Different Surface~06

1328 Words
Marcella membuka pintu kamar dengan sedikit menguap membuat Dudley yang baru saja melintasinya menuju meja makan menatapnya dengan alis yang menukik. "Kau terlihat sangat polos jika pagi hari." Tersenyum culas membuat Marcella menatap Dudley "Dan aku sangat menggoda jika malam hari ?" godanya membuat Dudley memutar bola matanya. "Tutup mulutmu lalu basuh wajahmu, sebelum ke meja makan.Aku sudah memesan makanan untuk sarapan pagi kita." ucap Dudley sembari meninggalkan Marcella yang mengikuti nya dari belakang dengan tersenyum. Menaruh set makanan yang dipesannya ke atas meja makan membuat Marcella menghampiri nya untuk menatap makanan apa yang di pesan oleh sahabatnya itu. "Kau ingin minum apa pagi ini ? Teh atau s**u ?" ucapan Dudley membuat Marcella berpikir sebentar sebelum menghampiri wastafel bak cuci piring dan membasuh wajahnya disana. "Apa kau punya s**u rendah lemak ? Jika kau punya aku ingin susu." "Kau pikir ini mini market. Ak--" gerutuan Dudley spontan saja berhenti saat menatap sahabatnya itu sedang membasuh wajahnya di wastafel dapur, membuatnya tercengang dan langsung saja menaruh piring - piring untuk memindahkan sarapan mereka ke atas meja dengan sedikit keras. "Itu wastafel khusus untuk membasuh piring - piring kotor ! Kau akan mengotorinya !" pekik Dudley membuat Marcella yang telah menyudahi cuci wahmjahnya itu, mematikan air keran dengan wajah yang sedikit mengejek. "Ayolah. Apa wajahku lebih kotor dibandingkan dengan peralatan makan." Menggeleng tidak percaya membuat Dudley menggertutu sembari mulai menata makanan pagi mereka, mengabaikan Marcella yang mulai berjalan ke arah kulkas mencari s**u untuk pelengkap sarapannya. "Kau tidak memiliki s**u rendah lemak." gumam Marcella lebih tepatnya kearah Dudley membuat Dudley meliriknya sinis. "Sebaiknya kau duduk. Aku akan membuatkanmu teh." Marcella mengikuti perintah dari sahabatnya itu yang kini terlihat mulai membuatkannya secangkir teh sembari menunggu kopi miliknya sendiri yang di olah oleh mesin kopi,hingga memunculkan bunyi bip bahwa kopi nya telah siap. Saat semuanya telah tersedia mereka mulai makan dengan sedikit percakapan pagi yang diselingi di anatar mereka berdua. Percakapan pagi yang ringan. "Apa sudah ada keputusan dari Hans untuk kasusmu yang kemarin ?" Hingga pertanyaan Dudley membuat Marcella yang akan menyendokkan kuning telur kedalam mulitnya terhenti. Menaruh sepasang alat makan yang masing - masing berada di tangan kanannya itu ke atas piring, sebelum meraih segelas cangkir teh dan menyesapnya. "Belum. Tapi, kurasa aku akan direhatkan untuk sementara hingga masalah ini berlalu." "Kau akan disembunyikan oleh agensi, maksudmu. Seolah - olah kau tidak pernah ada." Dudley kembali mengambil satu suapan kedalam mulutnya berbeda dengan Marcella yang kini berhenti menyuap makanannya. "Itu lebih baik. Anggap saja liburan, bukannya kau mendapatkan liburan tetapi malah gagal karena masalah kemarin. Anggap saja tambahan liburan untuk jangka waktu yang lama." sambung Dudley membuat Marcelle lagi - lagi mendecikan lidahnya, malas. "Aku berencana akan kembali ke Belgia jika memang aku akan rehat  panjang. Dengan ibuku yang akan menikahkanku paksa disana." ucapnya sebelum mulai mengangkut piring dan gelasnya lalu mendorong kursinya kebelakang, berjalan kearah wastafel. "Aku akan mencuci piring, sebagai rasa terimakasih. Jadi cepat selesaikan makanmu." sambungnya yang mulai memakai sarung tangan, bersiap mulai membasuh piring bekas makanannya. Untuk beberapa menit kembali terdengar gerutuan Dudley yang mendengae ucaspan Marcella seolah dirinya adalah pemilik dari apartemen yang di tinggalinya. Tetapi, tidak urung melakukan ucapan dari sahabt perwempuannya itu sebelum kembali menyusul Marcella yang masih menggosok piring kotor makannya di dalam bak. Berdiri disamping Marcella yang masih sibuk membersihkan peralatan makanan membuat Dudley menatap dirinya dari dekat dengan perlahan - lahan menyesap kopi miliknya yang masih ada di dalams gelas. "Kupikir ayahmu membencimu. Kau yakin akan kesana menemuinya." "Karena itu aku harus menemuinya,sesering mungkin. Meskipun kakiku sebagai taruhannya." "Kakimu ? Ada apa dengan kakimu ?." Dudley menaruh gelas kopi nya yang telah habis disesapnya kedalm wastafel, membuat Marcella menatapnya jengkel karena terlambat menaruhnya padahal dirinya sudah selesai membasuh semua peralatan. "Kakiku mungkin akan dipotong olehnya agar aku tinggal di sana dan tidak kembali kesini. " balas Marcella dengan sedikit tawa diselanya membuat Dudley menatapnya dengan bergidik ngeri. "Jangan kesana kalau begitu !. Tinggal saja disini!. Aku akan menampungmu. Anjing liar saja aku tampung hingga menemukan penampungan yang mau menerimanya, terlebih jika itu kau." "Beberapa saat lalu aku tergugah, tetapi setelah mendengar semua ucapanmu membuatku ingin memukulmu sekarang." geram Marcella membuat Dudley berlalu darinya dengan memasang wajah bodoh. ¤¤¤ Beberapa menit lalu Marcella yang sedang bersantai menikmati tontonan tayangan TV di apartemen Dudley itu mendaptkan panggilan telepon dari Hans untuk segera ke agensi. Padahal baru kemarin malam atasannya itu memberi tahunya untuk beristrhat saja di rumah, tidak beraktifitas diluar sana. Yang berarti tidak akan meninggalkan jejak - jejak lain mengenai dirinya. Lalu secara tiba - tiba dirinya kembali mendapat panggilan membuatnya segera bangkit dari posisinya, bersiap - siap dengan melakukan sedikit penyamaran pada dirinya sebelum mulai memesan taxi. Marcella mengikuti arahan yang diberikan oleh Roseline sebagai sekertaris dari Hans yang membawanya ke arah ruang rapat Urgent. Ruang rapat urgent sendiri adalah ruangan rapat besar yang didalamnya hanya di isi oleh petinggi - petinggi dari C.I.V untuk membahas misi rahasia yang hanya ditangani oleh agent kelas A. Ini bukan pertama kalinya dirinya masuk kedalam ruang rapat Urgent ini, tapi hanya orang yang memiliki wewenang tinggi dan agen yang akan melakukan misi yang boleh masuk kedalam, marema kerhasian dari setiap misi yang dibahas bersifat rahasia bahkan dari sesama agen kelas A yang menangani misi berbeda - beda. Sedangkan dirinya sekarang sedang tidak dapat menerima misi karena dirinya akan direhatkan untuk sementara sampai orang - orang tersebut berhenti mencari dirinya. Saat Roseline membukakanya pintu untuk masuk kedalam ruangan seluruh atensi dalam ruangan berbalik menatapnya. Hingga suara pintu besar yang terdengar kembali di tutup dibelakangnya menyadarkan seluruh orang dalam ruangan. "Silahkan ambil tempatmu Nona Marcella." ucap Hans yang sedang berdiri didepan itu membuat Marcella kembali berjalan, mengambil tempat yang ditunjuk oleh atasannya itu. "Kau sudah datang." bisik Dudley pelan membuat Marcella berbalik menatapnya yang juga duduk tepat disampingnya. "Ada apa ini ? Bukannya aku akan menunggu keputusan untuk direhatkan." bisik lirih Marcella dengan terus menatap seluruh orangd alam ruangan yang juga sesekali melempari dirinya tatapan. Hinggas sekelompok orang yang di kenalnya tidak jauh duduk darinya, juga melemparkannya sebuah senyuman. "Kenapa mereka ada disini ?" tunjuk Marcella kearah sekumpulan pria yang duduk bersama - sama, yang juga berbalik menatapnya sebelum melemparkan pandangannya kembali kedepan kearah Hans yang mulai membuka suara. Mengikuti arah pandang yang di maksud Masrcella membuat Dudley menatap Russel dan beberapa pria yang menolong sahabatnya dalam penyekapan kemarin. Sebelum berbalik menatap Marcella dengan raut wajah khawatir yang terlihat jelas. "Girl. You're in trouble." Dudley mulai kembali panik. ¤¤¤ Ketukan dipintu tak kunjung membuat Aldred yang sedang fokus menatap berkas di bawahnya itu mendongak, melainkan hanya mengeluarkan perintah. "Masuk." Langkah kaki yang terdengar cukup tergesa - gesa itu kini berhasil mendongakan kepala Aldred, menatap tangan kanannya Ricardo dengan sebelah alis yang terangkat. Seolah bertanya ada apa ? "Lokasi Marcella telah diketahui. Dia berada di sekitar taman Elcud, tepat di tengah pusat perbelanjaan kota." Spontan Aldred yang mendengar ucapan dari Ricardo itu menggerbak mejanya dengan kuat hingga bangkit berdiri. "Apa kau sudah mengirim anak - anak kesana agar tidak kehilangan jejaknya ?" tanya Aldred memastikan, tidak ingin kembali kehilangan lokasi Marcella. Kali ini dirinya harus mendapatkan perempuan itu dan membuka mulutnya agar masalh imi tidak menggagunya kedepannya. "Saya sudah mengirim 15 orang untuk mengawasi nya dari jauh agar tidak mencurigakan dan tidak kehilangan jejaknya saat dirinya kembali bergerak." "Bagus." langsung saja Aldred menarik jas yang di gantungnya di belakang kursi lalu mulai memakainya dengan terburu - buru. Membuka laci mejanya dan secara gamblang mulai menarik salah satu pistol yang sama dari 5 pistol yang berada di bawah laci meja kerjanya, sebelum measukannya kedalam balik jasnya. Aldred yang baru saja keluar dari ruang kerjanya itu kembali berbalik menatap Ricardo yang tepat berada di belakangnya dengan ipad di tangannya, untuk mengontrol keadaan target mereka. "Bawa lagi anak - anak lain lebih banyak. Ah. dengan penembak runduk setidaknya lima orang. Kita tidak tau kali ini apa yang akan menunggu kita disana." pereintah Aldred membuat Ricardo menganggukkan kepala dan mulai kembali mengirim perintah. Aldred kembali berjalan dengan cepat dan langsung saja masuk kedalam mobil yang memang sudah tersiap di luar untuk mengantarnya, bahkan tangannya lebih dulu membuka gagang pintu mobil dibandingkan pengawalnya yang akan membukakanya pintu mobil. "Jangan sampai dia lolos lagi. Perempuan itu kunci dari jawaban yang kita butuhkan." 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD