Chapter #1 - SATU
CHAPTER #1
SATU
Pagi itu terasa cerah dan membahagiakan bagi Nio. Udaranya terasa hangat membuat suasana Kakerbeck menjadi lebih indah. Antonio Hasse baru selesai diwisuda disalah satu perguruan tinggi terbaik di Berlin. Nio panggilannya. Sekarang sudah menjadi sarjana arsitek dan menjadi mahasiswa terbaik tahun ini.
Keinginan untuk melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi lagi adalah impiannya dan impian kedua orangtuanya. Ada semacam desakan dalam batinnya Nio untuk meneruskannya di negeri leluhur ayahnya yaitu di Indonesia.
Sudah seminggu dia menulis lamaran kebeberapa perguruan tinggi di Indonesia baik di Jakarta maupun di Bandung. Dan anehnya hatinya lebih terpaut dan berharap bisa melanjutkan S2 nya di kota kelahiran ayahnya, di Bandung.
Akhirnya penantian itu terlaksana juga. Hari kemarin ada e-mail dari salah satu perguruan tinggi di Bandung yang menerima lamaran untuk pendidikan S2 nya. Dan sungguh hal itu suatu berita yang baik untuk Nio. Berita itu sengaja mau disampaikan kepada kedua orangtuanya hari ini.
Nio bangkit dari tempat tidurnya dan keluar menuju meja makan untuk ikut sarapan bersama kedua orangtuanya dan kakeknya.
“Selamat pagi Pah! Mah!” Sapa Nio menarik kursi makannya.
“Selamat pagi Nio.” Ibunya Nio membalas sapaan anaknya. “Ceria banget pagi ini, ada apa Nio?” Selidik ibunya.
“Iya ya, beda dengan hari-hari sebelumnya. Jadi curiga nih Papah.” Deka ayahnya Nio ikut menyapanya. “Kayaknya anak kita lagi jatuh cinta Mah.” Deka menoleh kepada istrinya Alise.
Nio menjawabnya dengan tertawa renyah tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
“Kakek Hansen mana Mah?” Tanya Nio.
“Ada tuh lagi di taman belakang. Tadi sesudah sarapan dia langsung kebelakang katanya ada tanaman yang lupa disiram kemarin sore.”
“Rajin amat sih kakek nih.” Ujar Nio menyuap sepotong roti kedalam mulutnya. “Pah. Aku punya kabar dari Indonesia.”
“Kabar apa itu Nio?” Kata Deka, ayahnya Nio.
“Itu Pah lamaran S2 Nio diterima.” Kata Nio sambil meminum jus jeruk buatan ibunya.
“Masa sih Nio? Apa itu betul?” Kata ibunya setengah tidak percaya. “Di Jakarta?”
“Masa Nio bohong sih Mah. Iya betul Nio keterima di Bandung.” Sahut Nio mengelap mulutnya.
“Ah syukurlah Nio. Akhirnya kamu bisa datang ke tanah leluhurmu di Bandung.” Balas ibunya.
“Iya Nio. Papah senang mendengarnya dan hati Papahpun tenang karena di Bandung pastinya banyak saudara-saudara Papah yang ikut menjaga kamu. Tentunya kakek kamu di Bandung akan senang mendengarnya.” Kata Deka menyambung kalimat istrinya.
“Iya Pah, Mah. Nio juga senang kok tinggal di Bandung. Dulu waktu kecil hanya sebentar kan tinggal di Bandung. Hanya liburan musim dingin saja kalau tidak salah.” Ujar Nio.
“Iya itu betul. Kapan menurut informasi universitas dimulai perkuliahannya Nio?” Tanya Deka. “Kamu harus sudah beres-beres tuh. Jangan sampai ada yang ketinggalan.”
“Bulan Juli sampai akhir Agustus Pah.”
“Ya sudah. Papah akan mengabari saudara-saudara kamu di sana dan biar bisa tinggal disalah satu rumah mereka.” Sambung Deka.
“Pah. Kalau bisa Nio ingin sendiri disana sambil belajar mandiri. Jadi tidak tinggal di rumah saudara-saudara Papah. Biar Nio indekos saja pastinya kan banyak rumah-rumah yang seperti itu disana.” Ujar Nio.
Deka dan Alise terdiam dan saling pandang mendengar keinginan anaknya. Mereka tau kalau Nio berkeinginan sesuatu sulit untuk ditolak. Keinginannya keras.
“Nio! Sudah bangun kamu nak?” Suara parau dari kakeknya memanggil Nio.
“Ehh kakek. Sudah kek! Baru saja selesai sarapan. Kakek sudah sarapan?”
“Belum Nio. Barusan kakek menyiram tanaman dulu di belakang.” Sahut Hansen kakeknya Nio.
“Iya kek. Oh iya kek. Aku diterima kuliah di Indonesia kek.” Kata Nio lagi.
“Oh ya? Waduhh kakek sendirian dong Nio. Tidak ada yang mijit kaki kakek lagi.” Kata kakeknya menghampiri Nio dan memegang pundaknya. “Tapi kakek senang mendengar kamu akan ke Indonesia. Itu bagus sekali sekalian belajar mengembangkan cara berfikir kamu.” Kakeknya menepuk-nepuk pundaknya. Hansen lalu duduk disalah satu kursi makan yang ada disitu.
“Terimakasih Kek.” Balas Nio memegang tangan tua kakeknya.
“Iya-iya Nio. Hati-hati saja disana dalam membawa diri yah.”
Setelah Nio selesai sarapan pagi lalu Nio pergi kekamarnya lagi untuk mandi pagi karena ada rencana pergi ke Kedutaan Indonesia untuk mengajukan permohonan vis belajarnya di Indonesia.
“Sebentar Nio.” Ayahnya datang menyusulnya saat Nio mau berangkat.
“Ya Pah, ada apa?”
“Nanti kamu temuin saja pak Sutopo di bagian pengurusan visa. Minta tolong sama beliau dengan menyampaikan salam Papah kepadanya. Terus minta informasi sekalian tentang perumahan di Bandung karena dia orang Bandung juga. Maksud Papah kamu bilang akan membeli rumah di Bandung.” Deka menjelaskan.
“Hah! Papah dan Mamah mau beli rumah di Bandung?” Setengah tidak percaya Nio berkata.
“Ya iyalah Nio. Betul kata kamu. Sekalin investasi juga tempat menginap Papah dan Mamah bila berkunjung ke Bandung. Lumayan kan mengirit biaya hotel.” Balas Deka menepuk tangan anaknya.
“Baguslah Pah. Nio senang mendengarnya.”
“Oke. Sudah cepat berangkat kesana. Keburu siang nanti.” Deka membalikan badannya dan masuk kerumah kembali.
Nio yang merasa senang karena keinginannya disetujui orangtuanya mulai menjalankan mobil VW Battle keluaran terbaru milik ayahnya.
Selama diperjalanan pikiran Nio melayang-layang kemana-mana. Bahkan angannya sudah sampai di Bandung mendahului waktu dan tempat.
Sesampainya di Kedutaan Indonesia Nio memarkirkan mobilnya dan masuk menuju lobby kedutaan.
Karena memang penampilan dan fostur tubuh Nio yang mirip orang Jerman sendiri dia diterima oleh salah seorang resepsionis kedutaan dengan bahasa Jerman,
“Guten Morgen mein Herr. Kann ich Ihnen helfen.” Ujar seorang resepsionis wanita yang ada disitu. Wajah dan perawakannya Nio yakin kalau wanita ini orang Indonesia.
Nio tersenyum.
“Selamat pagi bu. Saya Nio ingin bertemu dengan pak Sutopo. Apa beliau ada hari ini?” Balas Nio membalas sapaan wanita itu.
Wanita itu rada kaget. Ternyata Nio bisa bahasa Indonesia pikirnya.
“Oh pak Sutopo. Ada pak, sebentar saya tanya beliau dulu. Maaf tadi dengan siapa?” Ujarnya dan mempersiapkan pulpen dan secarik kertas.
“Saya Antonio Hasse, anak dari pak Deka Putra dari Bandung.” Kata Nio.
“Baik pak Antonio. Silakan bapak tunggu di lobby sebelah sana.” Resepsionis itu menunjuk ke ruang lobby yang ada disana.
Hampir 10 menit Nio duduk menunggu di lobby kedutaan. Dari kejauhan Nio melihat ada seorang laki setengah baya seperti ayahnya berjalan menuju lobby.
“Mungkin ini pak Sutopo.” Pikir Nio.
Seteelah merasa yakin dan orang itu mendekat kearahnya, Nio berdiri dari kursi tamunya.
“Mas Antonio?” Katanya. “Putranya pak Deka?”
“Iya pak. Saya Antonio. Panggil saja Nio. Bapak pak Sutopo teman ayah saya?”
“Iya mas. Saya Sutopo. Bukan teman mas, saya saudara dari sisi ibunya mas Deka. Ibunya mas Deka adalah kakak ayah saya. Jadi saya ini sebenarnya paman mas Nio.” Tutur Sutopo menerangkan urutan kekeluargaannya dengan Nio. “Silakan duduk mas Nio.”
“Aduhh mohon maaf oom. Papa tidak pernah cerita kalau saya punya paman di Kedutaan.” Ujar Nio mengulurkan tangannya dan memegang tangan Sutopo serta menciumnya.
Sutopo senang melihat keponakannya tau sopan santun dan bersyukur juga saudaranya mengajarkan anaknya budaya Indonesia.
“Itulah ayahmu mas Nio. Tidak mau turunannya atau saudara lainnya karena ada saudara di tempat yang diperlukan kecuali dalam keadaan terpaksa. Nah sekarang mas Nio ada perlu apa?” Kata Sutopo.
“Begini oom...” Lalu berceritalah Nio maksud kedatangannya dan pesan ayahnya kepada Sutopo. “Begitu oom. Malahan dia harap informasi perumahan di Bandung dapat papa peroleh sebelum Nio pindah ke Bandung.”
“Begitu ya. Syukurlah mas Nio kuliah di Bandung. Baik nanti oom urus semua kebutuhan mas Nio termasuk informasi perumahan di Bandung. Sekarang mana data-data keluarga dan bukti lamaran S2 di Bandung?”
“Ini oom.” Nio memberikan sebundel berkas data keluarga, sekolah dan lamaran kuliahnya di Indonesia. “Semua sudah ada disitu oom.”
‘Baik mas Nio. Oom urus semuanya. Salam buat papa mas. Bilang sama dia kapan ke rumah gitu yah?” Sutopo berdiri dari kursi tamunya. “Maaf oom harus buru-buru ada rapat dengan pak Duta Besar sebentar lagi. Tenang saja ya mas dan kembali lagi hari Kamis lusa.”
“Baik oom, terimakasih.” Kata Nio yang sudah mencium uluran tangan oomnya.
Sutopo langsung pergi lagi menuju ruangannya. Sedangkan Nio pergi ke meja resepsionis untuk memberikan kartu tamunya.
“Ini bu.” Kata Nio menyerahkan kartu tamunya kepada petugas resepsionis itu.
“Iya pak. Emhh bapak ini saudaranya pak Sutopo ya.” Ujarnya setelah menerima kartu tamu.
“Iya bu. Pak Sutopo adalah paman saya. Adik dari ayah saya. Baik bu, terimakasih saya permisi.” Balas Nio.
Setelah menganggukan kepalanya Nio lalu berjalan menuju pintu keluar kedutaan.
Setelah ada di jalanan Nio memacu mobil VW nya kembali kerumah.nHatinya sekarang merasa lega karena semuanya sudah selesai.
Sesampainya dirumah Nio langsung mencari ayah dan ibunya.
“Pah. Ada salam dari oom Sutopo. Kapan katanya kerumahnya lagi?” Kata Nio saat ketemu ayahnya diruangan keluarga.
Deka dan Alise hanya tersenyum saja mendengarnya.
“Jadi semuanya sudah selesai Nio.” Tanya ayahnya.
“Sudah Pah. Mah, Papah ini orangnya gimana sih? Saudara sendiri dibilang temannya padahal oom Nio itu Mah.” Ujar Nio duduk dekat ibunya. “Apa betul itu Mah?”
“Tanya saja sama ayahmu sana.” Ujar ibunya tersenyum melihat kelakuan anaknya padahal sudah mau kuliah S2.
“Iya itu betul Nio. Sutopo adalah paman kamu dari sisi ibu Papa.” Tutur Deka menyimpan koran sorenya. “Tapi bukan ibu kandung Papah.”
“Maksudnya gimana sih Pah?”
“Maksudnya itu begini. Ayah Papa atau kakek kamu menikah lagi waktu ibu kandung Papa meninggal dunia. Nah yang menjadi istri kakek kamu itu punya adik yaitu papanya Sutopo. Maka dalam garis keturunan dari kakek kamu Papa boleh mengaku Sutopo itu adik Papa atau oom kamu Nio.” Ujar Deka. “Itu pertama. Kedua Papa tidak bisa mempergunakan kekuasaan, kemampuan atau kekuatan lain hanya untuk mempermudah urusan. Baik itu anak sendiri, saudara apalagi orang lain selama urgensinya biasa saja. Gitu Nio. Mudah-mudahan kamu bisa mengerti.”
Nio sekarang baru mengerti maksud ayahnya tidak memberitaukan keberadaan dirinya. Nio menganggukan kepalanya.
“Iya Pah. Nio ngerti sekarang.” Ujar Nio. “Katanya Nio disuruh datang hari Kamis lusa sekalian informasi rumah di Bandung. Lucu deh Pah! Oom Sutopo senang banget mendengar Papah mau beli rumah di Bandung.”
Deka dan Alise hanya tertawa mendengarnya.
“Sudah ah, Nio masuk kamar dulu ya Pah, Mah.” Ujar Nio menuju kamarnya.
Nio membenamkan kepalanya dibawah bantal yang ujungnya dia terlelap tidur.
Hari kamis seperti yang dijanjikan Sutopo, Nio sudah melaju diatas mobil VW nya dengan tujuan Kedutaan Besar Indonesia.
Setelah memarkirkan mobilnya Nio bergegas masuk kedutaan dan lapor kepada resepsionisnya. Namun sayangnya Nio tidak bisa bertemu dengan pamannya karena harus keluar kota ada tugas mendadak di Konsulat Jenderal diluar Berlin.
Nio hanya mendapatkan sepucuk surat dan bundel berkasnya beserta isi amplop coklat yang belum tau isinya apa/
Setelah membaca surat dari pamannya Nio mukanya menjadi cerah kembali sebab takutnya visa belajarnya belum selesai. Untung pamannya dapat menyelesaikan tepat waktu.
Dengan rasa bersyukur Nio pamit pulang kepada resepsionis kedutaan yang sudah membantunya.
“Maaf pak Nio. Bapak mohon tandatangan di formulir tanda terima.” Katanya sambil menyerahkan secarik kertas tandaterima dokumen.
Nio menandatanganinya kemudian menyerahkan kembali formulirnya.
“Saya pamit pulang dulu bu.” Kata Nio menganggukan kepalanya.
“Baik pak Nio. Hati-hati dijalan.”
Dijalan raya menuju rumahnya Nio sesekali berteriak kegirangn karena maksudnya akan tercapai sebentar lagi. Ada sedikit risau dalam hatinya karena mau tidak mau dia harus berpisah dari kedua orangtua dan kakeknya.
Menjelang sore Nio sampai di rumah ayahnya dan memasukan mobil VW nya ke garasinya.
Nio setengah berlari masuk kedalam rumah.
“Pah! Mah. Nio pulang.” Teriaknya.
Ayah dan ibunya muncul dari taman dibelakang.
“Gimana selesai Nio?” Tanya ibunya.
“Sudah Mah. Tapi tidak ketemu dengan oom Sutopo. Soalnya dia sedang ke Konjen diluar Berlin. Tapi semuanya sudah selesai. Pasport dan visa sudah bisa dipergunakan oleh Nio.” Ujar Nio memperlihatkan pasport dan visa kepada ibunya.
Ibunya tersenyum dan memegang tangannya seraya berkata “selamat ya Nio. Belajar yang betul di sana.”
Nio memeluk ibunya. Deka yang melihat anak dan ibunya merasakan kebahagiaan pada mereka.