Chapter 8 - Kiss Me

2009 Words
*Flashback, 5 tahun yang lalu* [Chapter ini masih kelanjutan dari chapter sebelumnya] Langit terlihat mendung. Seperti hari-hari sebelumnya, hujan tak henti-hentinya mengguyur kota metropolitan yang begitu sibuk ini. Membuat sinar matahari seolah-olah enggan menyinari kota padat dan penuh dengan polusi ini. Mendungnya langit seolah-olah mewakili perasaan Vino. Sudah dua hari Vino tidak bicara dengan Irene. Padahal baru dua hari, tapi terasa seperti sudah setahun lamanya. Vino sudah tidak bisa membendung perasaannya lagi. Satu-satunya yang Vino lakukan hanya merenung. Terus berpikir akan ucapannya waktu itu pada Irene. Terus berpikir akan perkataannya yang kadang terkesan kasar dan memaksa. Padahal seharusnya sekarang Vino belajar untuk ujiannya besok. Itupun kalau Vino mau agar beasiswanya terus berjalan. Maklum, Vino salah satu dari sekian banyak siswa beruntung yang bisa mendapatkan bantuan sekolah. Di lain tempat, Rio malah sedang bahagia bukan main. Entah apakah Rio harus merasa senang atau tidak. Karena rasa-rasanya kalau Rio senang, dirinya terkesan jahat sekali. Senang di atas penderitaan orang lain .. di atas penderitaan Vino dan Irene. Theo Samahita, ayah Rio, sedang trip ke luar kota bersama ayah Irene. Akhir-akhir ini ayah keduanya sedang sering sekali pergi bersama. Bisnis yang dijalani keduanya sedang lancar. Dan hal ini berimbas pada anak keduanya. Rio semakin sering menghabiskan waktunya bersama dengan Irene. Bahkan kali ini keduanya menghabiskan waktu tidak bertigaan dengan bapak supir lagi. Atau kadang bersama dengan Sebastian, adik Irene. Kini Rio dan Irene jadi lebih sering menghabiskan waktu berdua saja. Apalagi jika ayah keduanya sedang ada trip bisnis. Seperti sekarang ini. Rio merasa bahagia sekali bisa menghabiskan waktunya berduaan saja dengan perempuan yang sudah disukainya sejak begitu lama. Rio memang sudah menjalin kasih sebelumnya. Sering malah. Perempuan bodoh mana juga kan yang tidak mau menjadi kekasih hati seorang Rio Samahita? Sudah ganteng, dompetnya tebal pula. Meskipun sering gonta ganti pacar, tapi kalau boleh dibilang, deretan mantan kekasih Vino lebih banyak dibandingkan Rio. Dan lagi, di antara sekian banyak perempuan yang pernah hinggap di hati Rio, hanyalah Irene, perempuan pertama dan mungkin satu-satunya, yang berhasil mengambil hati seorang Rio Samahita. "Maaf di rumah sedang tidak ada makanan," kata Irene yang merasa tak enak hati pada Rio. Rio tersenyum manis, "Iya nggak apa-apa. Aku nggak lapar kok." Sepertinya apa yang dikatakan sebagian orang ada benarnya juga. Rasa lapar akan hilang dengan sendirinya saat kita merasa bahagia. "Kok kamu tidak ikut ibu sama Sebastian belanja?" tanya Rio penasaran. Sore itu, Irene memang menemani Rio, tamu nomor satu sekaligus yang paling sering berkunjung ke rumahnya. Ibu dan adiknya sedang belanja, membeli makanan dan bahan dapur yang sudah habis. Irene tersenyum geli, "Kalau aku ikut mereka, yang temani kamu di sini siapa? Masa tukang kebun?" Senyum Rio malah tambah lebar. Seharusnya Sebastian yang menemani Rio, bukan Irene. Tapi karena sifat isengnya, Sebastian sengaja bertukar posisi. Irene yang menemani Rio, biar dirinya yang menemani ibu. Apalagi Sebastian tahu betul bahwa Rio menaruh hati pada kakaknya. Padahal seharusnya Sebastian maupun ibu tahu, kalau laki-laki dan perempuan ditinggal berduaan saja, konon katanya ada 'orang ketiga'. Siapa lagi kalau bukan iblis yang suka menggoda iman manusia. Apalagi di luar sedang hujan. Waktu yang pas bagi dua insan untuk berpelukan. Maklum, udara jadi dingin. Tubuh jadi berontak, butuh kehangatan. Rio, yang daritadi hanya duduk manis di atas sofa, kelihatan sekali sedang gelisah. Nervous. Kedua kakinya tak bisa diam, terus bergerak tak nyaman. Demikian pula dengan dahinya, yang mulai mengeluarkan keringat dingin. Sesekali Rio juga menggigit bibir bawahnya. Persis seperti orang yang akan segera dieksekusi mati. Padahal Rio tidak melanggar hukum. Sementara Irene .. sama gelisahnya dengan Rio. Tapi sayangnya, bukan Rio yang ada di pikirannya. Raganya ada bersama Rio, tapi jiwanya ada bersama Vino. Diam-diam, sama seperti Vino, Irene juga gelisah dan terus berpikir mengapa Vino jadi bersikap dingin padanya. Padahal baik Irene maupun Vino hanya salah paham. Keduanya tak saling bicara karena terus larut dalam pikiran masing-masing. Vino berpikir dirinya sudah kasar pada Irene. Sementara Irene berpikir dirinya sudah mengkhianati Vino dengan terus menghabiskan waktu dengan Rio. Begitu terus. Bagaikan lingkaran setan. Rio, yang memperhatikan Irene nampak seperti orang yang sedang gelisah, akhirnya angkat bicara. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Rio penasaran. Tak bisa dibohongi, pandangan Irene terlihat kosong. Padahal jalanan yang ditatapinya daritadi cukup ramai dengan kendaraan. "Iya. Aku nggak apa-apa kok," bohong Irene. "Jangan melamun. Apalagi lagi hujan. Nanti kesambat setan," canda Rio. Irene hanya tersenyum tipis. Bosan berdiri terus sambil memandangi jalanan yang diguyur hujan, Irene akhirnya memutuskan untuk duduk. Di sofa empuk, persis di samping Rio. Padahal Rio sedang nervous, ditambah perempuan yang dicintainya duduk di sampingnya. Ah, jangan lupakan juga mereka ditinggal berdua saja. Kini giliran Irene yang bertanya. "Kamu kenapa? Kok pucat begitu?" tanya Irene bingung. Sebelum Rio menjawab, Irene sudah keburu mendaratkan punggung tangannya di dahi Rio. Memeriksa, apakah dahi Rio panas atau tidak. "Tapi badan kamu nggak panas. Kamu sakit?" tanya Irene khawatir. Rio menggeleng. "Nggak, aku nggak sakit. Mungkin efek karena belum makan," bohong Rio. Setelah percakapan singkat tadi, keduanya saling memandang satu sama lain. Cukup lama. Seolah-olah hanyut terbawa dalam pandangan masing-masing. Sebelumnya, Irene memang hampir tak pernah berinteraksi dengan Rio. Apalagi memandangnya begitu lama seperti ini. Mungkin satu-satunya laki-laki di sekolah yang paling sering bicara dengannya hanyalah Vino. Dan akhirnya, hari ini Irene tersadar juga, betapa tampan dan menariknya seorang Rio Samahita. Tak heran Vino suka bercerita kalau Rio sering gonta-ganti pacar. Entah setan darimana, tanpa sadar, Rio mendekatkan wajahnya perlahan pada wajah Irene. Dan dari jarak yang begitu dekat, Rio jadi semakin tersadar. Betapa cantiknya perempuan yang ada di hadapannya saat ini. Jarak di antara keduanya semakin dekat. Begitu dekat, hingga Rio dapat merasakan hangatnya hembusan napas Irene yang menyentuh kulit wajahnya. Dan akhirnya, hal itu terjadi. Bibir Rio mulai menyentuh bibir Irene yang terasa begitu halus. Rio mulai mengecup bibir Irene dengan lembut. Tanpa paksaan. Dari sekian banyak perempuan yang pernah menciumnya, hanya ciuman ini yang paling disukai Rio. Yang paling bisa membangkitkan gairahnya. "Mphh ..," erang Irene. Hanyut terbawa suasana, Rio jadi semakin berani. Dengan lembut, Rio menggigit bibir bawah Irene. Tangan-tangannya mulai bergerak, membelai rambut coklat nan panjang milik Irene yang terasa begitu halus. Sementara Irene, sama sekali tidak menolak. Tangannya kini sama liarnya dengan tangan Rio. Bergerak, menyentuh pundak bidang Rio. Tak selesai sampai di situ, Rio mulai menciumi leher mulus Irene. Menghirup aroma vanila yang begitu harum dari tubuh Irene, meninggalkan sebuah tanda kebiruan di sana. Membuat sang empunya leher, Irene, langsung mendesah dengan lembut karenanya. "Ahh ..," desah Irene. Setelah puas menciumi leher dan bibir Irene, Rio menatap kedua mata Irene setelahnya. Dan sialnya, yang Rio dapatkan dari tatapan mata itu hanyalah gairah. Tidak ada cinta dalam tatapan mata Irene. Rio maklum, mungkin hasrat dan gairah Irene memang sedang tinggi. Sama seperti dirinya. Sama seperti remaja pada umumnya. Mereka sedang dalam masa puber. Sedang dalam masa mencari jati diri. Sedang dalam masa ingin mencari tahu, termasuk dalam urusan nafsu duniawi. Dengan hati yang terasa begitu teriris ditambah dengan rasa sedikit terpaksa, Rio akhirnya menyudahi ciuman panasnya. "Maaf, aku tidak bermaksud begitu ..," lirih Rio. Sementara Irene, hanya terdiam. Entah apakah Irene menerima permintaan maaf Rio atau tidak. Setelahnya, keduanya hanya duduk diam, bagaikan dua onggokan batu besar yang ada di sungai. Untungnya, tak sampai sepuluh menit kemudian, ibu dan Sebastian sampai. Membawa beberapa kantong berisi bahan makanan dan bumbu dapur. Begitu melihat ibu dan Sebastian datang, Irene langsung bangkit berdiri lalu berjalan cepat menuju kamarnya dengan mata berkaca-kaca. Ibu, yang sedang sibuk mengeluarkan bahan makanan dari dalam kantong plastik, tak begitu memperhatikan Irene. Sementara Sebastian, hanya menatapi kakaknya dengan tatapan bingung. Bertanya dalam hati, apa yang sudah terjadi di antara keduanya. Sementara Rio, hanya mampu melihat tanpa berkata apapun. Apalagi mencegah Irene pergi. Rio tak punya hak. 'Sial, jangan-jangan Irene marah karena aku sudah menciumnya?' batin Rio. Padahal, bukan itu yang ada di pikiran Irene. ***** Esoknya, hujan masih juga tak berhentik mengguyur kota padat penduduk ini. Sekolah tak diliburkan. Padahal di parkiran sekolah, air sudah menggenang cukup tinggi. Mungkin kalau ada gempa atau tsunami, sekolah baru libur. "Baru hujan air, belum hujan api. Sekolah tetap masuk! Tak ada libur!" begitu kata kepala sekolah. Kala itu saat waktu istirahat, Irene tak sengaja berpapasan dengan Vino. Sama seperti hari-hari sebelumnya, keduanya tak bicara. Tak saling sapa. Saling lewat saja bagaikan dua orang yang tak kenal. Murid-murid yang lihat malah jadi berpendapat sendiri kalau Irene dan Vino sudah putus, sampai-sampai keduanya malah jadi bahan gosip. Oh, andaikan saja Vino tahu betapa sakitnya hati Irene .. Irene merasa seperti pengkhianat. Irene merasa sudah mengkhianati cinta Vino dengan selingkuh pada Rio, sahabat Vino sendiri .. Setelah sekolah usai, untungnya hujan sudah reda. Tak bisa menahan gejolak yang terus berkecamuk di dadanya, Irene akhirnya memutuskan menghampiri Vino. Vino sedang berada di parkiran motor, memakai helm dan jaketnya. Sedang bersiap-siap hendak pulang ke rumah. Tanpa banyak bicara, begitu melihat Vino, Irene langsung menghampiri dan memeluknya. Tangisnya pecah. Saat itu juga. Rindunya sudah tak tertahankan lagi. Vino, yang melihat Irene menangis dalam pelukannya, tak bisa berkata apapun. Vino lebih memilih Irene mencurahkan perasaannya terlebih dulu. Baru kemudian bertanya setelahnya. Setelah tangisnya reda, Vino mengajak Irene duduk berdua saja di samping halte sekolah. "Kamu kenapa, Irene? Kamu marah sama aku?" tanya Vino tanpa basa-basi. Lagi-lagi, Vino salah sangka pada Irene. Padahal Irene sama sekali tidak marah pada Vino. "Maafkan aku .. Aku sudah jahat sama kamu," jawab Irene yang terdengar masih sedikit sesegukan. Vino mengerutkan dahinya, "Jahat? Bukankah aku yang jahat sama kamu?" Irene hanya terdiam sambil menatapi wajah Vino. Kedua matanya sudah begitu memerah dan berair. Vino beralih menangkupkan wajah Irene, "Maafkan aku juga. Tidak seharusnya aku mendiamkan kamu seperti ini." Sama seperti tadi, lagi-lagi Irene hanya terdiam. Membuat Vino jadi semakin bertanya-tanya. Dan sepandai-pandainya Irene menutupi kebohongannya, Vino bisa menebaknya juga. Bagaikan elang, penglihatan Vino cukup tajam. Vino melihat ada tanda kebiruan di leher Irene. Padahal Irene sudah mencoba menutupinya dengan rambut panjangnya, tapi masih ketahuan saja. "Leher kamu kenapa?" tanya Vino. Nada bicara dan raut wajahnya berubah jadi lebih serius. "Ini salah aku, Vino, bukan Rio..," lirih Irene. Dahi Vino langsung mengkerut, "Gara-gara Rio?" Irene menggeleng, "Ini bukan salah Rio .." Vino menghela napas sejenak, "Aku antar kamu pulang sekarang." Setelahnya, Vino tak berkata apapun. Di perjalanan pulang, keduanya kembali membisu. Semua hening, hingga esok harinya tiba .. Esok sorenya, setelah sekolah usai, murid-murid beramai-ramai datang ke lapangan basket. Bukan untuk menonton pertandingan basket. Tapi untuk menonton Vino dan Rio. Keduanya bertengkar. Vino tak henti-hentinya menghantam wajah rupawan Rio. Kepalan tangannya sudah begitu siap membogem wajah Rio saat itu juga. Padahal Rio baru mau bersiap-siap latihan untuk lomba basket antar sekolah. Rio tak mau kalah. Kedua kepalan tangannya juga sudah siap memukuli Vino. Apalagi setiap kali melihat wajah Vino, Rio teringat akan Irene. Dan itu semakin membuat Rio sakit hati. Vino tersungkur di lantai lapangan basket. Hidungnya berdarah. Arga, teman Vino yang melihat Rio memukuli Vino, langsung melerai keduanya. Tak selesai sampai di situ, Vino dan Rio akhirnya dipanggil ke ruang guru. "Masih sekolah sudah bertengkar. Sudah lulus mau jadi apa? Preman pasar?" bentak Pak Andi, guru olahraga. Setelahnya, Vino di skors tiga hari. Sementara Rio, karena harus ikut lomba, masih diperbolehkan masuk sekolah. Tapi tidak ikut kegiatan belajar mengajar di kelas. Hanya latihan basket saja di lapangan. Theo Samahita, ayah Rio, begitu tahu kalau anak kesayangannya itu pulang dengan wajah babak belur langsung marah besar. Ternyata tidak hanya Vino yang kena omel ayahnya, Rio pun habis dimarahi. Padahal Rio tidak memulai api, mengapa harus disalahkan juga? Irene, yang mendengar kabar bahwa Rio dan Vino berkelahi, langsung tak enak hati dengan keduanya. Irene merasa menjadi perusak hubungan antara Rio dan Vino. Padahal sebelum mengenal Irene, keduanya baik-baik saja. Akhirnya, Irene memutuskan kembali bicara empat mata pada Vino. "Kan aku sudah bilang, Rio tidak bersalah! Kenapa kamu pukul dia?" kata Irene kesal. Vino menatap Irene dingin, "Dia pantas mendapatkannya." "Tapi dia sahabat kamu, Vino!" kata Irene tak mau kalah. "Sahabat yang baik tidak mungkin menggoda kekasih sahabatnya sendiri," jawab Vino yang juga merasa tak mau kalah. Irene menggeleng, "Dia tidak menggoda aku!" Vino tersenyum kecut, "Terus siapa? Kamu?" Air mata langsung berjatuhan membasahi pipi Irene setelahnya, "Kamu tidak mengerti ..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD