Cahaya matahari pagi yang terasa begitu hangat tembus melalui celah jendela kamar hotel. Hangatnya menyinari wajah rupawan Rio, membuatnya terbangun dari tidur indahnya. Begitu membuka kedua matanya, kepala Rio masih terasa sedikit sakit, efek alkohol yang diminumnya begitu banyak tadi malam.
Begitu bangun, Rio mendapati Nina masih tertidur di sampingnya. 'Perempuan ini sangat cantik, bahkan tanpa riasan wajah sedikitpun', batin Rio. Persis seperti kemarin malam, lagi-lagi Rio tak berhenti menatapi wajah Nina. Setiap kali menatap wajah Nina, entah mengapa Rio merasa seolah-olah seperti tertarik ke dalam pusaran arus yang begitu deras.
Tak lama setelahnya, Nina akhirnya terbangun dari tidur indahnya. Betapa kaget dan tertegunnya Nina begitu dirinya bangun, wajah yang pertama kali dilihatnya adalah wajah tampan Rio. Pipi Nina langsung merona merah seketika, merasa kagum sekaligus malu di saat yang bersamaan. Oh, sungguh, bagaimana bisa ada laki-laki setampan dan semenarik ini menatapnya kala dirinya bangun di pagi hari?
Nina langsung bangun dan duduk di atas ranjangnya. "Pagi," sapa Nina kikuk.
Tanpa sadar, sebuah senyuman langsung menghiasi wajah tampan Rio. Rio Samahita memang paling suka perempuan pemalu. Setelahnya, Rio menangkupkan wajah Nina dan menatap kedua matanya dengan intens, membuat pipi Nina semakin merona merah karenanya. Tanpa berkata apapun, Rio langsung menciumi bibir Nina. Tak ada penolakan sama sekali dari Nina, malah nampaknya Nina menyukainya.
Entah karena efek alkohol yang masih tersisa sedikit di kepalanya, atau karena hal lain, yang pasti, setiap kali melihat wajah Nina, terutama bibir halusnya yang terlihat sedikit kemerah-merahan itu, yang Rio inginkan hanyalah menciumnya.
Rio begitu menginginkannya. Begitu ingin memilikinya.
Ciuman bibir Rio berubah semakin liar. Kini tidak hanya bibir, tapi leher dan gundukan ranum Nina juga menjadi sasaran ciuman bibir Rio yang hangat. Setelahnya, Rio membaringkan Nina kembali di kasur, menindih tubuh mungil Nina dengan lembut lalu menciumi seluruh bagian wajah Nina. Nina langsung mengerang tak nyaman begitu merasakan sesuatu yang besar dan mengeras milik Rio menyentuh miliknya di bawah sana.
"Ngghh ..," erang Nina.
Masih teringat dengan percintaan panasnya tadi malam, dengan sigap Nina langsung memegang dan meremas milik Rio, membuatnya mendesah dan menutup kedua matanya. Tanpa sadar sebuah seringai mulai terbentuk di wajah Nina, ada rasa puas tersendiri saat melihat Rio mendesah seperti itu. Setelahnya, tangan Rio mulai bergerak nakal, menyentuh dan meremas kedua gundukan ranum Nina yang penuh dengan tanda kebiruan hasil percintaan panas keduanya kemarin. Semakin keras remasan tangan Rio di gunung kembar Nina, semakin keras pula remasan tangan Nina di alat vital Rio yang sudah sangat menegang itu.
"Aku boleh melakukannya?" pinta Rio.
Nina hanya mengangguk. Bibirnya seolah-olah sudah terkunci oleh rasa nikmat dan gairah yang kian menjalari tubuhnya.
Tanpa menunggu lama, Rio langsung menelusupkan miliknya ke dalam milik Nina. Keduanya langsung mendesah dan mengerang karenanya.
"Ahh!" desah Nina kencang.
Padahal waktu sudah menunjukan pukul delapan pagi, biasanya pengunjung hotel sudah bangun dari tidur lelapnya. Tapi toh Rio dan Nina sama sekali tak peduli. Kalau ada yang mendengar pun, biarkan saja mereka mendengar.
Rio mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo cepat, membenamkan miliknya semakin jauh di dalam milik Nina. Jika tadi malam Nina yang berada di atas Rio, pagi ini justru Rio yang memegang kendali. Rio yang menindih tubuh Nina. Dengan bebasnya Rio memasukkan miliknya ke dalam milik Nina. 'Mengoyak' tubuhnya, membawanya terbang ke dalam nikmatnya lautan gairah.
Nina mencakar punggung mulus Rio setiap kali milik Rio menghantam dinding-dinding lipatan sempitnya. Rasanya sungguh tiada tara. Hanya desahan yang melukiskan betapa nikmatnya rasa itu. "Ahh! Ahh!" desah Nina kencang.
Setelah cukup lama keduanya berbagi desahan, Rio akhirnya mencapai puncak kenikmatannya. Mengeluarkan cairan cintanya yang begitu banyak itu di dalam rahim Nina, diikuti dengan Nina yang mencapai puncak kenikmatannya setelahnya.
"Ahh .. Ahh!" desah Nina.
Setelahnya, Rio berbaring di samping Nina dengan napas yang masih terengah-engah. Setelah napasnya cukup stabil, Rio bangkit berdiri dari ranjangnya lalu beralih mengambil pakaiannya yang tercecer tak beraturan di atas lantai dan mulai mengenakannya kembali.
Rio kembali menghampiri Nina. "Kamu mau makan apa?" tanya Rio.
Nina begitu bingung harus jawab apa. "Terserah kamu," jawab Nina seadanya.
Rio tersenyum geli, "Kok terserah saya?"
"Saya .. saya mau mandi dulu," kata Nina kikuk. Oh, Nina masih bingung mau berkata apa.
Setelahnya, Nina langsung bangkit dari kasurnya dan berjalan cepat menuju kamar mandi, tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Kedua mata Rio tak pernah lepas dari Nina. Bahkan jika dilihat dari belakang pun, Nina tampak sangat menarik.
Mungkin Rio memang sudah jatuh hati dengan Nina.
Begitu selesai mandi, Rio dan Nina langsung check out hotel dan pergi menuju suatu restoran terdekat. Hendak mengisi perut yang mulai keroncongan. Kali ini Rio yang menyetir mobilnya. Selama dalam perjalanan, keduanya minim bicara. Nina hanya terdiam sambil menatapi jalanan beraspal yang tembus melalui kaca jendela mobil, sementara Rio hanya fokus menyetir mobilnya. Tapi hal itu ternyata tidak bertahan lama.
"Terima kasih sudah bantu saya kemarin," kata Rio.
Nina tersenyum, "Pakai kata aku aja." Nina lanjut bicara, "Hati-hati kalau mau mabuk sendirian, sekarang banyak orang jahat."
Rio tersenyum lebar. "Kalau kamu, orang jahat atau orang baik?" canda Rio.
Nina tersenyum geli, "Kalau aku orang jahat, mungkin mobil kamu sudah raib aku jual kemarin."
Setelahnya, keduanya hanya senyum-senyum sendiri. Ini baru permulaan. Dan akhirnya, tanpa Rio sadari, ternyata masih ada perempuan lain yang mampu membuatnya tersenyum selain ibunya dan Irene, perempuan yang sudah menorehkan luka di hatinya ..
Setelah selesai makan siang bersama, Rio memutuskan mengantar Nina pulang ke rumahnya. Bahkan tak hanya itu saja, keduanya juga bertukar nomor telepon. "Kamu kerja setiap hari?" tanya Rio penasaran.
Nina mengangguk, "Iya. Aku kerja shift dari jam tujuh sampai jam sebelas malam."
Sebelum Nina beranjak turun dari mobilnya, Rio mencium kening dan bibir Nina sekilas. "Hati-hati," kata Rio.
Sementara Nina, sama sekali tak menjawab. Nina merasa begitu tertegun, kedua matanya langsung membulat. Nina merasa begitu kaget saat bibir Rio lagi-lagi mendarat di kening dan bibirnya. Sikap Nina yang terkesan begitu malu-malu malah membuat Rio tersenyum. Entah mengapa, ada kesenangan batin sendiri setiap kali Rio melihat kedua pipi Nina memerah karena malu.
*****
Di lain tempat, Theo Samahita, ayah Rio, malah kewalahan dan khawatir setengah mati. Bagaimana tidak? Dari semalam Theo terus menerus menelepon putra satu-satunya itu, tapi naas, tak kunjung dijawab sama sekali.
Pagi itu Theo berkunjung kembali ke rumah Irene. Karena yang Theo tahu terakhir kali putra kesayangannya itu berada di situ. "Om tidak coba menghubungi temannya Rio? Siapa tahu Rio nginap di rumah temannya," kata Irene yang mulai terlihat khawatir dengan kondisi laki-laki paruh baya di hadapannya itu.
Theo menatap Irene khawatir, "Coba kamu yang telepon. Siapa tahu diangkat."
Setelahnya, Irene langsung beranjak menelepon Rio. Dan benar apa yang dikatakan Theo, putranya itu langsung menjawab panggilan masuknya tak lama setelahnya.
"Kamu di mana? Ayah kamu nyariin kamu," tanya Irene.
Rio menghela napas sejenak, "Aku ke situ sebentar lagi."
Rio sampai di rumah Irene tepat setengah jam kemudian. Theo langsung menghampiri putra kesayangan dan satu-satunya itu dengan raut wajah begitu khawatir. "Kamu di mana semalaman? Tidak kasih kabar, tau-tau sudah nggak ada," tanya Theo kesal.
"Aku nginap di rumah teman," bohong Rio.
Sementara Irene, hanya terdiam sambil menatapi Rio. Irene tahu betul kalau Rio sedang berbohong. Apalagi samar-samar Irene melihat di leher mulus Rio ada tanda kebiruan .. sebuah kiss mark.
Theo menepuk pundak Rio perlahan. "Ayah tinggal dulu. Jangan lupa ke kantor nanti sore," kata Theo.
Rio hanya mengangguk. Oh, lagi-lagi Rio ditinggal berduaan saja dengan Irene. Entah apakah ayahnya melakukan hal itu dengan sengaja atau tidak.
"Di rumah masih tidak ada orang?" tanya Rio bingung.
Irene mengangguk, "Sebastian sudah pulang tadi pagi, tapi berangkat ke sekolah lagi. Mungkin sore nanti baru pulang. Ayah pulang sore juga." Dan Vino, sudah balik dari subuh tadi tentunya.
Setelahnya, Rio tak berkata apapun lagi. Kali ini malah gantian Irene yang penasaran. "Kamu ke mana semalam?" tanya Irene penasaran.
Duar. Bagaikan petir yang menyambar di siang bolong, pertanyaan itu langsung menghantam kepala Rio. "Aku .. pergi minum dengan temanku," bohong Rio.
Irene mengerutkan dahi mulusnya, "Teman SMA?"
Rio menggeleng, "Teman kuliah."
"Oh ..," jawab Irene dingin.
Sesungguhnya, ada rasa perih di hati Rio saat Irene hanya berkata 'Oh' saja. Rio tahu betul Irene paling tidak bisa dibohongi, dan nampaknya Irene tahu betul kalau Rio tidak hanya sekadar minum-minum saja semalam. Sikap Irene yang begitu acuh tak acuh dan terkesan tak peduli itulah, yang membuat luka di hati Rio tertoreh semakin dalam.
Seolah-olah jika Rio mati pun, nampaknya Irene tidak apa-apa. Tidak akan merasa sedih sama sekali mungkin. Toh Irene sudah punya Vino.
Irene kembali bicara, "Kamu sudah makan?"
Rio hanya mengangguk.
Irene menghela napas sejenak, "Aku mau buat tugas dulu. Kalau kamu butuh sesuatu, aku ada di kamar." Tepat setelah berkata demikian, Irene langsung pergi menuju kamarnya, meninggalkan Rio sendirian.
Padahal tadi pagi Rio baru saja merasakan nikmatnya surga dunia. Sebuah rasa nikmat dan candu yang dia dapatkan dari seorang Nina .. Tapi mengapa begitu dirinya kembali ke rumah Irene, yang didapatkan malah rasa sakit dan pedih hati yang amat dalam?