Marcella masuk kedalam mobil tepatnya dikursi mengemudia membuat 4 agen lainnya segera masuk sambil terus berjaga - jaga.
Membawa mobil dengan kecepatan tinggi membuat mereka semua memasang seatbellet dengan terburu - buru.
"Kalian baik - baik saja ?" tanya Marcella dengan terus mengemudi, berusaha fokus kejalanan.
Mendengar kalimat pertama yang dikeluarkan oleh perempuan tersebut membuat Russel berbalik menatapnya.
"Kupikir ini misi yang mudah. Ternyata memakan korban. Aku harus mendapat kenaikan pangkat." gumam Russel membuat Marcella meliriknya sedikit.
"Aku akan mengurusnya." respon Marcella bersamaan dengan dirinya yang berbalik menatap seluruh agen lainnya melalui kaca dashboard.
"Buat laporan. Kita akan segera menuju markas." tambahnya sebelum kembali menaikan kecepatan mobil.
¤¤¤
"Tidak berguna." Maki Aldred didepan wajah Ricardo membuat pria tersebut hanya diam menundukan pandangannya "Kenapa mereka semua sangat buruk ?!"
"Maafkan saya." ucap Ricardo saat nelihat Aldred yang kini melempae gelas ditangannya tepat disamping tubuhnya, membuat pecahan dari gelas tersebut mengenai sedikit wajahnya tetapi tidak membuatnya bergeming dari tempatnya.
"Hari ini aku sudah mendengar permintaan Maaf untuk kedua kalinya." desis Aldred sebelum menarik kerah pakaian Ricardo, membuat tangan kanannya tersebut mendongak menatapnya "Aku benci permintaan maaf, seolah - olah itu menunjukan kalian tidak kompeten." sambungnya sebelum kembali melepaskan kerah baju ditangannya dengan sedikit mendorong tubuh dari sang pemilik.
"Selesaikan semua ini Ricardo, jangan tinggalkan jejak apapun. Polisi pasti akan memeriksanya."
"Baik." sanggup Ricardo setelah mendapat perintah membuatnya berbalik berjalan keluar dari ruangan.
Meninggalkan Aldred sendirian yang sedang menghirup cerutunya itu.
¤¤¤
"Apa kau akan keluar seperti itu ?" Marcella menghentikan pergerakan tangan nya saat akan membuka pintu mobil.
Membuatnya berbalik menatap pria berambut pirang disamping yang sedang memperhatikan tubuhnya, mengikuti arah pandangan nya membuat Marcelka menyadari bathrobe yang masih saja melekat ditubuhnya.
"Ini sudah malam. Seharusnya tidak banyak karyawan yang tinggal."
"Aku ragu. Banyak karywan yang sedang lembur karena Red Code yang kau kirim. Terlebih situasinya." pria didepannya sepertinya menyalahkannya atas kelemburan yang dialaminya. Tetapi, tidak diambil hati oleh Marcella mengerti dengan situasi pria didepannya.
Pria yang bekum diketahui namanya tersebut melemparkannya sebuah jacket kearahnya yang langsung saja ditabgkapnya "Setidaknya kau harus pakai itu. Kau akan menemui atasan sebentar lagi."
Membuka pintu mobil meninggalkan Marcella yang kini sendirian didalam mobil.
¤¤¤
Marcella mengabaikan tatapan yang didapatnya dari beberapa karyawan saat melihatnya menggunakan bathrobe yang dipakainya bahkan tanpa alas kaki dan hanya disamarkan dengan jacket yang dipakaianya untuk menutupi belahan d**a yang dipakainya.
"Marcella" sebuah teriakan yang familiar membuat Marcella menghentikan langkahnya saat akan berjalan keluar dari lift.
Terlihat Dudley yang sedang berlari kearahnya dan langsung saja memeluk kencang tubuhnya membuatnya menghela nafas dan berusha melepaskan pelukan tersebut. "Aku khawatir kau kenapa - kenapa. Kau diberi waktu liburan untuk bersenang - senang, bukan untuk ini."
"Dia pacarmu ?" tanya Russel yang sedari tadi hanya diam. Membuatnya berbalik menatap pria berambut pirang tersebut "Bukan. Dia sahabatku." potong Dudley, menghentikan Marcella yang baru saja akan membuka mulutnya.
"Hans sedang menunggumu diruangan nya kau harus segera kesana. Sebaiknya ceritakan semua padanya, agar dia bisa memberimu jalan keluar." peringatnya membuat Maecella hanya memutar kedua bola matanya, tetapi tidak menolak. "Pakaianmu bahkan sangat--" mendengar Dudley yang akan kembali membuka mulutnya membuat Marcella bertjalan cepat melewatinya, menuju atasan nyia tersebut. "Aku pergi."
"Kau harua menceritakan semuanya padan Hans. Kau mengerti ? Kau harus. Atau kau akan ada dalam masalah lagi." teriak Dudley kembali membuat beberapa karyawan yang awalnya hanya menatap Marcella berbalik menatap nya.
¤¤¤
"Masuk." perintah dari dalam membuat Marcella mendorong pintu teresebut terbuka sebelum melangkahkan kakinya yang tidak dialas oleh apapun.
Hans yang sedari tadi menunggu kedatangan Marcella dikursi dibalik meja kerjanya itu langsung saja menatap kedatangan perempuan tersebut.
"Ada apa dengan pakaianmu ?" barusaja mengambil tempat didepan atasannya dan mendapat pertanyaan membuat Marcella hanya menghela nafas, mendapat pertanyaan dan tatapan yang sama dari karyawan - karyawan lainnya.
"Aku baru selesai mandi."
"Kau baru selesai mandi saat terjadi penyekapan ?" kali ini pertanyaan yang memastikan itu disertai dengan tatapan yang telihat bingung membuat dirinya lagi - lagi menghela nafas.
"Terjadi begitu saja. Saat aku selesai mandi aku keluar mengecek keadaan dan berakhir dengan aku disekap." jawab Marcella dengan acuh sembari mengangkat kedua bahunya.
"Ck. Kau seorang agen yang mengatasi misi kelas A, bagaimana bisa kau membiarkan dirimu disekap." gumam Hans sembarangan sembari membuka laptop nya, membuat Marcella hanya berdehem.
Mengetikan sesuatu dilaptopnya sebelum membalikan laptopnya yang
menampilkan sebuah rekaman cctv,menghadap kearah perempuan didepannya.
"Ini rekaman CCTV yang kami ambil dari tempat apartemen yang kau tinggali." Marcella fokus menatap seorang pria yang beberapa jam lalu menyekapnya itu berdiri didepan pintu flat miliknya, sebelum memasukan kode dan membuka pintu didepannya.
"Dia tau password pintu flatmu. Apa kau mengenalnya ?"sambung Hans yang terus menatap Marcella yang hanya diam memperhatikan rekaman CCTV didepannya.
"Tidak." ucap Marcella tepat saat dalam rekaman cctv menampilkan,pria bermata abu - abu itu telah membuka pintunya sebelum kucing miliknya melangkah keluar membuatnya mengangkat dan mengendong Bunny.
"Sebenarnya Hans. Aku menemui pria ini saat menjalankan missi kelas B di club viuw." sambung Marcella membuat Hans menatapnya dengan raut serius. "Dia mengetahui identitasmu ? Seberapa jauh di--"
"Tidak." sanggah Marcella membuat Hans kembali mengerutkan keningnha sebelum akan kembali membuka mulutnya, yang langsung dipotong oleh perempuan didepannya ini."Dia mengira aku salah satu penari yang bekerja di club tersebut."
"Apa dia yang memesanmu sehingga hampir terhadi kesalahan dalam menjalankan misi ?"
"Ya. Dia sepertinya kehilangan sesuatu tepat disaat malam aku dipesannya. Dia mencari sesuatu dan berpikir aku adalah kaki tangan dari orang tersebut." jelas Marcella dengan kening sedikit berkerut, mencoba menyampaikan semua informasi yang didapatnya dari pria bermata abu - abu tersebut saat mencoba mengintograsi dirinya.
"Dia kehilangan sesuatu ? Kau tau apa itu ?"
Menggeleng sebagai jawaban tidak membuat Hans memundurkan tubuhnya sedikit menjauh dari Marcella yang hanya dibatasi oleh meja diantara mereka.
"Apa dia menuduhmu karena malam itu kau di bantu keluar oleh agen - agen lainnya." gumam Hans kepada dirinya sendiri membuat Marcella berpikir, benar beberapa agen membantunya keluar. Semua lampu dipadamkan lalu terakhir gas asap dilemparkan. Maka dari itu mereka menyimpulkan bahwa dirinya adalh salah satu kaki tangan dari orang yang dicarinya.
"Dia berpikir kau adalah pengalih perhatian." sambung Hans Final, mencapai hasil akhir dari semua serangan yang didapat oleh agennya.
¤¤¤
Dudley menaruh cup kopi ditangannya kesalah satu meja saat memperhatikan Marcella, sahabatnya itu telah keluar dari ruangan Hans.
"Apa kau menceritakan semuanya ?" tanya Dudley membuat Marcella menganggukan kepalanya.
"Jadi kalian sudah tau siapa mereka ?" suara yang berasal dari seorang pria dibelakang Dudley sedaritadi hanya diam mendengarkan, kini membuka suaranya.
Mengalihkan tatapannya kearah samping kanan Dudley membuat Marcella mendapati agen yang memimpin penyelamatannya siang tadi. "Kau masih disini ?"
Tatapan Russel teralih menelususri jaket miliknya yang masih dipakai oleh Marcella, membuat yang ditatap menyadari apa yang ditatap oleh pria didepannya. "Aku akan mengembalikan jaket milikmu setelah selesai di cuci."
"Ya. Itu terserah dari kau." acuh Russel sebelum akan bersiap kembali membuka suaranya "Mengenai kenaikan pangkatmu bersama yang lainnya, Hans akan mengurusnya." potong Marcella lagi.
Mendengar ucapan dari Marcella membuatnya mengangguk mengerti, sebelum keadaan kembali menjadi canggung, karena Russel kunjung tak pergi"Apa kau punya tempat tinggal untuk sementara ?" tanya Dudley ke Marcella membuat tatapan kedua pria didepannya beralih menatapnya.
"Ibuku masih ada disini. Aku akan tinggal bersama mereka."
"Apa itu tidak terlalu beresiko melibatkan orangtuamu ?" Russel membuka suara membuat Marcella kembali mengalihkan tatapan matanya kearah pria tinggi tersebut. "Apa kau belum pulang ?" tanya Marcella kembali memberikan pertanyaan, membuat Russel berdehem.
"Aku akan mengantarmu ketempatmu tinggal untuk malam ini. Menjaga keamananmu."
Sontak mata Dudley membulat mendengar pria tersebut yang baru saja mengenal sahabat perempuannya, tidak cukup dalam kurun waktu 24 jam sudah memberi perhatian. Mendekatkan tubuhnya kearah Marcella dengan sedikit miring, membuat Dudley berbisik ditelinga sahabatnya "Kau akan mematahkan hatinya."
Marcella hanya memutarkan bola matanya mendengar Dudley berbisik di telinganya "Apa kau mau menwarkanku untuk menginap dirumahmu ?"
"HEI" Pekik Dudley mendengar sahabatnya itu berbicara kepada Russel yang kini hanya membulatkan kedua matanya terkejut, sebelum dengan cepat menguasai dirinya dengan wajah yang sedikit memerah.
"Jika kau mau. Ya aku tidak masalah." jawab Russel dengan terus memegang rambut bagian belakangnya yang tidak gatal melainkan gugup.
Marcella tahu saat ini Russel menyukainya. Sekedar menyukainya seperti pria lainnya saat melihat dirinya, para lelaki itu menyukainya dengan pertemuan pertama karena fisiknya.
Karena para pria hanya menyukai perempuan cantik.
Tersenyum saat menatap pria didepannya yang masih saja gugup menunggu jawabannya, membuat Marccela dengan cepat membuka suaranya " Terimakasih, tapi itu tidak perlu. Aku akan tinggal bersama Dudley." putusnya sebelum melangkah pergi melewati kedua pria tersebut.
Mematung mendengar jawaban tersebut membuat Dudley menepuk pelan sebelah bahunya "Jangan memberinya perhatian lebih. Dia membencinya." ucapnnya sebelum ikut berlalu, mengikuti Marcella.
¤¤¤
Marcella mengabaikan Dudley yang kini duduk di samping nya, bersiap mengemudikan mobil miliknya.
"Kau tidak terlalu kasar padanya ? Dia menyelamatkanmu." ucap Dudley membuka percakapan dengan sekali - kali melirik Marcella yang masih menutup.matanya.
"Dia menjalankan misi dari agensi bukan menyelamatkanku. Mereka semua sama Dudley." jawab Marcella yang diakhiri dengan menghela nafas.
"Apa kami pria di matamu seperti itu. Hanya menyukai perempuan cantik."
"Lalu apa kalian para pria membenci perempuan cantik ?" tanya Marcella menatap Dudley yang masih fokus menyetir, dengan terus bersandar. Mencoba mengistrahatkan tubuhnya yang lelah. "Lagipula kau tidak akan tau." sambungnya dengan tatapannya yang turun menatap sahabat pria nya dengan tatapan mengejek.
"Apa kau ingin ku turunkan disini." sinis Dudley mengetahui arti tatapan Marcella kearah celananya. "Kau tidak akan bisa menikah dengan sikapmu." makinya membuat Marcella hanya tertawa dengan kembali menutup matanya.
¤¤¤
Aldred menatap pistol ditangannya yang memiliki insial berhuruf MJ dibagian tubuh pistol dengan warna keemasan di tulisannya.
"Apa langkah selajutnya yang harus kita ambil ?" pertanyaan yang dikeluarkan oleh Ricardo disampingnya membuat Aldred berbalik menatapnya, sebelum menaruh pistol tersebut keatas meja sampingnya.
"Seharusnya kita sudah mendapatkan informasi dari perempuan tersebut." ucap Aldred lalu mengambil segelas wine yang berada di sampingnya dan mulai mencecapnya, hingga tatapannya berubah menjadi kesal yang di lemparkan kepada tangan kanannya. "Ck. Tapi semua gagal. Karena orang - orang yang kau pilih."
Ricardo yang disalahkan hanya diam menundukan kepala sebelum mendongak menatap mata abu - abu yang melemparkan tatapan menusuk kearahnya. "Maafkan saya. Saya akan lebih berhati - hati."
"Karena semuanya gagal. Kita harus mulai dari awal lagi untuk mencari keberadaan, Marcella." putuanya lalu bangkit berdiri dari kursinya dan mulai berjalan berbalik yang di ikuti oleh Ricardo di belakangnya.