Terdiam. Aku berdiri kaku untuk berapa lama di depan cermin pagi ini. Aku yang masih berbalut handuk selepas mandi, menatap geram saat menyadari begitu banyak tanda merah di leher. Bukan cuma satu atau dua, tapi banyak. Ah! Memalukan sekali. Masih sambil memandang ke arah cermin, aku mengusap berulang kali beberapa tanda merah yang Mas Aryan torehkan malam tadi. Ternyata benar, lelaki bisa begitu ganas saat-saat tertentu. Huh! Padahal, dia bilang tak pernah mencintaiku bukan? Lalu, tanda ini? Apa? Aku terus merutuk kesal sambil menyalahkan diri sendiri yang terlampau agresif malam tadi. Tak seharusnya aku mencium suamiku dengan gaya centil jika tahu akan berakibat fatal seperti ini. Sungguh, malu rasanya, saat harus turun dan berbaur dengan ipar dan mertua dengan kondisi seperti ini.

