Chapter 5 - Cinta Satu Malam

2140 Words
Rio memacu mobilnya dengan kecepatan lamban. Angin berhirup dengan kencang. Hujan masih turun tiada henti-hentinya. Jalanan pun sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu-lalang. Lebih banyak yang meneduh, menghindari derasanya guyuran air hujan. Sore ini sebenarnya Rio sudah kembali. Jalanan memang sepi, tapi licin karena terguyur air hujan. Makanya Rio kembali lebih lamban dari yang seharusnya. Padahal jarak dari rumah Irene ke restoran buburnya hanya memakan waktu tiga puluh menit saja. Oh, dan alangkah sakitnya hati Rio saat dirinya kembali ke rumah. Bukannya pertanyaan 'Kamu baik-baik saja?' yang Rio dengar dari mulut Irene. Melainkan suara desahan. Sebuah erangan nikmat yang keluar dari bibir dua manusia yang sedang menikmati indahnya surga dunia. Rio Samahita sama sekali tidak menyangka Vino akan datang berkunjung ke rumah Irene. Tapi andaikata Vino tak datang pun, Rio juga sama sekali tidak berharap Irene mau berciinta dengan dirinya. Karena toh mungkin hal itu tidak akan pernah menjadi kenyataan. Hanya sampai sebatas angan-angan liarnya saja. Meskipun di luar hujan, tapi Rio tidak tuli. Pendengarannya masih bagus. Usianya masih sangat muda. Rio masih bisa mendengar dengan jelas, apa yang sedang terjadi di kamar Irene. Dan Rio tahu betul siapa satu-satunya laki-laki di dunia ini yang bisa membuat Irene mendesah sedemikian rupa .. Setelahnya, Rio mencoba mengintip dari celah lubang kunci kamar Irene. Hanya sekadar memastikan bahwa itu benar-benar Vino. Dan ternyata hal itu malah membuat hati Rio tambah sakit. Bagaimana tidak? Kau harus melihat dengan mata kepalamu sendiri orang yang begitu kau cintai, sudah begitu lama kau memendam rasa dengannya, berciinta dengan orang lain .. yang mana orang lain itu adalah mantan sahabatmu sendiri. Rio melihat dengan jelas bagaimana Vino menindih tubuh mungil Irene. Menciumi leher dan kedua gundukan ranumnya. Meninggalkan banyak sekali tanda kebiruan di tubuh Irene .. Rasa-rasanya Rio sudah tidak tahan lagi. Rio harus benar-benar angkat kaki dari rumah Irene secepatnya. Toh ada Vino di sana. Setelah melihat 'pertunjukan panas' yang seharusnya tidak dilihatnya itu, akhirnya Rio memutuskan untuk kabur. Dengan cekatan, Rio mengambil secarik sticky notes warna kuning lalu mulai menulis dengan tangan gemetar. Gemetar, bukan hanya karena dingin. Meskipun di luar memang masih hujan dan udara jadi dingin, tapi yang paling membuat tubuh Rio bergetar adalah karena rasa kesal luar biasa. Bagaimana tidak? Rio baru saja melihat perempuan yang dicintainya sejak lama itu berbagi nikmat dengan orang lain. "Ayah tidak balik hari ini karena ada meeting mendadak. Sebastian nginap di rumah temannya dan balik besok pagi. Katanya ada acara dekor kelas untuk classmeeting, jadi kamu tidak usah khawatir. Aku sudah belikan kamu makanan. Jangan lupa makan. Aku mau pulang dulu. Hati-hati," demikian isi notes yang ditulis Rio. Tanpa menunggu lama, Rio langsung meninggalkan tiga kotak bubur ayam beserta sticky notes itu di atas meja makan. Rio sudah tak peduli siapa yang mau memakan satu kotak bubur ayamnya lagi. Satu-satunya hal yang Rio inginkan sekarang hanya kabur secepatnya dari rumah sialan itu. Rio terus memacu mobinya, kali ini dengan kecepatan nyaris penuh. Padahal cuaca sedang tidak baik untuk kebut-kebutan, jalanan licin. Kecuali memang ada niatan ingin segera menjemput ajal. Rio benar-benar sudah tidak peduli lagi jika dirinya harus mati saat ini juga. Toh buat apa Rio hidup, jika hanya berkecukupan harta benda tetapi tidak dengan cinta dan kasih sayang? Malam ini Rio tak kembali ke rumahnya. Rio sangat butuh refreshing, kabur sejenak dari masalah yang kian membelenggunya. Malam ini Rio pergi ke sebuah club malam yang buka dari jam tujuh hingga jam tiga pagi. Satu-satunya hal yang Rio inginkan saat itu hanya mabuk. Sangat mabuk, hingga akhirnya dirinya melupakan sejenak semua permasalahannya .. Sesampainya di club, Rio memesan satu botol anggur merah. Kadar alkoholnya lumayan tinggi, dan Rio menenggak semuanya sendirian. Padahal setelah itu Rio harus menyetir mobilnya sendirian kalau mau sampai rumah. Entah karena takdir atau bukan, di club malam itu, Rio tidak hanya menemukan cara untuk melampiaskan rasa sakit hatinya. Rio juga bertemu dengan seorang bartender, yang mana dari postur tubuh, panjang rambut, hingga wajahnya, mirip sekali dengan Irene. Entah apakah karena Rio sudah terlalu mabuk, ataukah memang wajah bartender itu mirip dengan wajah pujaan hatinya. Dengan tubuh yang mulai sempoyongan, Rio berjalan perlahan mendekati bartender tersebut. Tanpa ragu-ragu, Rio langsung menyentuh wajah bartender tersebut dengan jari-jarinya. Tadinya sekumpulan bapak-bapak yang sedang mabuk dan berdiri tak jauh dari tempat Rio dan bartender itu berdiri, ingin menghajar wajah tampan Rio segera. Takut kalau-kalau Rio melakukan hal tak senonoh. Tapi hal itu langsung ditepis oleh Nina, seorang bartender yang wajah cantiknya begitu menarik perhatian Rio itu. Namanya Nina Deolinda. Pekerjaannya sebagai bartender, tak lebih. Nina bekerja dari jam tujuh hingga sebelas malam. Kerja shift bersama temannya. Setelahnya, Rio tidak henti-hentinya memandangi wajah cantik Nina. Hati Rio langsung merasa kagum, tetapi juga merasa sedih di saat yang bersamaan, kala dirinya menemukan seorang perempuan yang wajahnya mirip dengan Irene .. "Kamu sendirian?" tanya Nina bingung. Rio hanya mengangguk. Masih sibuk memandangi wajah Nina dan menyentuh pipinya yang terasa begitu halus. Rio masih tak percaya dengan sosok perempuan cantik yang ada di hadapannya saat ini. "Mau saya antar keluar? Bahaya kalau kamu sampai mabuk," kata Nina yang mulai khawatir. Dari awal, Nina memang sudah memperhatikan Rio. Penampilannya rapih, jam tangan rolex warna hitam yang melingkari lengan kirinya terlihat begitu mahal. Ponselnya pun keluaran terbaru. 'Rio pasti orang berada, dan bisa-bisa malah kecopetan,' begitu pikir Nina. Rio hanya mengangguk dengan sorot kedua matanya yang tak pernah lepas dari wajah cantik Nina. Perlahan, Nina membopong Rio yang sudah sempoyongan itu keluar club. Untungnya, di luar hujan sudah mulai reda. "Kamu ke sini naik apa?" tanya Nina. Lagi-lagi Rio tidak menjawab, hanya menunjuk ke arah parkiran tempat mobil hitamnya terparkir rapih. Setelahnya, Nina membawa Rio yang sudah sempoyongan itu ke tempat di mana mobil Rio diparkir. Tanpa pikir panjang, Rio langsung menyerahkan kunci mobilnya pada Nina. Padahal Nina orang asing, dan kalau Nina jahat, bisa saja Nina membawa kabur mobil dan segala harta benda Rio. "Kamu masuk dulu," kata Nina. Setelahnya, Rio duduk di kursi penumpang dengan napas yang terdengar begitu kasar. Rio sudah mabuk. Mabuk sekali. Sesekali Rio menatap Nina dengan tatapannya yang terlihat nyarus kosong. Sementara Nina, malah merasa kasihan dengan Rio. Sorot matanya menunjukkan seperti orang yang punya beban hidup yang berat sekali. "Rumah kamu di mana? Biar saya antar pulang," tawar Nina. Nina tahu Rio sudah tidak mampu menyetir mobilnya. Jangankan mau menyetir, untuk berjalan saja Rio sudah sempoyongan dan nyaris jatuh terus. Seperti orang yang baru belajar jalan. "Saya nggak mau pulang ..," lirih Rio. Awalnya Nina merasa begitu kebingungan, tapi untungnya sebuah ide cemerlang akhirnya muncul dalam benaknya. Nina menghela napas sejenak, "Ya sudah, saya antar kamu ke hotel terdekat saja." Akhirnya Nina yang menyetir mobil. Karena Rio tak kunjung menjawab di mana letak alamat rumahnya, Nina jadi bingung sendiri mau membawa Rio ke mana. Akhirnya Nina membawa Rio ke sebuah hotel terdekat. Dan lagi, Rio sudah terlanjur mabuk. Bahaya kalau sampai harus menyetir sendirian. Selama perjalanan, lagi-lagi Rio tak henti-hentinya menatap Nina. Oh, bahkan jika dilihat dari samping pun, wajahnya begitu mengingatkan Rio akan Irene. Bibirnya, hidungnya, matanya .. Hanya saja rambut Nina lebih pendek sedikit dibandingkan dengan rambut Irene. Tetapi dari postur tubuh hingga wajahnya, keduanya benar-benar mirip. Sesampainya di hotel, Rio masih tak bisa berdiri. Lagi-lagi Nina harus membantu Rio berjalan dari check in hotel hingga sampai ke kamar hotel. Rio begitu nurut. Tak melawan sama sekali. Rio memberikan Nina kartu tanda pengenalnya, uangnya, nomor teleponnya. Semua digunakan untuk keperluan bayar hotel. Karena siapa lagi yang mau membayar kalau bukan Rio? Toh sehabis ini Nina akan pergi meninggalkan Rio sendirian. Sesampainya di kamar hotel, Nina langsung membaringkan tubuh Rio di atas sofa. Nina sadar betul daritadi mata Rio tak pernah lepas darinya, entah apa yang ada dalam pikiran lelaki tampan satu itu. Tapi anehnya, Nina sama sekali tidak merasa risih. Padahal Nina tipe perempuan yang paling tak nyaman kalau terus-terusan ditatap laki-laki. Tapi entah mengapa, tidak dengan Rio. Rio terlihat berbeda. "Saya balik dulu," kata Nina. Rio memegang lengan Nina. "Tunggu," cegat Rio. Setelahnya, Nina duduk samping-sampingan dengan Rio. Masih sama seperti tadi, Rio tetap minim bicara. Tapi kali ini, kedua tangan Rio mulai bergerak menangkupkan wajah Nina. Rio hanya mau memastikan, bahwa perempuan yang ada di hadapannya ini nyata. Bukan hantu. Bukan khayalannya semata. Dan tanpa sadar, Rio mulai mencium bibir Nina. Awalnya, Nina tidak membalas ciuman Rio. Nina masih begitu tertegun dan masih tak menyangka laki-laki tampan di hadapannya ini berbuat demikian. Setelahnya, makin lama ciuman bibir Rio berubah semakin ganas. Efek alkohol dan gairah yang dipendamnya selama ini. Sudah lama sekali Rio ingin mencium perempuan. Ingin berciinta dengan perempuan. Ingin merasakan bagaimana rasanya perempuan lain mendesahkan namanya saat berbagi desahan. Dan pada akhirnya Nina terbuai juga. Nina mulai hanyut dalam ciuman Rio. Kedua tangan Nina kini beralih, memeluk hangat tubuh Rio sembari sesekali meremas punggungnya. "Mmphh ..," desah Nina. Setelahnya, Rio melepas ciumannya. Dengan napas terengah-engah, Rio kembali menatap Nina. Kali ini tatapannya tidak kosong lagi, melainkan sudah penuh dengan gairah dan keinginan. Sebuah keinginan untuk memiliki. Dengan cekatan, Rio langsung membopong tubuh mungil Nina lalu membaringkannya ke atas ranjang. Dengan tidak sabaran, Rio mulai menanggalkan seluruh pakaiannya satu per satu lalu membuangnya dengan kasar ke lantai. Setelah tubuhnya benar-benar tak tertutup sehelai benang pun, secara perlahan Rio beralih kembali mendekati Nina. Rio menatap kedua mata Nina dalam-dalam, sebelum akhirnya beralih menangkupkan wajah mungil Nina dan kembali menciumi bibirnya yang kemerahan itu. Setelahnya, tangan Rio mulai bergerak turun, membuka kancing kemeja kerja Nina satu per satu. Sebuah desahan langsung lolos dari bibir Nina begitu kedua gundukan ranumnya dicium dengan lembut oleh Rio, "Ahh .." Dengan nafsu yang kian memuncak, Rio beralih menanggalkan semua pakaian Nina dengan kasar, hingga kini tak ada satupun kain yang menutupi tubuh indah perempuan yang ada di hadapannya ini. Keduanya tak banyak bicara. Sudah hanyut dan terbawa oleh gairah, serta desahan demi desahan yang terus mengisi kekosongan di kamar tersebut. Rio bergerak menciumi puncak gunung kembar milik Nina secara bergantian. Jari-jari tangannya mulai bergerak nakal, menuju milik Nina yang mulai basah. "Ahh ..," desah Nina. Tanpa menunggu lama, Rio langsung memasukkan dua jarinya sekaligus ke dalam milik Nina yang sudah basah. Memainkan jari-jarinya dengan tempo yang sedikit kasar, membawa Nina terbang jauh ke dalam lautan gairah yang belum pernah dirasakannya sebelumnya. Nina hanya mendesah kencang saat merasakan nikmat yang kian menjalari tubuhnya. "Ahh!" desah Nina. Nina langsung tertegun begitu merasakan milik Rio yang sudah menegang dan tegak sempurna. Selama ini Nina Deolinda hanya mendengar dari teman-temannya, bagaimana bentuk keperkasaan milik laki-laki itu. Bagaimana nikmatnya saat organ intim laki-laki itu memasuki mereka. Nina tak pernah merasakannya, karena dirinya hanya seorang bartender, bukan kupu-kupu malam. Dan malam ini, akhirnya Nina akan tahu bagaimana rasanya olahraga ranjang. Rio langsung mengerang nikmat saat Nina memegang dan meremas lembut alat vitalnya, “Oh, God …” Padahal niat Nina tadi hanya karena penasaran, bukan karena hal lain. Tapi hal itu nampaknya malah membuat Rio terbang ke awang-awang. Setelahnya, Rio kembali menciumi bibir dan leher Nina dengan kasar. Miliknya sudah sangat membatu dan sesak di bawah sana, sudah sangat ingin memanjakan dirinya ke dalam lubang hangat dan sempit di hadapannya. "May I?" pinta Rio. Tadinya Nina merasa ragu. Apakah dia akan berciinta dan merelakan dirinya untuk laki-laki asing di hadapannya ini? Tapi pada akhirnya dirinya tak bisa menolak. Kebutuhan biologisnya sudah tak bisa ditepis. Bahkan milik Nina sudah terasa begitu basah di bawah sana. Seluruh kepala Nina hanya dipenuhi oleh gairah. Akhirnya Nina mengangguk perlahan. Tanpa aba-aba, Rio mulai memasukkan miliknya ke dalam milik Nina, membuatnya mengerang dan mendesah kencang begitu merasakan sakit sekaligus nikmat luar biasa yang menjalari tubuhnya. Dengan posisi Nina duduk di atas pangkuan Rio, keduanya akhirnya mulai berciinta. "Move," erang Rio saat merasakan miliknya sudah berada seutuhnya di dalam Nina. Nina mulai bergerak setelahnya, membawa milik Rio terbenam semakin jauh dalam miliknya. Sungguh, rasanya tidak ada kata-kata yang mampu melukiskan apa yang dirasakan Nina saat ini. "Ahh! Ahh! Ahh!" desah Nina kencang. Rio hanya terdiam, menatapi Nina yang sedang sibuk bergerak di atasnya. Pipi mulusnya berubah kemerahan. Kedua gunungnya yang ranum itu ikut bergerak bebas, seirama dengan gerakan pinggulnya yang kian liar. Tanda kebiruan yang tak akan hilang dalam hitungan hari itu memenuhi tubuhnya. Nina terlihat begitu kacau .. namun juga sangat menggairahkan. Nina mendesah kencang sambil meremas kedua pundak bidang Rio dan meninggalkan sebuah bekas cakaran di sana, saat akhirnya sebuah puncak kenikmatan menjalari sekujur tubuhnya, "Ahh! God!" Tak lama setelahnya, Rio ikut mengeluarkan cairan cintanya di dalam rahim Nina. Nina langsung tumbang di samping tubuh Rio, yang sudah terlihat sangat lelah. Dengan tubuh yang masih  sempoyongan, Rio akhirnya bangkit berdiri dan beralih mematikan lampu kamar hotelnya. Setelahnya, Rio kembali membaringkan tubuhnya di samping Nina. Rio membelai lembut wajah cantik Nina, "Tinggal sama saya malam ini." Nina hanya tersenyum dan mengangguk. Akhirnya Rio dan Nina menghabiskan malamnya bersama. Terlelap bersama di atas ranjang yang menjadi saksi bisu panasnya percintaan keduanya. Terlelap. Termakan oleh alam mimpi masing-masing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD