Chapter #3 - TIGA

2411 Words
CHAPTER #3 TIGA               “Pak Danang! Bapak sudah siap?” Nio bertanya pada pak Danang yang mengelap mobil VW barunya Nio.             “Sudah pak Nio.” Ujar pak Danang.             “Apa! Pak?” Tanya Nio lagi.             “Ehh maaf lupa. Sudah mas.”             “Nah gitu dong. Lagian saya belum tua kan pak.” Sambung Nio masuk kedalam mobilnya di kursi depan.             Danang masuk dan menjadi sopirnya untuk menunjukan arah jalan ke kampus dan jalan lainnya sebelem Nio mengenal betul jalan di Bandung.             Mobil Nio keluar menuju kampusnya melewati jalan Riau, kemudian ke jalan Merdeka untuk berputar arah agar cepat sampai di Taman Sari kampusnya sekarang.             Sepanjang jalan Danang tak hentinya menerangkan jalan dan situasinya yang kelak akan dilalui oleh Nio setiap harinya.             Rumah yang dibeli oleh ayahnya Nio terletak di jalan Riau.. Rumahnya cukup besar dan mewah. Udara paginya masih cukup sejuk dan dingin. Menjelang malampun tidak terlalu ramai suara kendaraan yang melewatinya.             “Kita sampai mas.” Danang meminggirkan mobilnya dan masuk kedalam lingkungan kampus barunya.             Setelah berputar mencari tempat parkir akhirnya bisa diparkir dekat dengan lapang basket yang menghadap ruang kuliah jurusan sipil. Dilapangan basket tampak beberapa orang sedang bermain basket. Laki maupun perempuan.             Nio turun dari mobilnya setelah membereskan sejumlah dokumen untuk persyaratan kuliahnya.             Begitu keluar mobilnya Nio memang harus agak menundukan kepalanya agar tidak kejedot oleh pintu mobilnya. Nio memang berperawakan atletis dengan tinggi hampir 188 cm. Sebuah tinggi badan yang ideal untuk seorang laki-laki. Matanya yang hijau dan kehitaman membuatnya semakin terlihat tajam bila melihat sesuatu. Hidungnya mancung dan bibirnyapun tipis. Semuanya hampir seperti ibunya yang blasteran Jerman Sunda.             Saat Nio berdiri dan merapikan kaosnya ada bunyi suitan keras dari lapang basket. Nio menoleh dan melihat beberapa orang gadis melambaikan tangannya.             Nio tersenyum dan melambaikan kembali tangannya setelah menoleh kebelakang dulu. Nio takut salah sangka.             Tanpa mengindahkan mereka Nio berjalan ke arah Tata Usaha kampusnya untuk menemui seseorang yang menjadi pembimbingnya kuliah.             “Selamat siang.” Kata Nio kepada petugas resepsionis Tata Usaha Kampus.             Yang disalami bukannya menjawab tapi malah bengong terpesona melihat Nio yang berdiri didepannya.             “Hallo, selamat siang bu.” Ujar Nio lagi. Sekarang sambil menggerak-gerakan tangannya.             Resepsionis itu baru tersadar. “Ehh maaf tadi saya melamun. Iya ada apa mas?” Tanyanya.             “Saya ingin bertemu dengan Doktor Rohendi. Gimana caranya ya?”             “Ohh pak Rohendi ada mas. Mas bisa lurus saja kesana. Beliau ada ruang 122. Ketuk saja pintunya. Mau bimbingannya ya?”             “Iya dia jadi dosen pembimbing pasca sarjana saya bu.” Balas Nio.             “Jangan panggil ibu dong mas. Mbak saja lebih enak. Anak-anak disini memanggil saya mbak Rani.” Katanya agak ganjen.             “Baik mbak. Saya akan kesana dulu ya. Terimakasih.”             Setelah Nio beranjak dari sana menuju ruang Doktor Rohendi teman-teman resepsionis tadi pada menghampiri Rani dan memandang ke arah Nio yang berjalan.             “Gila girls. Ganteng banget tuh mahluk laki. Haduhh.”             Nio mengetuk pintu ruangannya Doktor Rohendi.             “Masuk.”             “Selamat siang pak.” Nio menganggukan kepalanya. “Saya Antonio Hasse yang diundang hadir hari ini untuk menemui bapak.”             “Ohh ya, ya. Silakan masuk dan duduk. Sebentar saya menutup laptop dulu.”             Doktor Rohendi bangkit dari kursinya setelah selesai mematikan laptopnya. Nio segera berdiri dan menyalaminya.             “Apa kabar pak?”             “Baik-baik mas Antonio. Gimana dibawa berkas-berkas yang saya minta?”             “Sudah pak. Ini?” Nio memberikan bundel yang berisi berkas.             Doktor Rohendi memeriksanya sebentar kemudian dia menyimpannya diatas meja kerjanya.             “Dulu itu mau mengambil magister apa ya? Kalau nggak salah Arsitektur ya?” Tanyanya kepada Nio.             “Iya Dok. Saya akan mengambil magister Arsitektur. Mudah-mudahan bisa sampai program doktornya disini.” Ujar Nio.             “Ya haruslah mas. Untuk apa jauh-jauh dari Jerman kalau hanya sampai S2 saja. Ya lebih baik sampai S3 lah.” Tawa Doktor Rohendi. “Dari Jerman kapan datang mas?”             “Dua hari yang lalu pak. Keenakan di Bandung jadi tidur melulu. Baru hari ini saya bisa menemui bapak. Mohon maaf.”             “Nggak apa-apa mas. Kan masih lama waktu yang saya berikan. Baik! Kalau begitu nanti saya beri kabar lagi kapan mulai belajarnya. Nomor telepon dan e-mailnya sudah ditulis di berkas kan mas?” Tanya Doktor Rohendi.             “Sudah pak. Sudah semua termasuk saudara yang bisa dihubungi.”             Doktor Rohendi berdiri diikuti Nio. Mereka bersalaman kemudian Nio keluar dari ruangan.             Nio melangkah kembali menuju jalan semula.             Pada saat Nio melewati meja resepsionis berpasang mata menatapnya dan berbisik-bisik. Mereka cekikikan seolah melihat yang aneh dihadapannya.             Nio acuh saja. Pas melihat Rani dia mengangguk dan tersenyum. “Terimakasih mbak.” Sapa Nio.             “Sama-sama mas. Kalau ada apa-apa hubungi saja saya ya mas.” Ujar Rani manja.             “Iya mbak.”             Nio keluar dari gedung Tata Usaha menuju tempat parkiran mobilnya.             Saat sedang berjalan di sisi gedung Nio berpapasan dengan seorang gadis yang cukup tinggi badannya. Berpakaian kaos dan jeans sehingga terlihat lebih sportif.             Matanya melihat Nio dengan tajam. Terkesiap Nio melihatnya.             “Cantik juga gadis itu. Siapa ya namanya?” Bisik hati Nio.             Sedang melamun begitu tiba-tiba temannya yang berlari dibelakang mengejarnya berteriak keras.             “Ros! Rostina, tunggu!” Teriaknya.             Nio menoleh untuk membuktikan kebenarannya. Ternyata memang benar gadis itu mengejar orang yang barusan berpapasan dengannya.             ”Ohh jadi namanya Rostina. Kok sama seperti nama yang dikirim di radio ya?” Kembali hatinya Nio berbisik. “Dari siapa ya? Oh iya dari Aditya. Betul dari Aditya.”             Nio mengahampiri mobilnya dan meminta Danang untuk menyalakannya.             “Nyalakan juga AC nya pak. Kita menunggu sebentar disini.”             “Menunggu apa mas Nio?” tanya Danang merasa aneh. Lokasi parkiran sudah agak kosong dan ada disebelah lapang basket. “Mas Nio ini lapang Ganesha. Disini agak serem mas.”             “Yang ini nggak serem pak. Ini cantik.” Ujar Nio tanpa sadar.             Danang tertawa keras membuat Nio kaget.             “Ada apa pak?”             “Jadi mas Nio itu mau nunggu cewek ya?”             “Ahh nggak. Kata siapa?” Wajah Nio memerah karena ketauan oleh Danang.             “Barusan mas Nio bilang ini nggak serem pak. Ini cantik. Begitu kata mas Nio.”             “Masa sih pak? Saya bilang bergitu?”             “Iya mas Nio. Masa saya bohong. Saya denger sendiri mas Nio bilang begitu. Memangnya canik ya mas?”             “Kayaknya iya sih pak. Tapi jangan bilang sama mbak Endah ya? Awas loh kalau bilang.” Nio mengancam sambil tertawa.             Menjelang agak sore baru kelihatan ada segerombolan perempuan yang keluar dari gedung Tata Usaha. Mereka tertawa-tawa karena sepanjang berjalan mereka bercanda.             Nio matanya mencari wajah perermpuan yang berpapasan dengannya tadi. Tapi tidak ada hasil. Perempuan itu tidak ada diantara mereka.             “Ahh sudahlah. Kita pulang saja pak.” Ajak Nio.             “Baik mas.” Sahut Danang yang mulai menjalankan mobilnya.             Belum ada 10 meter mobil Nio berjalan. Tiba-tiba pintu samping Tata Usaha dibuka orang dari dalam. Lalu keluarlah dua orang perempuan dari sana.             Yang satu Nio mengenalinya itu adalah Rani yang tadi menunjukan ruang Doktor Rohendi. Yang satu lagi adalah yang berpapasan dengannya yang bernama Rostina saat temannya memanggilnya.             “Itu pak. Yang berkaos biru celana jeans.” Kata Nio menunjuk kearah Rostina.             “Wahh itu mah geulis mas.” Jawab Danang dengan logat sundanya.             “Apaan tuh geulis pak?”             “Cantik banget mas. Jangan disia-siakan. Bagaimana kita kejar sekarang?”             “Ehh jangan pak. Jangan sekarang. Yang penting sekarang saya sudah tau lokasinya. Sekarang kita pulang saja ya pak.” Ajak Nio.             “Baik mas.” Danang menginjak gas mobilnya.             Mobil Nio melaju keluar dari kampus menuju jalan raya menuju rumahnya.             Sampai diujung jalan Riau, Nio minta Danang meminggirkan mobilnya.             “Kenapa mas?” Tanya Danang.             “Sebentar pak. Kalau itu makanan apa ya?” Nio menunjuk kepada sebuah gerobak yang isinya makanan.             “Oh itu siomay atau baso tahu mas. Rasanya agak pedas. Kenapa mas Nio mau coba?”             “Iya pak. Saya ingin mencobanya. Kayaknya enak.” Ujar Nio keluar dari mobilnya menghampiri tukang siomay.             “Saya pesan satu pak?” Kata Nio.             Tukang sionay itu segera membuat satu porsi siomay yang dipesan Nio.             Setelah Nio menerima makanannya tanpa menunggu lama dia langsung melahap dan menikmatinya.             “Enak pak. Sini temenin.” Ajak Nio.             Danang keluar dari mobil dan menghampirinya. Dilihat ternyata siomaynya Nio sudah mulai mau habis.             “Pak. Buatkan lagi satu buat saya dan satu buat bapak ini ya!”             “Baik pak.” Kata tukang siomay itu. Dia merasa senang ada orang yang menyukai dagangannya.             Saat Nio makan siomay tanpa disadari lewat angkutan kota jurusan jalan Aceh lewat didepan Nio yang sedang bersender dan menikmati siomaynya.             “Ehh, itu siganteng!” Kata Rani yang kebetulan naik angkutan kota itu. Rumah Rani kebetulan tidak jauh dari rumahnya Rostina sehingga bisa bareng pulangnya.             “Kenapa mbak?” Tanya Rostina.             “Itu Ros. Si ganteng yang mau masuk kampus kita untuk mengambil program magisternya dari Jerman. Tadi dia ke ruangan pak Rohendi.” Rani menunjuk ke trotoar jalan.             Rostina menoleh kearah yang ditunjukan Rano.             Matanya segera melihat Nio yang sedang makan siomay.             “Oh dia. Iya itu tadi papasan sama saya di gang ruang Tata Usaha.” Rostina sepertinya tidak tertarik.             Angkutan kota itu berhenti pas didepan Nio karena dikira Danang yang menghadap jalan adalah calon penumpang jurusan jalan Aceh.             Nio melihat kearah angkutan itu. Matanya bertemu dengan tatapan Rostina yang kebetulan juga melihat kearah Nio. Rostina melihat karena penasaran calon magister kampusnya yang berasal dari Jerman ternyata suka makan siomay.             Nio kaget dan lebih kaget lagi melihat Rani ada bersama Rostina yang tadi dia lihat dikampus.             “Hey!” Nio melambaikan tangannya.             Rostina pikir itu lambaian tangan untuknya. Karena belum kenal ya sudah dibiarin saja. Padahal Nio melambaikan tangannya karena Rani sudah lebih dulu melambaikan tangannya..             “Ngapain mas!” Seru Rani.             “Siomay! Aku lapar!” Nio memberi isyarat dengan tangannya yang menunjuk piring siomay dan perutnya.             Rani tertawa.             Angkutan kota itu jalan kembali karena ternyata Danang bukan calon penumpangnya.             Ada perasaan aneh saat Rostina bertatapan dengan matanya Nio. Mata Nio dia rasakan menghujam sampai kedalam hatinya. Bayangan tatapan Nio itudibawa oleh Rostina sampai ke rumahnya.             Begitu juga Nio. Selama dalam mobilnya hatinya tak pernah berhenti berdebar. Bayangan wajah Rostina terus terayang dipelupuk matanya.             Bahkan saat Nio sampai dirumahpun bayangan itu belum bisa hilang.             Nio masuk kedalam rumah dan langsung menjatuhkan badannya di sofa depan. Selain cape juga masih merasakan perasaan aneh itu.             “Mau minum apa mas Nio?” Endah sudah berdiri disebelahnya.             “Ehh mbak Endah. Yang dingin aja ya mbak. Kalau boleh jus tomat sama jeruk.”             “Iya mas. Gimana sudah hafal jalan kekampusnya mas?”             “Belum lah mbak. Harus beberapa harilah.” Nio membalas pertanyaan Endah.             “Iya mas. Sebentar saya buatkan dulu jusnya.”             Nio tidak menjawab malah memejamkan matanya mengingat kembali tatapan mata indahnya Rostina. Hatinya sudah terpaut oleh pandangannya.             “Ahh, mengganggu saja.” Gumam Nio bangkit dari tidurannya.             Nio pergi ke kamarnya dan ganti pakaian dengan kaos yang baru. Lalu keluar lagi dan tiduran di sofa semula.             Saking cape dan udara dingin diruangan membuatnya jadi mengantuk. Matanya yang sudah berat pelan-pelan tertutup.             Endah yang baru selesai membuat jus tomat untuknya tidak jadi membangunkannya tapi membawanya kembali kebelakang dan menyimpannya di kulkas.             Keesokan harinya waktu Nio tersadar dari tidurnya dia kaget melihat dirinya tidak tidur dikamar seperti biasanya tapi tidur disofa.             “Ya ampun. Jadi dari semalaman aku tertidur di sofa ini.” Gumamnya. “Kok yang lain tidak ada yang membangunkannya ya?”             Nio berdiri dan berjalan menuju meja makan karena perutnya merasa sangat lapar. Begitu sampai di meja makan Nio melihat makanan untuk sarapan sudah siap tersaji di meja makannya.             Endah mendengar suara sandal berjalan ke ruang makan. Kemudian dia menghampirinya.             “Ehh mas Nio sudah bangun. Mau langsung sarapan mas?” Tanya Endah menghampiri Nio yang masih berdiri memegang kursi makannya.             “Iya mbak. Aku lapar banget nih. Semalam tidak membangunkan aku ya di sofa sana?”             “Nggak mas. Sengaja. Habis enak banget tidurnya malah sampai mengigau segala.” Balas Endah yang mempersiapkan piring dan minumnya Nio.             Nio menarik kursi makannya dan mengambil roti dan mentega yang ada disitu.             “Mbak Endah kalau ada telor aku minta dong dua?” Ujar Nio yang sedang mengoles mentega di rotinya.             “Ada mas. Itu disebelah kanan mas Nio.” Endah menunjuk sejumlah telor rebus.             “Kok mbak Endah tau aku suka makan telor rebus?”             “Semalam jam 11 ibunya mas Nio telepon kesini dan saya yang menerimanya. Kemudian ibunya mas Nio menceritakan kesukaan dan kebiasaan mas Nio.”             “Loh, kok aku nggak dibangunin mbak?”             “Ibunya yang melarang mas. Maaf saya nggak bisa menolaknya.” Tutur Endah menjelaskan. “Lagian saya juga nggak tega ngebangunin mas Nio.”             “Oh iya. Tadi mbak bilang saya mengigau. Ngigau apaan sih mbak?” Nio mulai menyuap rotinya dan mengunyahnya.             “Nggak yang anh-aneh kok mas. Hanya bilang “Rostina, Rostina” . Gitu saja.”             Memerahlah muka Nio ketauan dia mengigau wanita yang masih dalam tanda tanyanya.             Nio tertawa. “Jadi malu aku mbak. Padahal Rostina itu nama perempuan yang aku sendiri tidak tau dan belum kenal samasekali.” Ujar Nio sambil mengelap mulutnya.             Nio meraih cangkir yang berisi teh hangat kesukaannya diminum setiap sarapan.             Nio bangkit dari meja makannya. “Terimakasih mbak. Boleh aku pesan masakan lain buat nanti siang?”             “Apa itu mas?”             “Siomay baso tahu?” Nio mengeja jenis makanan yang kemarin dia makan bersama Danang.             “Oh itu baso tahu dan siomay. Itu harus beli di tukang yang lewat pakai dipanggul atau digerobak dorong. Tapi kalau mau dibuatkan juga nggak apa saya bisa. Tapi belum tentu enak rasanya Mas?”             “Kenapa begitu? Bukankah sama cara buatnya mbak?” Nio berhenti dan berdiri dekat meja makan.             “Betul itu mas. Pembuatannya sama tapi bumbu kacangnya yang berbeda cara buat dan bahannya.”             “Ohh gitu mbak. Ya sudah beli saja. Kalau perlu uangnya ada dikotak sebelah lemari pajang ya.” Kata Nio.             “Tidak usah mas. Uangnya sudah saya pegang untuk kebutuhan mas Nio. Semuanya akan dikirim pak Deka dari Jerman setiap bulannya. Saya hanya mencatat pengeluarannya saja.” Kata Endah memberikan penjelasan.             “Ya sudah nggak masalah. Tapi kalau mbak memang perlu ya ambil saja disana yah.”             “Baik mas Nio.”             Nio beranjak dari ruang makan menuju kamarnya.             Sambil membuka baju untuk mandi Nio senyum sendiri sekaligus malu karena dia mengigau Rostina semalam di sofanya.             “Heran kok bisa ya. Gila nama itu membuatku gila. Ahh!” Gumamnya masuk kekamar mandi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD