KADO PERNIKAHAN

1358 Words
KADO PERNIKAHAN Aku tak mau membicarakan Adi lagi, bagiku lembaran buku Adi sudah tertutup, bagiku cerita Adi di hidupku sudah usai, sudah tamat dan mendapat ijazah. Tak mau lagi kubuka kenangan lama itu, tak mau lagi kuulang memori itu, tak mau lagi ku bermimpi menjadi seorang ratu dan beliau rajanya. Tak mau aku memikirkannya sungguh! Hari ini adalah tanggal itu, tanggal seharusnya aku menikah tapi apalah daya Allah berkehendak lain. Aku belum di takdirkan berjodoh. Tanteku dari kota datang, aku tak terlalu semangat menyambutnya, aku masih sibuk di kamar saja tepatnya di depan laptopku, melihat sss, Youtube, ini dan itu . Lalu ada suara ketukan pintu dan gagang pintu yang ditekan seperti seseorang ingin membuka pintu kamarku yang terkunci dari dalam seraya suara mengikutinya Tok-tok-tok “Assalamu ‘alaikum Aisyah” suara itu, suara lembut yang sangat aku kenal. Suara tanteku. “Iya tante” jawabku sambil membuka pintu Aku terperangah melihat kecantikannya, wajahnya bersih bagai rembulan. Hidungnya mancung dan pipi yang licin seperti porselen meski ia tidak mengenakan banyak riasan. Umurnya sudah kepala 3 tapi sepertinya kecantikannya mengalahkan banyak gadis. Pakaiannya teduh sekali . Mood ku langsung naik menjadi bahagia melihat pakaian syar’i yang dikenakannya. “Eh tante Marina kapan sampe?” Masuk tante. Kataku “Dijawab dulu salam dari tante” “I-iya tante Waalaiku salam” Tante Marina ini adik ipar ibuku dari adik satu-satunya. Anaknya 3 masih kecil-kecil kelas 5 SD, kelas 3 SD dan yang paling kecil kelas 1 SD, ketiganya lelaki. Dia sekarang sedang hamil anak ke empat, sedang berjalan 5 bulan. Orangnya baik sekali juga solehah dan penyayang. Ucapannya santun dan ramah. Suaminya juga alim. Terlihat gagah dan soleh. Tak pernah aku dengar mereka rebut besar sebagai suami istri meski pernikahan mereka sudah berjalan lebih dari 10th. “Tante ada hadiah buat kamu, dibaca dan dipelajari ya sayang. Semoga bisa mengobati luka dihatimu” kata tante sambil menyerahkanku sebuah kado berbungkus pink bermotif hati dengan pita merah yang disimpul indah. “Makasih tante” jawabku seraya memegang kado dari tante yang terasa berat menurutku sambil menerka-nerka apa kira-kira isi didalamnya. “Iya sayang, kamu jangan sedih lagi ya nak ya, sholat, puasa sunnah, kerjakan amalan-amalan sunnah ya nak, belajar kitab-kitab Islam berdasarkan Al-qur’an dan hadist shohih. Insyaa Allah hati kamu akan menjadi tenang kembali. Allah memberi cobaan hanya kepada hambanya yang mampu. Allah memberi cobaan pasti diikuti dengan solusi. Ingat, sebaik-baik penawar adalah waktu” “Iya tante, terimakasih banyak tante” jawabku singkat meski belum terlalu paham maksud dari ucapan tante barusan “Ya udah tante kebawah dulu ya! Kamu kebawah juga ya, kita ngumpul sama-sama.” Aku mengangguk Penasaran, kututup pintu kamarku dan kubuka kado dari tante. “Berat dan padat tapi terlalu besar untuk sebuah netbook baru juga terlalu berat untuk sebuah iphone. Apalah ini ya?” Ketika kubuka ternyata dua buah buku isinya. Buku pertama berjudul ‘Fiqih Wanita’ yang berwarna shocking pink sedang buku kedua berjudul ‘Kado Pernikahan’ karya Syaikh hafizh Ali Syuaisyi’. Melihat buku yang kedua ekspresiku datar “Aku kan tidak jadi menikah” gumnamku, lalu iseng kubaca cover belakang bukunya isinya begini: “ Menikah adalah sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam dan sunnah para rasul kekasih Allah. Sunnah yang paling membawa kenikmatan dan sekaligus bertabur pahala dan kemuliaan. Betapa indah dan bahagia, sebuah pernikahan yang dibangun di atas pondasi keimanan dan kasih sayang, diliputi semangat saling memahami dan melayani, dan dihiasi keluasan ilmu dan budi pekerti. Pernikahan yang demikian, adalah idaman dan dambaan setiap dua insane sepasang. Bahtera rumah tangga yang dibinanya siap berlayar mengarungi samudera kehidupan yang demikian panjang; terkadang berjalan mulus dan lancar, dan terkadang penuh badai dan gelombang. Namun, dengan niat dan tekadyang kuat, mereka berhasil melewatinya, dan sukses merengguk keindahan intan dan permatanya.” Kemudian iseng kubuka sembarangan halaman, mungkin sudah takdir dari Allah untuk membuka halaman 82 dengan judul cetak tebal Asas Dalam Memilih Suami ; 1. Lelaki yang saleh dan taat beragama, walaupun miskin 2. Tidak cacat dan tidak mandul 3. Seorang pemuda yang dapat melindungi “Lho? Cuma itu?” pikirku “Benarkah menurut agama Cuma 3 kriteria itu? Lalu, bagaimana dengan pekerjaan tetap dari keluarga terpandang dan memiliki pendidikan tinggi seperti yang selama ini secara tidak langsung semua pemudi cari dan semua orang tua ajarkan?” Kemudian aku menutup buku itu dan turun menemui keluargaku, mereka terlihat sibuk masing-masing. Ayahku sibuk bicara dengan om sedang ibuku dan tante didapur. Terlihat juga adik laki-lakiku yang sedang duduk di kursi sedang main hp bersama anak sulung tanteku. Sedang dua anak laki-lakinya yang kecil sedang sibuk bermain puzzle yang mereka beli di kota sebelum kerumahku. Aku menemui mama dan tante didapur. Membuka bungkusan-bungkusan oleh-oleh yang tante bawa. Ada martabak manis, pempek, risoles, cake marmer, browniss, ada onde-onde yang masih panas, ada ayam panggang satu ekor juga buah-buahan. Aku menyajikannya dipiring, kue manis dan asin. Menatanya rapi dimeja makan. Mama memanggil semua untuk berkumpul di meja makan. Kita duduk dan makan bersama. Terlihat beda sekali. Om, tante, dan ketiga anaknya terlihat sangat baradab ketika akan makan, mereka mengucapkan ‘Bismillah’ sebelum makan yang semua orang di meja pada saat itu bisa mendengarnya. Mereka hanya menggunakan tangan kanan dan makan pun tidak berlebihan. Berbeda sekali dengan diriku, membaca ‘Bismillah’ sebelum makanpun aku terkadang lupa. Sepanjang mereka makan aku memperhatikan mereka semua. Akupun mengikuti mereka, Bismillah kataku lalu aku ambil kuah dan pempek adaan kesukaanku dan mulai memakannya. Malam itu suasana hangat sekali, keluargaku mengobrol di meja makan sambil tertawa riang. Aku senang sekali mendengar cerita papa dan om saat papa masih muda dulu dan om masih SMA. Pernah suatu hari mereka memancing, saat tiba ditempat memancing mereka kegirangan karena tidak ada orang lain disana yang ikut memancing, gak ada saingan pikirnya lalu mereka memancing dari siang sampai sore. Dan ternyata zonk, mereka tidak dapat apa-apa. Ternyata memang air sedang pasang. Akhirnya papa bilang “Ke TPI ajalah Van daripada gak dapet ikan” “Haha, iya bang nanti mama isyah ngomel kita pulang gak bawa apa-apa, mana kita perginya seharian lagi ” Keliling pasar tidak mereka temukan ikan laut segar, hanya ikan Dari es “Pak ikannya gak ada yang segar ya?” “Wah pak, badai gak ada yang melaut. Gak ada ikan” Papa dan om menahan tawa geli dan malu sama diri sendiri merasa bodoh dan konyol karena memancing disaat yang salah, kemudian papa bilang “Yaudah pak beli ikan tuna 1 ekor yang besar ya pak” “Saya bersihkan ya pak” “Jangan. Biarkan seperti itu!” “Oh iya pak” mungkin dalam hati penjual merasa bersyukur karena tak perlu capek-capek membersihkan ikan pelanggannya. Begitu mereka berdua mengulang reka adegan. Mereka pulang membawa ikan beku yang sudah perlahan mencair. Pas pulang mama tanya “Kok, ikannya dingin?” “Oh iya tadi mampir kerumah Mahmud dulu mau pesan beras. Terus kebablasan ngobrol jadilah ikannya dititipin kekulkas dia daripada busuk” “Oh” kata mama percaya Begitu mereka berdua memerankan adegannya masing masing diikuti tertawa yang terbahak-bahak. Tertawa riang om dan papa juga anggota keluarga terdengar memenuhi ruang makan. Sambil diikuti suara mama yang sedikit mengomel tetapi senang karena mungkin merasa lucu sudah dibohongi juga disusul suara istri om yang istigfar minta ke papa dan suaminya untuk meminta maaf ke mama karena sudah berbohong. Terdengar diakhir kikikan om yang sedang tertawa ia mengucapkan ‘astagfirullah.’ Malam berlanjut dengan kami semua menyantap ayam bakar yang memang sudah menjadi rahasia umum dikeluarga kami bahwa rasa ayam bakar buatan tante memang juara. Hari sudah malam. Sudah jam 11 malam. Anak kedua dan ketiga om sudah tertidur. Mereka pamit pulang. Dengan hangat sekali tante memelukku malam itu. Aku salam ke mereka berdua. Tante duduk dibelakang menjaga kedua anaknya yang tertidur sedang anak sulungnya duduk didepan bersama ayahnya. Toko papa juga sudah tutup, karyawan sudah pada pulang. Aku kembali ke kamar berniat untuk istirahat, tetapi aku melirik ke meja dikamarku, disamping laptop terlihat dua buah buku yang diberikan oleh tante kepadaku. Tertarik aku mulai membaca buku itu, aku membaca buku itu dari halaman pertamanya, bab anjuran untuk menikah. Aku membaca dan terus membaca sampai akhirnya ketiduran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD