpa harus berkata pun, Vino sudah tahu jika sahabatnya itu sedang ada masalah. Maklum, dari dulu Vino dan Rio memang hampir selalu bersama. Seperti perangko dan tempat surat.
Rio menggeleng. "Tidak ada. Ayo tanding," bohong Rio.
Rio tidak mungkin jujur. Apalagi kejujurannya itu menyangkut tentang Irene. Kekasih sahabatnya sendiri. Setelah tanding basketnya selesai, seperti biasa, Rio tidak langsung kembali ke rumahnya. Rio selalu mampir dan nongkrong terlebih dulu di kantin sekolah. Memesan satu gelas es teh manis yang terkadang gulanya terasa kemanisan. Berbanding tebalik dengan nasib percintaanya yang terasa begitu pahit.
Naas, dari kantin, lagi-lagi Rio harus melihat Vino dan Irene yang sedang berjalan bersama. Nampaknya keduanya mau pulang bersama. Oh, betapa sialnya Rio. Tanpa basa-basi, Rio langsung meneguk habis es teh manisnya, meninggalkan uang dua ribu di atas meja kantin, dan buru-buru meninggalkan kantin sekolahnya.
Sementara Vino dan Irene, malah sedang asik merasakan yang namanya indahnya cinta pertama. Vino merangkul pundak sempit Irene. "Kamu yakin tidak mau aku antar pulang?" tanya Vino hangat.
Irene menggeleng dan tersenyum, "Tidak usah. Aku sama dijemput bapak supir hari ini. Kamu balik duluan saja."
Setelahnya, Vino mendaratkan ciumannya di kening dan bibir Irene. Pipi Irene langsung memerah karenanya. Perasaan malu dan sebuah perasaan aneh, yang entah apa namanya itu, langsung menyelimuti dirinya. Vino mengelus pipi mulus Irene, "Aku mau temani kamu di sini sampai kamu dijemput."
Irene hanya tersenyum manis.
Setelahnya, keduanya hanya duduk samping-sampingan di halte sekolah sampai bapak supir yang menjemput Irene datang. Sesekali Vino mengelus pundak Irene. Memeluk tubuh mungil gadis itu sambil sesekali mencium pucuk kepalanya dan menyisir rambutnya yang sehalus kain sutra itu dengan jari-jari tangannya.
Kala itu, baik Vino, Irene maupun Rio masih naif. Masih polos. Begitu innocent. Ketiganya belum pernah merasakan apa yang dinamakan dengan berciinta. Masih sekadar bergandengan tangan atau berpelukan. Atau paling jauh, hanya sekadar mencium kening dan bibir saja. Ya, meskipun jauh dalam hati ketiganya, terkadang ada rasa penasaran dan ingin tahu bagaimana rasanya 'hal terlarang' itu.
"Kok tumben kamu dijemput sama supir?" tanya Vino sambil menyisir lembut rambut Irene dengan jari-jari tangannya.
Irene tersenyum, "Pagi ini Om Theo datang ke rumah. Aku kurang tahu ada urusan apa, tapi kata ayah, katanya hanya datang berkunjung saja. Jadi ayah minta bapak supir untuk jemput aku lebih awal. Mungkin supaya aku bisa ngobrol juga sama Om Theo."
Vino mengerutkan dahinya. "Om Theo? Theo Samahita?" tanya Vino penasaran.
Irene menatap mata Vino kebingungan, "Kok kamu tahu?"
Vino tersenyum getir. "Cuman asal menebak saja," bohong Vino. Oh, mana mungkin Vino tak tahu nama orangtua sahabatnya sendiri? Apalagi saat masih duduk di sekolah dasar dulu, Vino dan Rio suka saling mengejek pakai nama orangtua masing-masing.
Tak lama setelahnya, bunyi kalkson mobil menyudahi kemesraan Vino dan Irene. "Aku pulang dulu," pamit Irene.
Tepat sebelum Irene masuk ke dalam mobilnya, lagi-lagi Vino mendaratkan ciuman manisnya di dahi dan bibir Irene. Layaknya candu, Vino seolah-olah tak akan pernah puas menciumi wajah cantik kekasih hatinya itu.
Vino mengelus pipi Irene, "Hati-hati di jalan."
Irene hanya tersenyum dan mengangguk.
*****
Sesampainya di rumah, Irene langsung disambut oleh senyum manis Theo Samahita dan kedua orangtuanya. "Sore," sapa Irene ramah.
"Kok pulangnya sore? Ada les tambahan lagi?" tanya ayah Irene penasaran.
Irene langsung kebingungan, tak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin kan Irene mengaku pulang sore karena harus menunggu kekasih hatinya selesai tanding basket?
Irene langsung gelagapan. "Oh, tadi .. aku ke perpustakaan sebentar sama teman," bohong Irene.
Theo tersenyum ramah. "Kalau begitu, lain kali kamu pulang bareng saja sama Rio. Kebetulan dia juga suka pulang sore karena harus tanding basket," sarannya.
Irene langsung mengernyitkan dahi mulusnya, "Rio? Rio Samahita?"
Senyum Theo melebar, "Iya. Dia anak saya."
Irene hanya terdiam setelahnya. Jadi selama ini Rio putra kandung Theo Samahita? Rekan kerja sekaligus partner kerja setia ayahnya itu? 'Oh, pantas saja tadi Vino menyebut nama Theo Samahita. Ternyata memang ayahnya Rio,' batin Irene.
*****
Beberapa minggu setelahnya, Theo semakin sering berkunjung ke rumah Irene. Bahkan Irene sampai jadi bosan dan kesal sendiri. Mungkin Sebastian, adik kandung Irene, dan ibunya juga merasakan hal yang sama. Tapi sayang seribu sayang, ketiganya sama sekali tidak bisa berkata apa-apa. Bagaimana tidak? Theo Samahita sepertinya rekan kerja ayah Irene yang posisinya begitu penting. Dan lagi, kalau mengusir, rasa-rasanya terkesan begitu tidak sopan.
Sampai pada akhirnya, kini tidak hanya Theo yang datang berkunjung. Rio pun ikut berkunjung, mengekor di belakang ayahnya. Bahkan sekarang tanpa disadari, akhirnya Rio dan Irene hampir setiap hari pulang bersama. Apalagi kalau ada acara sekolah dan les tambahan.
Lambat laun, hal ini akhirnya diketahui Vino. Setiap kali melihat kekasih hatinya itu harus pulang satu mobil dengan sahabatnya sendiri, hati Vino langsung terasa teriris. Dadanya terasa panas. Bukan hanya karena cemburu, tapi juga karena malu. Vino, yang hanya membawa motor, apakah akhirnya akan kalah dengan Rio, yang ke mana-mana selalu naik turun mobil?
Tak bisa memendam perasaannya begitu lama, Vino akhirnya mengajak Irene bicara empat mata. Vino paling tidak suka memendam perasaannya.
Vino menatap Irene kesal. "Sejak kapan kamu dekat sama Rio?" tanyanya blak-blakan.
Irene langsung tertegun, "Kami tidak dekat, Vino. Hanya sering pulang bersama saja."
Vino tersenyum kecut, "Oh, jadi sekarang kamu sudah tinggal satu rumah sama Rio?"
Irene tambah tertegun. Dia begitu tak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari bibir Vino. "Kenapa kamu bicara begitu, Vino? Aku sering pulang sama Rio karena ayah kami partner kerja. Itu saja. Dan lagi, meskipun mereka sering berkunjung ke rumah, mereka lebih banyak bicara sama ayah, bukan sama aku," jelas Irene.
Hati Vino tambah sesak seketika. "Oh, bahkan sudah sering berkunjung ke rumah juga rupanya? Tidak cuman sekadar antar jemput saja?" kata Vino kesal.
Irene mulai merasa kesal, "Kamu kenapa sih?"
Vino menatap tajam Irene, "Aku tidak suka lihat kamu dekat sama Rio."
Irene mengerutkan dahinya, "Apa hak kamu melarang aku berteman sama Rio? Bukankah dia sahabat kamu juga?"
Vino tersenyum miris, "Iya, dia memang sahabat aku." Vino terdiam sejenak sebelum kembali bicara, raut wajahnya berubah dingin, "Kamu benar. Aku tidak punya hak untuk melarang kamu."
Setelah berkata demikian, Vino langsung pergi meninggalkan Irene sendirian.
Dari sinilah awal permasalahan dimulai.
Hubungan Irene dan Vino mulai retak setelahnya. Keduanya mulai menjauh. Sikap Vino berubah semakin dingin, apalagi setiap kali dirinya melihat Rio dan Irene pulang bersama. Terkadang, Vino sendiri merasa heran. Mengapa Irene tidak mencoba menolak saja? Toh mungkin kalau Irene menolak, ayahnya akan memperbolehkannya pulang lagi bersama dengan Vino.
Tapi kalau dipikir-pikir kembali, apa hak Vino melarang Irene? Toh dia hanya kekasih hatinya saja. Belum jadi suaminya. Irene masih bisa direbut orang.
Sementara itu, di lain pihak, Rio malah senang bukan main. Tidak hanya karena melihat hubungan Vino dan Irene yang mulai merenggang, tapi juga karena dirinya sekarang bisa lebih dekat dengan Irene. Menghabiskan waktu bersama. Pulang bersama, di dalam mobil yang sama.
Ya, meskipun jauh dalam lubuk hatinya, Rio tetap merasa iba dengan keduanya.