CHAPTER #26 DUA PULUH ENAM “Masuk!” Sahut Deka. Nio masuk kedalam ruang kerja ayahnya. “Hey Nio. Kapan kamu dari Bandung?” Tanya Deka berdiri dan menghampiri Nio. “Tadi pagi, Pah.” Jawab Nio setelah mencium tangan ayahnya. “Mana Ros? Kok, tidak ikut?” “Tidak Pah. Kan kerja dia.” Ujar Nio duduk disofa tamu. Deka menatap mata anaknya, kemudian tersenyum. “Kenapa Pah?” Nio pungak-pinguk wajahnya dipandang oleh ayahnya. Deka tertawa. “Pasti kalian berbeda pendapat lagi ya. Ngaku!” Ujar Deka duduk dihadapan Nio. “Ahh, nggak kok Pah.” Jawab Nio. Mukanya terlihat memerah. “Hallah, kamu ini Nio. Memangnya Papah tidak pernah muda, apa? Coba

