Chapter #4 - EMPAT

2570 Words
CHAPTER #4 EMPAT               Seperti yang sudah disampaikan Doktor Rohendi kepada Nio sebelumnya, hari ini Nio menerima kabar melalui e-mail. Nio akan memulai perkuliahan S2 nya hari senin minggu depan.             Nio senang menerima kabar itu. Ada bermacam perasaan berkecamuk selain kuliah dalam hatinya. Hanya yang lebih terasa dihatinya adalah keinginan segera bertemu dengan Rostina yang sudah menggodanya kali pertama melihat.             Masih terbayang matanya yang bening dan tinggi badannya yang semampai persis seperti yang dia inginkan apabila suatu hari nanti punya kekasih. Pokoknya Rostina sudah memenuhi apa yang dibayangkan oleh Nio.             “Pak Danang! Danang!” Teriak Nio. “Mbak Endah, kemana pak Danang yah?”             Endah yang kebetulan lewat didepan Nio jadi berhentu berjalannya. “Tadi mas Danang ke depan dulu mau beli tali pancing katanya mas.” Jawab Endah.             “Ohh, nanti kalau dia datang kasih tau saya yah mbak! Saya mau minta diantar ke toko buku untuk mencari buku referensi kuliah. Oh iya, aku mulai kuliah hari senin depan. Jadi jangan lupa. Kalau saya belum bangun jam 5 pagi, mbak Endah gedor saja pintu kamar saya.” Kata Nio ada pancaran bahagia di matanya. “Sekarang saya ke kamar dulu ya mbak?”             “Iya mas.” Endah garuk-garuk kepala meskipun tidak gatal.             Tapi Nio tidak peduli dengan Endah meskipun melihatnya. Dia hanya tersenyum saja.             Jam 7 malam Nio sudah siap untuk berangkat ke toko buku setelah makan malam bersama Endah dan Danang. Sedang pelayan lainnya Nini sudah pulang karena dia tidak tidur dirumah Nio.             Endah dan Danang tidur dirumah Nio karena Deka sengaja membuat rumah tambahan untuk pelayannya di samping rumah yang tanahnya masih luas. Jadi Endah dan anak suaminya tinggal dirumah satu, juga Danang dan istrinya.             Nio melangkah menuju mobilnya dan masuk. Danang sudah siap dari tadi.             “Yuk jalan pak!” Ujar Nio menyuruh Danang untuk menjalankan mobilnya. “Kita ke toko buku yang besar saja langsung pak. Tapi saya nggak tau dimana?”             “Oh itu di Merdeka mas. Selain besar juga jadi toko yang banyak didatangi para mahasiswa di Bandung sini untuk mencari buku. Bahkan dari luar daerah banyak kesitu.”             “Ya sudah kita kesitu saja.”             Setelah hampir 20 menit dijalan mobil Nio tiba di toko buku di Merdeka.             “Pak Danang mau ikut masuk?” Tanya Nio.             “Nggak ah mas. Saya tunggu di deretan makanan itu saja. Jadi kalau mas Nio sudah selesai beli buku, saya ada disitu.” Danang menunjuk kumpulan gerobak yang ada dipinggiran gedung toko buku itu.             “Okeh. Ada uangnya?”             “Ada mas.” Danang gelagapan.             “Halahh bilang saja nggak ada. Pake malu-malu.” Ujar Nio merogoh saku belakang celananya dan mengeluarkan dompetnya. “Nih buat pak Danang sendiri. Kalau gaji kan dikasih ke istrinya pak Danang?”             “Iya mas. Semuanya saya berikan ke istri saya.” Danang tersenyum setelah mengangguk.             “Betul itu. Sebaiknya begitu. Jadi uang ini khusus untuk pegangan pak Danang yah.” Nio mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan memberikannya kepada Danang. “Makasih mas.” Ujarnya.             “Saya turun dulu ya pak.”             Nio lalu menuju toko buku yang dimaksud paling besar menurut Danang.             Didalam toko buku Nio langsung menuju rak yang khusus untuk buku-buku mata kuliahnya yaitu arsitektur. Nio mencari dan melihat beberapa buku referensi yang dianjurkan oleh kampusnya seperti yang dikirim melalui e-mail bersama dengan jadwal kuliah S2 nya.             Matanya yang fokus kepada buku Nio menjadi agak tidak memperhatikan sekitarnya. Diujung rak buku tanpa disengaja badannya bertumbukan dengan badan pengunjung lainnya.             “Maaf! Maaf saya tidak melihatnya.” Ujar Nio sambil membungkukan badannya.             “Ohh tidak apa-apa mas.” Ujar yang tertumbuk badan Nio menjawab. Suaranya lembut dan bau harumnya mengingatkan Nio pada sosok perempuan.             Didorong penasaran Nio memandang perempuan itu. Bersamaan pula perempuan itu sedang memperhatikan Nio.             Dua mata yang saling memandang menjadi kaget dan saling menunjuk.             “Ehh kamu!” Ujar Nio. “Kamu kan yang bareng mbak Rani?”             “Iya mas. Mas kan yang bernama Antonio yang dulu keruangan Doktor Rohendi?” Balik nanya.             Keduanya tertawa geli. Lalu Nio menjulurkan tangannya kepada perempuan itu.             “Saya Antonio Hasse. Panggil saja Nio.” Ujar Nio menjabat tangan perempuan itu,             “Saya Rostina Sekarwangi. Panggil saja Ros.” Balasnya.             Nio menjadi sangat bahagia dan bersyukur kalau pak Danang membawanya ke toko buku ini. Karena gadis yang selama ini selalu ada di benaknya bisa ketemu disini.             “Kamu nyari apaan Ros.” Nio bertanya dengan pandangan yang tidak lepas dari Ros.             “Nyari buku kuliah aku mas.” Ros menjawab pendek saja.             “Memangnya jurusan Ros apa?”             “Sipil mas Nio. Kalau mas?”             “Saya arsitektur. Saya mengambil magister arsitektur disini.” Ujar Nio yang mengikuti Rostina sambil membawa tas plastiknya yang berisi sejumlah buku pilihamya.             “Ohh. Memangnya sebelumnya di mana mas Nio kuliah?” Rostina mulai penasaran.             “Sebelumnya saya di salah satu universitas di Berlin.”             “Waduhh, jauh yah mas. Ngapain ke sini? Disana kan lebih bagus?” Tanya Rostina penasaran.             “Nggak juga Ros. Sama saja tergantung orangnya. Saya ingin melanjutkan di sini karena ini adalah tanah leluhur ayah saya. Ayah menikah dengan ibu saya asli Jerman di sana. Dan lahirlah saya bule kagak karuan.” Nio tertawa.             Rostina tertawa juga. Hatinya bertambah penasaran dengan Nio.             Setelah Nio mendapatkan beberapa buku mata kuliahnya Nio bermaksud mengajak Rostina untuk bareng membayarnya.             “Ros, aku sudah mendapatkan sebagian besar buku-bukunya. Kalau kamu sudah dapat semuanya?”             “Aku sih sudah mas. Tinggal satu lagi yang belum dan sepertinya tidak ada disini. Mungkin saya harus ke pasar buku-buku lama.”             “Dimana itu Ros? Boleh aku ikut siapa tau disana buku aku juga ada?” Tanya Nio semangat.             “Ada banyak tempat mas. Ada di Palasari, Cikapundung, Cihapit dan lainnya. Boleh saja tapi tidak sekarang yah mas.” Balas Rostina.             “Iya lah Ros. Kabarin saya yah kalau mau jalan kesana. Kalau sudah kita bareng ngantri bayarnya kan?”             “Ohh boleh saja mas. Tapi bayar sendiri-sendiri yah. Aku tidak mampu bayar segitu banyak buku mas.”             Nio tertawa terkekeh-kekeh. Ternyata Rostina bisa meledek juga.             “Nggak lah. Ini urusan saya. Kalau kamu mau jadi urusan saya sih boleh. Sini sekalian!” Kata Nio mengulurkan tangannya akan mengambil buku-buku Rostina.             “Ehh..Ehh nggak usah mas. Biar aku saja.” Rostina menolak halus niat Nio.             Nio tersenyum dan menganggukan kepalanya. Saat mereka sedang mengantri untuk membayar Nio mengajak Rostina makan roti yang kebetulan ada semacam restoran roti yang bisa makan ditempat.             “Ros. Mau nggak nemenin saya makan roti disana?” Nio menunjuknya.             “Emmh, gimana ya? Asal nggak lama sih aku mau.” Ujar Rostina.             “Iya paling 20 menitlah. Hidung ini membuat perutku lapar lagi setelah mencium roti.”             “Iya mas. Boleh.” Rostina menganggukan kepalanya.             Setelah selesai membayar semua bukunya yang tentu saja sebagian besar bukuny berbahasa Inggris dan mahal Nio dan Rostina menuju toko roti itu dan mulai memilih beberapa macam roti.             Nio membayar semua yang dipesannya. Selesai membayar giliran Rostina yang membawa roti dan minumannya oleh Nio.             Mereka duduk mengambil tempat ditengah agar dapat melihat dan memperhatikan kemana-mana.             “Mahal-mahal buku disini ya Ros.” Nio mulai membuka pembicaraan sambil menyuap roti pilihannya.             “Tentu dong mas. Itu kan buku yang jarang ada di Indonesia. Semuanya import. Tadi mas Nio berapa bayar?” Rostina bertanya. Tangannya memotek roti isi daging kesukaannya.             “Hampir 14 juta berapa gitu. Padahal kalau disana mungkin kalau di kurs uang sana nggak mungkin sampai segitu.” Ujar Nio.             “Nah itu bahan untuk kita bandingkan kalau kita beli di Palasari atau dibeberapa tempat toko buku bekas mas. Saya yakin bisa lebih murah lagi. Mungkin hanya seperempat harganya.”             “Aduhh rugi dong saya ya Ros.” Nio memukul keningnya sendiri.             Rostina tertawa memperlihatkan sederet gigi yang putih. Nio tercengang melihatnya.             “Kenapa mas?” Tanya Rostina tidak enak dipandang oleh Nio.             “Nggak ada apa-apa Ros. Hanya kamu itu tambah cantik dengan gigi putih berkilaumu.” Balas Nio sambil menunduk.             “Ahh mas Nio. Bisa saja. Sudah ah, ntar hidungku jadi besar deh.” Canda Rostina memegang hidungnya.             “Sudah malam Ros. Kita sudahan saja yuk.” Ajak Nio. “Lagian kayaknya mereka mau menutup tokonya.”             “Iya mas Nio. Takut kemalaman juga. Soalnya aku harus naik angkot.”             “Gimana kalau saya antar saja sekalian saya pulang Ros?”             “Memangnya mas Nio pulang kemana? Aku di jalan Aceh loh mas.”             “Saya di jalan Riau kok. Nanti pak Danang yang tau jalannya. Jadi tenang saja. Gimana mau saya antar?”             Rostina termenung lama. Tapi kemudian dia menganggukan kepalanya tanda setuju.             Akhirnya keduanya berjalan keluar dari toko itu menuju paarkiran mobil dimana Danang sedang menunggu di deretan penjual makanan.             Nio mengambil teleponnya dan menyambungkannya ke Danang.             “Hallo mas!”             “Hallo pak Danang. Saya sudah selesai, Bisa bapak bawa mobil kedepan? Saya ada dipintu keluar gedung yah.”             “Iya mas.”             Rostina merasa tertarik dengan sikap Nio yang memanggil dengan sopan meskipun kepada sopirnya. Matanya Rostina memandang terpesona melihat Nio dan sikapnya.             “Mas Nio.” Jendela mobil VW Nio terbuka.             “Pak Danang, pintu belakangnya sudah dibuka?”             “Sudah mas!”             Nio membukakan pintu belakang mobilnya dan menyuruh Rostina masuk kemudian menutupnya kembali. Nio sendiri duduk disebelah Danang yang menyetirnya.             Rostina tambah kagum kepada Nio. Bagaimana tidak pemilik memanggil sopirnya “pak” sedangkan dia sendiri dipanggil “mas”. Meskipun sama-sama panggilan hormat namun biasanya orang suka terbalik memakainya.             Pandangan Rostina kembali beradu dengan tatapan Nio yang kebetulan melihatnya melalui kaca spion dalam.             “Pak Danang. Sekarang bapak arahnya ke jalan Aceh dulu. Setelah menurunkan mbak Rostina baru kita pulang ya pak!” Ujar Nio memberi petunjuk untuk Danang.             “Iya mas Nio.”             Nio membalikan sedikit badannya untuk menghadap Rostina.             “Nanti saya turunkan kamu di mana Ros? Didepan rumah saja yah biar tenang saya meninggalkannya.” Tanya Nio.             “Iya mas Nio. Nggak apa-apa kok didepan rumah.” Ujar Rostina mengangguk.             Hanya 10 menit setelah berputar arah mobil Nio sudah sampai didepan rumahnya Rostina.             “Stop pak. Disitu didepan pagar putih.” Kata Rostina kepada Danang.             “Baik mbak.”             Mobil Nio berhenti tepat didepan pagar putih. Kemudian Nio turun dan membukakan pintu belakang mobilnya. Rostina keluar dari dalam mobil dan Nio menutupnya kembali.             Sambil berdiri Nio mengangguk. “Oke sudah sampai. Selamat istirahat ya Ros.” Ujarnya mengangkat tangannya.             “Iya mas. Terimakasih semuanya. Sampai besok.” Kata Rostina.             Tanpa disadari Rostina dan Nio sepasang mata melihatnya dari balik gordeng jendela.             Setelah membuka pagar rumahnya Rostina masuk ke halaman rumahnya kemudian menguncinya kembali.             Nio masuk kedalam moilnya kemudian melanjutkan kembali perjalanan ke rumahnya.             Nio merebahkan badannya di sofa tamu saat sampai dirumahnya. Nio tersenyum penuh arti. Hatinya merasa terpuaskan karena dia sudah berhasil bertemu, mengobrol bahkan makan roti bareng. Nama Rostina yang sudah melekat dihati Nio semakin menjadi dan lebih dari sekedar hanya ingin tau saja.             Nio memejamkan matanya untuk membayangkan kembali saat dia bersama dengan Rostina yang baru saja kejadiannya. Terbayang senyumnya yang menawan. Matanya yang jeli dengan bulu matanya yang lentik. Tertawanya yang renyah kedengaran dengan giginya yang putih berbaris. Tidak terasa tangannya ikut bergerak seirama dengan lamunannya.             Danang yang masuk tersenyum. Bahkan Endah yang sudah lama mengawasinya untuk menawarkan makanpun heran melihat tingkah Nio. Danang mengangkat telunjuk kemulutnya untuk jangan diganggu. Tapi Endah sudah terlanjur berdehem.             “Ehm. Mas Nio mau makan?”             Nio kaget mendengar suara Endah. Nio bangkit dari rebahan badannya dan menoleh kebelakang. Tampak Danang dan Endah sedang menatapnya kearahnya.             Nio tertawa. Hatinya agak malu karena pelayanannya memergoki kelakuannya tadi.             “Iya mbak. Sebentar.” Ujar Nio agak tergagap bicaranya. “Tadi kalian melihat aku ya?”             Danang dan Endah tertawa kecil. Niopun jadi tertawa mengikuti mereka. Akhirnya mereka tertawa terbahak setelah saling pandang sesamanya.             “Ohh itu mas yang kemarin saya harus menunggu? Cantik beeng ya!” Ujar Danang.             “Cantik banget nggak mas Danang?” Tanya Endah penasaran sementara Nio bengong melihat ulah pelayannya.             “Ah kamu mah tidak ada apa-apanya Ndah. Paling samanya adalah sesame perempuan saja.” Ledek Danang kepada Endah.             “Aduhh, sudah. Sudah! Saya jadi malu ah.” Tukas Nio mengerakan tangannya kemulutnya untuk diam.             Tapi bukannya diam malah pelayannya tertawa sejadi-jadinya sambil berlalu kebelakang ruang tamu.             Nio kembali merebahkan badannya.             “Ahh! Aku lupa nanya nomor teleponnya Rostina.” Gumamnya pelan.             Keesokan harinya Nio sudah terbangun dan dihalaman Nio melakukan olehraga dengan menggerakan badannya sesuai dengan gerakan beladirinya saat di Jerman.             Memang Nio mendapat kesempatan belajar karate dari ayahnya dan silat dari sebuah perkumpulan silat Indonesia yang didirikan Kedutaan Indonesia.             Badannya yang atletis dan gerakan-gerakan beladirinya yang tepat membuat badan Nio tampak indah bila dilihat orang.             Memang saja ada orang yang melihatnya. Seorang gadis yang berdiri disebelah rumahnya memandang tak berkedip melihat Nio berolah raga.             Matanya yang lentik dan wajahnya yang ayu membuat berkilau saat mataharipun menyinari wajahnya.             Gadis itu tersenyum manis dan tanpa disadari tangannya bertepuk tangan tanpa dikomando.             Nio terkejut karena ternyata ada yang melihat dirinya. Lalu Nio menoleh kearah bunyi tepukan tangannya yang ternyata berasal dari rumah sebelahnya.             Nio melihat sekilas melihat seorang gadis yang langsung menyembunyikan badannya di sebuah pohon rindang. Tapi badannya masih terlihat oleh Nio.             “Hallo!” Ujar Nio menghampiri tembok pemisah rumah yang tingginya hanya satu meteran. “Saya Nio. Saya orang baru disini.”             Tidak ada suara yang menjawabnya.             “Oke. Salam kenal yah!” Lanjut Nio tapi badannya kembali berbalik dan berjalan ketempat semula.             Belum beberapa langkah Nio berjalan terdengar suara perempuan menjawabnya. “Saya Ranti. Tetangga kamu. Tapi orang lama.” Ujarnya.             Nio tersenyum lalu berbalik kembali menghadap pohon.             Tampa kraut muka yang cantik terlihat hanya dari sebelah saja. Rambutnya yang pendek menggerai menutupi telinganya.             “Hey Ranti. Salam kenal ya. Apa aku boleh kesana? Bolehkan?”             “Jangan! Jangan sekarang. Aku belum mandi.” Balasnya. “Nanti saja kalau aku sudah mandi ya Nio?”             “Oke Ran. Aku juga belum mandi. Takut badannya bau ya?” Tanya Nio.             “Bau sih nggak, tapi takutnya sih iya.” Ujarnya tertawa.             Niopun tertawa. “Oke kalau begitu Ranti. Sampai nanti.”             Ada sesosok tubuh yang tinggi dan langsing keluar dari baik pohon dan berlari kecil masuk ke rumahnya.             Nio melihat semuanya. “Gila. Disini banyak cewek cantik yah?” Kata Nio berdecak lidahnya.             Hampir satu jam Nio berolah raga di halaman rumahnya. Setelah itu dia masuk dan langsung menuju kamar mandinya.             Setelah selesai mandi Nio membawa sarapan paginya ke meja dan kursi yang ada ditaman halaman rumah.             Endah dan Danang ikut membantu membawakannya.             Nio meneguk teh manis hangatnya dan memakan sarapan roti panggang dipoles strawberry dan telor dadar kesukaannya.             Sambil merasakan hangatnya sinar matahari pagi Nio juga mendengarkan radio yang saat itu menyiarkan dan menyebut nama Rostina. Dan berharap studio radionya menyebutkan nomor teleponnya.             Kebetulan keinginannya terkabul. Penyiar itu menyebutkan nmor studionya saat acara permintaan pemutaran lagu. Nio mengambil catatan buku yang ada dibawah meja taman dan menuliskan nomor telepon studio radio saat penyiarnya menyebutkan nomor teleponnya.             Nio lalu mengambil teleponnya dan menyambungkannya ke nomor telepon studio itu.             Nio lalu minta diputarkan lagu let it be untuk yang bernama Rostina.             Penyiar itu tidak lama setelah lagu sebelumnya habis diputar. Kemudian dia menyebut permintaan baru yang menyebutkan nama Nio dan lagunya untuk Rostina.             Mengalunlah lagu let it be yang diminta Nio.             Nio tersenyum.             Sementara itu dari lantai 2 rumah sebelahnya ada jendela yang terbuka dengan wajah cantik menghiasinya menatap kearah Nio yang sedang berjemur. “Sungguh dia tampan dan baik.” Pikirnya.                                                  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD