Chapter 4 - Stay With Me Tonight

2165 Words
Namanya Rio Samahita. Badannya kurus, tinggi, tegap. Sama seperti Vino, rambutnya tebal dan berwarna hitam legam, segelap kayu eboni. Tapi jika dibandingkan dengan Vino, kulit Rio jauh lebih cerah dan bersih. Mungkin karena Rio lebih sering naik turun mobil. Berbeda dengan Vino, yang kemana-mana hampir selalu menggunakan motor. Batang hidungnya tinggi dan mancung. Garis rahangnya yang tirus itu terlihat begitu tajam, dengan dagu yang terlihat sedikit terbelah. Alisnya tebal, tatapan mata coklat gelapnya terlihat begitu tajam bagaikan elang. Terlihat cukup 'membunuh' dan mampu menghipnotis perempuan manapun untuk langsung bertekuk lutut dan berkata 'iya'. Tubuh Rio memang tidak terlalu berotot, tetapi terlihat begitu pas dan proporsional. Sudah lama Rio memendam perasaannya pada Irene. Tepatnya ketika mereka masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Saat itu Irene murid baru di sekolahnya. Baru masuk kelas satu SMA, usianya kala itu baru 16 tahun. Sementara Rio dan Vino, sati tingkat di atas Irene. Sebagai ketua OSIS kala itu, Rio langsung merasa kagum dengan Irene. Bukan hanya karena paras cantiknya, tetapi juga karena sikapnya yang cukup dewasa dan mandiri. Irene memang lahir dari keluarga serba berkecukupan, sama seperti Rio. Tapi hal itu tidak semata-mata membuatnya menjadi perempuan manja. Sementara Rio .. Mungkin hanya perempuan bodoh saja yang menolaknya. Secara fisik, Rio nyaris sempurna. Secara materi, tidak usah ditanya. Bahkan dari jauh hari sebelum dirinya dinyatakan lulus sebagai sarjana hukum, Rio sudah merencanakan ingin melanjutkan studinya di Belanda. Rio ingin menjadi pengacara, sama seperti ayahnya, Theo Samahita. Seorang pengacara terkenal. Ibunya pun sama, seorang advokat yang kantornya tidak pernah sepi pengunjung. Nampaknya uang tidak akan berhenti mengalir di kartu kredit dan kartu debit keluarga Samahita. Tapi sayangnya, hal itu tidak cukup kuat membuat Irene jatuh ke dalam pelukan Rio .. Tanpa terasa, waktu menunjukkan pukul empat lewat lima sore. Di luar sedang hujan deras. Irene, yang daritadi hanya berkutat dengan tugas kuliahnya, akhirnya menyerah juga. Perutnya terasa keroncongan sekali. Harus segera diisi, agar otaknya bisa berjalan lagi. Setelahnya, Irene memutuskan pergi ke dapur untuk membuat secangkir teh manis hangat. Minuman yang pas diminum kala hujan turun. Dan di sana Irene mendapati Rio, yang sedang duduk sendirian ditemani laptop dan beberapa berkas yang Irene tak tahu dan tidak mau tahu apa isinya. "Sebastian belum pulang?" tanya Irene bingung. "Belum," jawab Rio dengan pandangan yang tak pernah lepas dari laptopnya. Toh tapi Irene sama sekali tak peduli. Rio menutup laptopnya lalu beranjak meminum secangkir teh hangatnya. Rio menatapi Irene sejenak, yang sedang sibuk membuat secangkir teh untuk dirinya sendiri. Tatapan Rio terlihat begitu tulus .. Tetapi begitu penuh juga dengan gairah dan cinta. Tatapan itu seolah-olah berkata betapa inginnya Rio memeluk tubuh mungil Irene saat itu juga. Membawanya ke kasur, mencumbunya sedemikian rupa hingga Irene mendesahkan namanya .. "Rio? Kamu lapar?" tanya Irene tiba-tiba. Seketika, pertanyaan itu langsung memecah fantasi liar Rio, seolah-olah petir yang menyambar di siang bolong. Rio mengangguk kikuk, "Iya. Kamu mau makan apa? Biar aku yang belikan." Irene beralih menatap jendela kaca rumahnya sekilas sebelum akhirnya beralih menatap Rio lagi. "Tapi di luar sedang hujan. Nanti kamu sakit," kata Irene khawatir. Rio tersenyum hangat, "Nggak apa-apa. Aku bisa naik mobil." Tidak apa kalau Rio sakit. Toh selama ini memang dirinya sudah sakit. Bukan fisiknya, tapi batin dan perasaannya. Cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Irene terdiam sejenak sebelum kembali bicara, "Bubur ayam bagaimana? Sepertinya pas dimakan waktu hujan-hujan begini." Rio mengangguk lalu bangkit dari kursi tempat duduknya, "Baik. Aku belikan buat ayah sama Sebastian juga. Siapa tahu mereka pulang lebih awal." Setelah berkata demikian, Rio langsung angkat kaki dari rumah Irene. Bukan karena lapar, tapi Rio takut kalau harus lama-lama berduan dengan Irene saja, Rio akan melakukan sesuatu yang tak diinginkan. Karena jauh dalam lubuk hatinya, terkadang, Rio tak bisa mengontrol emosinya. Perasaannya. Hasratnya. Nafsunya. Ingin sekali rasanya Rio memeluk Irene. Sepuluh detik pun tak apa. Dua jam setelahnya, Rio tak kunjung kembali. Mungkin macet dan antriannya panjang. Kalau sedang hujan begini, rasa-rasanya terkadang restoran jadi ramai. Entah itu karena pengunjung yang memang benar-benar datang karena mau membeli atau datang sekadar hanya untuk berteduh saja. Tiba-tiba, sebuah suara ketukan pintu rumah mengagetkan Irene. Siapa juga yang hujan-hujan begini datang berkunjung ke rumahnya? Apalagi waktu sudah senja. Dengan jantung yang berdegup lebih kencang dan perasaan sedikit cemas, Irene akhirnya membuka pintu rumahnya. Jantungnya tambah berdebar-debar begitu melihat siapa yang sedang berdiri di depan rumahnya. Ya, Vino, Laki-laki yang dicintainya. Irene tersenyum, "Vino?" Vino membalas senyum Irene, "Aku boleh masuk?" Setelahnya, Irene langsung buru-buru menutup pintu rumahnya dan beranjak mengambilkan Vino sebuah handuk. Tubuh dan rambutnya terlihat begitu basah kuyup. "Kenapa kamu ke sini?" tanya Irene bingung. Vino menyeringai nakal, "Jadi aku tidak boleh berkunjung ke rumah kamu?" "Bukan begitu. Di luar kan sedang hujan. Kalau kamu sakit bagaimana?" kata Irene khawatir. Vino tersenyum hangat, "Aku nggak akan sakit kok." Irene terdiam sejenak memperhatikan wajah ganteng Vino. Sebuah senyum nampak tak pernah pudar dari wajahnya. "Ada berita penting? Sepertinya kamu lagi bahagia sekali," tanya Irene penasaran. Irene paham betul kalau ada senyum indah yang tak pernah luntur dari paras rupawan Vino, itu artinya pasti ada berita bahagia. Sama persis seperti saat pertama kali Vino menyatakan cintanya pada Irene dulu. Begitu Irene berkata 'iya', seharian Vino hanya senyum-senyum sendiri. Bahkan ibu kantin sampai panik dibuatnya. Takut, kalau-kalau ada hantu yang mungkin merasuki Vino. Vino beralih melingkarkan tangannya di pinggang ramping Irene, "Aku dapat kerjaan baru. Jadi illustrator, dan gajinya lumayan. Jadi aku bisa lanjut kuliah dan sering-sering ngajak kamu jalan." Irene beralih mengalungkan tangannya di leher Vino. "Bagus deh," katanya singkat. Vino menaikkan satu alisnya. "Cuman itu?" Irene menghela napas sejenak, "Aku khawatir .. Kamu basah kuyup begini, datang ke rumah aku. Kalau sampai Rio tahu bagaimana?" Begitu nama Rio terlontar dari bibir Irene, tanpa sadar, wajah Vino langsung berubah drastis. Senyumnya langsung luntur seketika. "Rio masih di sini? Kenapa tidak balik sih? Memangnya tidak punya rumah ya?" kata Vino kesal. Irene mencoba menenangkan Vino, "Kamu mandi dan ganti baju dulu sana. Nanti aku ambilkan baju punya Sebastian. Dia juga belum balik." Irene baru melepas lengan Vino, yang tadi masih melingkar di pinggang rampingnya, dan hendak meninggalkan Vino saat tetibaan Vino kembali memegang pergelangan tangannya. Mencegatnya untuk pergi. Vino menyeringai nakal, "Mau mandi bersama? Kamu pasti belum mandi juga kan?" Sementara Irene, tentu saja tak bisa menolak. Apalagi melihat Vino yang sudah basah kuyup seperti ini. Rambutnya yang basah. Otot-otot tubuhnya yang terlihat menerawang dari balik kaus tipisnya itu .. Ah ingin sekali rasanya Irene memeluk Vino sekarang juga. Irene mencium bibir Vino sekilas, "Aku ambil baju Sebastian dulu." Dan akhirnya, saat yang ditunggu akhirnya tiba juga. Entah kapan terakhir kali Vino dan Irene mandi bersama. Perlahan, Irene mulai menanggalkan bajunya satu per satu sambil membelakangi Vino. Meskipun sudah pernah mandi bersama, tapi terkadang Irene masih masih merasa malu. Vino hanya bisa tersenyum melihat kelakuan perempuan yang begitu dicintainya itu. Vino membalik tubuh Irene perlahan, membuat kedua gundukan ranumnya dan lekuk tubuhnya yang nyaris sempurna itu berada tepat di hadapan kedua matanya. "Kenapa balik badan, hm?" tanya Vino lembut. Pipi Irene langsung merona padam. "Aku malu .. Kapan ya terakhir kali kita mandi bersama?" jawab Irene malu-malu. Vino tersenyum lalu beralih mencium dahi mulus Irene sekilas, "Tidak perlu merasa malu." Setelahnya, Vino beranjak menyalakan shower nya. Kucuran air yang terasa begitu hangat langsung membasahi tubuh keduanya. Setelahnya, Irene beranjak mengambil shampoo favoritnya lalu mulai menggunakannya. Wangi semerbak bunga mawar dan mint yang segar langsung memenuhi kamar mandi tempat keduanya sedang mandi bersama seketika. "Jadi shampoo merek ini yang kamu sering gunakan?" tanya Vino penasaran. Irene mengangguk, "Iya. Kamu tidak suka wanginya ya?" Vino memeluk Irene dari belakang, "Suka kok. Wangi." Air hangat dari pancuran shower terus membasahi tubuh keduanya. Vino, yang tubuhnya jauh lebih tinggi dari Irene, dapat dengan mudah mencium pucuk kepala perempuan yang begitu dicintainya itu. "I love you so much, Irene ..," bisik Vino. Setelahnya, Irene membalik badannya. Tanpa aba-aba, Irene langsung mencium bibir Vino. Keduanya berpelukan erat, saling mencium dan b******u di bawah pancuran air shower yang hangat. Ciuman Vino yang tadinya terasa begitu lembut mulai berubah liar. Perlahan, bibir Vino mulai beranjak turun, menciumi leher dan kedua gundukan ranum milik Irene yang terasa begitu halus. Meninggalkan banyak tanda kebiruan di sana-sini. Bahkan tanda kebiruan hasil buatannya dari hasil kemarin malam masih ada dan terpampang jelas di sana dan belum sempat memudar. Irene mendesah seketika merasakan hangatnya bibir Vino yang mulai menyesapi puncak gunung kembarnya, "Ahh!" Setelahnya, Irene menjambak dengan lembut rambut tebal Vino. Saat hujan seperti ini, rasanya mendesah sekencang apapun tak akan ada yang mendengar. Tetibaan, Vino berhenti melakukan aksi nakalnya. Vino masih ingat betul, ada di mana dirinya saat ini. "Ayah sama ibu kamu nggak balik?" tanya Vino penasaran. Irene menggeleng, napasnya masih terlihat sedikit terengah-engah, "Ibu lagi ke luar negeri. Kalau ayah sepertinya lagi ada lembur." "Adik kamu?" tanya Vino lagi. Irene menggeleng, "Aku kurang tahu." "Kalau manusia satu itu?" tanya Vino kesal. Oh, bahkan sangkin kesalnya Vino sampai-sampai tak mau menyebut nama Rio. Irene menangkupkan wajah Vino lalu beralih berbisik tepat di depan telinganya, "Shhh .. Just kiss me .." Vino hanya menyeringai. Vino menerima itu sebagai sebuah tantangan. Setelahnya, Vino kembali mencium bibir dan gundukan ranum Irene bergantian. Membuat Irene tak henti-hentinya mendesahkan namanya. Setelahnya, Vino mematikan shower yang membasahi tubuh keduanya. Dengan cekatan, Vino menggendong tubuh mungil Irene lalu membaringkannya ke atas ranjang. Tak peduli meskipun tubuh keduanya masih basah. Padahal Irene punya banyak koleksi handuk. Perlahan, Vino kembali menciumi wajah cantik Irene. Ciumannya perlahan turun, hingga kini sampai ke paha mulus dan bagian paling intim milik Irene. Desahan Irene semakin kencang, namun tak terdengar karena tertutup oleh derasnya suara hujan, begitu Vino mencium lembut daerah lipatan dagingnya, "Ahh! Vino!" Vino menyeringai puas lalu mulai menelusupkan satu jarinya ke dalam milik Irene. Membuat desahannya semakin kencang seketika. Tak lama setelahnya, Irene memegang pergelangan tangan Vino lalu menghentikan aksinya. "Kenapa?" tanya Vino bingung. "Aku sudah tidak tahan," bisik Irene. Vino hanya menyeringai. Setelahnya, Vino meletakkan kaki mulus Irene di pinggangnya. Lalu mulai beranjak memasukkan miliknya yang sudah berdiri tegak itu ke dalam milik Irene yang sudah semakin basah. Keduanya langsung mendesah hebat di saat yang bersamaan saat akhirnya pusaran gairah itu memenuhi diri masing-masing. Mata keduanya langsung terpejam. Tak kuasa menikmati betapa indahnya surga dunia itu. Vino bergerak semakin kencang. Miliknya keluar masuk dengan membabi buta, terus menghantam milik Irene yang terasa basah dan sempit itu berkali-kali. Vino mendesah, tak kuasa menahan betapa nikmatnya kala milik Irene menjepit miliknya dengan begitu erat. Layaknya candu, baik Vino maupun Irene seolah-olah tak pernah bisa puas akan satu sama lain. "Ahh .. Aku mau keluar, Vino ..," desah Irene. Dengan beberapa gerakan yang begitu cepat dan kasar, Vino dan Irene akhirnya mencapai puncak kenikmatannya masing-masing. Setelahnya, Vino mengeluarkan miliknya yang basah karena cairan cintanya itu dari dalam milik Irene. Padahal Vino dan Irene baru saja selesai mandi, tapi tubuh keduanya malah jadi basah lagi akibat peluh dan keringat. Setelahnya, Vino berbaring tepat di samping Irene sambil menatapi wajah cantik perempuan yang begitu dicintainya itu. Bibir Irene terlihat sedikit bengkak karena tak henti-hentinya dicium dengan begitu liarnya oleh Vino tadi. Gundukan ranumnya terlihat bergerak naik turun, paru-parunya nampak sedang sibuk memompa oksigen. Ah, jangan lupakan juga tanda kebiruan yang memenuhi sekujur tubuh mulusnya. Tak lama setelahnya, Irene bangkit dari ranjang tempat tidurnya lalu mulai menggunakan bathrobe warna putihnya. "Kamu mau ke mana?" tanya Vino bingung. "Sebentar. Aku mau ke dapur dulu," jawab Irene. Oh, seketika Irene langsung ingat kalau tadi sore baru saja dirinya menyuruh Rio membelikannya bubur ayam. Entah apakah Rio sudah balik atau belum. Begitu sampai di dapur, Irene tak menemukan siapapun. Rumahnya masih kosong. Satu-satunya yang Irene temukan hanyalah tiga kotak bubur ayam dan sebuah notes kecil. Dari Rio. "Ayah tidak balik hari ini karena ada meeting mendadak. Sebastian nginap di rumah temannya dan balik besok pagi. Katanya ada acara dekor kelas untuk classmeeting, jadi kamu tidak usah khawatir. Aku sudah belikan kamu makanan. Jangan lupa makan. Aku mau pulang dulu. Hati-hati," demikian isi notes yang ditulis Rio. Entah mengapa, ada rasa sedikit prihatin dalam benak Irene saat membaca notes tersebut. Tanpa sadar, sepertinya Rio kini merangkap menjadi ajudannya, bukan hanya sekadar laki-laki yang dijodohkan oleh ayahnya. Dan anehnya, Rio tidak kembali malam ini. Tumben sekali. Mungkinkah karena Rio sudah tahu karena ada Vino di sini? Vino, yang tidak betah berlama-lama sendirian, akhirnya bangkit dari ranjang tempat tidurnya dan berjalan menghampiri Irene. Rambut dan tubuhnya terlihat masih basah. Hanya sebuah handuk putih yang terlihat menutupi daerah vitalnya. "Rio tidak pulang?" tanya Vino to the point. Irene menggeleng, "Nggak. Sebastian sedang bantu temannya dekor kelas untuk classmeeting nya besok. Kata Rio, ayah lagi ada meeting." Vino menyeringai nakal, "Jadi kita ditinggal berdua saja nih?" Irene tersenyum manis, "Dasar m***m .. Ayo makan dulu, Rio sudah belikan kita makanan." "Habis itu kita 'tempur' lagi?" goda Vino. Irene menangkupkan wajah Vino dengan satu tangannya, "Tapi kamu harus sudah balik subuh nanti. Aku nggak mau kalau sampai ayah dan adik aku tahu kalau semalaman kamu nginap di sini." Vino hanya mengangguk lalu beralih mencium dahi mulus Irene sekilas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD