CHAPTER #5
LIMA
Hari-hari Nio bertambah indah apalagi hari ini dimulainya perkuliahan S2. Semangat kelihatannya. Sudah 5 hari Nio mencoba menghafalkan jalan-jalan di Bandung bersama dengan Danang.
Dimulai dari jalan ke kampus, kerumah Rostina, ke jalan Merdeka dan lainnya yang akhirnya sampai berkeliling ke pusat-pusat perbelanjaan dan tempat rekreasi.
Hari ini Nio ke kampus memakai motor BMW cc besarnya sekalian mencoba kehandalan motornya.
Suara derum motornya membuat Ranti gadis sebelah rumahnya melongok dari jendela dilantai atas rumahnya.
“Hey Nio!” Ranti melambaikan tangannya. “Kuliah?”
“Guten morgen liebling!” Ujar Nio melambaikan tangannya juga.
“Apaan tuhh Nio?” teriak Ranti tidak mengerti.
“Selamat pagi sayang!” Nio balas teriak. “Itu artinya.”
Ranti tersenyum senang mendengarnya. “Wilujeng enjing oge kasep!” teriaknya.
Giliran Nio yang teriak. “Apaan tuh!”
“Selamat pagi juga tampan!” Ujar Ranti memerah pipinya.
Nio tertawa dan menganggukan kepalanya. Nio melambaikan tangannya dan motornyapun melaju le;uar rumahnya menuju kampus.
Mata Ranti yang indah tidak melepaskan pandangannya sampai Nio menghilang dibelokan jalan.
Dengan motor memang jalannya Nio ke kampus menjadi lebih cepat karena bisa menghindari antrian kendaraan yang macet. Lagi pula dia sudah diajarin Danang dengan masuk kejalan tikus apabila jalanan macet.
Begitu masuk kampus barunya hampir semua mata memandangnya. Karena selain terlihat gagah dengan motor besarnya juga pantas karena ketampanannya Nio.
Banyak mata gadis kampus yang meliriknya dengan berbagai macam ulah. Ada yang melambaikan tangan, ada yang menutup mulutnya dan lainnya seolah melihat bintang fil, terkenal yang masuk kekampusnya.
Setelah Nio memarkirkan motor gedenya dia berjalan menyusuri semacam tempat berjalan untuk menuju ruang kuliah.
“Hei Nio!” Sapa seorang mahasiswi entah jurusan apa.
“Hey selamat pagi.” Ujar Nio mengangguk tapi terus berjalan menuju ruang kuliahnya.
Gadis itu sangat senang dibalas sapaannya oleh Nio.
Nama Nio menjadi buah bibir dikampus S2nya bahkan mahasiswa S1pun banyak yang mengenalnya sosok Nio. Tentu saja mahasiswa wanita bukan mahasiswa laki-laki.
Nio masuk ruang kuliahnya dan memilih tempat duduknya.
Ada yang memanggilnya waktu celingukan mencari kursi kosong.
“Nio!” Panggilnya. “Disini ada yang kosong.” Ujarnya.
Nio menghampirinya. “Terimakasih. Saya Antonio Hasse.” Sapa Nio mengulurkan tangannya.
“Saya Yane Helina.” Katanya menjabat tangannya Nio.
Nio duduk disebelah kursi Yane.
Dosen pengajar mata kuliah sudah memulainya dengan materi yang awal untuk jurusan arsitekturnya. Nio mendengarkan dengan serius setiap apa yang dicapkan dan ditulis dosennya, Nio pasti akan mencatatnya di laptop kecilnya.
Sudah beberapa kali bel berbunyi.
Sesi kuliah sudah selesai hari itu. Nio cepat membereskan ransel dan laptopnya lalu berdiri.
“Terimakasih Yane. Saya duluan yah!”
“Buru-buru banget Nio. Mau kemana memangnya?” Tanya Yane.
“Lapar saya Yan. Saya mau ke kantin. Mau ikut?” Ajak Nio matanya menatap Yane.
“Boleh kalau nggak ganggu kamu sih.” Jawabnya.
“Ya nggaklah. Lagi pula tidak enak makan sendirian.” Nio mengulurkan tangannya untuk mengajak berdiri Yane.
Yane menyambut tangannya Nio dan diapun dapat berdiri.
Saat Yane sedang membereskan baju dan rok kuliahnya tiba-tiba sudah berdiri seorang laki-laki disebelahnya. Tapi kalah tinggi dan berototnya dari Nio.
“Yan, kita makan sekarang yuk?” Laki-laki itu langsung bicara dengan Yane tanpa mengindahkan Nio yang berdiri disitu. Tangannya berusaha memegang tangan Yane namun ditepis halus oleh Yane.
“Apaan sih Rif? Saya mau makan sama Nio di kantin. Jadi maaf saya nggak bisa makan sama kamu siang ini.” Yane bicara agak ketus.
“Ohh jadi ini yang namanya Nio?” Katanya agak ketus.
“Iya saya Nio. Apa kabarnya mas?” Nio mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Tapi Arif bukannya menjabat tangannya Nio melihatpun tidak kepadanya. Arifpun berlalu dari situ dengan muka yang masam.
“Aduhh maafkan saya Yan. Jadi nggak enak dengan pacar kamu.”
“Apa? Pacar? Arif itu bukan pacar saya Nio. Dia S2 juga hanya bukan arsitektur. Dia selalu merasa menguasai saya setelah apa yang dia lakukan dulu waktu menolong saya jatuh.” Kata Yane menerangkan siapa Arif. “Malah saya minta maaf dengan kelakuan teman saya yang tidak sopan barusan.”
“Ohh tidak apa-apa Yan. Nggak masalah buat saya.” Balas Nio menenangkan hatinya Yane. Padahal jiwa muda Nio ingin kayaknya menghajar pemuda seperti Arif yang tidak tau sopan santun. “Eh jadi nggak kita ke kantin? Saya sudah lapar banget?”
“Iya jadi Nio.” Yane berjalan mendahului Nio menuju kantin.
Nio dan Yane memesan makanan untuk makan siang mereka.
Mereka menikmati makan siangnya dengan nikmat dan terlihap lahap.
“Satu lagi bu!” Ujar Nio sambil mengangkat tangannya kepada gerobak siomay baso tahu yang ada disitu.
“Hah! Nio. Kamu suka makanan itu?” Tanya Yane membelalakan matanya.
“Iya Yan. Kemarin juga saya sampai hunting ke jalan Merdeka bareng pak Danang. Tapi yang lebih enak ternyata malah di jalan Aceh dekat rumah saya.” Ujarnya menyeka mulutnya dengan tissue yang dibawa.
Yane yang melihat tingkah dan sikapnya Nio hatinya tergores rasa suka dan senang padanya meskipun baru bertemu. Matanya melirik terus kepada Nio tampak olehnya bibir tipis Nio yang sedang diseka tissue menambah gairah Yane.
Nio yang merasa ada yang memperhatikan segera menoleh kepada Yane. Kedua matanya saling bertemu. Namun tidak lama karena Nio melepaskan kembali pandangannya kepada ibu penjual siomay baso tahu yang sudah datang membawa pesanannya.
“Ini mas!” Ujarnya meletakan piring siomaynya didepan Nio.
“Terimakasih bu.” Balas Nio yang langsung melahap kembali siomay pesanan barunya.
Saat sedang makan begitu Rostina yang juga suka makan disitu datang dan memesan makanan yang sama dengan Nio. Tapi dia tidak tau kalau Nio ada disitu bersama Yane.
Sesaat Nio menangkap gerakan orang yang baru datang dan langsung menuju gerobak makanan itu. Setelah dia memperhatikannya dia tersenyum karena dia tau itu adalah Rostina yang selalu didambanya.
“Ros! Rostina!” Nio melambaikan tangannya.
“Hey Nio!” Seru Rostina yang mendengar namanya dipanggil Nio. Rostina melambaikan tangannya kembali.
“Makannya disini yah?” Ajak Nio.
Rostina menganggukan kepalanya.
“Siapa itu Nio?” Tanya Yane penuh selidik.
“Itu Rostina. Perempuan idamanku.” Ujar Nio tertawa karena menganggap perkataannya biasa saja.
Lain keterima oleh Yane. Dia merasa ada saingannya untuk memdapatkan Nio.
“Anak mana dia?” Tanya Yane lagi.
“What?” Nio tidak mengerti maksud pertanyaan Yane.
“Maksud aku, anak jurusan apa?”
“Ohh. Dia bilang jurusannya sipil. Tahun ke dua kalau nggak salah.” Ujar Nio menyuap makanannya kembali.
Rostina yang merasa Nio memanggilnya menghampiri meja makan Nio dan Yane.
“Kamu juga makan siomay Ros? Kok sama ya?” Tanya Nio. Hatinya senang karena ternyata mempunyai kesukaan makanan yang sama dengannya.
Rostina memperhatikan makanannya Nio ternyata benar sama-sama makan siomay. Rostina tertawa.
“Iya yah. Kok bisa sih?” Ujarnya. Rostina menganggukan kepalanya kepada Yane. “Selamat siang. Saya Rostina.”
“Saya Yane. Duduk Ros.” Kata Yane menunjukan kursinya. Ada sikap angkuh Yane yang menganggap Rostina masih ada dibawahnya.
Nio memperhatikan itu dan hatinya memang tidak suka yang seperti itu. Nio berdiri dan bergerak menuju Rostina dan membantu menggeserkan kursinya.
Yane terkejut lagi melihat sikap Nio yang begitu perhatian pada Rostina.
“Ehh Nio. Makasih mas.” Ujar Rostina agak canggung.
Setelah Rostina duduk di kursinya lantas mulai makan siomaynya.
“Mas Nio. Terimakasih kirimannya semalam. Aku baru dengar itu.” Kata Rostina memulai pembicaraannya.
“Iya sama-sama Ros. Aku juga menikmatinya.” Balas Nio.
Yane yang hatinya sudah tertutupi rasa cemburu begitu saja menjadi panas dan salah terima. Dia pikir Nio dan Rostina melakukan hal-hal yang tidak baik.
“Kalau tidak salah kamu pernah ke bubur Aseng ya Ros?” Yane tiba-tiba mendapat ide untuk menjebak dan membuka tentang diri Rostina.
“Ohh kalau di bubur Aseng saya sering kesana mbak Yan.”
“Iya kan? Waktu itu kalau tidak salah bersama laki-laki anak sipil juga kalau nggak salah. Bener nggak?” Yane mulai menekan Rostina.
“Kok mbak tau saya di sipil? Ahh, pasti ini Nio yang ngasih tau yah mas?” Rostina membelokan percakapannya.
Nio tersenyum dan dengan polos dia menjawab. “Iya Ros. Soalnya tadi Yane bertanya sama saya waktu saya memanggil kamu. Maaf yah, nggak minta ijin dulu.”
“Iya nggak apa-apa mas. Cup!cup! Jangan nangis gitu dong.” Rostina bercanda dan tertawa.
Nio jadi kut tertawa. Nio melihat Rostina begitu lucu dan menarik dimatanya.
Tapi Yane yang mengerti maksudnya Rostina tidak melepaskan begitu saja. “Bener kan Ros kamu pernah ke Aseng dengan laki-laki satu sipil?”
“Ohh iya maaf mbak sampai lupa pertanyaan mbak. Ini nih gara-gara Nio!” Ujarnya. Rostina tidak kalah berkilah untuk melupakan pertanyaannya Yane. Tapi tiba-tiba pikirannya berobah. “Iya mbak itu namanya Aditya. Kakak kelas saya di sipil. Mas Nio juga tau sepertinya. Iya kan mas?”
“Iya saya tau Aditya, Yan.” Kata Nio memakan suapan siomay yang terakhir.
Yane terdiam karena diam-diam merasa termakan oleh omongannya sendiri tentang Aditya. Tapi kembali hatinya menjadi sedikit tenang karena yang dianggapnya menjadi saingan sudah mengakui secara tidak langsung.
“Masih mau mas Nick?” Tanya Rostina. Tangannya disodorkan dengan garpu yang berisi siomay.
Mulut Nio terbuka dan memakan siomay yang disodorkan Rostina kepadanya.
“Ros!” Tiba-tiba ada suara yang memanggil Rostina.
Seorang laki-laki menghampiri meja yang dipakai makan oleh Rostina, Yane dan Nio.
“Hey Dit! Ada apa?” Tanya Rostina tetap duduk di kursinya.
“Ngapain kamu barusan?” Tanyanya.
“Ngapain apaan?”
“Barusan pake nyuapin orang ini?” Kata Aditya menunjuk kearah Nio.
Nio baru sadar kalau yang dimaksud orang ini adalah dirinya. Nio kemudian berdiri dari kursinya. Tubuhnya yang tinggi dan kekar tentu saja lebih tinggi dari laki-laki yang baru datang ini.
Rostina kaget melihat sikap Nio seperti menantang. Lalu diapun berdiri dan mengenalkan keduanya untuk menjaga keributan.
“Oh iya Dit. Ini mas Nio. S2 nya arsitektur.” Ujar Rostina.
Nio mengerti maksudnya Rostina. Lalu dia tersenyum dan mengulurkan tangannya. “Saya Antonio Hasse. Apa kabar?”
“Saya Aditya.” Ujarnya pendek saja. “Kita pergi Ros?”
“Pergi? Pergi kemana Dit. Aku sedang makan juga.” Ujar Rostina yang kembali duduk dikursinya.
Nio yang masih berdiri menjadi tidak sabar. Lalu dia mengambil ransel kuliahnya. “Yan! Makannya sudah? Kalau saya sudah. Saya duluan yah?” Ujar Nio.
“Iya Nio. Aku juga sudah. Yuk ah Ros. Aku duluan yah.” Ujar Yane yang berdiri juga dan melangkah keluar dari mejanya.
“Oke Ros. Saya duluan yah. Nanti kita ngobrol lagi. Dit!” Nio pamitan kepada Rostina dan Aditya yang tampak tidak suka melihat Nio.
“Oke mas. Ruf mich spater an.” Kata Rostina kepada Nio.
“Ja, heute Nacht Ros.” Ujar Nio sambil tertawa. Lalu mengangkat tangannya.
Aditya yang dari tadi berdiri menjadi tambah panas hatinya. Lalu dia duduk dekat Rostina.
“Apa sih maksudnya Ros?” Tanya Aditya.
“Maksudnya yang mana Dit?” Rostina kalem saja memakan siomaynya seperti tidak mengacuhkan Aditya.
“Yang barusan kamu ngomomng sama bule itu.” Kata Aditya mulai tidak sabar.
“Oh itu. Maksudnya telepon aku nanti yah. Terus dia jawab Ya tapi nanti malam ya Ros. Begitu saja kok.” Kata Rostina. “Terus apa maksud kamu dengan bertanya itu Dit. Bukannya kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi Dit? Jadi aku bebas dengan siapapun dan mau apapun. Kamu nggak berhak melarang atau menahan aku lagi. Mengerti kan Dit?” Rostina memberondong Aditya dengan pertanyaan.
“Iya Ros aku ngerti. Makanya aku datang mau minta maaf.” Kata Aditya yang berusaha memegang tangannya Rostina. Namun Rostina agak menjauh duduknya dan menepis tangannya Aditya.
“Iya tapi tidak seperti tadi. Tidak sopan. Kamu lihat kan semuanya bubar. Itu bukannya takut sama kamu tapi mereka kesal dengan sikap kamu. Termasuk aku Dit.” Rostina mencoba menjelaskan semuanya. “Permintaan maaf kamu aku terima. Tapi kalau aku kembali dengan kamu Dit. Maaf aku tidak bisa. Aku terus terang sudah bosan dengan sikap kamu yang kekanak-kanakan itu.” Rostina berdiri dari kursinya dan berjalan kearah gerobak siomay untuk membayar makanannya.
“Neng, si mas bule tadi sudah membayarnya sekalian dengan makanannya.” Ujar ibu yang berjualan siomay.
“Ohh sudah ya bu. Baik makasih bu.” Ujar Rostina mencoba mengejar Nio.
Nio yang sedang memanaskan motornya dan bersiap untuk berangkat tiba-tiba berhenti sejenak dan berusaha mendengar suara yang memanggilnya.
“Mas Nio! Mas! Tunggu.” Teriaknya.
Nio mematikan motornya dan membuka helmnya. Nio melihat Rostina berlari kearahnya.
“Ada apa Ros?” Nio berdiri dan turun dari motornya. “Kok lari-lari sih?”
“Ihh, dipanggil-panggil dari tadi. Sebel!” Ujar Rostina cemberut.
Nio tertawa melihat Rostina cemberut. “Kamu malah cantik kalau marah Ros.” Ujar Nio. “Ada apa sih Ros?”
“Tadi mas Nio bayari siomay aku yah?”
“Iya, terus kenapa?”
“Nggap apa-apa. Terimakasih ya mas. Dan saya minta maaf soal kelakuan Aditya tadi.”
“Ahh itu. Iya nggak apa-apa kok Ros. Biasa namanya pacarnya nyuapin orang ya marahlah.” Nio tertawa lagi.
“Bekas pacar mas Nio!.” Teriak Rostina sepertinya kesal kepada Nio yang asal ngomong dan tertawa terus.
Nio menutup mulutnya dengan tangannya seperti membekap sendiri padahal menahan tawanya.
Rostina maju dan menarik tangannya Nio yang menutup mulutnya sendiri. Mau nggak mau akhirnya tertawa keras Nio meledak. Nio terpingkal sambil memegang perutnya.
Rostina yang melihat Nio begitu, akhirnya diapun tertawa karena geli. Rostina geli sampai tertawa karena melihat cara tertawa Nio yang terpingkal-pingkal itu.
Nio berhenti tertawanya. Dia berhenti tertawa karena melihat Rostina yang tertawa bukannya marah. Akhirnya kedua orang itu saling pandang dan tertawa bersama-sama.
“Sudah ahh. Capek saya Ros.” Kata Nio bersender di motornya. “Pulang yuk cantik.”
Rostina berhenti. “Bilang apa barusan mas?” Tanyanya.
“Iya, pulang yuk?”
“Bukan! Bukan yang itu. Sesudahnya.” Ujar Rostina.
Nio memukul keningnya sendiri. “Yang mana ya?” Terlihat Nio bingung sendiri. Lalu Nio mengulang kembali ajakannya kepada Rostina.
“Pulang yuk cantik?” Kata Nio mengulang ajakannya.
“Itu dia!” Teriak Rostina. Nio sampai kaget dan bengong dibuatnya.
“Apaan sih Ros?”
“Cantik! Apa memang aku cantik mas?” Rostina malah bertanya bukannya menjawab.
Nio geleng-geleng kepalanya. “Iya kamu cantik Ros.” Ujar Nio pura-pura lemas.
Rostina tertawa dan menepuk pundak Nio. “Makasih mas.” Rostina lalu berdiri disebelah motornya Nio dan mengambil helm cadangan yang ada disamping motornya Nio.
“Yuk mas Nio. Mau ikut?” Ujar Rostina bercanda lagi.
Nio tidak menjawab malah menghampiri dan memegang helm dikepalanya Rostina dan mengusap-usapnya.
Setelah semuanya lengkap Nio menyalakan kembali motor BMW nya menuju keluar kampus.
Banyak orang yang melihat kelakuan mereka berdua di parkiran motor dan pada tertawa melihat kelakuan lucu mereka. Entah apa yang ditertawakannya.
Namun ada juga yang melihat dengan hati yang panas dan merasa diremehkan oleh sikap mereka.
Aditya melihat mereka karena sebelumnya mengikuti Rostina yang berlari mengejar Nio tadi. Hatinya bertambah panas dan ingin melakukan sesuatu pada mereka. Apalagi Rostina dengan terang-terangan tidak akan kembali kepadanya.
Lain halnya Yane. Yane melihatnya saat mereka lewat melalui parkiran mobil. Saat itu Yane sudah berada didalam mobilnya waktu mereka lewat. Hatinya seperti teriris melihat bagaimana Rostina memeluk pinggangnya Nio yang membawa motornya.
Dan Yane juga melihat bagaimana Nio menikmatinya saat membonceng Rostina.
Nio dan Rostina sepanjang jalan bercanda dan mengobrol apa saja yang mereka mau. Sampai akhirnya Nio sampai didepan rumahnya Rostina.
“Makasih mas Nio sudah nganterin aku yah.” Kata Rostina menganggukan kepalanya. “Maafin saya ya mas kalau candaannya agak kasar dan tidak lucu.”
“Iya nggak apa-apa cantik. Aku suka kok dengan gadis seperti kamu. Bebas dan tidak pura-pura dengan sikap aslinya.” Nio memegang pundak Rostina.
Rostina mengangguk lagi. “Dah mas Nio.” Ujar Rostina mengangkat tangannya dan masuk kedalam halamannya. Kemudian menutup kembali pagar rumahnya.
Nio memandang Rostina sampai masuk kedepan pintunya. Setelah kelihatan sampai baru dia beranjak lagi dengan motornya dari rumah Rostina.
“Siapa itu Ros?”
“Mamah! Selalu saja bikin kaget aku Mah.” Kata Rostina yang kaget begitu masuk rumahnya. Rupanya ibunya Rostina memperhatikan dari balik jendela waktu ada yang membuka pagar rumah.
Ibunya Rostina tertawa.
“Itu mas Nio Mah. Mahasiswa S2 di kampusku.” Jawab Rostina tersenyum.
“Kayaknya tinggi tuh orang dan sekilas Mamah lihat kayak bule sih?”
“Iya Mah. Dia memang setengah bule. Mamanya orang Jerman, Papanya orang Indonesia.”
Ibunya Rostina sedikit terlihat melamun mendengar kata bule dan Jerman yang disebutkan Rostina.
“Kenapa Mah? Mamah sakit?” Rostina keget melihat ibunya.
“Nggak Ros. Apaan sih kamu ini. Mamah hanya melamun saja.”
“Kirain pusing Mah. Sudah ah, Ros kekamar dulu ya Mah. Baru makan.” Ujar Rostina terlihat manja kepada ibunya.
“Iya Ros.” Ibunya menjawab lirih.