Bandung, I’m in Love

5420 Words
“Kamu enggak sekolah?” tanyaku kepadanya “Lagi classmeeting, males!” jawab Boim adikku. Namanya Muhammad Ibrohim, Cuma karena dulu masih kecilnya cadel dia tidak bisa menyebut namanya sendiri secara benar, jadilah semua orang memangginya Boim sampai sekarang. Boim kelas 3 SMP, anaknya pintar dan selalu juara 1, sama seperti diriku dia juga malas datang jika sekolah sedang clasmeeting. Dia lebih memilih bermain dengan hp atau laptopnya dikamar, menonton video robot-robot canggih terbaru keluaran Jepang atau tutorial merangkai drone. “2 minggu lagi Tahun baru Syah” suara bang Hen mengejutkan kami di ruang tv. “Iya” jawabku datar. “Ma, jalan-jalan ya. Ke Jepang sesekali” rengek adikku ke mama yang sedang berjalan menuju kamar. Mama diam saja dan berlalu meninggalkan kami, masuk ke kamar dengan handphone menempel ditelinga dan mengobrol, sepertinya dengan adik satu-satunya. *** Hari ini pembagian rapor, adikku juara kelas lagi. Meski begitu ia tidak terlalu bersemangat, mungkin karena permintaannya ke Jepang dan merayakan momen tahun baru yang satu minggu lagi berlangsung tidak dipenuhi. Mama dan papa sibuk sekali, banyak barang yang masuk. Persis seperti mau lebaran, gudang penyimpanan menjadi penuh sesak. *** Selesai makan, kami semua mengumpul didepan tv, adegan mesra yang jarang sekali terlihat. Adikku masih sibuk dengan hp,nya menonton tutorial menerbangkan drone. Ia pernah merengek untuk dibelikan benda mahal tersebut, sayang mama tidak mengizinkannya karena menganggap hal itu mubazir. Papa mendekatiku, mengusap kepalaku dan duduk disebelahku. “Syah, coba baca” katanya padaku sambil menyerahkan hp. Aku meneliti android itu, membaca email dari sebuah aplikasi travel agent dan hotel terkenal Indonesia melihat tiket pulang pergi selama seminggu yang sudah papa bayar cash. “Kita ke Bandung, pa?” papa mengangguk. “3 hari lagi?”, papa mengangguk lagi. “Alhamdulillah, asyiiik” kataku riang. Adikku melirik, bertanya “Kue Bandung?” tanyanya. Semua orang tertawa terbahak-bahak. “Ke Bandung ganteng” jawab mama sambil mengusap kepalanya dan duduk di tangan kursinya. “Kapan?” sambungnya antusias. “3 hari lagi” sambar bang Hen. … Perjalanan melelahkan dari Pulau Sumatra menuju Kota Kembang berjalan lancar, jam menunjukan pukul 15.00. Kami turun di Bandar udara kebanggan masyarakat Kota Kembang itu, Bandara Husein Sastranegara yang betempat di Jalan Padjajaran Kota Bandung. Setelah lelah mengantri menunggu bagasi, kami berjalan keluar menunggu mobil jemputan. Terlihat papa yang sibuk menelpon sana-sini. Tak berselang lama mobil jemputan hotel tiba, kami semua masuk dan dibawa menuju hotel yang berada di jalan Asia-Afrika tersebut. Tiba di hotel papa segera melakukan konfirmasi kamar di meja reseptionis. Memesan 2 kamar kelas deluxe yang berada dilantai 8. Di desa boro-boro ada hotel lantai 8, Mall aja enggak ada! Lalu kami kekamar diantar petugas hotel. 2 kamar berdampingan. Aku dan mama sekamar dan yang lain dikamar terpisah. Waktu sudah menunjukan pukul 16.30, kami bersiap, membersihkan diri dan sholat kemudian istirahat. Aku meneliti detail kamar itu, semua terlihat serasi, cat, hordeng juga lukisan di dinding. sayang, tak kutemukan kulkas disana, hanya 2 botol air mineral teronggok rapi diatas meja. Aku meminumnya, airnya dingin seperti baru keluar dari kulkas. Oh iya ini kan Bandung. Kota yang selalu sejuk dan nyaman. Setelah istirahat papa masuk kekamar, mengajak kami bersiap untuk keluar setelah sholat magrib. Karena sedang safar bang hen mengajak kami untuk sholat safar, ia imamnya. Setelah sholat kami semua keluar dari hotel. Memulai perjalanan manuju Jalan Braga. Jalanan disana sangat bersih, asri dan menyenangkan. Kami berjalan mesra bersama melalui area pertokoan dengan lalu lintas ramai lancar. Terlihat juga kursi-kursi terawatt yang berjejer disepanjang jalan. Hampir semua penuh diduduki penikmat jalan. “Duduk da” ajak bang hen ke papa, disertai menarik tangan mama kesebuah kursi kosong dipinggir jalan tersebut. Ia memotretnya beberapa kali tanpa arahan, kemudian memanggil kami berdua disebelah mereka. Memfoto keluarga harmonis ini, aku tersenyum manis tanpa masker. Gentian, sekarang aku yang memfoto mereka candid. Dkami terus berjalan menikmati keramaian. Adikku terus saja mengganggu bang Hen dengan meminta foto disini dan disana berulang-ulang. Perut mulai lapar saatnya mencari makanan. Kami masuk ke kawaan The Kiosk Lost Market Jajanan Khas Bandung. Memesan banyak makanan seperti iga bakar si jangkung, sate maulana yusuf, nasi goreng cibadak, soto bandung, ronde jahe, ketan bakar dan masih banyak lagi sampai-sampai meja kmai penuh dengan makanan sesuai pesanan masing-masing. Aku melahap iga bakar sampai habis tak tersisa, disamping tak mau mubazir makanan, aku memang lapar karena sejal landing belum makan apa-apa. Keluar dari sana mama mununtun kami engan sebuah taksi, mama yang dulu memang berkuliah di Bandung tampak akrab dengan kota ini. Sayang sejak nenek meninggal 10 tahun lalu kami tak pernah lagi kemari, apalagi ditambah adik satu-satunya sudah dinyatakan lulus PNS di kota kami. “ka Jalan Andir nyak pak” sapa mama mengarahkan supir taksi. Kami yang tidak tahu apa-apa nurut saja sambil menikmati suasana jalan nan sejuk di Bandung. Mobil berhenti, kami semua kemudian turun dan masuk ke gerai martabak tersebut. Adikku memesan martabak ovomaltine keju dan mama memesan martabak kering tipis keju, kacang coklat. Antriannya cukup lama, karena pembeli yang memang banyak mengantri. Sembari menunggu aku membuka hp, mengutak-atiknya. Sesaat hp bergetar terlihat ada pesan f*******: yang masuk dari akun ‘Abdullah Yusuf’. “Assalamualaikum, anti alumni SMAN 1 juga?” tanyanya sok akrab padaku. Aku membaca penasaran, seingatku aku tidak mempunyai teman yang senama dengannya. Aku melihat profil facebooknya, berusaha mencari fotonya, nihil!. Aku membalasnya singkat “Waalaikum sallam, na’am”. Tarian jempolku masih diseputar akun miliknya, tak kutemukan celah! Hanya tausiah dan dakwah yang ia bagikan selama beberapa tahun belakang. Yang aku heran mengapa dia masih menjadi teman di facebookku, bukankah saat aku memutuskan ingin benar-benar hijrah karena Allah, aku sudah menyapu bersih semua orang yang tidak aku kenali di daftar teman yang dulunya 4000an teman menjadi hanya 450an saja? Martabak kami siap dimeja, kami melahapnya dengan senang hingga tak bersisa. Perpaduan coklat ovomaltine dan keju yang royal diatas martabak manis lembut itu membuat kami sampai menjilat-jilat jari memakannya. Perjalanan kami berakhir malam itu, malam yang masih riuh ramai oleh pemuda-pemudi Bandung yang terlihat seperti artis semuanya. Kami menaiki taksi kemudian pulang ke hotel. “Besok mama mau ke Bogor sama papa, mau kekuburan nini sama aki, mungkin pulangnya malam” kata mama di taksi. “Lah terus kami kemana? Masa seharian di hotel?” tanya adikku. “Tenang im, besok kita ke TSB sama teman abang. Mau kan?” “Mau mau” jawab adikku girang. *** Sejak subuh mama sudah bersiap, memisahkan barang-barang penting untuk dibawa ke bogor. Pagi-pagi sekali kami semua turun untuk sarapan pagi di hotel. Selesai makan papa memberiku dan adikku uang saku, masing-masing 500ribu untuk pegangan juga memberi uang di dalam amplop untuk bang Hendri. “Jago beduo ko yo Hen” pesan papa dengan logat minang. *** Kami turun dari kamar kelantai dasar, duduk dan menunggu di lobi hotel. Tak lama hp bang Hen berbunyi, ia keluar dan menemui seseorang yang berjalan menuju pintu masuk hotel. Kami mengekor dari belakang “akhi, Hamzah? Assalamualaikum” tanya bang Hen seraya mengulurkan tangan “Na’am, Waalaikumus sallam warahmatullah” jawab pria tampan itu sambil berpelukan. Berjarak 5 meter dibelakang terlihat gadis kecil mungil dan mengenakan cadar hitam berjalan menyusul, aku yang mengira mungkin itu istri teman bang Hen menyambut dan berkenalan. “Assalamualaikum” “Waalaikum sallam teh Aisyah” teteh? Fikirku “Afwan, mbak zaujahnya akhi Hamzah kan?” “Bukan, ana adiknya. Panggil saja Maryam” sambil tertawa kecil dan menggerak-gerakkan tangan saat berkata bukan “Afwan ana kira istrinya” “Aamiin, doain ya teh biar Maryam cepet jadi istri hehehe”. Aku tersenyum mendengar ucapannya. Kami semua berjalan ke parkiran hotel dan masuk ke mobil. Diperjalanan bang hen dan bang Hamzah asyik bercerita. Aku juga bercerita banyak dengan Maryam, dia sekarang baru semester 1 perkuliahan, sedangkan bang Hamzah sekarang sudah semester 3 tingkat S2. Mobil berhenti di sebuah kedai bakso tahu goreng, bang Hendri ingin memakannya. Ia memesan batagor 5 porsi untuk kami santap bersama. Setelah makan mobil berjalan kembali masuk ke daerah alun-alun kota Bandung, disana kami main dan mampir ke Masjid Raya bandung untuk melaksanakan sholat zhuhur. Masjid kebanggaan masyarakat bandung ini benar-benar indah, mulai dari parkiran, halaman, tempat wudhu juga tempat sholatnya s mua nyaman dan ramah keluarga. Serasa betah aku berlama-lama dimasjid ini. Setelah melaksanakan sholat safar aku keluar duluan dari masjid, sengaja berdiri di teras dan memperhatikan banyak keluarg yang sedang bermain-main di sreal halaman masjid yang menghijau dan sangat bersih itu. Adem sekali rasanya mataku ini. Seperti kembali ke desaku, melihat dan menikmati hamparan sawah yang sedang menghijau. Setelah sholat mobil jalan kembali. Pemandangan selama di perjalanan benar-benar tak membuatku bosan sedikitpun. Mobil memelankan lajunya, masuk komplek gedung besar yang besarnya 3x lipat mall dikota kami. Kami turun dari mobil masuk ksebuah areal permainan luas bernama Trans Studio Bandung. Adegan pelik sedikit terjadi saat bang Hen dan bang Hamzah berebut ingin membayar tiket masuk kami berlima, yang kemudian dimenangkan bang Hen. Setelah di dalam adikku ternganga-nganga. Belum pernah kami melihat areal permainan seluas dan selengkap ini sebelumnya. Kalau pasar malam sih, jangan ditanya! Mungkin sudah semua jenis permainannya kami naiki, tetapi belum ada yang semegah ini. “Bang naik itu ya, terus naik itu ya”, sifat kekanakan adikku muncul, merengek meminta ini dan itu. Kami mencoba banyak sekali permainan bersama, mulai dari giant swing, vertigo, YRC, masuk kie dunia air, transcar racing dan masih banyak lagi. Adikku merengek lagi meminta diajak masuk ke wahana dunia lain, bang Hendri melarang keras “Nggak usah! Syirik!” katanya dengan sedikit melotot. Keasyikan bermain kami jadi lupa waktu, matahari sudah hampir sampai ke peraduannya “Balik yuk, udah mau adzan maghrib” ajak abangku kepada temannya. Kami keluar, kembali lagi ke Masjid Raya Kota Bandung untuk melaksanakan sholat safar. Setelah sholat perut mulai mengeluarkan suara-suara tanda lapar. “Mau makan dimana nih?” tanya sopir tampan yang menatap awas kejalanan. “Ajak ke infinito culinary aja a’.” Celoteh adik sang sopir yang berbibir kecil. Sang sopir meng iyakan, mengarahkan mobil ketempat tujuan. Sesampai disana kami segera memesan makanan, aku memesan seporsi nasi goreng chicken barbeque dengan ice taro latte,Syifa memesan seporsi Ayam saos kecap mentega dengan hot chocolate sedangkan yang lain aku tidak terlalu hafal menu apa yang mereka pesan. Setelah kenyang makan kami berencana untuk jalan-jalan ke daerah braga lagi, tetapi karena mama sudah sibuk menelepon dan meminta kami semua pulang akhirnya rencana diurungkan. Bang Hamzah sang sopir ganteng mengantar kami sampai hotel, kami saling berpamitan kemudian mereka kembali pulang. Sesampai di kamar setelah mandi seperti kebiasaan anak muda yang pertama kucari adalah telepon genggam. Menaik turunkan jari melihat-lihat beberapa foto yang tadi siang diambil. “Assalamualaikum, afwan ana boleh tanya?” seseorang mengirmku pesan di f*******: dengan nama aku ‘Abdullah Yusuf’. “Inikan ikhwan kemarin, mau apa lagi?” gumamku pelan “Waalaikumussalam, tafadhol” jawabku singkat “Menurut anti apa makna La ila ha ilallah?” “La Ma’buda bihaqqin illallah” jawabku singkat “Masyaa Allah” aku tak membalasnya walau sepatah katapun. Dia pun tak melanjutkan obrolan. *** “Besok mama sama papa mau ke daerah Lembang, kerumah sepupu mama” mama berbicara didepan semua orang yang sedang berkumpul dikamar para lelaki itu “Kita ikut?” tanya adik gantengku “Enggak lah, bisa bosen kalian kalo ikut mama sama papa. Hen, temenmu bisa ajak kalian jalan lagi besok? “Insyaa Allah ni, kalopun enggak bisa kita bisa jadi nekat traveler bertiga hehe” “Wah, seru tuh bang” celetukku *** Hari ini hari Jumat. Malam nanti adalah malam pergantian tahun pertama bagiku di bandung. Setelah sholat Jumat hari ini kami baru bisa pergi menuju destinasi wisata berikutnya. Tujuan jalan-jalan hari ini adalah daerah Kawah Putih Ciwidey Bandung. Cuaca hari ini seperti mendukung perjalanan kami, tidak hujan sama sekali. Beberapa menit berlalu akhirnya kami sampai ketempat tujuan. Aku dan syifa kompak menggunakan gamis hitam tanpa janjian. Sepanjang jalan kami habiskan dengan mengobrol sambil mendengarkan alunan nasyeed dari Qari terkenal Arab Saudi Misyari Rasheed dengan suara pelan. Perjalanan menuju lokasi bukannya mudah seperti biasanya kami pergi ke Mall. Butuh perjuangan dan pengorbanan. Bagaimana tidak, untuk menuju keatas kami diharuskan menggunakan transportasi khusus yang biasa disebut ontang-anting. Sebenarnya bisa menggunakan mobil, Cuma bang Hendri yang memilih menggunakan ini. Awalnya aku diam saja, karena menurutku akan seru jika menaiki angkot yang sudah dimodifikasi itu untuk naik ke gunung, jadi sekalian bisa membaur bersama alam. Tetapi ternyata aku salah, ontang anting tak selucu dan seimut namanya. Sepanjang perjalanan kami disuguhkan dengan fenomena alam yang rupawan juga angin pegunungan yang langsung menerpa wajah dikarenakan jendela yang menganga juga satu lagi tambahan, rasa deg-degan dan jantung yang terguncang-guncang seperti mau meloncat keluar, seperti menaiki roller coaster tanpa safety belt. Tanganku sampai basah memegangi pegangan angkot yang berjalan sangat kencang tersebut. Cadar Syifa melayang-layang menekan wajah cantiknya. Sekitar 10 menit menaiki angkot transformasi roller coaster kami sampai ditujuan. “Subhanallah” kami semua bertasbih mengangungkan mahakarya keindahan alam buatan Allah sang maha pencipta ini. Baru di atas saja kami sudah merasakan atmosfir keindahan yang luar biasa, gunung-gunung hijau, suasana asri dan sejuk, jalanan yang bersih dan tertata rapi, tidak menyesal kami pergi kesini, sungguh! Kami berjalan turun mendekati kawah dengan menggunakan masker yang sudah dipersiapkan oleh akhi Hamzah, dan adiknya. Kalau kami bertiga mana paham perlengkapan apa yang harus dan tidak harus dibawa. Sepanjang perjalanan sampai menuju kawah adikku selalu mendokumentasikan semua hal, entah sudah berapa ratus foto candid milikku yang ia ambil. Aku ingat dulu saat dibelikan kamera itu oleh papa percobaan pertamanya dalam memotret selain sawah dan burung adalah aku. Katanya “Kakak natural kalau difoto” aku sih manut saja tanpa terlalu menghiraukan hobinya ini. Kawah putih ternyata cantik sekali, pasirnya putih dan airnya berwarna hijau tosca. Aku mengeluarkan hp dari tas meminta bang hendri memotret kami berdua, tak disangka disaat yang bersamaan Syifa juga melakukan hal yang sama. Meminta tolong saudaranya untuk memotret kami, jadilah aku merasa kikuk difoto oleh abang ganteng Syifa ini. Kami berdua berjalan-jalan, menyusuri kawah dan sambil mengobrol sesekali mengambil selfie. Suasana kali ini di kawah putih ramai, mungkin karena ini musim liburan, dan malam nanti adalah pergantian tahun. Bang Hendri memanggilku, menggerak-gerakkan tangannya mengajak pulang. Kami berjalan kembali ke atas, tak baik juga lama-lama di sini karena bau belerang mulai memenuhi paru-paru dan msedikit membuat sesak. Diperjalanan naik aku berhenti, membungkuk membenarkan tali sepatu sneaker putih milikku, disaat yang sama Syifa juga melakukan hal demikian. Tiba-tiba seseorang memegang lenganku, mengangkatnya ke atas membawa tubuhku terikut, kemudian langsung memegang telapak tanganku sambil menarikku ke atsa tangga. “Astagfirullah” aku berucap sembari terkejut melepaskan pegangan tangannya, pria itu melihatku ternyata dia adalah akhi Hamzah. “Astagfirullah, punten atuh teh. Saya kita teteh Syifa” katanya dengan sorot mata malu. “Iya, nggak apa-apa” jawabku dibalik masker. Ia meninggalkan kami berdua, aku dan Syifa kemudian naik ke atas kembali ke pintu masuk tadi. Perut mulai terasa keroncongan, mungkin karena lelah turun dan naik tadi, kami memutuskan untuk makan lalu kembali pulang. Sebenarnya masih ada 1 tempat yang ingin Syifa tunjukan yaitu ‘Situ Patenggang’ disana ada tempat yang namanya kalau tidak salah adalah ‘Batu Cinta’ yang hanya bisa dicapai jika kita menggunakan perahu. Tetapi karena sudah sore, kabut pasti sudah menyelimuti danau, jadi percuma! Mengambil fotopun tak akan bagus jika latar belakangnya hanya kabut putih, bukan area pegunungan indah dan hijau. Mobil berjalan meninggalkan kawasan itu mengantarkan kami kembali kehotel. Menyusupkan suatu perasaan kerelung hatiku setelah perpisahan kali ini, perasaan aneh setelah adegan ‘bergandengan tangan’ tadi. “Assalamualaikum maah-mama” aku mengetok-ngetok pintu hotel memanggil-manggil mama. Pintu dibuka oleh seorang wanita cantik bergamis hijau botol. “Waalaikumusalam” jawabnya seraya tersenyum. “Ini anak sulung teteh? Wah, meni geulies pisan euy” celotehnya berbalik muka menghadap mama. Mama tersenyum, aku juga tersenyum sambil mencium tangannya. Ia memelukku dan mencium kedua pipiku. “Aisyah teh dari mana?” tanyanya dengan suara lembut khas orang Bandung “Dari jalan-jalan tante ke Ciwidey” “Seru?” dia bertanya. Aku mengangguk “Besok kita main-main le Lembang ya, biar tante jadi tour guidenya” jawab wanita canting berhidung mancung berusia sekitar 28tahun itu. aku tersenyum. *** Selepas sholat safar dan makan malam kami semua pergi menuju alun-alun. Sesampai di alun-alun kami semua masuk ke areal parkir kemudian berjalan turun menemui om Ujang suami tante Ningsih yang sudah sampai duluan. Kami semua kemudian masuk kedalam dan mengikuti acara muhasabah di Masjid Raya kota Bandung yang juga dihadiri oleh Gubernur dan Wakil Gubernur kota Bandung. Masjid terlihat riuh dan penuh. Masjid dengan kapasitas puluhan ribu orang itu mala mini sangatlah menawan. “Teh Aisyah” suara seorang perempuan memanggil. Aku menoleh dan mencari, tetapi aku tidak menemukannya. Aku melanjutkan kegiatanku, duduk manis mendengarkan ceramah. Seseorang mencoel pinggangku, “Teh Aisyah, Syifa dibelakang” di berbisik. Aku menengok ternyata Syifa yang memanggil. “Mah, tante Syifa ke belakang dulu ya?” mereka mengangguk sambil tersenyum. “Assalamualaikum teteh” ucapnya sambil memelukku “Waalaikum sallam” jawabku membalas peluk cium “Teteh, Syifa sama temen-temen kampus Syifa disini. Teteh kenalan ya sama mereka” “Tapi teteh malu, nanti semua teman Syifa pake cadar?” “Enggak usah malu teh, ada kok yang enggak pake cadar”. Lalu kami berjalan menuju belakang terlihat 4 orang gadis sedang mengobrol riang. “Assalamualaikum” kataku sambil mencium dan memeluk mereka satu persatu. “Kaka ini Aisyah ya, teman barunya Syifa? Kenalin aku Butet, sahabat sedunia dan sejannahnya Asyifa kak. Sebenarnya namaku bagus Irma Anggraini, Cuma karena aku lahir dan besar diMedan, jadilah aku dipanggil Butet. Tapi gak apa-apa kak, aku suka nama itu, julukan yang dikasih mamak bapakku. Bisa jadi identitasku itu kak” seorang gadis menggunakan jilbab coklat tua senada dengan gamisnya nyerocos dengan logat asli Medan “Iya, aku kak Aisyah” jawabku padanya. “Kakak kapan sampai Bandung? Kenalin saya Mona dari Jakarta” seorang gadis berkulit hitam manis mengurku “Baru 2 hari” jawabku Lalu kami mengobrol panjang, sesekali kami tertawa berbarengan. Waktu yang dinanti kebanyakan orng yang memenuhi alun-alun sejak sore tiba, malam pergantian tahun. Tepat jam 00.00 semua orang diluar berteriak keriangan. Kami berlima dan beberapa orang lainnya jamaah masjid bergerak menuju areal tempat wudhu, kemudian masuk dan melaksanakan sholat sunnah wudhu, setelah sholat terlihat syifa ssibuk dengan bacaan mushafnya sambil menangis pilu, terlihat juga butet yang asyik bermunajat, bercerita dan mengadu kepada Rabbnya. Aku juga demikian setelah, berdzikir aku mengangkat kedua tangan, berdoa dan memohon dengan khusyuk, meminta belas kasih dari yang maha pemilik kasih. Pintaku tak berubah, JODOH! *** Pagi-pagi setelah sarapan kami semua check out dari hotel, bang Hendri membawa mobil yang sengaja dipinjamkan tante semalam menuju areal perumahan di daerah Lembang, bermodalkan ingatan papa dan mama juga GPS. Perjalanan menjadi asyik seperti biasanya, memang di Bandung kota Kembang ini, semua jalanan tampak asyik dan menyenangkan. Setelah sekitar satu jam melewati Jl. Ir. H. Djuanda juga Jl. Dago giri yang bersih dan hijau, kami sampai ditempat tujuan. Sesampai di rumah dengan design minimalis dan berlantai dua itu kami beristirahat sejenak, sholat safar yang diimami oleh bang Hendri baru kemudian kami semua makan. Setelah makan kami semua langsung jalan-jalan menggunakan satu mobil dengan om Ujang suami adik sepupu kandung mama itu sebagai sopirnya dan papa disebelahnya. Para wanita duduk di barisan tengah sedang adikku tercinta dan abangku yang paling guanteng susuk dikursi belakang sekali. “Im, om dengar kamu the suka maen drone?” tanya om diperjalanan “Suka drone om, maiinnya belum pernah. Habis mama gak mau beliin, mubazir baung-buang duit katanya. Terus tabungan Oim masih kurang om buta dibeliin drone” keluhnya “Itu didalam kardus aqua belakang sekali ada, coba kamu lihat?” “Ada drone om?” “Iya, coba kamu lihat” oim terlihat sibuk membuka kardus yang dari tadi tak di;liriknya sama sekali “Wah iya om, ada!” kegirangan “Gimana? Suka?” “Suka om! Om Oim boleh pinjem kan? Terus sekalian ajarin ya om?” “Iya” Pilihan pertama jatuh ke tempat wisata Farm House dibandung, tempat para seleb i********: berseliweran mengambil foto ini dan itu sambil mengenakan kostum-kostum tertentu. Adikku sekali lagi menganga, keranjingan mengambil gambar dan merengek meminta diambil gambar. Berjalan-jalan disana benar-benar membuatku bahagia, semua spot-spot menarik untuk mengambil gmbar a la Eropa seperti jadi focus utama disana. rumah-rumah klasik dan rumah Hobbit menjadi salah satunya. Seperti benar-benar berada dalam film the lord of the ring pikirku. Selain itu kami juga member makan domba dan masih banyak lagi. Selepas dari farm house kami mengunjungi Floating market mencicipi banyak makanan, kemudian bermain ke Dusun Bambu family Leisure park. Disana adik kecilku itu puas bermain Drone dengan om Ujang. Om Ujang tampak sayang sekali dengan adikku ini, mungkin karena mereka belum dikaruniai anak jadi merasa senang kalau ada yang meminta dimanja oleh mereka. “Oim mau dronenya?” Tanya om Ujang “Mau sih” dijawab Oim sambil cengengesan “Ya udah kalau memang mau, om kasih deh buat Oim” “Seriusan om?” “Iya” “Makasih ya om” sambil mencium tangan om Ujang “Isyah mau hadiah juga?” tanya om tiba-tiba padaku. Aku hanya tersenyum. *** Keesokan harinya kami berangkat menuju De’Ranch Lembang. Tempat banyak anak-anak muda bertransformasi menjadi seorang ‘cowboy’ atau koboy dalam Bahasa Indonesia. Bang hendri, papa, Oim juga om Ujang berlagak seperti koboy kesasar yang menunggang kuda. Lucu sekali melihatnya. Kali ini sepertinya aku yang jadi juru foto keliling untuk adikku Oim. Iseng aku ambil saja foto mereka yang sedang menganga, terpejam, atau tertawa jelek. Keasikan mengambil gambar tante menepuk pundakku. “Syah, kenalin temen om dan tante” ucapan tante mengagetkanku “Gibran” Katanya sambil mengulurkan tangan kanan isyarat ingin bersalaman “Aisyah” jawabku singkat sambil menempelkan kedua telapak tangan isyarat tak mau bersalaman. Dia mengerti, sejurus kemudian dia menurunkan tangan kanannya. Mama dan tante berjalan, meninggalkan kami berdua untuk mengobrol. Sebelum pergi mama melirik tajam padaku, memerintahkan aku untuk menemani pria bandung yang mirip artis Reza Rahardian itu. “Kamu sekarang kerja atau masih kuliah Syah?” tanyanya “Alhamdulillah sekarang menganggur” jawabku singkat sambil menunduk “Loh, bukannya kamu Bidan ya?” “Iya” “Kenapa gak kerja?” “He” aku tertawa kecut. Dalam hati aku berbicara “Masa aku harus ceritakan kronologisnya ke orang yang tidak kukenal? Kan tidak mungkin!” “Oh, iya enggak apa-apa kalau gak mau jawab. Kalau pacar Aisyah sudah punya atau belum?” tanyanya lagi “Ehe, sebentar ya! Aku mau kenalin seseorang” aku berlari menemui bang Hendri. Menggandeng tangannya menariknya kearah pria asli Bandung tersebut. “Kenalin ini bang Hendri! Bang Hen kenalin ini Gibran” kataku mengenalkan mereka berdua. Mereka bersalaman. “Aku pamit dulu ya Syah, mau kesitu sebentar.” Lelaki berambut ikal dan bermata tajam itu memohon ijin “Iya, silahkan” jawabku Ia berlalu. Meninggalkan aku. Bang Hendri juga pergi, kembali ke kumpulannya yang ia tinggalkan tadi. Aku memperhatikan Gibran, ia pergi dengan mata redup. Ia menemui tante dan om kemudian berpamitan. “Kamu ngomong apa tadi?” tanya mama sambil melotot dan sedikit menjewer kupingku “Isyah Cuma ngenalin dia sama bang Hendri, terus dia pergi” jawabku sedikit cemberut Mama beranjak kembali ke rombongan. Aku menyusul, tersenyum sendiri sambir berpikir “Mungkin dia piker Bang Hendri calon suamiku kali yah? Masa iya, jilbab selutut jalan-jalan sama non mahrom? Ada-ada aja itu orang. Tapi baguslah! Alhamdulillah.” *** Tujuan wisata selanjutnya adalah wisata belanja. “Ke Cibaduyut dulu yuk, mama mau cari sepatu” mama mengajak kami dan tante saat pagi hari disaat semua sedang makan bubur ayam “Iya, papa juga mau cari sepatu bagus buat Isyah nikah nanti” papa tersenyum. Aku mencibir “Boleh, aku siap deh jadi sopir” jawab tante “Iya, tapi maaf aku enggak bisa ikut. Maklum ada tugas Negara” timpal om Ujang yang sudah siap berpakaian Dinas Kejaksaan Tinggi Negri sambil memakan bubur ayam *** Mobil berhenti disebuah parkiran ditepi jalan yang asri itu. kami semua turun. Sepanjang mata memandang di kawasan ini yang ada hanyalah toko-toko penjual sepatu. Entah berapa banyak jumlahnya. Sepatu yang dijual pun lengkap mulai dari sepatu anak hingga dewasa, untuk modelpun demikian mulai dari wedges wanita sampai pantofel tersedia. Hargapun juga sama mulai dari yang termurah sampai termahal. Melihat sepatu-sepatu yang berjajar rapi dan bersih juga banyak pilihan itu menurutku akan susah untuk tidak membeli. Bayangkan! Aku saja sampai membeli sekaligus 5 sneakers disana, dan semua belanjaanku papa yang bayar, yeay! Aku senang sekali. Memang ya, wanita kalau udah belanja terkadang suka lupa. Oim, bang Hen, mama dan bahkan papa juga sama. Semua memborong sepatu yang ada disana. yang tak tergoda hanya tanteku, mungkin karena sudah sering beli jadi tak silau mata seperti kami. Selepas belanja kami mencari masjid dan melaksanakan sholat, perjalanan dilanjutkan dengan berbelanja ke factory outlet yang terletak di jalan Dago. Kami berpencar menjadi 2 kubu. Tante menemani kami, menunjukan kepada kami toko-toko yang menjual gamis syar’i yang berkualitas bagus. Sekali lagi aku gelap mata, membeli sekaligus 4 gamis. “Taka pa, gamis syar’I ku masih sedikit. Lagian kalau beli sekarang kan bisa setahun lagi baru beli gamis” pikirku. Merasa kelaparan setelah puas berbelanja kami mampir ke sebuah angkringan yang sudah terkenal did ago ‘Angkringan Dago’. Seketika meja kami dipenuhi makanan, ada nasi putih, nasi kucing, nasi goreng, sambal terasi, iga bakar, sop buntut, sayur asem, ayam, gepuk dan masih banyak jenis minuman dan makanan ringan lain. Kenyang dan merasa tenaga sudah terisi mama mengajak kami semua untuk membeli aneka makanan khas jawa barat itu. toko iteung menjadi pilihan selanjutnya. Disini yang turun tangan sepenuhnya hanyalah mama, semntara yang lain hanya mengikuti saja. Setelah selesai berbelanja kami kembali pulang kerumah dan beristirahat. ‘zzzt ztttt’ suara hp ku yang bergetar diatas meja kamar. Aku menagmbilnya, melihat sebuah pesan masuk “Assalamualaikum Ustadzah, maaf untuk tidak mengabari selama beberapa hari. Masyaa Allah ana tak menyangka jawaban anti perihal pertanyaan ana yang kemaren, singkat, padat jelas dan tepat. Kalau boleh tau anti sedang apa?” pesan dari akun Abdullah Yusuf “AFWAN, ANA BUKAN USTADZAH!” jawabku singkat dan marah “Afwan ukh, jangan marah. Ana Cuma bercanda.” “ - - “ “Anti lagi apa sekarang?” tanyanya sok akrab “Lagi packing!” “Oh, gitu. Afwan kalau ana mengganggu. Assalamu ‘alaikum” “Waalaikumusalam” Tak kupungkiri ada seberkas kerinduan terhadap lelaki ini, meski kami tak pernah bertemu tetapi ia sepertinya lelaki yang baik fikirku. *** Hari ini kami kembali. Liburan kami telah selesai, tante mengantarkan kami semua ke bandara. Di perjalanan sebelum ke bandara kami mampir dulu ke alun-alun untuk melaksanakan shholat sunnah. Kemudian baru melanjutkan perjalanan menuju Bandara. Aku sangat menikmati perjalanan terakhir ini, semua tentang bandung yang aku cintai. Aku suka orang-orangnya, gaya bahasanya, makanannya, juga semuanya. Kalau bisa memilih rasanya aku ingin berlama-lama tinggal di Bandung. Aku sudah jatuh cinta pada kota ini. *** Sesampai di Bandara kota kami tercinta papa menelpon om Ivan, namun karena sibuk urusan kantor ia tidak bisa datang, istrinya juga sama, tidak bisa menjemput karena sedang check kesehatan dirumah sakit. “Biar minta tolong temen bang Hendri aja pah, temennya kan banyak” celetusku Papa terlihat berpikir, papa kemudian menemui bang Hendri, memintanya menghubungi seorang temannya yang bisa menjemput kami semua di Bandara dan mengantar kami sampai kerumah om Ivan. Sesampai disana kami akan langsung pulang karena memang sebelum berangkat mobil dititipkan disana. Bang Hendri sibuk menelpon “Sebentar lagi datang” kata bang Hen menenangkan kami semua Sekitar sepuluh menit kemudian mobil yang ditunggu tiba. Barang-barang dimasukan kedalam mobil, kemudian diikuti kami semua. Aku tak banyak melihat ini dan itu, setelah ada aba-aba untuk masuk mobil aku langsung naik saja. Aku duduk tepat dibelakang sopir, seorang laki-laki tegap dengan parfum yang tercium wangi lembut saat didekati. Sepanjang jalan aku memejamkan mata karena lelah, sambil sesekali tersenyum menghirup bau parfum sang sopir yang membuat suasana hati menjadi damai. Perjalanan dari bandara menuju rumah tante lumayan memakan waktu. Aku sempat tertidur meski hanya sesaat. Mobil berhenti memasuki sebuah garasi, mesin mobil terdengar berhenti. Aku membuka mata dan mengucek-nguceknya, aku keluar paling belakangan berbarengan dengan sang sopir. Kami sama-sama menutup pintu mobil, dia melihat kearahku, aku melihatr kearahnya. Pandangan mata kami beradu, sesaat kemudian dia tersenyum manis kepadaku, aku tertunduk tersipu malu. Karena lupa task u masih di dalam mobil aku membuka lagi pintu mobil, menunduk mengambil tasku yang tersangkut dibawah jok mobil. “Sini abang bantu ambil” katanya menyapa Aku mempersilahkan dengan isyarat mundur kebelakang. Ia mengambilnya dan memberikannya kepadaku “Masih ada yang ketinggalan? Tanyanya lagi “Enggak, makasih” jawabku sambil menutup pintu mobil “Dari mana dek?” katanya “Dari Bandung bang” jawabku “Aisyah, bantu mama nak” teriak mama dari arah dalam rumah. Aku berjalan, memutar badan masuk kedalam rumah. Ini adalah kali pertama bagiku berbicara dengannya, lelaki tampan dan sopan yang selama ini hanya bisa kucuri pandang. Dia baik ternyata, lembut juga perhatian. Aku bahagia bisa berbicara dengannya. *** Mobil berjalan menuju desa, aku duduk didepan, menemani bang Hendri. Mama dan papa duduk dikursi barisan kedua, terlihat meeka sudah tertidur pulas menganga, adikku Oim juga demikian, ia sudah tertidur dengan kaki berada di kaca mobil di kursi bagian belakang. Mataku enggan terpejam, mungkin karena tadi sudah tertidur dimobile selama perjalanan dari Bandara menuju rumah. “Syah, kamu nggak tidur?” tanya bang Hendri “Enggak ah, belum ngantuk. Tadi udah tidur dijalan” “Oh!” “Bang, Syifa bilang dia sudah mau loh kalau ada yang mau ajakin dia nikah” “Syifa itu siapa?” “Syifa, adeknya akhi Hamzah” “Ooh, baguslah. Daripada pacaran kan. Lagian yang dapetin dia Insyaa Allah beruntung” “Karena dia pake cadar?” “Bukan! Karena dia orangnya baik, coba kamu lihat dia masih muda, sudah taat beribada! Malam tahun baru saja mana mau dia keluyuran hura-hura, padahal kalo kita lihat Bandung selain kota wisata juga kota yang akrab dengan anak muda. Café-cafe tak canggung berseliweran, tetapi dia tidak tergoda sama sekali. Bahkan demi menjaga diri, dia sudah berpikir lebih baik untuk menikah muda. Dan sepertinya orangnya cantik” “Cantik? Tahu dari mana abang?” “Kamu ini ya emang dasar, abang cerita panjang-panjang, giliran sedikit bahas cantik langsung ditanggapi” “Hehe iya sih, pakaian mereka kayak artis di tv-tv ya bang, modern! Terus cantik tadi?” “Hmm, kekeuh ya! Kalo sol cantik sebenarnya abang enggak tau! Kan enggak pernah liat, Cuma kita kira-kira aja dari abangnya yang ganteng mirip oppa korea yang sering kamu tonton itu, seharusnya adikknya juga cantiklah! “Hehe iya sih, Syifa cantik sekali. Bahasanya juga halus dan sopan. Ah abang nyama-nyamain sama oppa Korea” “Kamu masih suka nonton drama Korea” “Enggak bang, lebih suka baca sirah nabawiyah, kisah hidup para sahabat atau menonton film Omar di youtube kalau sekarang. Kalau baca sirah itu rasanya Isyah langsung menyaksikan semua kisah perjalanan hidup Rasulullah Salallahu alaihi wasallam, bagaiman Rasulullah kecil ditinggal mati kakeknya, bagaiman kejamnya Hindun saat mengunyah jantung Hamzah Radiallahu ‘anhu jantung Isyah sampe mau copot karena ketakutan dan tak pernah menyangka ada orang sekeji itu, juga bagaiman Rasulullah meringis kesakitan saat sakaratul maut” “Masyaa Allah, keponakan abang sudah banyak belajar ya sekarang” “Masyaa Allah” jawabku sembari menatap lurus kejalan datar panjang yang sedang sepi “Isyah, kamu ingat enggak dulu abang pernah janji sesuatu?” “Janji apa bang?” “Dulu waktu di Rumah sakit” “ah, udah lama sih. Isyah udah lupa bang” “Abang janji waktu itu, kalau kamu udah khatam baca sirah nabawiyah abang mau kasih sesuatu untuk kamu” “Oh, iya-iya yang waktu itu kan. Mana bang hadiahnya? Sudah dibeli? “Bukan dibeli” “Terus? Maling?” “Enak aja” sambil ingin meraih pipiku untuk dicubit, tetapi aku menghindar “Terus” “Sudah ada hadiahnya, sudah dekat sekali. Mungkin, satu atau dua hari lagi nyampe” “Jangan aneh-aneh loh bang!” “Emang abang pernah kasih hadiah aneh-aneh” “Hehe, belum pernah sih! Ya kali aja” “Husnudzon Isyah, husnudzon! Istigfar!” “Kan becanda kali bang, hehe. Astagfirullahal adzim” Khitbah “Assalamualaikum ukhti” terlihat pesan di messenger masuk pagi-pagi. Aku yang masih lelah berniat untuk tidak membalasnya tetapi, aku sudah membacanya dan akan ketahuan jika tidak dibalas. “Waalaikum sallam warahmatullah” jawabku singkat “Afwan ukh, bolehkah ana bertanya?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD