Chapter #2 - DUA

2231 Words
CHAPTER #2 DUA               Akhirnya waktu berpisah dengan kedua orangtua dan kakeknya datang juga. Besok Nio akan terbang ke Indonesia untuk menggapai impiannya.             Alamat rumah di Bandung sudah dia simpan baik-baik didalam tas kopernya. Ayah dan ibunya langsung membeli rumah tidak jauh dari kampus kuliah S2 nya. Itu setelah ayahnya tau pasti alamat dan lingkungannya.             Nio hanya membawa satu koper untuk pakaian dan keperluan lainnya ditambah satu tas ransel yang berisi dokumen dan hal-hal yang sangat penting.             Hari sudah menunjukan jam 10 malam. Keluarga Dika belum ada satupun yang tidur baik itu dari keluarga istrinya maupun tetangga sekitarnya yang mengenal kakeknya Antonio.             Baru sejam kemudian semuanya membubarkan diri setelah mereka menyalami Nio dan Deka serta mengucapkan selamat belajar kepada Antonio.             “Waduhh. Cape banget deh.” Hansen menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu. “Mana Nio? Niooo!” Teriaknya.             “Ya Kek!” Antonio langsung meninggalkan beres-beres barang kotor bekas dipakai acara tadi. Itupun setelah Deka memberikan isyarat untuk menemui kakaeknya.             “Sini Nio.”Ajak Hansen menepuk-nepuk sofa. “Duduk sini. Besok kan kakek tidak bisa ngobrol lagi sama kamu karena kamu sudah di Indonesia.” Ujarnya sambil tertawa.             “Lah kakek gimana sih. Indonesia itu dekat kek. Kakek tinggal angkat telepon kakek sudah langsung bisa ngobrol sama Nio.” Balas Nio memegang tangan kakeknya. “Ada apa kek? Mau ngasih bekal yah?” Canda Nio tertawa.             Alise yang kebetulan lewat disitu jadi ikut tertawa mendengar canda anaknya.             “Ehh Nio. Tau nggak, rumah yang dibeli di Bandung itu ada uang kakek kamu. Itu katanya untuk bekal kamu di Bandung.” Ujar Alise tersenyum.             “Maksud aku bukan bekasl itu Mah. Ini bekal untuk selama di Bandung.” Balas Nio. “Siapa tau Nio dapat pacar ya kek? Jadi kan harus diajak makan, nonton dan lain. Betulkan Nio kek?”             Hansen tertawa senang mendengar canda cucu tersayangnya.             “Iya sudah. Semuanya sudah kakek persiapkan. Kamu tinggal buka rekening saja. Nanti begitu sampai di rumah Bandung sudah ada mobil VW Beatle terbaru seperti yang disini. Apalagi coba baiknya kakek kamu?” Hansen menepuk-nepuk pundak Nio. “Belajar yang betul disana ya Nio. Jangan sepelekan waktu. Oke!” Hansen memeluk cucunya dengan penuh kasih sayang.             Antoniopun sama memeluk kakeknya. Dua-duanya dan yang melihat kejadian ini tidak bisa menahan airmatanya untuk menangis haru.             Deka dan Alise yang menyaksikan tak kuasa juga untuk tidak menangis. Mereka menghampiri Nio dan ikut memeluknya.             “Baik-baik kamu di Bandung ya Nio.” Alise memegang kepala anaknya.             “Iya Mah, Pah. Sudahlah Nio kan hanya ingin belajar di tanah leluhur Nio lainnya. Jadi jangan pada sedih begini dong?” Kata Nio. “Lagipula Indonesia dan Jerman hanya 6 jam penerbangan. Sebentar kan? Kalau Kakek, Mamah dan Papah rindu juga bisa datang kapan saja.”             “Iya Nio. Kami hanya merasa kehilanngan saja nantinya setelah besok berangkat ke Indonesia. Coba siapa lagi yang bikin ulah ngacak-ngacak cangkir minum kalau bukan kamu. Atau main bola dihalaman belakang sama kakek?” Deka mengusap airmatanya. “Jangan lupa setelah di Bandung datangi kakekmu di Cimahi dan sungkem kepadanya ya Nio.”             “Iya Pah. Nio tidak lupa itu.”             Alise tersenyum lagi melihat Nio. Alise memeluknya sekali lagi.             “Sudah pada istirahat semua ya. Pekerjaan tinggalkan saja dulu. Sudah larut ini.” Ujar Alise kepada pembantu rumah tangga dan lainnya.             Hansen berdiri dari sofa dan berjalan ke kamarnya. Sebelum dia masuk Hansen berpesan untuk membangunkannya sebelum Nio berangkat.             Alise meng-iyakan saat dia membimbing tangan ayahnya ke kamarnya.             Nio yang sudah ada di kamarnya termenung sendiri. Matanya melihat langit-langit kamarnya setelah merebahkan badannya di tempat tidurnya. Ada sedikit kerinduan dalam hatinya. Tapi entahlah rindu kepada siapa. Mayori gadis asal Jepang sudah tidak berhubungan lagi dengannya. Atau Christine gadis asal Berlin juga sudah usai saat dilantik wisuda lalu.             Matanya Nio mulai berat karena kantuk yang menyerangnya. Lama-kelamaan matanya tertutup dan Nio tidur dengan membawa sejuta harapan untuk hidupnya.             Kokok ayam pagi hari sudah membangunkan seluruh penghuni rumah Deka. Semuanya mempersiapkan semua kebutuhan untuk keberangkatan Nio ke Indonesia.         Kendaraan untuk berangkat ke Brandenburg Airport sudah dipersiapkan. Koper Nio sudah dimasukan kedalamnya. Mereka hanya tinggal menunggu Nio dan berangkat.             Nio yang sudah berganti pakaian untuk perjalanan jauhnya keluar dari kamarnya. Nio menuju meja makan untuk sarapan bersama keluarganya.             “Disini Nio dekat kakek.” Hansen melambaikan tangannya. Nio menghampiri kursi kakeknya dan duduk disebelahnya.             Ayah dan ibunya ada dihadapannya sedang menikmati juga sarapannya.             Setelah selesai lalu mereka berdiri dan berjalan ke halaman rumahnya untuk mengantar Nio ke airport. Kembali airmata Hansen turun melihat cucunya akan berangkat. Nio memeluk kakeknya.             “Nio berangkat dulu ya kek. Jaga kesehatan kakek. Jangan cape-cape.” Ujar Nio yang memegang tangan kakeknya dan menciumnya.             “Iya Nio. Ingat pesan kakek yah.” Balas Hansen.             Nio menghampiri ibunya dan memeluknya penuh kasih.             “Nio berangkat dulu ya Mah.” Nio mencium kedua pipi ibunya dan tangannya. Alise memeluk Nio seraya berkata “Jaga diri baik-baik. Belajar yang betul ya Nio. Papa dan Mama nanti kesana setelah beres pekerjaan kami disini.” Giliran Deka yang dihampiri Nio. Deka memeluk Nio dan menepuk-nepuk pundak anaknya.             “Belajar yang betul ya Nio.”             “Iya Pah.”             Setelah selesai melepaskan rindu dan sayang merekapun melepaskan keberangkatan Nio diiringi dengan airmata dan lambaian tangan kakek dan kedua orangtuanya.             Mobil yang mengantar Nio segera bergerak menuju jalan raya dan menuju airport.             Hampir 8 jam di penerbanngan langsung Jerman Indonesia Nio hanya duduk dan membaca. Sekali-kali dia tidur namun terbangun kala pesawat berguncang karena ada kekosongan udara.             Menjelang sore Nio tiba di Jakarta.             Setelah melewati pemeriksaan penumpang Nio sudah berada diluar bandara udara Cengkareng.             Seperti arahan ayahnya Nio melihat barangkali ada panggilan atau papan namanya dari penjemputnya di bandara.             Nio melihat namanya di papan nama diluar penjemputan penumpang.             “Pak Nandang?” Tanya Nio.             “Pak Antonio Hasse?” Orang itu balik bertanya.             “Iya pak. Saya Antonio Hasse. Panggil saja Nio.” Ujar Nio menyalami tangan penjemputnya.             “Iya pak Nio. Saya Nandang. Saya yang disuruh menjemput bapak oleh pak Deka semalam.”             “Papa telepon pak Nandang semalam?” Ujar Nio heran.             “Iya pak Nio. Katanya putranya yang bernama Antonio Hasse akan ke Jakarta dan minta tolong saya menjemputnya.” Balas Nandang.             “Pak Nandang sendiri tinggal dimana?” Tanya Nio.             “Saya langsung dari Bandung tadi siang.”             “Hah? Kok bisa? Bandung kan jauh pak?” Ujar Nio.             “Ahh nggak kok pak. Hanya 3 jam dari sini.” Balas Nandang tersenyum. “Mari pak Nio kita kekendaraannya menuju Bandung. Nanti kita makan di jalan.”             “Baik pak.” Kata Nio mendorong kopernya.             “Kopernya biar saya yang bawa pak Nio.” Nandang menggantikan yang mendorong kopernya Nio. “Pesan pak Deka selanjutnya adalah kita harus lewat jalan Puncak katanya sambil melihat pemandangan dan dinginnya. Nah disitu kita makan.”             “Iya pak. Saya ngikut bapak saja.” Nio tertawa. Mereka berjalan menuju mobil jemputannya dan tidak lama kemudian mobilnya sudah melaju keluar dari bandara Cengkareng. Hampir 4 atau 5 jam Nio dan Nandang di perjalanan menuju Bandung. Menjelang tengah malam baru mereka sampai dirumah yang baru dibeli oleh Deka untuk diisi oleh Nio. Mereka berdua masuk rumah yang sangat nyaman dan luas pekarangan dan rumahnya. Udara dinginnya Bandung membuat Nio tersenyum senang. Dari dalam rumah tiba-tiba ada yang membuka pintu rumah dan menganggukan kepalanya. “Selamat malam pak Nio. Saya Endah yang mengurusi rumah dan isinya disini.” Katanya sopan. “Oh iya terimakasih mbak Endah. Tapi mulai sekarang berlaku untuk semua kalau memanggil saya cukup Nio atau silakan pakai mas didepannya. Jadi kalian semua memanggil saya mas Nio. Gimana bisa?” Nio menjelaskan keinginannya kepada orang-orang yang ada dirumahnya. “Iya mas. Kami mengerti.” Nandang yang mewakili mereka semua. Nio tertawa senang. “Mas Nio.” Kata Endah. “Klau mau istirahat kamar mas sudah saya bereskan semuanya. Silakan dipergunakan.” Kata Endah berjalan untuk menunjukan kamar Nio. Nio mengikuti dibelakang Endah diikuti Nandang yang mendorong kopernya. “Wahh bagus banget kamarnya. Makasih mbak Endah. Aku suka.” Jawab Nio. “Iya mas. Terimakasih. Kalau mas Nio sudah mandi dan mau makan, semuanya sudah tersedia di ruang makan.” Tambah Endah. “Saya permisi dulu mas Nio. Kalau ada apa-apa panggil saja saya di intercom no 3.” Setelah Endah pergi dari kamarnya Nio mengambil telepon dan menyambungkannya ke ayahnya di Jerman. “Hallo Nio. Kamu sudah sampai Sayang.” Alise yang menerimanya bukan Deka. “Iya Mah baru saja sampai dan sekarang sudah dikamar Nio. Kok Mamah yang ngangkat sih. Papah kemana Mah?” “Papahmu ada Nio lagi didepan bersama kakekmu. Biasa catur. Sebentar yah Mamah kesana.” Balas Alise. Semenit kemudian Nio sudah mendengar suata ayahnya. “Hallo Nio. Sudah sampai yah? Gimana enak rumah dan kamarnya?” Deka menghujani Nio dengan pertanyaan saking gembiranya. “Iya Yah. Tadi dijemput pak Nandang. Rumahnya enak banget, luas dan dingin seperti dirumah kakek.” Balas Nio sambil tertawa. “Kakek dimana Yah?” “Ada di depan Papah. Biasa main catur Nio. Mau bicara sama kakek?” Tanya Deka. “Iya Yah kalau kakeknya mau!” “Nio! Ini kakek. Gimana cape nggak kamu di pesawat?” tanya Hansen yang sudah tidak sabaran ingin mendengar suara cucunya. “Iya Kek. Sebel banget. Sakit pinggang Nio. Bayangin saja 8 jam duduk saja. Paling selingan baca buku dan nonton deh.” Ujar Nio. “Kakek istirahat yah, Jangan tidur malam-malam loh. Ntar rematiknya kambuh.” “Iya ini juga Kakek mau masuk kamar sudahan caturnya.” Kata Hansen. “Sekarang kamu juga tidur yah. Istirahat cape kan? Besok kita ngobrol lagi. Oke!” Suara Hansen terdengar agak gemetar. Mungkin sedih. Setelah selesai bicara dengan kakeknya Nio menutup teleponnya. Hatinya sudah merasa bahagia karena sudah sampai di negeri leluhur ayahnya. Pagi hari kota Bandung adalah hari pertamanya Nio bangun dari tempat tidurnya. Setelah menggeliat Nio bangkit menuju kamar mandinya. Hampir 15 menit Nio dikamar mandi. Setelah selesai dia keluar dari kamarnya. Aroma nasi goreng dari ruang makan tercium di hidungnya. Sontak lapar dari perut muncul sampai berbunyi. “Uhh. Enak nih nasi goreng. Jadi lapar perut saya.” Kata Nio kepada Endah yang sudah menunggu di dekat meja makan. “Iya mas Nio. Mau saya ambilkan?” Tanya Endah. “Ohh tidak usah mbak Endah. Semuanya jangan meladeni saya kecuali saya yang meminta yah mbak.” Ujar Nio yang langsung duduk dikursi makan dan mengambil nasi goreng dan telor ceploknya. “Oh iya saya lupa. Mbak Endah sudah sarapan atau yang lain sudah sarapan?” Tanya Nio. “Belum mas Nio.” Jawab Endah. “Salah itu mbak Endah. Untuk semua orang yang ada disini. Harap sarapan dulu sebelum mulai bekerja. Atau bareng bersama saya. Dan makannya dimeja ini.” “Iya mas.” Endah hanya geleng-geleng kepala saja. Selsai sarapan Nio keluar dari dalam rumah menuju halaman. Sayup-sayup terdengar suara dari penyanyi legendaria Chrisye. “Pagi yang cerah senyum di bibir merah. Dari balik jendela...” Lagu dari salah satu radio di Bandung. Nio tersenyum dan mendengarkan lagu itu. Lagu selesai diputar oleh penyiar radionya. Terdengar komentar penyiarnya berkata “Oke pada Rostina yang akan ke kampus pagi ini semoga bahagia mendapat kiriman lagu dari Aditya di jalan Aceh. Dan sekarang mari kita dengarkan....”. Nio berkerut keningnya dan bergumam “Rostina, nama yang indah. Pasti cantik parasnya.” Nio tersenyum sendiri. “Mas Nio. Hari ini mas Nio mau keluar rumah?” Tanya Endah yang sudah berdiri disamping Nio. Nio kaget dan menoleh kepada Endah. “Maaf mas kalau ngagetin?” “Nggak apa-apa mbak. Saya sering seperti kaget padahal itu refleks saya saja.” Balas Nio. “Agak siangan mungkin saya keluar rumah. Saya ingin melihat kampus saya nanti di Taman Sari. Memangnya pak Nandang bisa mengantar saya mbak?” “Iya mas. Memang mas Nandang yang akan mengantarkan mas Nio kemana-mana.” Sambung Endah. “Nanti kalau sudah agak hafal jalan di Bandung, baru mas Nio boleh jalan sendiri. Mas Nio mau melihat mobil dan motornya untuk dipakai mas nanti?” “Waduhh hampir lupa. Kakek pernah dan papa pernah bilang kalau mobilnya sudah ada di garasi katanya. Tapi nggak bilang ada motor tuh mbak.” “Ada mas di garasi. Dua-duanya ada di garasi ditengah itu.” Endah menunjuk sebuah bangunan ditengah antara taman halaman dan rumah. “Kesana yuk mbak!” Ajak Nio berdiri dari duduknya. “Silakan mas.” Lalu mereka berdua berjalan ke garasi dan membukanya. Benar saja didalam garasi tampak mobil yang masih ditutup terpal. Kemudian Nio menarik dan membuka terpal mobil. Sebuah mobil VW Beatle warna kuning keluaran terbaru tampak bersih dan dipelihara dengan baik. Dibelakang mobil VW ada juga terpal motor yang belum dibuka. Begitu dibuka oleh Nio membuat Nio menggeleng-gelengkan kepalanya. Motor besar BMW 1000 cc berwarna biru tua kehitaman berdiri kokoh mengundang kagum semua yang melihatnya. “Motor ini punya siapa mbak?” Tanya Nio. “Ya punya mas Nio lah.” Ujar Endah tertawa. “Kata pak Deka mobil itu dari kakek dan pak Deka. Sedangkan motornya dari ibu mas Nio. Begitu katanya mas.” “Ya ampun Mama ini. Bener-bener bikin kejutan melulu.” Nio berputar melihat dan memegang kendaraan yang dibeli oleh orang-orang yang menyayanginya. Sesekali Nio mengusap mobil dan motornya berulang-ulang. Hati Nio semakin berbunga-bunga karena bahagia sampai dia berjanji akan belajar dengan baik dan menjaga nama baik ayah dan ibunya juga kakeknya yang sudah cukup terkenal di Berlin.                                      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD